Ben menatap wanita yang duduk telengkup di ranjangnya dengan pandangan menilai. Wanita itu cantik, dengan rambut hitam ikalnya yang diikat rapi. Ben tidak pernah menggunakan kata cantik untuk wanita manapun selain Ana, tidak peduli secantik apapun wanita itu. Pria itu mengalihkan pandangannya dan menatap sekelilingnya dengan bosan. Dan merasakan tubuhnya kaku, berat sekali utuk di gerakan. Kepalanya pusing dengan pandangan yang sedikit kabur. Perlahan dengan hati-hati dia menggerakan tangannya, mengangkatnya seolah itu beban yang sangat berat, mengusap pelan kepala Ana, takut membangukan wanita itu. Tapi sentuhannya benar-benar membuat Ana terbangun. Tidak, dia tidak bena-benar tertidur. Ana mengangkat kepalanya. Pertama kali yang dia lihat dari Ben adalah senyumannya. Senyuman yang

