Bab 1
Aku menghela napas panjang memandangi lembar pertanyaan tugas bahasa Inggris yang sekali lagi membuatku ingin mual. Kadang aku bertanya-tanya seberapa pentingnya kah pelajaran ini di jurusan keperawatan? Jika aku kuliah di jurusan sastra Inggris sih tidak masalah. Tapi, apa boleh buat, dengan iming-iming tidak ada remedial di ujian akhir nanti akhirnya kelasku mengambil kesempatan aneh ini.
Jam tangan berwarna biru muda di tangan kananku sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku dan ketiga temanku berada di Bandara Juanda sudah lebih dari empat jam lamanya. Bukan waktu yang sedikit jika kau harus mencari bule yang mau diajak wawancara terlebih kemampuan bahasa Inggris kami masih seperti balita yang belajar berbicara. Meski di sini banyak turis-turis yang lalu lalang, entah mereka yang baru saja datang atau yang akan meninggalkan Surabaya, namun hampir semuanya menolak untuk diajak wawancara meski sebentar.
Ini membuat mood-ku semakin buruk. Awalnya aku membayangkan bisa berbicara dengan bule itu terasa menyenangkan. Tapi pada kenyataannya semua itu berbanding terbalik 360 derajat. Jika kau ingin menanyakan bagaimana kemampuan bahasa inggrisku, aku masih bisa dibilang mampu. Buktinya nilai bahasa Inggrisku semester lalu mendapat A. Hanya saja, aku tipe gadis yang mudah gugup dengan orang baru apalagi ini beda bahasa. Meskipun sudah berulang kali latihan di depan cermin dengan cukup fasih namun kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Semua vocabulary dan semua bentuk tenses dalam otakku seakan-akan musnah entah kemana. Kutarik napas sekali lagi seraya memandang daftar pertanyaan yang kubuat sendiri.
Do you know about dangdut? How long you will stay in Surabaya? What do you like from this city?
"Mau sampai kapan kita di sini?" suara Anya membuyarkan lamunanku.
Gadis berambut pendek yang duduk di sebelah kiriku ini benar-benar nampak lelah. Bedak di wajahnya pun sudah mulai luntur karena keringat yang bercucuran sebesar biji jagung. Aku tersenyum tipis sambil menggeleng lemah.
"Kalian sadar nggak sih kalau daritadi kita dilihatin sama polisi di sana," sahut Vivi sembari menunjuk polisi yang mungkin sekitar 10 meter dari tempat duduk kami dengan dagunya. "Emang kita ini teroris apa! Mereka nggak lihat kita cuma pake kemeja putih macam pegawai baru?" gerutunya lagi.
Ya, aku bisa melihat tiga orang plolisi bersenjata lengkap dengan rompi anti peluru sedang menatap tajam kearah kami berempat. Aku memutar bola mataku seakan-akan aku mencemooh mereka.
"Makan yuk!" akhirnya aku bisa mengeluarkan suaraku. Perutku mulai melilit dan tenggorokanku sangat kering. Aku sangat butuh makan sekarang.
"Di mana?" tanya Sarah yang sedari tadi sibuk dengan game COC-nya akhirnya buka suara juga.
"DI SANA!!" teriakku dengan semangat sambil menunjuk restoran A&W yang tak jauh dari kami duduk. Bersamaan dengan itu tak sengaja seseorang menyenggol tanganku hingga tangan kurusku hampir menyentuh daerah terlarangnya. Orang itu berhenti lalu menatapku di balik kacamata hitamnya.
Sial! batinku.
"Ma-ma-maf eh i-I'm so-sorry."
Aku meminta maaf sekenanya karena tidak tahu dia bule atau bukan. Tapi dari kulitnya yang cokelat eksotis, kuyakin dia orang Indonesia, namun jika dilihat tingginya yang melebihi rata-rata penduduk pribumi dengan hidung super mancung seperti itu, kupikir dia mungkin berdarah campuran.
Untuk sesaat aku hampir tidak bernapas ketika tidak ada respon dari lelaki itu. Kukutuk diriku sendiri merasa sangat sial hari ini. Tugas wawancara gagal dan sekarang aku melakukan kesalahan fatal. Ya Tuhan, aku tidak menyentuh benda terlarang itu. Sungguh! Aku hanya hampir menyentuhnya, tapi aku tidak sengaja sungguh!
Namun apa daya, jika semua kata-kata itu tersangkut di tenggorokanku bagai bola tenis. Aku hanya bisa memandang wajahku yang terpantul di kaca mata hitamnya yang menggantung manis dengan hidung mancungnya itu.
"It's okay!" akhirnya hanya kata itu yang muncul dari mulut si blasteran.
Aku menganga hingga rasanya rahangku menyentuh lantai marmer bandara. Di satu sisi aku merasa sangat lega tapi di sisi lain aku merasa malu dengan diriku. Aku mengangguk cepat sambil nyengir kuda. Kemudian si blesteran pun melangkah pergi dengan langkah panjangnya menuju entah ke mana. Aku memandang punggungnya sambil berpikir, jika lelaki di sini mengalami seperti itu mungkin dia akan marah-marah. Tapi, dia entah orang asing entah orang pribumi, menanggapi kejadian tadi dengan begitu santuy.
"Gila!" sahut Sarah menyenggol bahuku. "Kamu nggak apa-apa, 'kan?"
"Eh?" Kunaikkan alis kiriku menatap ketiga temanku yang sama-sama terhipnotis dengan kejadian tadi. "Tanganku masih utuh dan aku tidak melakukan apa-apa padanya."
"Memang tidak namun hampir, aku melihatnya dengan jelas. Kamu membuat kami deg-degan, Niki!" kata Anya lalu menghela napas panjang dengan mulut berbentuk O.
"Sudahlah ... Lagian dia juga santai-santai aja. Ya udah, ayo makan dulu, aku akan mencari ide buat tugas ini lagi,"ajakku seraya bangkit lalu melangkah menuju restoran A&W.
#####
Ini hari kedua berburu bule, aku dan ketiga temanku memutuskan untuk berburu para turis asing di museum sekaligus pabrik kretek House Of Sampoerna yang letaknya tak jauh dari penjara kalisosok. Bangunan bersejarah dengan khas masa kolonial itu sudah ada sejak tahun 1862 dan biasanya dijadikan salah satu tempat wisata para turis asing maupun lokal untuk menjelajahi kota tua di Surabaya. Kudapat info ini dari kelompok lain bahwa mereka berhasil wawancara di tempat itu selain mall Tunjungan Plaza.
Mungkin berburu di Bandara Juanda adalah kesalahan kami. Bagaimana tidak, orang yang lalu lalang di bandara tak selamanya dalam kondisi fit. Bisa saja mereka lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Jadi, tidak salah juga mereka menolak kami.
Jadi, di sinilah aku, Anya, Vivi, dan Sarah yang bersiap-siap dengan menggunakan almamater dari kampus di parkiran motor di sisi kanan museum HOS. Kupikir mungkin bule di bandara menolak kami karena kami hanya berpakaian biasa tanpa memakai atribut kampus. Tak sengaja, mataku menangkap dua orang bule cowok yang baru datang dengan tas tracking-nya dan disambut seorang petugas HOS berseragam serba hitam. Aku tersenyum lebar seperti mendapat umpan besar. Baru sepuluh menit kami tiba, kami sudah menemukan bule untuk diwawancarai.
Tanpa basa-basi, aku dan Anya berlari ke arah mereka. Tak peduli ada puluhan anak SMA berseragam yang sedang mengadakan study tour melihat kami mengejar si bule yang akan memasuki museum HOS.
"Excuse me!" kata ku sambil terengah-engah. "Good morning, Sir," sapaku sambil menampilkan senyuman paling manis.
"Good morning, can I help you?" jawab si bule berkulit putih kemerahan karena diterpa sinar matahari sambil mengerutkan kedua alisnya namun berusaha untuk tersenyum.
Sure! You must help us for this damn task!
"Would you like to help us? I'm Niki, so we got this interview task from our lecture for next week. If you have a free time, we want to talk with you for ten minutes maybe. We have some questions here," kataku sekenanya tanpa tahu apakah tenses dan vocabulary yang kugunakan sudah benar atau tidak.
Aku bisa mendengar suaraku sendiri bergetar. Sial! Aku gugup.
Si bule kulit putih menoleh kepada temannya yang berkulit cokelat dan berkacamata hitam. Si kacamata itu hanya mengangguk dengan senyum tipis ala kadarnya. Aku mencibir dalam hati namun apa boleh buat, ini demi tugas.
"Okay, we will help you. Can you wait for us? I have to put this bag," kata si bule kulit putih sambil tersenyum. Kali ini dia terlihat tulus. Kemudian mereka pergi menuju cafe HOS yang terletak di sisi kiri museum bersama petugas HOS itu.
"Thank you, Sir!!" sahut Anya dengan semangat membuatku malu dengan tingkahnya yang sedikit centil. "Tumben kamu, nggak gugup, Nik!"
Hah?
Aku mendengkus. "Apa kamu nggak dengar suaraku yang gemetaran?"
Anya terkekeh sambil merangkul bahuku melangkah menuju Sarah dan Vivi di parkiran motor. Sejenak gadis itu mengerutkan kedua alisnya seperti memikirkan sesuatu. Anya menoleh ke belakang tempat kami bertemu bule tadi.
"Kenapa?" tanyaku.
Anya menggeleng. "Nggak apa-apa."
"Gimana?" tanya Vivi dengan ekspresi tidak sabar.
"Mereka mau," jawabku. "Ayo kita tunggu depan cafe aja, panas nih!"
Sembari menunggu, kami pun mempersiapkan daftar pertanyaan, kamera, dan briefing siapa saja yang mendapat giliran untuk bertanya pada si turis asing. Aku mendapatkan bagian merekam video dan bagian akhir pertanyaan seperti tempat apa yang ingin mereka kunjungi jika berlibur di Indonesia lagi. Sedangkan ketiga temanku mendapatkan daftar pertanyaan seputar makanan favorit mereka selama di Surabaya, hal menyenangkan di kota Pahlawan, hingga tren musik ala kartoyono yang sedang booming. Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya dua orang bule itu keluar dari pintu cafe HOS.
Aku membuka aplikasi kamera melalui handphone Sarah lalu kuarahkan pada kedua bule itu yang duduk santai. Sejenak mereka menggunakan bahasa yang sepertinya bahasa Spanyol. Iya Spanyol, aku memastikan hal itu dari logat khas mereka terasa kental. Namun tidak dengan si kacamata yang berkulit cokelat itu. Dia punya logat seperti logat orang India. Entahlah, aku belum pernah mendengar bahasa India secara langsung meski film-film Bollywood sering diputar di tv karena seringnya menggunakan dubber.
Anya memulai perkenalannya dengan sangat baik membuatku mengerucutkan bibir. Kemarin dia ngotot tidak bisa berbahasa inggris, nyatanya dia bisa lebih luwes daripada aku. Dasar! Batinku mengutuk.
"My name is Adam Jackman," ucap si bule kacamata membuat teman di sebelahnya menoleh dengan tatapan aneh. Sejenak mereka berbisik dengan bahasa yang tidak kumengerti dengan sesekali mereka tertawa.
Apakah mereka gay?
Ketika Anya menyebut namaku, aku sedikit kaget lalu memasang senyum semanis mungkin kepada kedua bule itu. Aku tidak terlalu fokus pada sesi wawancara ini. Mataku terlalu fokus pada satu objek. Si kacamata! Kenapa dia tidak membuka kacamatanya? Apa dia buta? Apa dia juling? Atau jangan-jangan dia itu artis luar negeri kali ya? Lagipula yang berbicara hanya si bule kulit putih yang bernama Sam seolah-olah kayak asisten si kacamata atau mungkin si kacamata ini terlalu pelit untuk mengeluarkan suaranya. Berbagai macam spekulasi bergejolak dalam pikiranku.
Aku tersenyum tipis, si kacamata bernama Adam Jackman itu jika dilihat-lihat dia cukup tampan. Meski tidak tahu bagaimana bentuk matanya tapi dilihat dari rahang yang kokoh, hidung super mancung daripada hidungku sendiri, alis tebal, bibirnya yang terpahat begitu sempurna sudah membuatku sedikit terpesona. Aku jadi membayangkan adegan Kakashi sensei di anime Naruto. Saat Naruto, Sasuke dan Sakura membayangkan bentuk mulut sensei-nya itu. Aku membayangkan hal yang sama, apakah si kacamata itu bermata sipit, besar, juling, mata dengan bulu mata ala Syahrini, atau mata dengan kelopak mata yang turun.
Aku cekikikan membayangkannya hingga Sarah yang asyik mengajukan pertanyaan menoleh ke arahku membuatku salah tingkah. Sarah menaikkan salah satu alisnya. Aku menelan ludah dan hanya bisa nyengir kuda.
"Lanjutin aja, abaikan aku," bisikku pada Sarah. Dia mengangguk dan terleihat jengkel (lagi) lalu dia melanjutkan wawancaranya.
"I wanna talk to your friends who standing over there!" suara bariton terdengar keluar dari bibir tebal Adam. Jemari kanannya menunjuk ke arah kamera. Aku melongo. Siapa yang dimaksudnya?
"Yes, You are!" katanya.
Sial! umpatku.
Jantungku langsung berdetak tidak karuan, memangnya aku salah apa hingga pria itu menunjukku. Dan kulihat si Adam Jackman itu menyunggingkan seulas senyum tipis penuh arti.
"What's your name?" tanya Adam membuat Sam menoleh. Dia pikir bukankah Anya sudah menyebutkan nama kami satu-persatu tadi? Aku bisa membaca isi pikir temannya.
"Didn't miss Anya tell you that her name is Riki, right?" jawab Sam membuatku mendelik diikuti tawa ketiga temanku yang sengaja ditahan.
Ralat! NIKI, Sir, bukan RIKI!!!
"You're wrong, your name isn't Riki, right?" Adam menjawab sambil memandangiku dibalik kacamatanya.
Dia sudah tau kenapa tanya? Dasar bodoh!
"Miki?" Dia menyebut namaku dengan lebih parah membuat tiga temanku tertawa terbahak-bahak. Oh sial! Ada apa ini? Ini sesi wawancara bukan sesi menebak namaku yang semakin lama semakin ngawur.
"Niki, Sir, Niki!" jawabku agak ketus tanpa memandangnya aku melirik tajam ketiga temanku.
Sialan kalian, batinku marah.
"Oh, God, Finally I can hear your voice," kata Adam membuatku mengerutkan alis. "Why were you silent like that? Don't you wanna ask something to us like your friends?"
"Tidak, aku sudah membuat daftar pertanyaanku di sini. Dan aku tak perlu bertanya kepada anda lebih banyak lagi, apa itu cukup?" sengaja aku menggunakan bahasa Indonesia dan mengeluarkan buku catatan kecil. "Apa tempat yang ingin Anda kunjungi jika datang ke Indonesia lagi? Kuharap bukan Surabaya karena aku salah satu warga yang tidak ingin bertemu denganmu."
Darahku mulai mendidih dengan sikapnya itu, sungguh bule tidak sopan. Dengan sigap Anya menerjemahkan apa yang kukatakan tadi kepada Adam namun dengan perubahan kalimat. Sedangkan Vivi menatap tajam padaku seolah aku ini mempermalukan kelompok. Aku tidak peduli.
"Udahan ah! Udah lebih dari lima belas menit kalian wawancara," kataku ingin segera menyudahi sesi menyebalkan ini.
"Okay, I'm so sorry about this, Sir. Would you like to take some pics with us?" sahut Vivi. Sam mengangguk dengan cepat lalu dia mengeluarkan sebuah kamera pocket dari saku celananya.
"I want to stand behind that girl!" seru Adam menunjuk kearahku lagi.
Aku memutar mataku. "Kekanakan banget sih! Nge fans sama aku?" gerutuku kesal.
Aku pun meminta pengunjung HOS yang kebetulan lewat untuk memotret kami berenam. Aku berada di barisan ujung kanan dan di sampingku Adam yang begitu menjulang tinggi. Aku melirik sekilas tinggi badanku yang hanya sampai di pundaknya. Tidak. Kurasa lima senti di bawah pundaknya. Aku membatin, semoga ini pertemuan terakhir dengan Adam Jackman ini.
"Do you forget about me?" tanya Adam sambil berbisik hingga aku hampir tidak mendengar suaranya. Aku terlalu fokus pada kamera yang sudah lima kali memotret kami. "At Airport, two days ago."
Aku terkejut bukan main. Dan seketika itu pula aku merasa baru dikutuk menjadi batu. Kurasakan darahku berdesir hebat membuat suhu tubuh meningkat lebih cepat dan mengalir pada satu titik. Pipiku panas, benar-benar panas. Tempat yang sangat luas ini tiba-tiba menjadi terasa begitu sesak bagiku.
Kucoba menoleh pada si kacamata itu dengan sekuat tenaga. Dia melirikku balik membuat kedua iris mata kami bertemu meski dipisahkan oleh lensa hitam itu. Dia menyunggingkan seulas senyuman, dia masih ingat aku.
"TIDAKKKK!!!!!" jeritku sambil berlari cepat membuat ketiga temanku terheran-heran. "Adam Jancukman!!!!"
Aku tidak peduli Anya memanggilku, aku hanya ingin menghilang dari pandangan si kacamata sialan itu. Sial sial sial! batinku merutukiku dengan kasar.