BAB 20: "Malaikat" yang Dikirim David?

1196 Kata
Koridor apartemen malam itu terasa seperti wahana kapal oleng bagi Maria. Kepalanya yang pening membuat setiap langkahnya terasa tidak menapak pada lantai marmer yang dingin. Dunianya berputar, bising oleh tawa-tawa imajiner akibat sedikit alkohol yang ia minum di pesta tadi. Di sisi lain, Michael Elias Thorne berusaha sekuat tenaga mempertahankan wibawanya sebagai "sipir" yang tangguh, meskipun kaki kirinya yang cedera berdenyut sakit setiap kali ia harus menahan beban tubuh Maria yang limbung dan tidak kooperatif. "Michael... kenapa langit-langitnya hobi sekali berputar?" gumam Maria pelan. Jemarinya mencengkeram erat kemeja Michael hingga kain mahal itu kusut tak berbentuk. Michael mengembuskan napas panjang, mencoba menahan rasa gemas sekaligus kesal yang mulai memuncak. "Langit-langitnya diam di tempat, Maria. Kau saja yang terlalu banyak minum," sahut Michael dengan suara baritonnya yang datar. Namun, meski suaranya dingin, tangannya merangkul pinggang Maria lebih erat—begitu protektif seolah ia sedang menjaga satu-satunya barang pecah belah paling berharga di dunia agar tidak mencium lantai. "Aku cuma minum sedikit! Sarah yang menuangkannya terus... dia bilang aku harus sesekali minum kalau ingin tetap waras," racaunya dengan sedikit terbata-bata, matanya menyipit mencoba fokus pada wajah Michael yang tampak berbayang dua. Sesampainya di depan pintu nomor empat, drama yang sesungguhnya dimulai. Michael melepaskan satu tangannya untuk merogoh tas tangan Maria guna mencari kunci. Namun, Maria tiba-tiba melepaskan pegangannya dan mencoba "membantu" dengan gerakan yang sangat tidak terkoordinasi. "Biar aku saja... aku tahu di mana kuncinya bersembunyi. Dia itu tipe kunci yang pemalu," racau Maria sambil memasukkan tangannya ke dalam tas, mengaduk-aduk isinya seperti sedang mencari harta karun di dasar laut. "Maria, biarkan aku saja yang—" "Ketemu!" seru Maria riang. Namun, yang ia keluarkan dari tas bukanlah kunci logam, melainkan sebuah lipstik berwarna merah menyala. Ia menatap benda itu dengan dahi berkerut, tampak sangat bingung. "Lho, kuncinya kenapa berubah jadi merah dan lembek?" Michael memijit pangkal hidungnya, merasakan pening yang mulai menular. "Berikan tasnya padaku, Maria." "Tidak! Aku bisa sendiri! Aku wanita mandiri yang... hup!" Maria nyaris terjungkal ke belakang jika Michael tidak sigap menahan punggungnya. Maria kembali merogoh tasnya, dan kali ini ia benar-benar mengeluarkan sebuah kunci. Namun, bukannya memasukkannya ke lubang kunci yang tepat, ia malah mencoba menusukkannya ke tombol bel pintu berkali-kali. Ting tong! Ting tong! "Kenapa pintunya tidak mau terbuka? Apa dia marah padaku karena aku pulang telat?" Maria mulai mengajak bicara pintu kayu itu dengan nada sedih yang dibuat-buat, bibirnya mencebik lucu. "Maaf ya, pintu... jangan merajuk." Michael tidak bisa lagi menahan tawa sinis yang nyaris meledak. Ia segera merebut kunci itu, dan membuka pintu dalam satu gerakan efisien. Ia mendorong pintu terbuka dan setengah menyeret, setengah menggendong Maria masuk ke dalam kegelapan apartemen yang sunyi. Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang mantap, Maria tiba-tiba berputar menghadap Michael. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, menatap Michael dengan mata sayu yang penuh selidik, namun berkilau oleh efek alkohol. "Kau..." Maria menunjuk d**a Michael dengan telunjuknya yang gemetar. "Kenapa jalanmu pincang seperti penguin?" Michael membeku. Penguin?! "Kakiku menabrak tepi meja tadi malam. Bukan urusanmu!" "Oh..." Maria mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Aroma wine yang manis dan memabukkan, berbaur dengan wangi maskulin cedarwood dari tubuh Michael. "Jadi monster besar yang perfeksionis sepertimu, bisa ceroboh juga ya?" Maria tertawa kecil, suara tawa yang jernih namun terdengar sangat rapuh di telinga Michael. Dalam gerakan yang tak terduga, Maria menarik dasi dan kerah kemeja Michael, memaksa pria jangkung itu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa milimeter. Jemari Maria yang dingin mulai mengusap rahang tegas Michael dengan gerakan lambat. Sentuhan itu ringan, namun bagi Michael, rasanya seperti sengatan listrik yang membakar kulit dan mengacaukan seluruh sirkuit kewarasannya. "Kau terlihat lebih baik kalau sedang pincang," bisik Maria, suaranya kini berubah menjadi rendah, hampir menyerupai godaan yang tidak disengaja. "Lebih... manusiawi." "Jangan bertingkah, Maria... aku bisa menghukummu jika kau melewati batas," ancam Michael dengan suara yang bergetar karena menahan gejolak. "Oh ya? Apa yang bisa kau lakukan emangnya, Tuan Sipir?" tantang Maria, ia justru semakin menempelkan tubuhnya pada Michael tanpa celah, membiarkan panas tubuh mereka menyatu di ruang tamu yang temaram. Michael mengatupkan bibirnya rapat, matanya mengunci bibir Maria yang setengah terbuka—bibir yang beberapa detik lalu baru saja menantangnya dengan begitu lancang. Ada bisikan aneh di telinganya, sebuah dorongan primitif untuk mengklaim bibir itu malam ini, menyedot seluruh napas dan kesadaran Maria hingga tak bersisa. Namun, di saat yang sama, sebuah pengingat pahit muncul di kepalanya: setiap inci Maria yang ia lihat saat ini, terasa seperti "barang curian" dari pria yang telah ia bunuh. Ia merasa seperti pencuri yang sedang menikmati harta dari mayat korbannya. Michael akhirnya mencoba mengalihkan perhatian dengan mendudukan Maria di sofa, lalu sedikit menunduk untuk melepaskan mantel dan sepatu Maria, agar wanita itu bisa tidur dengan nyaman. Namun, Maria justru menarik Michael dengan sentakan mendadak hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh di atasnya di sofa. Dalam kondisi remang dan dipenuhi aroma wine yang menyesakkan, Michael menatap mata Maria yang sayu. Ia berbisik tepat di depan wajah Maria, suara yang sarat dengan obsesi gelap, "Kau tidak tahu betapa aku ingin menghancurkanmu sekarang, Maria... agar kau berhenti menatapku dengan mata itu." Akhirnya, dengan segala sisa pengendalian diri yang ia miliki, Michael membimbing Maria menuju ranjang. Ia kemudian berbaring di sebelah Maria sejenak, menatap wanita itu yang mulai memejamkan mata, bersiap menyerah pada tidur. Namun tiba-tiba, Maria kembali membuka matanya. Kali ini, matanya yang berkaca-kaca menatap Michael dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara kebingungan, duka yang mendalam, dan perasaan aneh yang ia sendiri benci untuk akui. "Kenapa..." bisik Maria parau, suaranya pecah oleh isak yang tertahan. Ia menarik kerah jaket Michael, memaksa pria itu untuk sedikit membungkuk lebih dekat. "Kenapa kau selalu ada, Michael? Kenapa kau selalu muncul di saat aku paling kesepian? Apa... apa kau adalah malaikat yang dikirim oleh David untuk menjagaku?" Jantung Michael seolah berhenti berdetak saat itu juga. Pertanyaan itu terasa seperti belati yang menghunjam tepat di pusat rasa bersalahnya, memutar-mutar luka yang belum kering. Malaikat?! Bagaimana mungkin Maria bisa menyebutnya malaikat, sementara dialah yang telah mengirim David ke liang lahat? Di saat dialah yang telah menghancurkan seluruh dunianya? Michael merasa jiwanya baru saja terbakar oleh ironi yang paling nista di alam semesta. Michael menatap bibir Maria yang bergetar, lalu beralih ke matanya yang nanar. Di balik ketenangan wajah Michael, ada badai kepahitan yang menghancurkannya dari dalam. Ia ingin berteriak bahwa ia adalah iblis yang sedang menyamar, namun lidahnya terasa kelu. "Aku bukan siapa-siapa, Maria," jawab Michael akhirnya dengan suara serak yang penuh dengan kebohongan nista. Ia menjauhkan wajahnya, melepaskan cengkeraman tangan Maria dengan lembut namun tegas. "Aku hanya pria yang kebetulan menemukanmu dalam keadaan hancur, dan sendirian. Dan aku akan menunggu, sampai kau benar-benar bisa berdiri tegak kembali." Michael berdiri, membelakangi Maria agar wanita itu tidak melihat kilat kehancuran di matanya. "Setelah itu... aku akan pergi dari hidupmu. Aku janji," sambungnya dengan nada yang sangat dingin, sebuah janji yang ia buat untuk dirinya sendiri sebagai bentuk penebusan dosa yang paling menyakitkan. Maria tidak merespons lagi, ia telah tertidur sebelum sempat mendengar janji perpisahan itu. Sedangkan Michael tetap berdiri mematung di tengah kegelapan, menyadari bahwa ia baru saja membangun sebuah penjara baru—bukan untuk Maria, tapi untuk dirinya sendiri. .........................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN