Bab 4

436 Kata
Aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari terakhirku bertemu dengan Hans. Karena ketika keesokan harinya aku kembali masuk sekolah, Hans sudah tidak ada lagi di sana.  Aku bertanya kepada setiap orang di kelasku dan tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Hans. Ia hanya sempat meminta tolong kepada Rendi untuk mencari pengganti dirinya tanpa menyebutkan alasannya.  Duniaku seakan hancur. Hari-hari yang tersisa di masa SMA menjadi hambar seketika. Dalam sekejap aku berubah menjadi seperti Hans di waktu dahulu. Aku menjadi pendiam, tidak tertarik lagi dengan sekitarku. Yang kulakukan hanyalah menangis, menyesali semua perkataanku pada Hans.  Berkali-kali ku coba telepon nomor ponselnya. Semuanya hanya berakhir dengan nada sibuk. Berkali-kali kudatangi rumahnya, tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah itu. Entah berapa lama aku menunggu pun tidak ada satu pun yang datang kepadaku. Hingga akhirnya, hari yang seharusnya aku dan Hans serta yang lainnya tunggu dengan gembira pun datang. Aku mengikuti setiap acara perpisahan dengan terpaksa. Sebenarnya aku tidak ingin menghadiri acara perpisahan ini. Ibu yang memaksaku untun datang. Katanya, siapa tahu Hans datang hari ini. Tapi dari pertama aku datang, hingga hampir selesai Hans tidak muncul sama sekali.  Hasil rekaman kelasku mendapatkan posisi terakhir untuk ditampilkan. Katanya agar lebih berkesan. Aku duduk jauh di belakang ketika layar putih itu berubah menjadi pemandangan sekolah.  "Sini, Na. Jangan jauh-jauh duduknya." Kata Rendi diikuti anggukkan yang lainnya.  Dengan berat kulangkah kan kakiku. Kunikmati setiap hasil rekaman Hans yang muncul. Ketika yang lain tertawa, aku hanya terdiam. Air mataku sudah di ujung mataku. Hingga muncul wajahku di layar yang menolak untuk direkam oleh Hans. Semua terdiam, aku pun terdiam.  Tiba-tiba layar menjadi hitam. Dan tak lama kemudian muncul Hans di sana. Aku dan yang lainnya terkejut tidak pernah membayangkan Hans akan muncul di akhir rekaman.  "Hai. Gue mau minta maaf sebelumnya, karena jatah rekaman kalian gue potong buat kepentingan pribadi gue. Sejujurnya, gue gak mau minta maaf dan mengucapkan terimakasih gue lewat rekaman ini. Tapi apa daya, gue udah melakukan kesalahan sampai akhirnya dia mungkin benci sama gue."  Kami semua terdiam ketika melihat Hans menghela napas.  "Rena. Gue minta maaf untuk kata-kata gue di malam itu. Gue gak bermaksud untuk melukaimu. Maaf, karena gue harus terpaksa melakukan itu, agar lo tidak terluka lebih dalam lagi. Terimakasih karena akhirnya lo bisa melihat keberadaan gue. Terimakasih karena sudah membuat gue berubah. Terimakasih di sisa hidup gue, gue bisa menikmati indahnya hidup walau hanya sebentar, tapi gue sangat bahagia. Dan itu semua berkat lo. Maaf, karena gue gak bisa membuat lo bahagia dengan hidup gue yang mungkin tidak akan lama lagi. Semoga lo bahagia, Rena. Terimakasih teman-teman , karena kalian gue merasa hidup gue lengkap. Semoga kalian semua selalu bahagia ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN