Maria masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tangannya meremas kuat-kuat gumpalan kain "aset berharga" bermotif macan itu, dengan wajah yang terasa lebih panas daripada kompor yang sedang menyala di dapur. Suara gemericik air dari dalam sana seolah mengejeknya, mengingatkannya bahwa privasinya baru saja dijebol oleh seorang pria yang kini berlagak tak berdosa. "Sialan kau, Michael Thorne!" desis Maria pelan, giginya bergeletuk. Ia segera berlari ke kamar tidurnya, melempar pakaian dalam itu ke dalam lemari dengan gerakan secepat kilat, lalu mengunci pintunya rapat-rapat seolah Michael bisa menembus dinding. Setelah memastikan napasnya kembali teratur dan rona merah di wajahnya sedikit menyurut, Maria kembali ke dapur. Ia mencoba menyibukkan diri deng

