Cahaya fajar London yang pucat merambat masuk melalui celah gorden kamar utama Michael yang megah, namun dingin.
Semburat kelabu itu menyentuh permukaan seprai sutra yang berantakan, tempat Maria baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Ia merasa seperti baru saja melewati badai yang menghancurkan seluruh sarafnya.
Aroma cedarwood dan maskulinitas Michael yang tertinggal di selimut seolah merantai indra Maria, mengingatkannya bahwa ia baru saja menghabiskan malam di "sarang" pria yang ia tuduh sebagai pembunuh.
Di luar pintu kayu yang tebal itu, kesunyian terasa begitu tajam. Maria bangkit, duduk di tepi ranjang dengan d**a yang berdenyut perih.
Rasa marah semalam kini berganti menjadi kekosongan yang menyesakkan. Ia menatap pintu itu, menunggu saat di mana "sipir" penjaranya akan muncul kembali.
Di kamarnya, Michael Elias Thorne tidak benar-benar tidur semalam. Saat Maria terlelap dalam aroma tubuhnya, Michael berada di ruang kerja, bertarung dengan waktu dan koneksi gelap , baik detektif, maupun kenalan yang ia miliki di dunia fotografi kelas dunia.
Dengan jemari yang gemetar namun presisi, ia menyusun fragmen kebohongan yang paling sempurna.
Saat ini, ia bukan hanya seorang fotografer; ia adalah pencipta ilusi. Dan malam ini, ia telah menciptakan ilusi tentang keberadaannya di belahan dunia lain demi menyelamatkan dirinya dari tatapan menghancurkan Maria.
Klik.
Suara kunci yang diputar memecah keheningan pagi.
Jantung Maria melonjak ke tenggorokan.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Michael yang tampil sangat berbeda dari pria basah kuyup yang emosional semalam.
Ia tampak luar biasa tenang, seolah badai di ruang kerja tadi tidak pernah terjadi.
Michael mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang kokoh.
Ia masuk membawa sebuah nampan berisi sarapan hangat—bubur gandum yang harum, buah-buahan segar, dan secangkir kopi hitam.
Namun, di sudut nampan itu, tergeletak sebuah benda kecil berbentuk buku bersampul biru tua dengan lambang emas yang sangat Maria kenali.
Paspor.
Maria langsung bergerak, tangannya menyambar benda itu dengan gerakan nekat.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh sampul paspor, sebuah tangan besar yang hangat menekan tangannya di atas nampan.
"Kau ingin bukti, Maria? Aku akan memberikannya," bisik Michael.
Suaranya rendah, bariton yang dalam dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. Ia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Maria yang pucat.
"Tapi ingat satu hal. Setelah kau melihat ini, kau harus berhenti menuduhku dengan delusi gilamu. Kau harus berhenti menjadikan aku sebagai sasaran kebencianmu yang tidak beralasan."
Mata cokelat gelap Michael menatap langsung ke dalam mata Maria, seolah sedang menanamkan sebuah perintah ke dalam jiwanya. Maria hanya bisa mengangguk pelan, napasnya tertahan.
Michael melepaskan tekanannya. Dengan tangan gemetar, Maria membuka lembaran paspor itu. Matanya menyisir setiap baris, setiap stempel tinta yang kusam.
Di sana, pada halaman yang menunjukkan tanggal empat belas September lima bulan lalu, terdapat cap imigrasi Bandara Charles de Gaulle, Paris.
Stempel itu terlihat begitu nyata, dengan tinta yang sedikit pudar di bagian tepinya, menunjukkan keberangkatan tepat dua hari sebelum kecelakaan David dan kepulangan seminggu setelahnya.
Separuh hati Maria merasa lega, seolah sebuah beban seberat gunung baru saja diangkat dari dadanya.
Namun, separuh lagi... ada bisikan kecil di belakang kepalanya yang berkata bahwa ini terlalu sempurna...
"Masih belum percaya?" Michael mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka sebuah unggahan media sosial lama dari akun seorang fotografer legendaris di Paris.
Di sana, ada sebuah foto pameran yang diambil lima bulan lalu. Michael tertangkap kamera sedang berdiri di latar belakang, memegang segelas champagne, dengan keterangan tanggal yang pas dengan malam kematian David.
Maria terpaku. Bukti digital itu—yang tentu saja telah dimanipulasi Michael dengan kemampuan pengeditan tingkat tinggi dan bantuan "koneksi" semalam—terlihat begitu valid.
Cahaya lampu pameran di foto itu tampak menyatu sempurna dengan bayangan wajah Michael.
"Aku tahu mobilku, mobil sport abu-abu mungkin dilihat temanmu di parkiran bawah, Maria. Tapi kamu harus ingat, ada ribuan mobil sport abu-abu di kota ini," ucap Michael dengan suara yang tiba-tiba bergetar, seolah ia benar-benar terluka.
"Menuduh pria yang sudah memberikan seluruh waktunya, seluruh energinya, hanya untuk memastikan kau tetap bernapas... itu menyakitkan, Maria."
Rasa curiga Maria seketika luruh, berganti menjadi rasa bersalah yang membanjiri seluruh kesadarannya. Ia menatap paspor itu, lalu menatap Michael yang kini tampak begitu rapuh di matanya.
Bagaimana mungkin aku sejahat ini?
Bagaimana mungkin ia menuduh orang yang sudah mendekapnya saat mimpi buruk, orang yang menyuapinya saat ia tak berdaya, sebagai pembunuh kekasihnya?
"Michael... aku..." Maria kehilangan kata-kata.
Michael mendekat, ia meletakkan nampan itu di meja samping tempat tidur, lalu menangkup wajah Maria dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.
Kulit Michael yang sedikit kasar menyentuh pipi Maria, mengirimkan sensasi hangat yang membuat Maria ingin menangis.
Michael mengangkat dagu Maria, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang dalam dan penuh misteri.
"Aku mempertaruhkan hidupku untuk menjagamu, Maria. Aku mengesampingkan pekerjaanku, privasiku, hanya karena aku tidak tahan melihatmu hancur. Dan kau... kau langsung mencurigaiku hanya karena satu kebetulan kecil?"
Suara bariton Michael merayap masuk ke telinga Maria seperti bisikan iblis yang manis.
Michael kemudian menarik Maria ke dalam pelukannya.
Kali ini bukan dekapan kasar penuh d******i, melainkan sebuah pelukan yang seolah ingin "menenangkan" anak kecil yang tersesat.
Maria menyandarkan kepalanya di d**a Michael, merasakan panas tubuh pria itu menembus kemeja tipisnya.
Tangan Michael mengusap punggung Maria dengan gerakan posesif yang lambat, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Ketegangan di antara mereka terasa sangat menyesakkan.
Maria merasa dirinya adalah wanita paling jahat di dunia.
Di dalam pelukan ini, Maria berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah menanyakan hal absurd ini lagi.
Ia akan mengubur kecurigaannya dalam-dalam di bawah aspal London.
"Maaf, Michael... Maaf," bisik Maria lirih, air matanya jatuh membasahi kemeja hitam Michael.
Michael tidak menjawab secara verbal.
Ia hanya mempererat dekapannya, menyembunyikan senyum pahit yang tersungging di bibirnya.
Michael telah berhasil.
Ia telah memenangkan ronde ini.
Namun, ia tahu, setiap kebohongan yang ia tumpuk adalah paku baru yang ia tanam di dalam peti matinya sendiri.
Setiap kebohongan yang ia ucapkan pada Maria, menusuk luka yang jauh lebih dalam di dadanya sendiri.
"Makanlah," ujar Michael lembut, melepaskan pelukannya namun tetap memegang bahu Maria.
Michael mendudukkan Maria di tepi ranjang, mengambil sesendok bubur gandum, lalu meniupnya perlahan.
Setelah yakin sudah cukup mendingin, ia mengarahkannya ke bibir Maria.
Kali ini, Maria tidak melawan. Ia menuruti setiap suapan Michael dengan kepatuhan seorang tawanan yang telah patuh pada sipirnya.
Ia menelan setiap suapan itu bersamaan dengan rasa bersalahnya yang kian mengental.
Sesekali, Michael menggunakan jemarinya untuk menyingkirkan helai rambut kecil yang mengganggu ke belakang telinga Maria.
Sentuhan itu terasa begitu intim, begitu posesif.
Maria di tempat duduknya, hanya bisa menatap nanar ke depan, membiarkan dirinya dirawat oleh pria yang baru saja menipunya dengan cara yang paling rapi.
Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menguat, Maria Vance Christie menyadari satu hal: ia kini sepenuhnya berada di bawah kendali Michael.
Dan ia, entah karena lelah atau karena duka yang terlalu panjang, mulai merasa bahwa tidak ada tempat yang lebih aman selain di bawah bayang-bayang iblis pelindungnya.
Maria tidak tahu, bahwa di balik senyum tipis Michael saat menyuapinya, pria itu sedang berteriak dalam diam.
Ia baru saja mengunci Maria di dalam sangkar emas yang pondasinya dibangun di atas nisan David.
Dan Michael akan melakukan apa saja—bahkan jika harus memalsukan seluruh sejarah dunia—agar Maria tetap berada di sana, hidup, di bawah jangkauannya, sampai ia bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri.
"Jangan pernah ragukan aku lagi, Maria," bisik Michael saat suapan terakhir habis. "Karena jika kau melakukannya, aku tidak tahu apakah aku masih bisa menjadi pria yang sabar."
Maria hanya mengangguk lemas, membiarkan Michael mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari, sementara duka dan ketergantungan mulai menyatu menjadi satu emosi baru yang mengerikan di dalam dadanya.
.......................