Malam sudah hampir menelan seluruh bising London saat Maria melangkah menyusuri koridor apartemennya. Kedua tangannya menjinjing kantong belanjaan dari supermarket bawah—beberapa keperluan dapur dan camilan untuk menemaninya membaca malam ini. Tanpa sadar, bibirnya melengkungkan seulas senyum kecil. Ingatan tentang kebersamaan mereka di pantai Brighton kemarin masih membekas begitu hangat. Aneh sekali, pikirnya, bagaimana ia bisa merasa senyaman ini bersama pria itu. Michael, pria yang dulu ia labeli sebagai "monster" dan orang pertama yang ingin ia jauhi dari seluruh pria di bumi, kini justru menjadi sosok yang kehadirannya mulai ia cari secara tidak sadar. Namun, langkah Maria melambat saat matanya menangkap siluet menjulang di depan unit nomor tiga. Michael sedang di sana, diam bersa

