Shana membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Arthur untuk masuk. Shana mengajak Arthur ke ruang keluarga agar suasana tidak terlalu canggung dengan menonton televisi. Shana juga mengambilkan air minum dan beberapa macam camilan ringan dari dapur dan menyuguhkannya pada Arthur.
"Ar, kabar kematian kak Caca udah tersebar bahkan sebelum sekolah memberi pengumuman resmi. Agatha bilang kalau dia mendengar kejadian itu dari Sena. Sedangkan Sena mendengarnya dari kakak kelas yang kemarin berhasil berkerumun di dekat TKP. Parahnya, Agatha curiga sama gue." Shana menghela napas panjang sejenak, kemudian melanjutkan. "Agatha bilang gini 'kok lo tanya-tanya tentang kak Caca sebelum kak Caca meninggal? Gue jadi serem deket sama lo' gitu coba."
"Lo jawab apa?" Arthur mencondongkan tubuhnya ke arah Shana tanda tertarik dengan pembicaraan ini.
"Gue jawab 'mana gue tau kalau kak Caca mau meninggal, kebetulan aja tadi denger ada orang cerita tentang ekskul pmr yang nggak beres' dah gitu." Shana mencoba memperagakan lagi pembicaraannya dengan Agatha.
Gelak tawa Arthur mengisi atmosfer udara di ruang keluarga milik keluarga Gerald itu. Tawa renyah yang menyenangkan untuk didengar. Shana menyengir.
Tawa itu mereda kala seseorang membuka pintu depan kediaman keluarga Gerald. Ternyata beliau adalah empunya rumah.
"Hai, nak Arthur, sore Prim sayang." Gerald menyapa dua anak muda itu bergantian. Ia mengecup puncak kepala Shana dan duduk di samping putrinya.
Shana segera pamit untuk pergi ke kamarnya. Shana bergegas mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai rumahan. Badannya sudah lebih segar dari sebelumnya.
Setelah mandi, Shana pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Shana memang tidak pandai memasak. Namun rasa masakannya tidak buruk juga. Walau jarang membantu bundanya memasak, Shana sering memperhatikan apa yang dilakukan bundanya di dapur.
Ayah Shana masuk ke dapur. Ia cukup heran melihat putri tunggalnya itu mau berkutat di dapur. Istrinya belum pulang memang, tapi biasanya Shana juga tidak ambil pusing untuk menyiapkan makanan selagi bundanya sibuk bekerja.
"Tumben, nak. Biasanya lebih milih kelaparan nunggu bunda dari pada masak sendiri." Gerald berjalan mendekat ke arah Shana. Ia mengacak rambut anak gadisnya.
"Kan ada tamu, Yah. Bunda juga pesan ke Prim, kalau bunda pulang terlambat, aku yang harus siapin makan." Shana memindahkan sup yang sudah matang ke dalam mangkuk.
"Pintarnya anak ayah bunda," ujar Gerald. "Nanti kalau sudah siap, kamu tawarin Arthur buat makan malam ya."
"Kok aku?" tanya Shana kaget.
"Iya kan kamu yang masak.” Gerald menukas dengan nada lembut.
Saat jam menunjukkan pukul 19.30, Shana pergi ke ruang keluarga untuk mengajak ayahnya dan Arthur makan malam.
"Ayah sama Arthur makan malam dulu yuk. Udah aku siapin," ajak Shana.
"Ayo nak Arthur kita makan malam dulu. Rasanya senang bisa mengajak nak Arthur makan bersama keluarga kecil kita." Pak Gerald berkata dengan penuh semangat.
Ada seseorang yang berjalan masuk ke rumah. Suara ketukan sepatu dengan lantai semakin jelas terdengar saat seorang wanita cantik berusia awal 40 an melenggang santai mendekati mereka bertiga.
"Bunda kok udah pulang. Katanya agak malam." Shana langsung menghambur ke bundanya itu.
"Ya udah bunda kerja lagi kalau ini kurang malam buat bunda pulang." Sang bunda membelai rambut putrinya itu dengan sayang.
Arthur merasa hangat berada di tengah keluarga kecil Pak Gerald, atasannya itu. Walau mereka sibuk, namun mereka selalu ada untuk Shana. Jujur, hal itu membuat Arthur merasa iri. Arthur kembali dari lamunannya saat Pak Gerald merangkul bahunya seperti mereka sungguh akrab.
***
Mereka sudah menghabiskan makan malam di piring masing-masing. Seperti biasa, anggota keluarga Gerald akan bercakap-cakap sebentar dan kali ini ada tamu yang ikut serta dalam makan malam keluarga mereka.
"Nak Arthur tahu nggak kenapa hanya saya yang memanggilnya dengan panggilan Prim?" tanya ayah Shana pada Arthur. Arthur menggeleng pelan.
"Karena Prim itu cinta pertama ayah. Ayah nggak mau kehilangan dia walau sudah menikah dengan bunda. Makanya ayah menamai anaknya Primrose, sama seperti cinta pertamanya." Itu bukanlah pernyataan ayahnya Shana. Melainkan bunda Shana yang nampak mulai merajuk dan jengah dengan suaminya itu. Ia tidak cemburu, hanya saja suaminya selalu bertanya pada orang yang baru mereka kenal tentang asal-usul nama anaknya. Aneh saja rasanya. Bukannya menggunakan nama marga atau nama keluarga, putri tunggal mereka harus menyandang nama cinta pertama ayahnya.
Arthur menatap bingung keadaan. Pak Gerald ternyata cukup nyentrik untuk beberapa hal.
Mereka kemudian mengobrol tentang perkembangan sekolah Shana dan Arthur. Arthur baru pulang ke rumah pukul 22.00, setelah selesai dengan pekerjaannya.
***
Ini adalah hari sabtu pagi ketika sebuah mobil tiba-tiba saja menghadang Shana yang tengah berjalan kaki di tengah perjalanan pulang dari supermarket dekat rumahnya. Orang itu membuka kaca mobilnya dan menampakkan siapa pengendaranya.
"Ngapain di sini?" Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Shana ketika melihat Verrel yang sedang tersenyum di dalam mobil.
"Inspeksi darurat," ujar Verrel.
"Maksudnya?" Shana tidak paham arah pembicaraan cowok itu.
"Mumpung libur dan sekolah sepi. Kita mau menyelidiki kasus kemarin-kemarin." Verrel menjelaskan. Hari sabtu dan minggu mereka memang libur karena sekolah mereka menerapkan sistem lima hari kerja.
"Bentar ya, gue ganti baju dulu. Gue ikut kok. Gue nebeng lo ya."
"Sip. Buruan gih. Yang lain dah pada kumpul."
***
Shana turun dari mobil Verrel. Mereka sudah sampai di sekolah yang ternyata lengang saat libur weekend ini. Shana sendiri tak pernah ke sekolah saat libur weekend seperti ini. Biasanya jika ada tugas kelompok maka akan dikerjakan di rumah salah satu anggota atau cafe, tidak di sekolah.
"Yuk ke sana." Verrel memimpin jalan menuju area taman belakang sekolah, atau samping sekolah? Entahlah. Arah hadap sekolah ini cukup membingungkan karena banyak gerbang masuk di berbagai sisi bangunan. Walaupun hanya satu yang bisa diakses untuk hari-hari sekolah.
Kara melambaikan tangan pada Shana. Di sana nampak Nizar tengah memandang jenuh laptopnya. Juga ada Akbar yang nampak asik dengan handphonenya. Agak jauh dari mereka bertiga, Shana dapat melihat Arthur tengah membaca buku entah itu novel atau komik, yang jelas bukan buku pelajaran.
Mereka sudah berkumpul semua. Shana sejujurnya tidak tahu, inspeksi macam apa yang akan mereka lancarkan kala sekolah dalam kondisi sepi. Apa mereka akan menyelinap diam-diam ke kantor guru untuk mencari bukti? Atau menginterogasi beberapa karyawan kebersihan dan penjaga sekolah yang tetap hadir walau hari libur sekalipun?
Kara menyalakan sebatang rokok dengan santai di hadapan kelima temannya. Shana menatap dibuat tercengang olehnya. Sedangkan Nizar hanya menggelengkan kepala tanda tak habis pikir. Namun semua itu tidak dihiraukan oleh Kara.
"Sorry, gue bukan anak di bawah umur. Jadi jangan ngeliatin gue dengan tatapan macam itu." Kara berujar. Ia nampak begitu menikmati kegiatan merokoknya itu.
"Oke, kita bisa mulai sekarang." Arthur berjalan mendekat. Ia meletakkan buku yang tadi ia baca di pangkuannya.
"Kita kalah cepat sama si pembunuh. Entah kenapa setelah kita tahu kemungkinan siapa korban selanjutnya justru pembunuh melancarkan aksinya. Kita itu cuma dipermainkan." Akbar menunjukkan raut wajah lelah. "Clue itu sama sekali nggak ngasih jalan terang."
"Apa kita harus berhenti?" Arthur angkat bicara. Ia menenggerkan senyum miring di wajahnya. Membuat wajah tampannya nampak mengesalkan untuk ditatap.
"Itu jelas nggak mungkin. Kita udah mulai. Gue yakin pembunuh nggak akan biarin kita nyerah." Verrel menolak gagasan Arthur.
"Kalau pembunuh itu nggak akan biarin kita nyerah, berarti kita memang harus menyerah," ujar Shana yang mampu membuat mereka semua tercengang. Gadis itu melanjutkan, "Pasti ada alasan kenapa pembunuh memilih kita bukannya orang lain untuk ikut dalam misi pembunuhannya. Kalau kita berhenti, kemungkinan besar misi pembunuh ini gagal kan."
"Maksudnya? Apa lo berpikir bahwa target pembunuh itu bukan para siswa yang terbunuh?" Arthur masih tidak bisa membaca jalan pikiran Shana. Ia mencoba menyelam lebih jauh.
"Iya, gue rasa target pembunuh sebenarnya itu kita. Entah apa yang dia inginkan dari kita. Hanya saja mereka yang mati dijadikan alternatif untuk mengikat kita." Shana masih berargumen.
"Lalu apa yang bisa kita lakuin sekarang. Mecahin clue? Haha, basi." Kara berkata setelah meniup cincin-cincin asap ke udara. Membuat Nizar mengernyit tak nyaman. Nizar sudah tahu bahwa Kara kecanduan nikotin dari rokok. Bahkan saat mereka masih kelas sepuluh, Nizar melihat Kara merokok diam-diam di belakang gedung sekolah.
"Kita harus saling terbuka untuk bercerita sejak awal kita semua menemukan surat itu. Gue yakin ada yang belum kalian sampaikan ke yang lain. Kita juga butuh informasi pribadi kita untuk diketahui yang lain. Mungkin ini berkaitan dengan masalah pribadi kita semua. Semua orang punya salah, punya titik kelemahan, punya sisi antagonis, punya bagian gelap kehidupan. Coba kita lihat apa kaitannya kita dengan kasus pembunuhan ini." Shana menerangkan secara panjang lebar. Ini terdengar logis mengingat mereka semua tidak saling mengenal secara dekat pada mulanya.
***