Langit London malam itu seolah sedang memuntahkan seluruh kemarahannya. Hujan mengguyur kota dengan intensitas yang kejam, mengubah jalanan menjadi sungai-sungai aspal yang gelap dan dingin. Suara rintik yang menghantam kaca jendela apartemen nomor empat terdengar seperti ribuan jarum yang mencoba menembus pertahanan kesunyian di dalam sana.
Di luar, angin menderu, menggoyangkan dahan-dahan pohon tua yang tampak seperti lengan-lengan kurus yang memohon ampun pada semesta.
Setelah Maria membanting pintu di depan wajahnya sore tadi, Michael sengaja memberikan ruang—atau lebih tepatnya, memberikan ilusi kebebasan bagi wanita itu. Namun, kunci cadangan yang terselip di saku celananya adalah pengingat bahwa di rumah ini, tidak ada satu inci pun ruang yang benar-benar milik Maria sendiri.
Michael Elias Thorne duduk tegak di sofa ruang tengah apartemen Maria, tempat tidurnya yang tidak layak selama hampir seminggu terakhir, yang kini menjadi markas pribadinya.
Di tengah kegelapan yang hanya ditemani cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah tirai, Michael tetap waspada. Matanya terpejam, namun indranya tajam, berusaha menangkap setiap embusan napas Maria dari balik pintu kamar di dekatnya.
Tiba-tiba, kesunyian itu robek.
Sebuah jeritan pecah dari dalam kamar Maria.
Itu bukan jeritan keras yang memekakkan telinga, melainkan sebuah rintihan panjang yang penuh dengan rasa sakit dan ketakutan yang murni. Suara itu merambat melalui celah pintu, mencabik ketenangan Michael dalam satu kedipan mata.
Michael tersentak.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia segera bangkit dan merangsek masuk ke dalam kamar wanita itu, yang kebetulan tak terkunci.
Di atas ranjang yang berderit, Maria tampak sedang bertarung dengan iblis-iblis dalam tidurnya. Tubuhnya yang mungil menggigil hebat, bantalnya sudah jatuh ke lantai, dan keringat dingin membasahi dahi serta lehernya hingga helai-helai rambut hitamnya menempel di kulit pucatnya.
Napasnya tersengal, pendek dan cepat, seperti seseorang yang sedang kehabisan oksigen di dasar samudera.
"David... jangan... Ada mobil mendekat, David... Davidd!!!!" racau Maria dengan suara yang nyaris hilang.
Hati Michael terasa seperti diremas oleh tangan besi yang panas. Rasa bersalah itu kembali muncul, lebih tajam dari sebelumnya.
Kemudian, tanpa ragu sedikit pun, Michael segera naik ke tepi ranjang dan menarik tubuh Maria ke dalam pelukannya.
Ia mendekap wanita itu begitu erat, membiarkan kepala Maria bersandar di d**a bidangnya, membiarkan wanita itu mendengar detak jantungnya yang stabil sebagai pengingat bahwa dirinya masih berpijak di dunia nyata.
"Tenanglah, Maria... Aku di sini... Kau aman, Maria..." bisik Michael dengan suara rendah yang menggetarkan d**a, berusaha menjadi jangkar bagi kewarasan Maria yang sedang terombang-ambing di tengah badai trauma.
Maria tersentak, matanya terbuka lebar namun pandangannya kosong, seolah jiwanya masih terjebak di persimpangan jalan berdarah itu.
Ia mencengkeram kemeja Michael dengan kekuatan nekat, kuku-kukunya nyaris menembus kain, sementara tubuhnya masih gemetar hebat di bawah pengaruh serangan panik yang melumpuhkan.
Michael tidak melepaskannya; ia terus membisikkan kata-kata penenang, membiarkan Maria menghirup aroma maskulinnya—aroma cedarwood yang kini terasa seperti aroma pelindung—mulai menyelimuti indra Maria yang kacau, sebagai pengganti aroma kematian dalam mimpinya.
Maria menangis tanpa suara, air matanya membasahi d**a Michael, namun pria itu tetap diam, hanya mengusap punggung Maria dengan gerakan yang teramat lembut—sebuah kontras yang aneh dengan sifat dominannya.
Waktu seolah membeku.
Michael terus mendekapnya, menunggu hingga napas Maria kembali teratur.
Perlahan, getaran di tubuh Maria mulai mereda. Kehangatan Michael yang begitu nyata mulai meluluhkan kekakuan otot-ototnya.
Michael terus menggenggam tangan Maria yang dingin, menyatukan jemari mereka seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam tubuh wanita itu.
Napas Maria kembali teratur dan matanya mulai terasa berat. Wanita itu pun tertidur.
Beberapa saat kemudian, tanpa Michael sadari, karena kelelahan yang menggelayuti, ia ikut terlelap di samping Maria.
Masih mendekap wanita itu dengan protektif.
Masjh menggenggam tangan wanita itu dengan erat, seolah takut jika ia melepasnya sedetik saja, Maria akan benar-benar lenyap.
.............................
Beberapa jam kemudian, dentuman petir yang menggelegar di langit London menyentak Michael dari tidurnya.
Ia terbangun dengan jantung yang berdebar cepat.
Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan di dekapannya.
Michael menoleh dengan cepat ke sampingnya. Kasur itu sudah kosong. Seprai di sampingnya terasa dingin di bawah telapak tangannya—tanda bahwa orang yang menempatinya sudah pergi cukup lama.
"Maria?" gumam Michael, suaranya serak oleh kepanikan.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat saat membayangkan semua kemungkinan terburuk.
Ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai merayapi saraf-sarafnya.
Bayangan Maria yang nekat melompat dari jendela atau mencari cara lain untuk menyusul David membuat d**a Michael sesak.
Ia bangkit dengan terburu-buru, melangkah keluar kamar dengan mata liar yang menyapu setiap sudut apartemen remang itu.
Tepat saat ia sampai di ruang tengah, pintu apartemen terbuka perlahan.
Sesosok wanita masuk dengan langkah gontai; Maria.
Maria berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup.
Hujan di luar telah merendamnya hingga ke tulang.
Michael terpaku di tempatnya berdiri, dan matanya, tanpa bisa dicegah, otomatis menatap pemandangan di depannya.
Baju tidur tipis berwarna putih yang Maria kenakan, kini menempel ketat di tubuhnya, menjadi nyaris transparan karena air hujan.
Kain yang basah itu mencetak jelas lekuk tubuh Maria yang mungil, termasuk bra hitam yang ia kenakan di baliknya.
Warna hitam yang kontras di balik kain putih yang basah itu memberikan visual yang begitu provokatif dan mengganggu konsentrasi Michael.
Namun, ekspresi Maria yang hampa meredam gairah apa pun yang sempat terlintas.
Maria hanya mematung di sana seperti hantu yang tersesat, bibirnya membiru karena kedinginan, wajahnya sepucat kertas dan matanya yang kosong tanpa binar, menatap nanar ke lantai.
"Maria!" Michael berlari menghampirinya, mencengkeram kedua bahu Maria yang sedingin es. "Dari mana kau?! Kenapa kau keluar dalam kondisi seperti ini?!"
Maria tidak menjawab. Ia hanya menatap Michael dengan pandangan yang seolah tembus ke belakang pria itu. Ia menatap Michael dengan pandangan yang seolah-olah jiwanya sedang berada di tempat lain. Ia sama sekali tidak peduli pada air yang menetes dari rambutnya ke lantai, atau pada tubuhnya yang kini terekspos nista di depan Michael.
"Ganti bajumu sekarang," perintah Michael, suaranya bergetar antara marah dan khawatir. "Kau bisa sakit, Maria!"
Maria tetap diam, mencoba melangkah melewati Michael tanpa sepatah kata pun.
Michael dengan tegas menahan lengannya, dominasinya tidak memberikan celah bagi penolakan.
"Lepaskan aku, Michael," bisik Maria parau.
"Tidak sebelum kau mengganti baju basahmu! Lakukan sendiri, atau aku yang akan menggantinya untukmu dengan tanganku sendiri. Pilih sekarang," ancam Michael dengan nada rendah yang mematikan.
Ia tidak sedang bercanda.
Tatapan matanya yang gelap menunjukkan bahwa ia sanggup melakukan apa saja untuk memastikan Maria tetap hidup, meski itu artinya ia harus melanggar batas privasi terakhir wanita itu.
Maria menatap Michael lama, mencari celah keraguan di mata pria itu, namun ia hanya menemukan kekerasan baja.
Akhirnya, dengan langkah lemah yang nyaris menyeret, Maria berjalan menuju kamar mandi sementara Michael menyiapkan handuk dan pakaian hangat.
Beberapa menit kemudian, Maria duduk di tepi ranjang dengan bahu yang merosot. Ia sudah mengenakan pakaian kering—kaus kebesaran milik Michael, dan celana panjang tebal—namun rambutnya masih basah kuyup, meneteskan air ke bahunya.
Ia tampak begitu lemas, seolah-olah seluruh jiwanya telah terkuras habis di bawah hujan tadi.
Michael masuk membawa handuk kering. Ia tidak meminta izin. Ia berdiri di hadapan Maria, lalu perlahan mulai mengeringkan rambut wanita itu.
Jemari Michael yang besar dan sedikit kasar—jemari yang terbiasa mengendalikan kamera dengan presisi—kini bergerak dengan ketelitian yang luar biasa mengeringkan setiap helai rambut Maria yang terlihat.
Ia menyentuh tengkuk Maria saat mengeringkan rambut belakangnya, dan kontak fisik itu mengirimkan getaran listrik yang asing bagi Michael. Ada sebuah dorongan aneh dan tak masuk akal terbesit di dadanya, sebuah keinginan untuk menarik wanita ini ke pelukannya, dan tidak pernah melepaskannya.
"Kau harus berhenti mencari cara untuk mati, Maria," ujar Michael dengan nada rendah yang mendominasi ruangan.
"Jika kau ingin menghukum seseorang, hukum aku. Tapi jangan lakukan ini pada tubuhmu."
Michael memegang dagu Maria, memaksa wanita itu untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam matanya.
Di bawah cahaya lampu kamar yang kuning redup, mata Michael tampak begitu intens, seolah ia sedang mencoba mengunci jiwa Maria agar tidak kembali melayang pada pikiran tentang kematian.
"Tatap aku, Maria. Aku mohon. Jangan biarkan pikiranmu kembali ke tempat gelap itu."
Dalam keintiman yang dipaksakan itu, di bawah jemari Michael yang terus bergerak di tengkuknya, Maria mulai merasakan sesuatu yang ia benci: ketergantungan fisik.
Di tengah dunianya yang hancur dan sunyi, kehadiran Michael yang otoriter dan menyesakkan ini justru memberinya satu-satunya rasa nyata yang bisa ia rasakan.
"Tadi... aku benar-benar ingin menabrakkan diriku ke salah satu mobil di bawah," bisik Maria akhirnya, suaranya nyaris hilang ditelan sisa hujan di luar. "Aku berdiri di tepi aspal, menatap lampu-lampu yang mendekat. Aku hanya ingin menyusul David. Aku merasa harus melakukan itu, jika ingin menyusulnya."
Michael menghentikan gerakannya seketika. Napasnya tertahan.
"Tapi tiba-tiba aku teringat ucapan Dokter Frans," lanjut Maria, matanya mulai berkaca-kaca. "Dokter itu berkata: Bahwa mengakhiri hidup adalah penghinaan bagi David. Bahwa cinta sejati adalah tentang menghormati kehidupan yang pernah kami miliki bersama, bukan menghancurkannya."
Maria terisak kecil. "Tiba-tiba aku tidak bisa melakukannya. Bunuh.. diri itu. Tiba-tiba aku tidak mau melakukannya. Aku... tidak ingin menghina cintanya."
Michael terdiam. Hatinya terasa seperti dilempari seribu belati tak berwujud.
Kerja bagus, Maria, ucap Michael dalam hati dengan kepahitan yang menyesakkan.
Ia menyadari sepenuhnya ironi di depannya: ia, sang penyebab luka terbesar Maria, sang pembunuh kekasih wanita ini, kini sedang berperan menjadi penyelamatnya. Mendengarkan keluh kesah Maria paling jujur, tanpa tahu malu.
Rasa bersalah itu memukul tepat di pusat penyangga kewarasannya.
Maria tiba-tiba mendongak, menatap Michael tepat di matanya.
"Kenapa kau begitu baik padaku, Michael?" tanya Maria dengan nada yang menuntut jawaban jujur.
"Kau benar-benar tidak harus melakukan semua ini. Kau hanya orang asing. Kau sama sekali tidak perlu merasa bertanggung jawab padaku."
Michael menghentikan gerakannya. Ia menatap Maria dengan pandangan yang sulit dibaca—ada kilasan rasa sakit, rahasia, dan obsesi yang berbaur menjadi satu di sana.
Michael tentu tidak bisa mengatakan bahwa setiap kali ia melihat Maria, ia melihat darah David di aspal.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia sedang mencoba menyelamatkan nyawa dan kewarasannya sendiri, dengan cara menyelamatkan Maria.
Lagi-lagi... Yang bisa ia lakukan hanya berbohong.
Michael menelan ludah, lalu kembali memasang topeng dinginnya secepat kilat.
"Kita sudah pernah membahas ini, Maria," jawab Michael datar, berusaha keras menyembunyikan getaran di suaranya.
"Aku hanya melakukan apa yang kurasa perlu. Fokuskan saja dirimu untuk pulih, itu satu-satunya tugasmu sekarang."
Maria tak merespons lagi. Ia hanya menatap wajah sempurna Michael lama, mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik mata cokelat gelap itu.
Maria yakin ada sebuah misteri besar di sana, sebuah alasan yang terasa jauh lebih dalam dari sekadar rasa kasihan seorang tetangga.
Sebuah alasan logis yang membuat pria yang baru ia kenal beberapa hari ini bisa sepeduli ini, seolah-olah nyawa Maria adalah satu-satunya hal yang paling penting bagi Michael, di dunia ini.
Namun, Maria memiliki firasat yang kuat; bahwa kalaupun ia bertanya seribu kali, Michael tidak akan pernah memberinya kebenaran yang ia cari.
Maria pun tidak punya keinginan untuk bertanya lebih jauh.
Ia memiliki firasat, kalaupun Michael menjawab dengan jujur, kebenaran itu mungkin akan jauh lebih menghancurkan daripada kenyataan yang ia jalani sekarang.
Maria hanya dapat membiarkan Michael menyelesaikan tugasnya, membiarkan tangan pria itu menyentuh kulitnya, sementara di luar sana, hujan London terus turun, seolah sedang mencoba mencuci sisa-sisa dosa yang melekat di antara mereka berdua.
Maria mulai menyadari, bahwa perlahan... Ia telah terjebak dalam sangkar emas yang dibangun oleh iblis pelindungnya.
.........................