BAB 15: Foto Pemantik Kecurigaan

1284 Kata
Dua hari kemudian. Dunia Michael mendadak berubah menjadi abu-abu yang mencekik. Dalam tidurnya yang gelisah di atas sofa apartemen Maria, ia kembali dilempar ke dalam labirin mimpi yang sama. Namun kali ini, pemandangannya lebih mengerikan. Ia melihat Maria berdiri di tengah ruangan yang gelap, tubuhnya bermandikan cahaya lampu meja yang redup. Maria tidak sedang menatapnya, melainkan menatap tangannya sendiri yang memegang potongan kertas kecil—serpihan berkas kepolisian yang dulu Michael robek dengan tangan gemetar. Dalam mimpi itu, Maria menangis histeris. Isakannya terdengar seperti suara kaca yang pecah, menyayat keheningan malam. Maria mendongak, matanya yang merah menatap Michael dengan kebencian yang begitu murni hingga Michael merasa dadanya meledak. "Kau pembunuhnya, Michael!" teriak Maria dalam mimpi itu. "TIDAK!!!" Michael tersentak. Matanya terbuka lebar, dadanya naik-turun dengan napas yang memburu seolah ia baru saja berlari maraton menembus badai. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi bantal di sofa. Selama beberapa detik, ia kehilangan orientasi, hingga matanya menangkap sosok yang duduk tepat di depan meja kayu, memperhatikannya. Maria. Wanita itu duduk di tepi meja, menatap Michael dengan raut wajah bingung sekaligus menyelidik. Ia sepertinya sudah berada di sana cukup lama, mengamati sang "sipir" yang sedang bertarung dengan iblisnya sendiri dalam mimpinya. "Ada apa, Michael? Kamu mimpi buruk?" tanya Maria pelan. "Monster sepertimu ternyata bisa juga mengalami mimpi buruk," ejeknya. Tanpa sempat berpikir, didorong oleh sisa ketakutan dari mimpinya yang terasa begitu nyata, Michael melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia menjangkau Maria, menarik pinggang wanita itu dengan sentakan mendadak hingga Maria jatuh ke dalam dekapannya di atas sofa. Michael menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Maria, menghirup aroma rambut Maria—campuran sampo bunga yang lembut dan aroma tubuh alami wanita itu—dengan napas yang masih tersengal. Dekapan Michael begitu erat, seolah-olah ia sedang mencoba memastikan bahwa Maria benar-benar masih ada di sana, bukan sedang memegang potongan berkas rahasia itu di persimpangan jalan. Maria membeku. Jantungnya berdebar kencang karena kaget. "Michael! Lepaskan... apa yang kau lakukan?" Maria mencoba mendorong bahu Michael, namun pria itu justru mempererat kunciannya. Dalam jarak yang sangat tipis, hingga napas panas Michael menerpa langsung kulit sensitif di belakang telinga Maria, Michael berbisik dengan suara rendah yang menggetarkan d**a. "Jangan melakukan apa pun yang sia-sia, Maria. Tetaplah diam, di bawah pengawasanku. Jangan pernah berpikir untuk... mencari tahu apa pun." Suara Michael terdengar seperti perintah mutlak, namun ada nada keputusasaan yang terselip di sana. Maria terdiam, merasakan kekuatan fisik pria ini yang mengurungnya. Beberapa detik berlalu dalam keintiman yang menyesakkan, hingga akhirnya Michael tersadar. Ia tersentak, perlahan melepaskan dekapannya. Wajahnya yang biasanya setenang porselen, kini tampak canggung. Michael berdeham, mengalihkan pandangan. "Aku... banyak berkeringat..." ujarnya dengan nada dingin yang dipaksakan. "Aku akan menggunakan kamar mandimu, dan mandi sebentar. Jangan berani-berani keluar dari apartemen seperti beberapa malam lalu, Maria. Atau aku akan menghukummu." Michael berdiri, menyampirkan jasnya di sandaran sofa, lalu melangkah menuju kamar mandi di dalam apartemen Maria. Tak lama kemudian, terdengar suara gemericik air dari balik pintu. Maria sendirian di ruang tengah, dadanya masih naik-turun karena napas yang belum stabil. "Apa dia benar-benar gila?" bisiknya keheranan. Namun, ketenangan singkat itu hancur saat ponsel Maria yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Hannah. [Maria! Maaf aku baru ingat. Saat aku berkunjung kemarin, aku tidak sengaja melihat sebuah mobil di parkiran bawah. Maria, model dan warnanya persis sekali dengan mobil yang menabrak David yang aku lihat saat persidangan. Oh, aku sempat memotretnya diam-diam. Ini fotonya.] Jemari Maria gemetar saat ia membuka lampiran foto itu. Layar ponselnya menampilkan sebuah mobil sport mewah berwarna abu-abu gelap. Darah Maria seolah berhenti mengalir. Itu mobil Michael. Mobil yang selalu terparkir di slot nomor tiga. Amarah dan kecurigaan yang selama ini ia tekan kini meledak. Jangan-jangan... Potongan-potongan kejadian selama beberapa minggu ini mulai berputar di kepalanya: Michael yang tiba-tiba muncul. Lalu obsesinya dalam menjaga Maria. Serta kalimat anehnya barusan. Apakah itu sebabnya kau menjagaku, Michael?! Karena kau ingin menutupi dosamu? Keberanian nekat tiba-tiba merasuki Maria. Michael ada di kamar mandinya, dan ia melihat jas Michael... jas itu tersampir di sofa tepat di depan Maria. Dengan gerakan nekat, Maria merogoh saku jas Michael. Ia menemukan apa yang ia cari: kunci apartemen unit nomor tiga. Maria melangkah keluar apartemennya dengan sangat hati-hati, memastikan Michael masih berada di bawah pancuran air. Ia menyeberangi lorong pendek dan membuka pintu apartemen Michael yang kosong. Di dalam, suasana begitu sunyi dan dingin. Apartemen Michael adalah cerminan dirinya: minimalis, teratur, namun menyimpan misteri yang gelap. Maria menyelinap masuk ke ruang kerja Michael. Matanya menyapu deretan kamera dan dokumen. Perhatiannya tertuju pada sebuah laci meja jati yang memiliki sistem kunci ganda. Maria mencoba memasukkan kunci-kunci kecil dari gantungan Michael. Tangannya berkeringat. Ia merasa seperti seorang pencuri, namun rasa haus akan kebenaran lebih kuat. Klik. Laci itu terbuka sedikit. Namun, sebelum Maria sempat menariknya, suara pintu depan apartemen unit nomor tiga terbuka dengan sentakan keras. Maria tersentak, hampir menjatuhkan kunci itu. "Apa yang kau cari di ruanganku, Maria?" Maria berbalik dengan cepat dan napasnya seolah terhenti di kerongkongan. Michael berdiri di ambang pintu ruang kerja. Pria itu baru saja kembali dari seberang lorong, dan penampilannya membuat Maria mematung. Michael hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang masih basah dan beruap. Tetes-tetes air mengalir dari rambut hitamnya yang acak-acakan, jatuh melewati rahang tegasnya, lalu turun perlahan mengikuti lekukan otot-otot perutnya yang keras. Wajah Michael meledak dalam kemarahan yang gelap. Matanya berkilat, memancarkan aura predator yang wilayah pribadinya telah dikencingi. "Keluar dari situ," geram Michael. "Kenapa kau marah?! Apa ada yg kau sembunyikan disini?!" tantang Maria, mencoba memberanikan diri meski tubuhnya menggigil melihat penampilan Michael yang begitu mengintimidasi dalam keadaan nyaris telanjang. Michael tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan gerakan yang sangat cepat. Maria mencoba berlari menghindar, namun Michael lebih sigap. Terjadi pergulatan fisik yang singkat namun intens di ruang tengah apartemen yang dingin itu. Michael menyudutkan Maria ke pintu masuk ruang kerja. Lalu dengan satu gerakan dominan, Michael menangkap kedua tangan Maria dengan satu tangan besarnya, dan menguncinya di atas kepala wanita itu. Maria terengah-engah, punggungnya menempel erat pada dinding, sementara tubuh Michael yang panas, basah, dan hanya berbalut handuk itu kini menekan tubuhnya tanpa jarak. Uap panas dari tubuh Michael seolah mengepung Maria. Ia bisa melihat dengan sangat jelas tetesan air yang jatuh dari ujung rambut Michael, membasahi d**a mereka berdua yang kini bersentuhan erat. Maria, entah mengapa, menelan ludah dengan susah payah saat matanya tanpa sengaja menelusuri otot-otot d**a Michael yang bidang dan sisa air yang berkilau di atas kulitnya yang kecokelatan. Bau sabun dari kamar mandinya sendiri kini melekat pada tubuh Michael, menciptakan ironi yang menyesakkan. Michael membungkuk, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Maria. Matanya menatap tajam, seolah sedang menghancurkan setiap pertahanan yang Maria miliki. "Sebenarnya apa yang ingin kau cari tahu, Maria? Kau begitu ingin tahu rahasia apa yang kusimpan?" Michael mendekatkan bibirnya ke telinga Maria, suaranya terdengar seperti geraman yang tertahan. "Ingat ini baik-baik... Aku berhak ikut campur dalam setiap inci privasimu karena aku yang memegang kendali atas napasmu sekarang. Tapi kau... kau sama sekali tidak punya hak untuk mengusik wilayahku!" Michael menekan pergelangan tangan Maria lebih kuat ke dinding, memastikan wanita itu merasakan kekuasaan mutlaknya. Di bawah lampu ruangan yang remang, tensi di antara mereka menjadi begitu panas dan berbahaya. Maria bisa merasakan kemarahan Michael yang meledak-ledak, namun di saat yang sama, ia merasakan tarikan fisik yang gila dari pria yang mungkin saja adalah penghancur hidupnya. "Lepaskan aku, Michael... Kau menyakitiku," bisik Maria parau, matanya berair namun ia menolak untuk berpaling. Michael menatap bibir Maria yang bergetar, lalu kembali menatap matanya dengan intensitas yang seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup. Ia tidak melepaskannya. Sebaliknya, Michael justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan Maria merasakan betapa berbahayanya pria yang sedang ia tantang ini, di balik handuk yang melilit pinggangnya. .......................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN