AKu berjalan dengan sangat pelan. Aku ingin menetralisir amarahku terlebih dahulu. Sebelum aku kembali ke meja Sofi dan juga Lely. Aku tidak menyangka, apa yang baru saja aku alami ternyata membuat ada bulir air mata yang meluncur dengan mulus di pipiku. Aku mengusapnya dengan kasar. Kemuakun aku berhenti sejenak. Memandang ke langit-langit, mencoba membuat air mataku tidak kembali jatuh. Aku meratapi apa yang terjadi dalam hidupku. Kenapa aku harus merasa sedih, sementara bukan aku yang diselingkuhi. Kenapa aku merasa begitu sakit. Padahal Dinda bukanlah pacarku. Ada seorang perempuan yang harus aku perhatikan lebih dari Dinda. Aku harus bisa menjaganya. Aku tidak boleh lengah, agar tidak bernasib sama dengan Jefri. Aku kembali melangkahkan kaki menuju mereka berdua. Mereka masih juga

