Bab 3

459 Kata
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah hampir satu bulan kami merekam kegiatan sehari-hari kami di sekolah. Lebih tepatnya, Hans yang merekam. Aku semakin sadar bahwa waktu pertemuanku dengan Hans semakin sedikit. Hans tidak pernah mau menjawab ketika kutanya di mana ia akan melanjutkan studinya. Sekeras apapun aku berusaha untuk mendapatkan jawaban, sekeras itu pula ia diam. Pada akhirnya aku hanya bisa menyerah dan menerka-nerka sendiri.  Aku tidak tahu sejak kapan Hans begitu mengisi hati dan pikiranku. Mungkin semenjak ia mengangkat tangannya dan mengutarakan idenya. Atau semenjak Hans bertanya asal demi dapat mengambil gambarku waktu itu? Aku sudah bertekad akan benar-benar mengutarakan perasaanku pada Hans sebelum acara perpisahan. Aku masih punya waktu untuk memastikan bahwa perasaan ini benar-benar ada. Bukan hanya sekedar rasa penasaran.  Aku sedang melamun ketika Hans mengetuk pelan mejaku.  "Mau ikut?” "Ke mana?" Jawabku bingung. "Gue mau beli memori tambahan di toko sekitar sini. Kalau mau ikut, ayo cepat. Takut tokonya sudah tutup."  Aku mengangguk cepat kemudian mengikuti langkah kaki Hans keluar kelas.  Selama perjalan kami hanya terdiam sambil menikmati matahari terbenam dengan indahnya. Sesekali kulihat Hans dari sudut mataku. Kupertimbangkan baik-baik apakah harus hari ini kukatakan perasaanku kepadanya? Atau haruskah kutahan sebentar lagi?  Tanpa terasa kami berdua sudah sampai di toko yang menjual memori tambahan untuk kamera kami. Perjalanan pulang kembali ke sekolah terasa begitu lambat. Entah hanya perasaanku saja, atau memang Hans memperlambat langkahnya.  Bayangan sekolah kami sudah mulai terlihat. Itu artinya aku dan Hans akan segera sampai kembali ke sekolah. Matahari sudah sepenuhnya menghilang, digantikan dengan sang bulan dengan cahayanya yang sangat indah.  Aku berhenti tiba-tiba. Hans kemudian berbalik memandangku.  “Kenapa?” Tanya Hans. Aku terdiam sesaat, mengambil napas dalama dan menghembuskannya perlahan.  “Gue mau kasih tahu sesuatu, Hans.”  Hans perlahan berjalan mendekatiku. Jarak kami kini hanya tinggal satu langkah saja. Kutatap dalam mata indah Hans. Dengan perlahan, aku mulai berbicara.  “Gue suka sama lo, Hans.” Kuucapkan dengan amat pelan, berharap Hans tidak mendengarnya.  Hening kurasakan. Aku mengangkat kepalaku perlahan, memastikan Hans masih berdiri di sana. Begitu mata kami bertemu, tiba-tiba saja Hans sudah menarik lembut tanganku. Dan yang terjadi kemudian adalah kurasakan bibir dinginnya menempel dengan bibirku.  Semua terasa begitu cepat. Sampai aku tidak bisa berkata apa-apa. Kembali kami berdua terdiam. Hanya suara angin dan binatan malam yang terdengar.  “Maaf.” Kata Hans memecah keheningan.  “Maaf untuk apa?” Aku bingung.  “Maaf karena mencium mu tiba-tiba.”  “Ah, itu...” Aku tersenyum malu.  “Maaf, gue gak bermaksud untuk mencium lo.” Seketika senyumku hilang.  “Gue tadi hanya terbawa suasana. Maaf...” PLAK!!  Belum sempat Hans melanjutkan kata-katanya, tamaparanku sudah mendarat keras di pipinya.  “LO JAHAT, HANS!” Teriakku sebelum meninggalkannya sendirian.  Dengan cepat ku berlari kembali ke sekolah hanya untuk mengambil tasku dan segera pulang. Aku sudah tidak peduli ketika yang lain menanyakan di mana keberadaan Hans ketika melihatku datang sendirian. Hingga mereka melihat aku menangis, aku masih tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan mereka. Yang aku inginkan adalah segera pulang ke rumah dan tidak mau bertemu dengan Hans kembali. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN