27. Deadline dan Hasrat

1465 Kata

Aku mabuk kesuksesan. Setelah pitching IndoTech, rasanya aku nggak bisa turun lagi. Dua minggu kemudian, kantor memperlakukanku secara berbeda. Aku bukan lagi gadis pendiam dari Jakarta. Aku adalah si "Anak Emas." Pak Santoso menurut padaku saat rapat. Bu Rina berhenti mengecek jam absenku. Bahkan satpam tersenyum lebih lebar saat aku menempelkan kartu aksesku. Tapi bagian yang paling bikin nagih bukan pujian dari tim. Melainkan akses ke Joseph. Kami menjadi satu unit tak resmi. "Joseph dan Marcella." Kedengarannya profesional, efisien. Kami makan siang bareng buat "bahas strategi." Kami lembur buat "tinjau proyeksi kuartalan." Di tempat terbuka, di bawah lampu neon kantor, kami adalah rekan kerja. Di momen-momen senyap—di lift, di parkiran, atau saat chat larut malam—kami jadi lebih da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN