Beberapa minggu kemudian mengalir seperti arus sungai yang tenang namun menyimpan palung yang dalam.
Michael Elias Thorne telah kembali ke unitnya sendiri, namun ketidakhadirannya justru terasa menyesakkan untuk Maria. Baginya, kebebasan yang ia dapatkan, kini terasa hampa; apartemen nomor empat kini hanyalah kotak dingin yang menyimpan gema langkah kaki Michael yang tak kunjung datang.
Namun, di seberang koridor, Michael pun sedang kesulitan bertarung dengan hantunya sendiri. Ia tidak pernah tertidur nyenyak. Tidur nyenyak adalah sebuah kemewahan yang tidak pernah benar-benar ia miliki sejak malam berdarah di persimpangan jalan itu, karena hantu Maria selalu muncul di alam bawah sadarnya setiap ia jatuh tertidur.
Sore itu, Michael jatuh terlelap di ruang kerjanya. Dalam mimpinya, ia menemukan dirinya berada di sebuah tempat yang asing namun terasa begitu nyata.
Sebuah pantai yang sunyi.
Michael menoleh, menatap Maria yang duduk disamping kirinya. Semilir angin pantai yang membawa aroma garam dan kelembapan laut menerbangkan rambut panjang Maria yang dibiarkan tergerai liar.
Deburan ombak menghantam bebatuan di tepi panta, menimbulkan bunyi gemerisik yang anehnya mampu menenangkan syaraf Michael.
Buih–buih putih sisa penghantaman itu menyentuh kaki mereka, menimbulkan beberapa genangan pada permukaan pasir yang tidak rata.
Maria sedang memainkan genangan air kecil dengan kaki kirinya, tampak seperti anak kecil yang menemukan kebahagiaan sederhana. Satu cipratan air berhasil meloncat dan mampir ke jaket cokelat panjang yang dikenakannya, meninggalkan noda gelap yang kontras.
Tiba-tiba, ia mendesah panjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan selama beberapa detik, seolah sedang mencoba menghapus memori yang menyakitkan.
Kemudian Maria mendongak, menatap langit malam yang mulai diselimuti kabut tipis. Mega yang terbentang luas di atas sana tampak seperti kanvas kelabu yang tak berujung.
Ia mengambil sekaleng bir dari sisinya dan meminumnya dengan cepat, seolah cairan pahit itu adalah obat untuk jiwanya. Hanya satu tegukan, ia lalu menoleh ke arah Michael, memberikan sebuah senyum yang—meskipun indah—terlihat sangat dipaksakan.
“Kau tahu, Michael... awalnya aku sangat membencimu. Tidak... Lebih tepatnya, aku hanya tidak suka melihatmu,” bisik Maria.
Jantung Michael berdebar, kedua matanya tidak bisa beralih dari fokusnya pada wanita itu.
“Karena kau... sekilas terlihat begitu serupa,” Maria menjeda kalimatnya, menatap deburan ombak dengan pandangan yang menerawang jauh. “Kau terlihat serupa dengan seseorang yang sangat kurindukan. Dan itu... membuatku sangat kesulitan untuk sekadar bernapas di dekatmu.”
Maria meneguk birnya lagi, memberikan senyum tipis yang menyayat hati. “Apa aku terdengar menyedihkan? Padahal kau dan dia... adalah dua orang yang sangat berbeda.”
Michael tersentak, lalu mengerjap.
Kelopak matanya terbuka paksa, menatap atap kamar yang gelap dengan tatapan kosong.
Ini hanya mimpi.
Satu dari ratusan mimpi tentang gadis itu, yang mengusik tidurnya.
Sepersekian detik kemudian, Michael mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa aroma laut yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ia beranjak duduk dan menyibakkan selimutnya. Kepalanya terasa pening, seperti dipukul benda tumpul. Ia melirik jam beker di atas nakas kayu.
Jam empat pagi.
Michael menghembuskan napas sekali lagi, sambil menatap sedikit cahaya temaram yang tercipta dari celah kecil jendela kamar.
Dadanya sesak.
Entah karena apa...
Michael mengusap wajahnya, hendak mengucek matanya yang terasa berat hingga ia menyadari sesuatu yang membuatnya membeku.
Pipinya basah.
“Apa ini? Air mata?” bisiknya dengan nada mencemooh diri sendiri.
Ini bahkan bukan mimpi yang sedih...
Di dalamnya tidak ada kecelakaan, tidak ada darah, bahkan tidak ada David secara fisik.
Hanya ada Maria dan senyum sedihnya.
Namun, kenapa dadanya terasa begitu sesak?!
Kalimat Maria dalam mimpi itu terus bergema: “Serupa.”
Apa Maria melihat David dalam dirinya?
Apakah semua perhatian dan senyum yang sesekali Michael dapatkan dari wanita itu, hanya karena ia menjadi bayangan dari pria yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri?!
Pemikiran itu menghantam Michael lebih keras daripada rasa bersalah mana pun. Ia merasa seperti seorang pencuri identitas, seorang penjahat yang bersembunyi di balik wajah pria yang nyawanya ia rampas sendiri.
“Menyebalkan,” gumam Michael pelan.
Michael menyeret kakinya ke arah kamar mandi, namun tiba-tiba ia meringis dan menunduk menatap kaki kirinya.
Kemarin malam, ia sempat menabrak tepi tempat tidur dengan bunyi gedebug yang keras saat terburu-buru mengambil ponsel. Kaki itu kini berdenyut sakit, menyebabkan langkahnya sedikit pincang. Namun, Michael tidak peduli. Ia menutup pintu kamar mandi dengan dentuman keras, seolah ingin meredam kegelisahan yang membakar dadanya.
Malam harinya, di sudut lain London, Maria Vance Christie baru saja keluar dari sebuah acara makan malam kantor. Kepalanya terasa sedikit pening—efek dari segelas kecil wine yang ia minum untuk menghargai rekan kerjanya. Dinginnya malam London menembus mantelnya, membuat Maria merapatkan pelukannya pada tas tangannya.
Maria kemudian memutuskan untuk mengambil jalan pintas melalui sebuah gang sempit yang menanjak menuju gedung apartemennya, berharap bisa lebih cepat merebahkan diri di kasurnya. Jalan ini bisa memangkas waktu sepuluh menit daripada harus memutar melewati jalan utama yang bising.
Namun, begitu kakinya melangkah masuk ke dalam gang yang hanya diterangi lampu jalan remang yang sesekali berkedip itu, Maria segera menyesalinya.
Suasana sangat sepi. Hanya ada bunyi angin yang bersiul di antara celah bangunan tua.
Lalu, ia mendengarnya.
Tap. Tap. Tap.
Ada suara langkah kaki di belakangnya.
Maria terkesiap pelan, jantungnya mulai memompa adrenalin dengan cepat. Ia mempercepat langkahnya, memasang telinga dengan tajam.
Benar saja, langkah di belakangnya juga ikut menambah kecepatannya, sesuai irama langkah Maria.
Jangan panik, Maria. Ini London, mungkin hanya orang lain yang juga ingin pulang cepat, batinnya mencoba menenangkan diri.
Namun, saat ia melirik sekilas ke balik bahunya, ia menangkap sosok tinggi dengan wajah yang tertutup hoodie gelap, berjalan tidak jauh di belakangnya.
Bulu kuduk Maria meremang. Trauma masa lalunya membuat akal sehatnya terbang keluar jendela, membuatnya segera berpikir tentang kemungkinan terburuk.
Bayangan tentang penguntit atau pelaku kejahatan di jalanan sepi London mulai memenuhi benaknya.
Napas Maria mulai memburu. Atap gedung apartemennya sudah terlihat di kejauhan, namun kakinya terasa kaku seperti kayu. Ia nyaris berlari ketika tiba-tiba suara langkah di belakangnya terdengar semakin dekat—terlalu dekat.
“Hei...” sebuah suara rendah laki-laki terdengar tepat di belakangnya.
Maria merasakan sebuah tangan besar mencengkeram bahunya dari belakang. Kepanikannya meledak menjadi agresi murni.
“PERGI!” jerit Maria sekuat tenaga.
Ia berputar dengan cepat, mengayunkan tas tangannya yang berisi buku-buku tebal dengan kekuatan penuh ke arah orang itu.
Gedebug!
Tas itu menghantam sisi tubuh pria itu dengan keras. Maria tidak berhenti; ia mengayunkan tasnya sekali lagi dengan membabi buta, siap memberikan perlawanan hingga titik darah penghabisan.
“Tunggu, Maria! Ini aku! Ini aku!”
Suara itu... Maria menghentikan ayunan tangannya di udara secara mendadak, dadanya naik-turun dengan hebat.
Pria itu kini sudah menangkap kedua pergelangan tangannya, menarik tubuh Maria masuk ke dalam dekapannya untuk menghentikan serangan brutal itu.
Aroma familiar segera menyerang hidung Maria—aroma cedarwood, kopi, dan kehangatan maskulin yang hanya dimiliki oleh satu orang.
Kepalanya yang pening membuat proses identifikasi itu terasa lambat, namun perlahan, ketika pria itu mengurai pelukannya, dan menurunkan tudung hoodie-nya, Maria ternganga.
Wajah pucat, dan rambut yang agak acak-acakan...
“Michael?!!”
Michael meringis, sebelah tangannya memegangi pinggangnya yang berdenyut nyeri setelah dihantam tas Maria.
“Kau... kau punya tenaga yang mengerikan untuk seseorang yang terlihat linglung,” ujar Michael dengan tawa kecil yang serak.
"Apa yang kau lakukan?! Kau mengikutiku?!" amuk Maria, meskipun rasa takutnya kini berganti menjadi rasa lega yang luar biasa.
“Aku hanya kebetulan dalam perjalanan pulang dari studioku, dan melihatmu berjalan sendirian masuk ke gang ini. Aku khawatir, Maria,” bohong Michael dengan nada rendah yang mendominasi, padahal ia memang sudah menunggu di dekat kantor Maria karena khawatir wanita itu pulang terlalu malam.
“Dan syukurlah aku mengikutimu, kalau tidak, mungkin kau sudah memukul orang asing dengan tasmu itu sampai pingsan.”
Maria mendengus, mencoba melepaskan diri, namun kepalanya mendadak berputar hebat.
Ia oleng, dan Michael dengan sigap kembali menangkap pinggangnya, menarik tubuh Maria hingga d**a mereka bersentuhan erat.
“Kau mabuk, Maria?” bisik Michael, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Maria.
“Hanya sedikit... kepalaku hanya agak ringan,” gumam Maria, tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya di d**a bidang Michael, menghirup aroma pria itu yang terasa lebih memabukkan daripada wine yang ia minum tadi.
Michael menatap Maria yang tampak begitu rapuh dan pasrah dalam dekapannya. Keinginan untuk melindungi—dan keinginan untuk memiliki—mulai membakar dadanya.
Michael akhirnya merapatkan pelukannya, tangan besarnya mengusap punggung Maria dengan gerakan posesif yang lambat, menciptakan suasana yang mendadak terasa memanas di tengah dinginnya malam London.
"Lain kali, jangan pernah lewat sini sendirian. Kau mengerti?" perintah Michael, suaranya kini lebih serak dan rendah.
“Ayo pulang,” bisik Michael. “Sebelum kau memutuskan untuk menyerangku lagi.”
Michael tidak membiarkan Maria berjalan sendiri. Ia merangkul bahu Maria, menuntunnya dengan langkah yang sedikit timpang—karena kaki kirinya yang cedera tadi pagi.
Di bawah temaram lampu jalan, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang berbagi kehangatan.
Padahal, tanpa Maria tahu, pria yang sedang mendekapnya dengan begitu protektif adalah monster yang paling ingin ia kutuk di dunia ini.
.....................