Uap panas memenuhi kamar mandi apartemen nomor empat, menciptakan kabut tebal yang mengaburkan pandangan.
Michael Elias Thorne berdiri di bawah pancuran air, membiarkan aliran air panas mengguyur bahunya yang kaku, mencoba menghanyutkan sisa-sisa mimpi buruk yang baru saja mencabik kewarasannya.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana.
Di tengah gemericik air, sebuah getaran tajam terdengar dari saku celana jinsnya yang tersampir di handle pintu.
Ponsel itu bergetar. Satu kali. Dua kali.
Michael mematikan kran dengan gerakan sentak.
Ia menyambar ponselnya dengan tangan yang masih basah.
Sebuah pesan dari detektif swasta yang ia bayar mahal untuk memantau setiap pergerakan di kantor kepolisian distrik muncul di layar yang remang.
[Seseorang mulai bertanya tentang mobil sport abu-abu malam itu. Berkas lama kembali dibuka secara informal. Berhati-hatilah.]
Jantung Michael seketika berdegup liar, menghantam dadanya dengan ritme yang menyakitkan.
Pesan itu terasa seperti vonis mati.
Bayangan mimpinya tadi—Maria yang menangis sambil memegang sobekan kertas—seolah berubah menjadi ramalan yang siap terwujud.
Ia teringat bagaimana Maria menatapnya dengan penuh selidik di meja tadi.
Maria!
Michael buru-buru menyambar handuk putih, melilitkannya seadanya di pinggang, dan merangsek keluar dari kamar mandi tanpa memedulikan air yang masih menetes dari tubuhnya.
“Maria?” panggilnya, suaranya berat dan penuh kecemasan.
Hening.
Apartemen nomor empat itu mendadak terasa kosong dan hampa.
Michael melangkah cepat ke arah sofa. Matanya menyisir jas yang ia tinggalkan tadi.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku jas tersebut.
Kosong.
Kunci apartemen unit nomor tiga miliknya telah raib.
“b******k!” umpat Michael.
Rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol.
Ia teringat laci meja kerjanya.
Laci tempat ia menyimpan sisa-sisa dosanya: sobekan dokumen kepolisian, kalender dengan tanda merah di hari kematian David, dan semua bukti yang bisa mengirimnya ke neraka jika Maria melihatnya.
Jika Maria membuka laci itu, sandiwara ini berakhir. Maria tidak akan hanya membencinya; wanita itu akan hancur untuk kedua kalinya, dan kali ini Michael tidak akan bisa menyatukan kepingannya lagi.
Seperti kesetanan, Michael berlari keluar. Ia tidak peduli bahwa ia hanya mengenakan handuk, tidak peduli pada udara koridor yang dingin menusuk kulitnya yang basah.
Jejak-jejak air menetes dari tubuhnya, menandai setiap langkah terburu-burunya menuju pintu unit nomor tiga.
Begitu ia membanting pintu apartemennya sendiri, matanya langsung tertuju pada ruang kerjanya.
Pintu itu terbuka sedikit. Dan di sana, di balik meja jati yang berat, ia melihat Maria.
Wanita itu berdiri dengan tangan gemetar, sedang mencoba menarik laci yang sudah terbuka beberapa inci.
Dunia Michael seolah berhenti berputar. Amarah, ketakutan, dan obsesi meledak menjadi satu dalam dadanya.
Tanpa berpikir lagi, ia menerjang masuk.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” geram Michael.
Michael menyambar pergelangan tangan Maria sebelum wanita itu sempat melihat isi di dalam laci. Terjadi pergulatan fisik yang intens. Michael menyudutkan Maria ke dinding, mengunci kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang masih menyisakan hawa panas sisa mandi.
Michael terengah-engah. Tubuhnya yang basah kuyup dan beruap kini menekan tubuh Maria tanpa celah. Tetes-tetes air dari rambut hitamnya jatuh mengenai d**a Maria, menciptakan sensasi dingin yang kontras dengan panas tubuh Michael yang membakar.
Maria mendongak, matanya berkilat penuh amarah dan kecurigaan. Ia bisa merasakan detak jantung Michael yang liar di dadanya—ritme yang begitu kacau hingga Maria tahu pria di depannya ini sedang sangat ketakutan.
“Kenapa kau begitu panik, Michael? Jika kau tidak menyembunyikan apa pun, kenapa kau harus berlari seperti orang gila hanya untuk menghentikanku?” cecar Maria, suaranya parau namun tajam.
Michael menatap bibir Maria yang bergetar.
Jarak mereka begitu dekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Aroma sabun maskulin dari tubuh Michael yang basah mengepung indra Maria, menciptakan tensi yang menyesakkan sekaligus menggairahkan secara nista.
Michael hampir saja terpikir untuk membungkam bibir itu dengan ciuman yang gelap dan penuh tuntutan—sebuah pengalihan untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkannya.
Ia ingin menghancurkan kecurigaan Maria dengan gairah yang akan membuat wanita itu lupa pada segalanya. Walau entah apakah itu akan berhasil.
Namun, Maria tidak menyerah. “Katakan padaku, Michael. Di mana kau tanggal empat belas September lima bulan lalu? Di mana kau saat David tewas ditabrak, oleh mobil yang sangat mirip dengan milikmu?!”
Hati Michael berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia menarik napas dalam, memaksa air mukanya agar tetap setenang es, meskipun di dalam sana ia sedang hancur.
“Aku tidak berada di London saat itu, Maria,” jawab Michael datar, suaranya rendah dan terkendali. “Sepertinya aku sedang berada di luar negeri untuk sebuah proyek pameran di Paris. Kau hanya sedang berhalusinasi karena trauma itu.”
“Di luar negeri?” Maria mencibir, ia mencoba melepaskan tangannya namun cengkeraman Michael justru semakin posesif. “Ada buktinya? Mana paspormu? Ayo kita lihat paspormu sekarang juga untuk membuktikannya!”
Michael merasa terjepit. Ia tidak menyangka Maria akan sekeras ini. Paspor adalah bukti paling nyata, dan ia tahu tidak ada stempel keberangkatan apa pun di sana, di tanggal itu, yang akan mendukung kebohongannya.
Untuk mencegah Maria melangkah lebih jauh ke dalam kebenaran yang mematikan, Michael memutuskan untuk melakukan tindakan ekstrem.
“Cukup, Maria!”
Michael melepaskan kuncian tangannya, namun sebelum Maria sempat bernapas lega, Michael menyambar tubuhnya.
Ia menggendong Maria secara paksa dalam dekapan bridal style.
Maria meronta, memukul d**a bidang Michael yang keras, namun Michael mengabaikannya seolah Maria hanyalah seekor umpan atau serangga kecil yang mencoba melawan cengkeraman elang.
Michael membawa Maria masuk ke dalam kamar tidur utamanya yang dominan dengan warna gelap. Ia mengempaskan tubuh Maria ke atas ranjang besarnya yang beraroma cedarwood.
“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” teriak Maria panik.
Michael berdiri di tepi ranjang, menjulang tinggi dengan handuk yang masih melilit pinggangnya, menciptakan siluet predator yang menakutkan di bawah lampu kamar yang temaram.
“Malam ini, kau tidak boleh keluar dari kamar ini tanpa izin dariku,” ujar Michael dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan. “Kau butuh waktu untuk menghentikan delusi gilamu itu. Kau ingin bukti?! Baik. Aku akan memberimu bukti saat kau sudah bisa berpikir jernih, bukan saat kau sedang seperti orang kesurupan begini.”
Michael melangkah menuju pintu, lalu berbalik sekilas. Matanya menatap Maria dengan intensitas yang seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup.
“Ingat siapa aku, Maria. Aku adalah pria yang membantumu saat kau hampir mati. Aku adalah wali resmimu. Jika kau ingin bukti, baik, aku akan memberikannya nanti. Tapi sebagai hukuman atas ketidaksopananmu mengusik privasiku, kau akan tetap di sini semalaman.”
Klik.
Pintu kamar dikunci dari luar.
Maria melompat dari ranjang, berlari dan menggedor pintu kayu yang tebal itu.
“BUKA! MICHAEL, KAU GILA! KELUARKAN AKU!” teriaknya sambil memaki, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.
Namun Michael tidak menyahut. Di luar pintu, Michael menyandarkan kepalanya pada kayu pintu, memejamkan mata sambil mengatur napasnya yang masih memburu. Ia merasakan dadanya sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk.
Ia baru saja mengurung satu-satunya wanita yang hancur karena ulahnya, dan menarik dirinya sendiri ke dalam sebuah kebohongan yang lebih besar dari nyawanya.
Di dalam kamar, setelah setengah jam berteriak hingga tenggorokannya sakit dan tenaganya habis, Maria akhirnya menyerah.
Ia berjalan gontai menuju kasur milik Michael, berusaha merebahkan tubuhnya di sana, mencoba mencari kenyamanan di tengah amarahnya.
Anehnya, saat ia menarik selimut tebal itu, aroma Michael yang kuat—aroma hutan, maskulin, dan kehangatan yang asing—segera menyelimutinya.
Aroma itu seolah memeluknya, memberikan rasa aman yang sangat ia benci namun secara fisik sangat ia butuhkan.
Maria menghirup aroma itu dalam-dalam, dadanya berdenyut perih.
Dalam hatinya yang terdalam, sebuah pemikiran kecil mulai muncul.
Mungkinkah Michael benar? Mungkinkah aku hanya terlalu paranoid dan delusi?
Pria yang menjagaku tanpa pamrih, yang menggenggam tanganku saat aku mimpi buruk... tidak mungkin orang yang sama, dengan orang yang merenggut David dariku.
Tidak mungkin!
Maria memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam balutan selimut beraroma Michael, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa iblis pelindungnya bukanlah sang algojo yang selama ini ia hindari.
Tak lama, Maria tertidur dalam kelelahan, tanpa menyadari bahwa di balik pintu itu, Michael masih berdiri di kegelapan, menjaga "dosanya" dengan penuh obsesi yang menghancurkan.
..........................