Aku berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. Seketika tawa mereka pecah. Aku tidak mengerti, apa yang sedang mereka tertawakan. Tapi, aku bisa melihat gadis itu. Dia adalah sepupuku. Dia memang pernah berkata akan datang, karena dia ingin berkuliah di sini. “Kalau Bude lihat semalam, dia dan Lely lari kencang sekali.” Dia mengucapkannya masih sambil tertawa. Emak pun sama, Lely juga tertawa sambil menahan rasa malunya. Sementara aku masih mencoba menyusun puing-puing puzle itu dengan kecerdasanku. Semalam? Aku dan Lely lari? Lalu ada Dita di sini? “Oh, jadi yang semalam itu kamu?” mendengar apa yang aku ucapkan, mereka kembali tertawa. Aku melemparkan handuk dengan asal. Kemudian aku menggulung lengan bajuku ke atas. Aku berjalan mendekat ke arah Dita. “Gila apa kamu? Malam-malam

