Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan yang lebih bahagia dari biasanya. Karena aku sudah terbebas dari hutang yang banyak. Kejadian kemarin membuat hutangku langsung lunas. Hal itu juga membuat aku bisa menjadi lebih dekat dengan Fito. Aku merasakan saku celanaku bergetar. Sepertinya ada telepon masuk. Aku menepikan mobil dan mengambilnya. Itu adalah Dinda. Ada apa dia menelponku sepagi ini? Apa dia ada masalah dengan Jefri? Aku menghela napas perlahan berkali-kali sebelum akhirnya aku mengangkat teleponnya. “Halo, ada apa Din?” “Kamu lagi dimana? Sudah sampai kantor ya?” aku mendengar dia sepertinya sedang merasa cemas. Hal itu terdengar jelas dari nada bicaranya. “Belum, maasih di jalan. Kenapa?” aku mencoba mencari tahu, ada apa sebenarnya dengan dia. “Boleh nebeng en

