Bab 4

1060 Kata
Ibarat musim semi yang tiba-tiba datang,  hati dan pikiranku meremang seperti merasakan hangatnya Mentari. Satu kalimat yang muncul di layar ponselku membuat senyum di bibir semakin mengembang. Aku seperti orang gila yang sedang kasmaran ketika berulang kali memastikan bahwa Niguel merindukanku. Sedetik kemudian, kepalaku didorong oleh Randy dengan telunjuk tangan kanannya. Dia menatapku dengan tatapan jijik sembari mulutnya mengunyah mie ayam yang tak kunjung habis. Kubalas perbuatan Randy dengan menarik rambutnya yang sedikit panjang di bagian dahi. "Hilih,  tadi galau sekarang kayak orang gila," ejek Randy. "Emang." "Patah hati mampus kamu, Nik." "Nggak bakal," jawabku seraya mengetik pesan balasan untuk Niguel. Niki : really?  Why didn't you send me message a week ago? Niguel : i'm jealous Seketika itu pula aku menahan teriakan di bibirku sambil menghentakkan kedua kakiku. Lagi-lagi Randy menjahiliku dengan menarik rambutku hingga diriku yabg tenggelam dalam kehaluan itu kembali ke alam nyata.  "Hilih, digituin doang udah seneng. Inget,  kalian cuma temen nggak lebih," ejek Randy lalu mengambil tisu di depanku dan membersihkan mulutnya dengan gemulai. "Eh, iya." Lalu kuketik pesan balasan untuknya. Si kampret Randy memang benar. Aku dan Niguel hanya sebatas teman, lagipula rasanya tidak masuk akal ketika Niguel mengatakan cemburu tanpa alasan. Atau dia ngambek gegara Randy ngomong waktu itu? Niki : we are just friend.  Why were you jealous? Hingga sepuluh menit,  tidak ada pesan balasan lagi dari Niguel. Mungkin dia sibuk atau mungkin dia sedang mencari jawaban tepat atas apa yang dikatakannya padaku. Ah,  mungkin saja. Aku tidak tahu isi hati dan pikirannya. #### Aku menunggu dengan harap-harap cemas ketika pembagian ruangan praktik di rumah sakit serta kelompok. Sebenarnya harapanku bisa satu kelompok dengan Randy meski kadang bosan selalu bertemu dengannya. Tapi, satu kelompok dengan pria berponi yang selalu cerewet ketika tugas memasuki deadline menjadi keuntungan tersendiri bagiku. Dosen berjilbab biru dongker yang duduk di kursi depan kelas membuka folder dan menampakkan deretan nama dan ruangan melalui layar LCD. Randy dan Anya yang duduk di sisi kiriku bertepuk riang ketika mereka berada dalam satu kelompok di ruang anak. Sedangkan aku harus satu kelompok dengan anak lain di ruang penyakit dalam. Randy memandangku sambil menaik turunkan kedua alisnya dan merangkul bahuku lalu berkata, "Good bye, Bucin. Tugasnya urusin sendiri ya," katanya sambil terkekeh. "Selamat datang di ruang bedah." Aku membuang muka. Ruang penyakit dalam bagiku ruang yang paling kompleks penyakitnya. Dan biasanya kami harus pintar-pintar membuat patofisiologis bagaimana semua penyakit pada pasien bisa berhubungan. Praktik kali ini pun bakal beda dari semester lalu, kali ini kami akan dibagi tiga shift dengan tugas yang semakin banyak. Mendadak kepalaku terasa pening,  ah... rasanya aku ingin segera wisuda dan sah. "Buku absen dan log book silakan diambil hari senin ruang prodi. Besok kalian bisa orientasi ke ruangan masing-masing. Untuk tugas silakan buat laporan pendahuluan dan askep setiap minggu dua kasus, penyuluhan yang ditentukan oleh pembimbing ruangan masing-masing, dan ujian di akhir sesi praktik," kata dosen itu membuat anak-anak seisi kelas berbisik-bisik saling mengeluh. "Kalian juga akan ada seminar besar di mana tiap kelompok mengambil satu kasus. Silakan cari kasus yang menarik sehingga kita bisa belajar hal baru bersama-sama. Ada pertanyaan?" "Seminarnya diadakan kapan, Bu?" tanya seorang mahasiswa yang duduk di bangku paling depan. "Baik,  saya jelaskan," kata dosen itu seraya men-scroll kursor ke lembar berikutnya. "Jadi,  minggu kedua akan akan penyuluhan. Jadi kalian harus cepat mencari topik penyuluhan dan konsul ke dosen atau pembimbing ruangan. Minggu ketiga, seminar besar yang akan dihadiri oleh kepala ruangan, pembimbing ruangan, pembimbing dari kampus, dan dosen undangan. Setelah itu, minggu keempat kalian akan ujian sesuai kompetensi di ruangan masing-masing." "Buset," desisku. "Sibuk banget." "Lah, emang sibuk botol kecap. Makanya jangan bucin, awas ya kalau teledor kayak kemarin," bisik Randy dengan nada mengancam. "Ck, bodo amat," rutukku kesal. Kalau sibuk begini, nggak bisa chattingan sama Niguel dong. Yah... Nggak asyik ah! #### Niki : I will be busy next month. Niguel : Why? Niki : I will practice in hospital for a month :(. Niguel : Hey,  don't be sad.  You will be a good nurse someday.  Niki : I know.  But I will miss you,  Niguel. Niguel : because I'm a man who always missed,  right?  Lol Aku tertawa terbahak-bahak membaca pesan Niguel yang bisa dibilang terlalu percaya diri. Tapi,  dia ada benarnya sih. Niguel : wanna hear my voice? Niki : i want video call Niguel : No,  you'll scream when see me "Tuh,  kan,  mulai nyebelin," dengkusku kesal. Niki : I won't Niguel : Yes,  you will. I'm too handsome. But it's better if we talk on w******p Niguel : give your number phone Seketika itu pula aku berteriak kegirangan ketika Niguel memberiku nomor ponselnya. Lalu beberapa detik sebuah pesan w******p masuk dan itu dari Niguel. Niguel : Hi,  beautiful ❤ Lalu dia mengirim sebuah pesan suara. Membuatku cepat-cepat mengklik tombol play.  "I think you're screaming now,  Niki," ucapnya sambil tertawa membuatku ikut tertawa pula. Tapi, sejenak aku berpikir, entah mengapa rasanya suara Niguel begitu tak asing di telingaku. Beberapa kali kucoba mendengar suaranya pun masih tidak menemukan jawabannya. Atau mungkin aku sedang mengalami de javu?  Kadang suara orang bisa saja sama kan? "Yes,  but i can't see your profile picture," ucapku merekam voice note untuknya. "You're so mysterious." "You will see me as soon as possible," kata Niguel membuat kedua mataku berbinar. Mungkinkah dia akan datang ke Indonesia? Mendadak kedua tanganku gemetaran. Sebuah harapan kecil terlintas dalam otakku. Jika memang ini jalannya,  aku ingin bisa menjalin hubungan dengan Niguel lebih jauh. "Niguel, can I call you as my baby?" ucapku dengan pipi merona merah. Jika seperti ini memang terlihat aku yang lebih agresif tapi aku tidak peduli, toh kami memang sedang dekat. Dan bisa jadi kan suatu hari nanti kami bisa dipertemukan? "You're always be my baby," kata Niguel. Ya Tuhan,  mungkinkah hubungan ini telah berkembang jauh dari sebuah kata teman? Tapi,  kenapa Niguel tidak menembakku seperti pria pada umumnya? Niki : so,  we are not friends anymore? Cukup lama Niguel tidak membalas pesanku, hingga rasa kantuk pun mulai datang. Kurasa dia memang ahli dalam menggantungkan perasaan yang sudah terlanjur melambung tinggi di angkasa. Tapi kuharap dia tidak menghembuskan perasaan ini hingga ke dasar bumi sekali pun. Seraya menunggu,  kutatap foto profilnya yang hanya menampakkan foto Niguel dari samping dengan tangan kanannya yang memegangi dahinya. Aku masih tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai semacam mantel hitam dengan kerah tinggi yang menutupi separuh rahangnya yang ditumbuhi janggut. Ah,  Niguel, kamu misterius. Kenapa rasanya kamu tak begitu asing bagiku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN