1|| Saksi Kunci Pembunuhan

1301 Kata
    Sepanjang pagi ini SMA Argosaka dipenuhi keributan. Setelah ambulans yang membawa mayat pergi, beberapa mobil polisi juga mulai meninggalkan area sekolah. Hanya tersisa beberapa personil kepolisian yang sedang mengamankan TKP, mengambil gambar di sekitar lokasi mayat ditemukan, mencari barang bukti, dan menanyai beberapa orang yang kemungkinan dapat memberikan jalan terang pada kasus ini.     Shana duduk berhadapan dengan dua orang penyidik. Yang satu adalah ayahnya dan satunya lagi rekan ayahnya, Bu Marta. Shana diajak berbincang sebentar oleh Bu Marta sebelum masuk ke pertanyaan utama.     "Kamu Tryshana kan? Hmm, saya lama tidak berjumpa denganmu. Dulu saat masih kecil kau sering bermain di kantor ayahmu. Kau ingat?" Bu Marta membuka obrolan.     "Iya saya Tryshana, panggil saja Shana. Aku ingat sedikit tentang kantor ayah," jawab Shana.     "Oke, kupikir kita langsung memulainya. Prim pasti lelah menunggu untuk diwawancarai. Teman-temannya sudah dipulangkan lebih awal karena pelajaran tidak kondusif," sela ayah Shana, penyidik Gerald.     "Prim? Nama belakangmu ya. Baiklah kita mulai sesinya Shana atau lebih baik kupanggil apa?" tanya Bu Marta memastikan.     "Shana saja, hanya ayah yang memanggilku dengan panggilan Prim," jawab Shana. Ia melihat ayahnya mengedikkan bahu sambil tersenyum hangat. Hanya ayahnya yang memanggilnya Prim.     Penyidik bernama Marta itu mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon seseorang. Nada sambung pada panggilan itu cukup lama hingga berganti suara laki-laki. Bu Marta mendekatkan handphonenya ke arah Shana.     "Hallo?" tanya Shana saat laki-laki itu tak memulai pembicaraan. Bu Marta me-loudspeaker telepon itu hingga mampu didengar oleh beberapa orang di situ.     "Saudari Tryshana, apa anda bersedia berjanji bahwa anda akan memberikan seluruh fakta kebenaran tentang apa yang anda lihat dan anda ketahui?"     "Iya saya bersedia."     "Apa yang anda lihat pagi itu?"     "Seorang mayat."     "Anda melihatnya dengan jelas?"     "Ya, saya melihatnya dengan jelas kerena saya berjalan mendekat ke arahnya."     "Anda melihat wajah mayat tersebut?"     Shana diam sebentar. Sulit untuk mengucapkan namanya walau sebenarnya Shana tahu.     "Tidak, wajahnya menghadap ke arah berlawanan dengan saya," ujar Shana berbohong. Dia sudah melanggar janjinya tadi.     "Apa anda biasa berangkat sepagi itu? Atau ini pertama kalinya?"     "Saya terbiasa berangkat sangat pagi."     "Apa ada alasan tertentu?"     Lagi, Shana diam sejenak. Shana menatap ke ayahnya. Ayahnya mengangguk sambil tersenyum.     "Saya sering sendirian di rumah. Orang tua saya selalu bekerja. Tugas mereka tak mengenal waktu."     "Apa anda tak takut berada di sekolah sepagi itu?"     "Saya sudah terbiasa. Saya tidak merasa takut lagi. Di rumah sebenarnya juga tak kalah menakutkan, banyak yang mengincar ayah saya karena pekerjaannya."     "Apa pekerjaan orang tua anda? Kami menjamin kesaksian anda aman."     "Ayah saya bekerja di kepolisian dan ibu saya seorang dokter, dokter forensik."     "Baiklah, apa anda mengetahui kemungkinan mayat mati terbunuh atau bunuh diri."     "Saya melihat pelakunya. Mayat tadi pastilah korban pembunuhan."     "Seberapa yakinkah anda jika ini pembunuhan, skala satu sampai sepuluh? Dan bisa sebutkan ciri-ciri palakunya?"     "Delapan. Cirinya? Saya hanya melihat seseorang menggunakan jaket hitam, calana hitam, topi dan masker yang serba hitam."     "Bagaimana bentuk fisiknya?"     "Tidak terlalu tinggi, berdiri dengan tegap. Badannya tidak besar. Sepertinya masih muda."     "Muda? "     "Saya pikir dia bukan orang dewasa, mungkin lebih tua sedikit dari saya atau seumuran."     "Apa anda mengamati pelaku dari dekat?"     "Tidak, saya melihat dari kejauhan. Mungkin itu hanya pendapat saya. Saya berdiri di depan kelas saya dan itu cukup jauh dari posisi orang itu. Saat saya mendekat, saya hanya fokus pada mayat. Saya bahkan tak mengetahui pergerakan pelaku. Dia sudah tidak di tempatnya saat saya mengedarkan pandangan di koridor lantai dua kelas sepuluh."     "Kalau begitu, adakah seseorang yang anda curigai sesuai dengan ciri-ciri yang anda sebutkan? Teman, guru, atau karyawan sekolah anda? Atau mungkin orang yang ada di sekitar sekolah anda?Misalnya murid SMA lain yang memiliki masalah dengan sekolah anda atau warga sekitar sekolah anda?"     "Saya tak pernah melihat orang seperti dia sebelumnya. Ia juga tak menggunakan seragam yang menunjukkan identitas sekolah manapun. Saya tidak tahu siapa dia. Namun yang saya tahu sekolah kami tidak bermusuhan dengan sekolah manapun."     "Terima kasih atas waktunya saudari Tryshana. Bu Marta, wawancara saya selesai sampai di sini. Jika ada yang saya butuhkan saya akan meminta bantuan anda lagi."     Telepon ditutup. Shana ingin menanyakan siapa orang yang baru saja berbicara dengannya. Tapi ia tahu itu pasti rahasia. Ayahnya atau pun Bu Marta tak mungkin memberitahunya. ***     Shana berjalan ke kelasnya. Kelas XI IPA 2. Ia meminta izin pada ayahnya untuk tinggal sebentar di sekolah ini. Ia tahu ia telah berbohong. Mungkin Bu Marta juga tahu ia berbohong atas beberapa fakta.     Sebenarnya Shana melihat mayat itu dengan jelas. Ia kenal siapa mayat itu. Tapi rasanya berat bagi Shana untuk mengatakan namanya saat interogasi tadi.     Shana membuka pintu kelasnya. Sepi, tak ada siapa pun. Teman sekelasnya pasti sudah pulang. Ia tadi juga melihat banyak orang tua yang biasanya tak menjemput anaknya jadi berbondong-bondong mengajak anak-anaknya pulang lebih awal. Bahkan guru-guru sibuk menenangkan orang tua yang khawatir dan terus menelpon pihak sekolah. Mereka tak henti-hentinya meminta penjelasan sekolah atas hal ini dan meminta agar semua murid dipulangkan dan diliburkan saja.      Notifikasi pesan masuk membuat handphone Shana bergetar. Ia segera mengecek handphonenya dan melihat isi pesan yang baru saja masuk itu.     From: Agatha     Sha, lo tadi kemana aja sih? Sakit di UKS? Tadi yang ambil tas lo di kelas si guru BK. Pas gue tanya lo ada di mana dan kenapa, dianya nggak jawab.     Shana tersenyum. Dia senang sahabatnya itu tak lupa padanya walau keadaan sekolah sedang kacau.     To: Agatha     Tadi gue diintrogasi. Gue dijadiin saksi.     From: Agatha     Gilaaa!! Gimana bisa? Ceritain dong, please... :)     To: Agatha     Gue juga pengen cerita, butuh temen curhat nih. Yellow Cubic jam 4 ya, Tha.     From: Agatha     Siap bos kuhhh. Hehe. See you ntar sore.     Shana memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku. Ia keluar dari ruangan itu dan menutup pintu kelasnya kemudian bergegas berjalan ke halaman sekolah. Ia menghampiri mobil ayahnya. Ia langsung masuk ke dalam mobil itu.     Shana memandang orang yang berada di balik kemudi. Seorang laki-laki namun bukan ayahnya! Lalu ia salah masuk mobil gitu? Mana mungkin. Shana hafal betul mobil kesayangan ayahnya itu.     Shana menatap canggung orang di sebelahnya. Siapa dia? Rekan ayahnya? Shana meneliti orang tersebut dari atas sampai bawah. Ia menggunakan jaket berwarna abu-abu, lengkap dengan topi dan masker yang menyembunyikan wajahnya. Satu yang Shana yakini, ia menggunakan celana abu-abu seragam sma seperti rok yang dipakai Shana.     Orang itu langsung keluar dari mobil menyadari bahwa Shana sedang mengamatinya lekat. Dia menghilang di jalan belokan ruang piket guru. Tak lama ayah Shana masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobilnya dan segera tancap gas.     "Rekan ayah," kata ayah Shana tiba-tiba di tengah perjalanan mereka menuju rumah.     "Siapa?" tanya Shana kebingungan.     "Yang tadi keluar dari mobil ayah," jelas ayah Shana.     "Oooh orang yang tadi itu. Ayah nanti sore aku mau main sama Agatha. Nggak lama kok. Boleh ya?" Shana mulai merayu.     "Nggak lelah kamu? Setelah diinterogasi, kebanyakan orang akan merasa lelah dan mungkin takut, kehilangan mood, bahkan khawatir." Ayah Shana menatap Shana lekat.     "Enggak kok, akunya semangat gini. Beda Yah, aku nggak takut kok diinterogasi. Aku kan anak ayah. Boleh ya, udah terlanjur janjian sama Agatha jam empat sore nanti. Oh ya, aku cuma ke Yellow Cubic. Kan dekat dari rumah." Shana masih berusaha meyakinkan.     "Yaudah apa boleh buat. Kamu minta izin tapi ngotot harus dipenuhi," putus ayahnya Shana.     "Hore... Makasih ayah." Shana berseru riang.     Mereka telah sampai di rumah. Shana langsung membuka pintu dan masuk meninggalkan ayahnya yang masih berada di dalam mobil. Ayah Shana menelepon seseorang.     "Hallo, nak Elias? Saya butuh bantuan anda."     "Iya pak Gerald, apakah perlindungan saksi?"     "Tepat. Dia akan keluar untuk bertemu temannya pukul empat sore di sebuah cafe bernama Yellow Cubic. Letak cafe itu ada di persimpangan jalan dekat rumah saya. Saya butuh bantuan anda nak Elias, karena saya harus pergi mengecek beberapa hasil autopsi mayat. Saya tidak ingin Shana dalam bahaya. Dia adalah saksi kunci dan pelapor." Hening sejenak, "dia juga putri tunggal saya. Tolong awasi dia sejak keluar dari rumah."     "Akan saya laksanakan." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN