Pagi itu, dunia Michael terasa menyenangkan. Setelah menurunkan Maria di perpustakaan—setelah membiarkan jemarinya menyesap kelembutan rambut gadis itu untuk terakhir kalinya—Michael pulang dengan jantung yang berdenyut tidak keruan. Begitu ia melangkah masuk ke ruang tengahnya, Michael tersentak. Sosok tinggi Nathaniel Alexander sudah duduk di sana, menyatu dengan kesunyian apartemennya yang dingin. “Dari mana?” tanya Nathaniel tanpa menoleh. Michael hampir meloncat di tempatnya berdiri. “Kak?! Mengagetkan saja.” Nathaniel Alexander hanya tersenyum sekilas, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata, lalu menyandarkan tubuh di sofa. “Kau dari mana, Michael? Habis bertemu dengannya, kan?” “Siapa?” tanya Michael, mencoba memungut sisa-sisa pertahanannya. “Kau tidak memedulikan pering

