Pagi itu, koridor lantai dua apartemen tua di tengah kota London itu, terasa lebih dingin dari biasanya. Maria, dengan kaki yang masih dibalut perban dan langkah yang sedikit menyeret, baru saja hendak keluar untuk membeli keperluannya di minimarket bawah. Namun, tepat di celah kecil sebelum belokan tangga, matanya menangkap sesuatu yang berkilau tertimpa lampu lorong yang temaram. Sebuah botol obat kecil berbahan plastik bening dengan tutup putih. Maria membungkuk pelan, menahan nyeri di telapak kakinya, dan memungut benda itu. Jantungnya berdegup kencang saat membaca label yang tertera di sana. Michael Elias Thorne. Nama itu tertulis jelas, diikuti dengan serangkaian istilah medis yang asing namun terdengar berat. Maria tidak butuh gelar kedokteran, untuk tahu bahwa ini bukan

