Lantai kayu The Blackwood Library berderit pelan di bawah langkah Maria, sebuah bunyi akrab yang selama bertahun-tahun menjadi musik latar hidupnya.
Harum kertas tua yang menguning dan aroma kopi dari lilin aromaterapi di sudut ruangan menyambutnya, memberikan ilusi bahwa hidupnya masih sama seperti dulu.
Rekan-rekan kerjanya mengerubunginya dengan heboh, melontarkan rentetan pertanyaan cemas yang nyaris membuatnya sesak napas.
"Maria! Ya Tuhan, kami sangat khawatir! Kau sakit apa sampai tidak memberi kabar tiga hari? Apa kau masuk rumah sakit lagi, seperti sebelumnya?" tanya Sarah, salah satu pustakawan senior, sambil menyentuh bahu Maria dengan tulus.
Maria memaksakan sebuah senyum tipis—topeng yang sudah mahir ia kenakan.
"Hanya kelelahan dan demam parah, Sarah. Maaf sudah membuat kalian repot."
Maria sama sekali tidak menyebutkan tentang pil-pil tidur yang nyaris merenggut nyawanya dan membuatnya masuk rumah sakit, di cuti-nya sebelumnya.
Ia tidak menceritakan tentang bagaimana dirinya ingin melompat ke tengah jalan, ke bawah truk yang melintas, beberapa malam lalu.
Ia hanya berusaha mengunci rapat-rapat kehancuran jiwanya di dalam peti besi yang kuncinya ia buang ke dasar hati paling dalam.
Bagi Maria, dunia tidak perlu tahu bahwa ia adalah reruntuhan yang hanya sedang mencoba berdiri tegak kembali.
Satu bulan pun akhirnya berlalu dalam pola yang ketat dan disiplin, sejak Maria kembali bekerja.
Ia kini mematuhi setiap jadwal sesi terapi bersama Dokter Eleanor Frans, dan Michael—sesuai dengan peran barunya sebagai wali tidak resmi yang dominan—selalu ada di sana.
Tiga kali seminggu, Michael menjemputnya tepat waktu untuk sesi terapi di klinik kawasan Mayfair.
Keheningan selalu menyertai perjalanan mereka di dalam mobil, namun perlahan, keheningan itu tidak lagi terasa mengancam. Ada kenyamanan aneh yang mulai menyelimuti, seolah-olah duka dan rasa bersalah mereka telah menemukan frekuensi yang sama.
Sore itu, hujan turun membasahi London sejak siang, menyisakan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Michael memarkir mobilnya di seberang jalan perpustakaan tepat pukul 17.00. Dari balik kaca mobil, ia menatap ke jendela besar perpustakaan.
Di sana, ia menemukan Maria sedang duduk di balik meja kayu besar, jemarinya bergerak tenang menyortir deretan buku sastra klasik.
Michael memperhatikan wanita itu selama beberapa saat, seolah sedang mengambil potret dengan matanya, dari ketenangan yang rapuh itu.
Michael kemudian keluar dari mobil, mengembangkan payung hitam besar, dan melangkah menembus rintik hujan.
Sesampainya di dalam lobi perpustakaan, ia menaruh payungnya di sudut dan melangkah mendekati meja Maria.
“Sudah waktunya,” kata Michael pelan. Suaranya rendah, namun segera memutus fokus Maria.
Maria mendongak, dan matanya melebar karena panik yang mendadak. “Sudah kukatakan jangan masuk ke sini!” bisiknya dengan nada tertekan sambil melirik ke arah rekan kerjanya di meja referensi. “Bagaimana jika rekan kerjaku melihatmu? Mereka pasti akan menggodaku dengan hal-hal yang aneh.”
Michael hanya menatapnya dengan pandangan datar, tak peduli, seolah godaan manusia lain hanyalah bising latar belakang yang tak berarti.
“Tunggu saja di mobilmu. Sebentar lagi aku menyusul,” perintah Maria lagi.
Michael mengangguk singkat, lalu berbalik pergi tanpa kata.
Maria segera membereskan mejanya dengan terburu-buru, jantungnya berdebar dengan debaran yang aneh.
Begitu Maria keluar dari pintu lobi, hujan turun lebih deras tanpa aba-aba, seolah langit sedang menumpahkan amarahnya.
Maria mengumpat pelan. Ia teringat payungnya tertinggal di samping pintu apartemen tadi pagi.
Dengan nekat, Maria memeluk tasnya di depan d**a dan berjalan cepat menuruni tangga teras perpustakaan yang licin akibat lumut dan air.
“Hei.”
Sebuah suara memanggil dari arah samping. Maria tidak menoleh, ia terlalu fokus menjaga keseimbangannya di tangga yang berbahaya itu.
Namun, langkah kaki yang berat dan cepat mendekatinya, dan tiba-tiba, sebuah payung hitam menaungi kepalanya.
Michael berdiri di sampingnya.
Kemeja hitamnya mulai basah karena payung yang ia bawa kini ia condongkan sepenuhnya untuk melindungi kepala dan bahu Maria. Napas Michael sedikit terengah, dan wajahnya tampak canggung—sebuah ekspresi langka bagi pria sedingin dia.
“Kamu… kehujanan,” bisik Michael lirih.
Maria mengerjap kaget, menatap Michael yang kini berdiri begitu dekat hingga ia bisa merasakan sisa kehangatan tubuh pria itu di tengah dinginnya hujan.
Maria ingin bicara, namun otaknya mendadak kosong.
Ia hanya bisa mematung, menatap laki-laki yang kini memberikan senyum kecil yang nyaris tak terlihat itu dengan pandangan bingung.
Tanpa kata, Michael menuntunnya menuju mobil, seolah ia adalah porselen retak yang harus dijaga agar tidak semakin hancur.
Saat mobil melaju membelah jalanan London, Maria memecah keheningan saat mereka berhenti di lampu merah.
“Kau mengganti mobilmu,” kata Maria, matanya menatap dasbor yang kini terlihat lebih modern dan mewah.
Mobil sport abu-abu milik Michael sebelumnya, kini telah berganti dengan sebuah mobil sedan hitam.
“Ya. Aku sudah bosan dengan yang lama.”
“Benarkah? Bukan karena aku? Bukan karena menginginkanku cepat pulih?” cecar Maria.
Tanpa bertanya pun, dalam hati, Maria bisa menduga, bahwa Michael melihat ketakutan di mata Maria setiap menaiki mobil dengan model dan warna yang terlalu mirip dengan mobil pelaku penabrak David itu—mobil yang seolah menjadi sebuah pengingat berdarah yang terus menghantui Maria setiap kali ia menaikinya.
Maka dari itu Michael menyingkirkan mobil sport abu-abunya, dan menggantinya dengan mobil sedan ini.
Namun, Michael hanya tersenyum tipis di balik kemudi, mendengar cecaran Maria, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rahasia dan beban dosa.
Ia tidak membenarkan, namun juga tidak membantah.
Lampu berubah hijau, dan Michael kembali menekan pedal gas.
“Yah, apa pun itu, senang melihatmu rutin datang ke sesi terapi dan mulai pulih. Kamu hebat, Maria…” bisik Michael pelan, tanpa menoleh.
Maria tidak merespons pujian itu.
Ia hanya menatap profil samping wajah Michael—rahang tegasnya, mata cokelat gelapnya yang fokus pada jalanan.
Ia tidak mengerti mengapa pria ini begitu peduli, seolah-olah nyawa Maria adalah satu-satunya misi yang tersisa dalam hidupnya.
Dan Maria pun tidak ingin repot-repot bertanya.
.............................
Setelah sesi konsultasi, Michael mendapat pengarahan singkat dari Dokter Eleanor Frans di ruangannya.
“Dia mulai pulih,” ujar Dokter Frans dengan nada puas. “Maria sudah bisa memproses kesedihannya, bukan hanya mencari cara melarikan diri dari kesedihan itu. Namun, tetap harus ada pengawasan sesekali. Pastikan dia makan teratur, Michael. Depresi seringkali menjadi pencuri nafsu makan yang ulung. Jika tubuhnya sehat, ia aka semakin cepat pulih.”
Dokter Frans juga menyatakan karena kondisi mental Maria yang sudah stabil, pengawasan 24 jam tidak lagi mutlak diperlukan.
Dengan berat hati, namun demi menjaga jarak yang aman bagi rahasianya, Michael memutuskan untuk kembali ke unitnya sendiri, apartemen nomor tiga.
Malam itu juga, Michael mengemasi barang-barangnya.
Sebelum keluar dari pintu unit nomor empat, ia menatap Maria.
"Kau pasti akan merindukanku, Maria. Jika itu terjadi, kau bisa mencariku kapan pun."
"Tidak mungkin! Aku akan hidup dengan sangat nyaman dan bebas, tanpa tekanan monster sepertimu!" jawab Maria ketus.
Namun, begitu pintu tertutup dan kunci berputar, Maria justru dihantam oleh kesunyian yang mencekik.
Apartemennya yang dulu terasa sebagai penjara saat ada Michael, kini terasa lebih parah, persis terasa seperti makam yang dingin.
Tak bisa dipungkiri ia merindukan suara langkah kaki Michael yang berat, aroma kopinya yang tajam di pagi hari, bahkan perintah-perintah diktatornya yang menyebalkan.
Kebebasan yang ia dambakan, ternyata terasa hampa.
Hari-hari berikutnya menjadi permainan tarik-ulur yang aneh. Maria, tanpa sadar, mulai "mencari" Michael.
Ia mulai menciptakan alasan-alasan sepele; lampu dapur yang mendadak mati—yang sebenarnya sengaja ia longgarkan, atau keran wastafel yang bocor.
Semua itu hanya agar Michael kembali mengetuk pintunya.
Michael, di sisi lain, menerapkan rutinitas baru.
Setiap malam setelah makan sendiri, ia akan mengetuk pintu nomor empat untuk memastikan Maria sudah makan.
Rutinitas sederhana ini menjadi jembatan yang menghubungkan dua apartemen yang dipisahkan oleh koridor sempit itu.
Suatu sore, Maria muncul di ambang pintu apartemen Michael. Ia tampak ragu, memilin ujung bajunya.
“Aku hanya… tidak tahu harus berbuat apa,” bisik Maria.
Michael mengizinkannya masuk tanpa banyak tanya. Mereka mulai menghabiskan waktu sore bersama di ruang tamu Michael yang minimalis.
Michael akan sibuk mengutak-atik laptopnya—mengurus pekerjaannya—sementara Maria hanya duduk membaca buku, atau kadang hanya menatap keluar jendela ke arah langit London yang mendung.
Kebersamaan itu bukan kencan, bukan juga persahabatan sejati.
Ini adalah keintiman yang lahir dari rahim trauma yang sama.
Mereka sesekali berbicara, namun tidak pernah tentang David, tidak pernah tentang kecelakaan itu.
Kedekatan mereka mulai tumbuh dari percakapan sederhana tentang buku, teh tanpa gula kesukaan Maria, atau musik jazz lembut yang sering diputar Michael.
Maria mulai mencari kenyamanan pada satu-satunya orang yang paling bisa diandalkannya saat ini.
Dan Michael, meskipun ia tahu ia harus menjaga batas, mulai terbuai oleh perasaan damai yang ada di sekitarnya.
Ia memperhatikan setiap detail; bagaimana Maria menyukai sastra klasik, bagaimana ia selalu menolak gula, dan bagaimana binar matanya mulai kembali perlahan.
Michael benar-benar lupa bahwa kedekatan ini adalah ilusi yang berbahaya.
Semakin mereka terikat, semakin tipis dinding kebohongan yang ia bangun.
Ia tersesat dalam perasaan aneh yang mulai memangsanya dari dalam—sebuah perasaan yang mungkin lebih berbahaya daripada dosa apa pun yang ia simpan di masa lalunya.
Michael tahu ia sedang bermain api, namun untuk saat ini, kehangatan itu terlalu sulit untuk dilepaskan.
..............................