2|| Bertemu Target Secara Langsung

1339 Kata
15.38     Shana terus memandangi jam yang melingkar di tangannya. Rasanya ia ingin menyingkat waktu dan segera bertemu sahabatnya. Ia geregetan kalau harus menyimpan semuanya sendiri. Bukan berarti Shana itu suka ngember kemana-mana, ia hanya terbuka pada sahabatnya.     Shana sudah menunggu lumayan lama di sana. Sambil menunggu, Shana mengamati sekelilingnya. Keadaan cafe itu tak terlalu ramai. Maklum ini bukan akhir pekan. Tiba-tiba saja terlintas lagi di otak Shana tentang siapa mayat yang tadi dilihatnya.     "Ckckck, dah sampai aja. Kangen banget ya sama gue?" Suara riang Agatha membuyarkan lamunan Shana.     "Iya nih, pengen cepet cerita. Soalnya ceritanya panjang banget." Antusiasme Shana terdengar dari suaranya.     "Bentar gue pesen dulu. Nggak asik kalau nggak sama ngemil," kata Agatha sambil berjalan untuk memesan beberapa makanan ringan. Yang pasti selalu ada ice cream untuk mereka berdua.     "Sip. Kayak biasa ya," balas Shana dengan teriakan tertahan namun mampu didengar dengan baik oleh Agatha. Terbukti dengan Agatha yang manggut-manggut paham.     Agatha telah kembali dari acara memesan makanannya. Ia duduk di depan Shana. Badannya dicondongkan ke arah Shana. Seperti sedang membicarakan rahasia besar, Agatha memelankan suaranya ketika bertanya perihal mayat di sekolah itu.     "Gimana? Ceritain dari awal dong kejadiannya," pinta Agatha.     “Mundurin ih kepala lo, jangan deket-deket gitu mukanya,” ujar Shana.     "Gue cuma cari amannya Sha. Bisa aja kan si pembunuh ngikutin lo, diam-diam dengerin obrolan kita. Bisa gawat kalau beneran. Hih amit-amit deh kalau gue ikutan kenapa-napa. Lagian nih ya, sekolah masih merahasiakan dari media tentang pembunuhan ini. Biar akreditasi sekolah nggak turun. Nah kalau kebetulan ada wartawan yang dengar pembicaraan kita, terus kita diwawancara masuk tv, bisa di drop out kita dari sekolah atas tuduhan pencemaran nama baik." Agatha panik sendiri.     "Nggak bakalan, gue saksi, pasti ada orang yang ngelindungi gue walau dia nggak nampak jelas," ujar Shana menenangkan.     "Ck, belum tentu. Takutnya nih, kalau pihak kepolisian lengah terus ada jalan buat si pembunuh nyelakain lo atau bahkan gue gimana?" Agatha masih menolak untuk tenang.     "Nggak usah dramatis deh, Tha. Semua aman kok. Lo mau gue cerita apa enggak?" Shana berucap tak sabaran.     "Mau banget lah. Gila aja gue penasaran setengah mati. Masak iya lo mau nyembunyiin cerita menarik dari gue," ucap Agatha sambil nyengir.     Akhirnya Shana menceritakan semuanya. Ia juga menyuruh Agatha tutup mulut supaya informasi ini tidak bocor kemana-mana. Agatha setuju.     Mereka menghabiskan makanan sambil mengobrol seru. Setelah makanan habis mereka yang sudah membayar di awal langsung pulang ke rumah masing-masing. Ya, mereka bertemu hanya untuk membicarakan hal mengerikan itu. Setelahnya mereka kembali berpisah. ***     Arthur menyalakan mesin mobilnya kala ia melihat dua gadis yang tengah diintainya keluar dari cafe. Mereka berdua naik taksi yang berbeda ke arah berbeda pula. Arthur mengikuti taksi yang di dalamnya terdapat penumpang bernama Shana, targetnya.     Ia memelankan laju mobilnya ketika taksi itu sudah hampir berhenti di sebuah rumah yang cukup besar. Shana langsung pulang menuju rumahnya. Arthur menunggu hingga Shana masuk ke dalam rumah. Arthur mendekatkan mobilnya ke arah gerbang masuk rumah Shana.     Arthur mematikan mesin mobilnya dan membuka jendela kaca bagian ia duduk. Udara sore hari menyapanya lembut.     Ia terkesiap saat seorang gadis seumuran dengannya memaksa masuk ke dalam mobilnya. Arthur menurunkan kaca mobil di sebelah kirinya.     "Gue Shana, lo salah satu anak buah ayah kan?"     "Hnng, i... iya, ada apa?" Kaget adalah ekspresi yang menyertai kalimat yang dilontarkan Arthur. Sejak kapan targetnya yang jelas mata Arthur lihat sudah masuk gerbang rumah namun sekarang malah berdiri di sisi mobilnya.     "Bawa gue kemana aja, jalan-jalan kek, makan kek. Yah, please?!"     "Kenapa emangnya? Ada yang mencurigakan?"     "Enggak sih, cuma males aja di rumah sendiri, sepi. Dari pada lo juga sendirian ngawasin gue di sini, mending kita deketan aja. Jadi lo nggak susah, hehe."     Arthur melongo. Oke targetnya terbilang cukup aneh. Arthur mempersilakannya masuk ke mobil. Terjadi keheningan beberapa saat. Keduanya tak bersuara. Mereka sama-sama bergulat dengan pemikiran masing-masing.     "Gue pengen banget bisa ikut mecahin kasus ini." Shana buka suara.     "Alasannya?"     "Kemungkinan kasus itu akan dianggap bunuh diri sama sekolah. Tentu aja sekolah nggak mau kalau nama baik serta akreditasinya hancur dengan kasus teror pembunuhan seperti ini. Dan gue nggak terima."     "Well, lo nggak percaya aja sama ayah lo?"     "Gue percaya. Lebih dari apa pun gue nggak akan meragukan usaha ayah dalam mengungkap setiap kasus. Tapi kalau sekolah udah memutuskan ini adalah kasus bunuh diri maka ayah dan tim juga nggak bisa berbuat apa-apa kan selain menutup kasusnya."     "Lo udah bocorin sebagian kesaksian lo ke temen lo beberapa waktu lalu. Lo itu kelihatannya nggak bisa dipercaya." Arthur berkata dengan raut wajah datar, sulit dibaca emosinya.     Shana melongo. Apa dia sudah disadap ya? Shana langsung berkata, "Gue cuma bilang sama sahabat gue, nggak ke semua orang. Lagian kok lo denger sih percakapan gue sama Agatha?"     "Mau dia sahabat atau apa pun itu, yang lo ceritain ke dia adalah sebuah rahasia. Lo nggak bisa percaya gitu aja sama dia. Lo juga bisa aja malah mendekatkan diri pada bahaya. Oh ya, lo udah disadap."     Shana menghela napas. Ia berusaha mencari pembahasan lain. "Oh ya, kita jalan-jalan yuk. Masak iya mau berduaan dalam mobil sampai ntar malem, bosen kan." Shana berucap. Mereka akhirnya pergi ke suatu mall.     Shana mengajak Arthur berkeliling. Shana membeli berbagai makanan ringan dari mulai ice cream kesukaannya (padahal tadi ia sudah membelinya bersama Agatha). Mereka berakhir di salah satu restoran pizza terkenal masih di dalam satu Mall.     Arthur lebih banyak diam. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi tingkah gadis di depannya. Ia adalah tipe cowok pendiam yang tidak banyak tingkah. Sesekali Arthur nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Nampak sangat berkebalikan dengan tingkah laku Arthur, Shana sesekali memekik girang saat melihat sesuatu yang mampu memanjakan matanya. Ia bahkan dengan semangat menarik-narik tangan Arthur. Seolah Shana sudah merasa akrab dengan Arthur.     Selesai makan pizza, mereka segera kembali ke mobil. Shana merasakan perutnya kekenyangan. Jelas saja, ia selalu membeli makanan yang dianggapnya enak. Arthur hanya menggeleng melihat tingkah gadis di sampingnya. Ia kemudian mejalankan mobilnya keluar area parkir.     Arthur mengantar Shana sampai di rumahnya. Shana bilang bundanya sudah pulang jadi Arthur juga tidak perlu mengawasinya. ***     Arthur duduk di depan komputernya yang terletak di meja belajarnya. Badannya hampir tertutup tumpukan berkas-berkas yang mirip seperti gunung itu. Kamarnya sudah ia rapikan namun tetap saja untuk bagian meja belajar yang juga menjadi meja kerjanya itu termasuk bagian yang tak akan pernah bisa rapi.     Arthur membuka handphonenya. Ia melihat notifikasi pesan w******p. Rupanya ia ditambahkan oleh seseorang ke dalam sebuah grup chat. Oh, rupanya ini grup angkatan. Tapi siapa yang tahu nomornya? Bahkan ia juga belum memperkenalkan diri pada teman-temannya. Jelas saja hari pertamanya masuk sekolah sudah ia habiskan untuk membantu memecahkan kasus di SMA Argosaka.     Sebuah pesan WA masuk dari nomor yang tak disimpan olehnya. Ia membukanya walau perhatiannya terbagi dengan berkas yang tengah ia baca.     08225369**** : Shana. Simpen ya.     Arthur : Lo yang masukin gue ke grup chat angkatan ya?     Arthur : Lancang banget sih!     08225369**** : Iya. Gue dapet nomor lo dari ayah. Trus berhubung kata ayah lo bakal jadi temen sekelas gue jadi ya gue masukin lo ke grup angkatan biar lo nggak ketinggalan info terkini gitu.     Arthur : Ck, dasar nggak sopan.     Arthur : Lancang lo.     08225369**** : Oke gue minta maaf tapi nanti lo bakal liat sendiri manfaat dari grup ini.     08225369**** : See you besok di sekolah.     Arthur mengacak rambutnya. Ia tak habis pikir dengan tingkah Shana. Untung saja gadis itu adalah saksi dan anak dari atasannya, Arthur jadi bisa menahan emosinya.     Arthur kembali membaca berkas-berkas yang diberikan pak Lambang, rekannya. Ia menganalisis informasi dan mencoba membuat alur yang tepat. Mengapa semua ini nampak seperti bunuh diri. Sama sekali tidak ada jejak sang pembunuh. Namun ia sendiri melihat seseorang yang mencurigakan pagi itu.     Arthur memijat pelipisnya. Ia menelpon sahabatnya, Nino. Sahabatnya itu adalah pemain biola yang hebat. Nino bersekolah di SMA Kidung Seni. Tadinya Arthur juga ingin bersekolah di sana. Namun papanya tidak mengizinkannya. Alasannya karena papanya tidak ingin punya anak seniman. Walaupun tak menutup fakta bahwa papanya lah dulu yang mengenalkannya pada alat musik bernama cello.     Nino mangangkat telepon Arthur. Mereka bercakap-cakap sebentar. Mereka membicarakan banyak hal dari yang penting sampai yang tidak penting. Arthur tertawa saat Nino mengatakan sesuatu yang lucu. Setidaknya itu mampu mengurangi kepenatan yang dirasakan Arthur saat ini.     Mereka memutuskan telepon setelah setengah jam mengobrol. Arthur mematikan komputernya kemudian naik ke atas tempat tidur membawa beberapa berkas yang rencananya akan dibaca-baca olehnya. Belum sampai sepuluh menit membaca berkas-berkas itu, Arthur telah jatuh tertidur dalam keadaan duduk bersandar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN