"Hadirmu, hayalku"
Setelah panggilan telepon bersama ayah nya berakhir, hira langsung menanyai perihal schedulenya untuk minggu depan kepada mbak lina selaku asisten pribadinya.
Mbak lina mulai mengambil ipad di tas nya dan mulai berselancar melihat schedule ira untuk minggu depan. Sembari menunggu mbak lina, aira membuka aplikasi hijau nya untuk membalas pesan dari seorang lelaki yang berada jauh di negeri orang.
Keduanya memang kerap kali saling bertukar kabar bagaimanapun keadaannya.
Dia adalah arkan, teman seprofesi atau bisa dikatakan senior dalam entertaiment.
Lelaki yang terang-terangan mengatakan ingin mengajaknya ke jenjang serius. Mengingat usia arkan yang sudah tidak muda lagi, usia keduanya yang terpaut 10 tahun.
Dibelahan dunia yang berbeda, pria yang kini berusia 35 tahun itu sedang memandangi foto dirinya dengan seorang wanita berjilbab yang sudah hampir 1 tahun ini mengisi hati nya. Arkan tidak henti mendoakan ira agar bisa menjadi miliknya.
Ira mengucap syukur karna ternyata jadwal nya untuk minggu depan kosong selain endors. Itu berarti dia bisa pulang ke kampung halamannya tanpa kendala.
Ditempat yang berbeda juga, 2 orang lelaki sedang membahas kepulangannya atas pinta sang orang tua.
Dia adalah aldy dan rangga.
Aldy sudah menceritakan kepada rangga sang sahabat jika dirinya akan dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya.
Kalau bisa berkata jujur, aldy telah memiliki wanita yang dicintainya. Rasa yang dimilikinya hanya bisa dipendam mengingat kasta keduanya jauh berbeda. Aldy hanyalah seorang abdi negara biasa sedangkan wanita yang dicintainya jauh diatasnya.
Aldy berfikir sejenak saat rangga bertanya perihal wanita yang dicintainya itu. Jika dia memperjuangkan wanita nya, belum tentu sang wanita mau dengan nya mengingat para pesaing aldy yang terbilang cukup luar biasa membuat aldy insecure seketika dan dipukul mundur akan keadaan.
"Gue pasrah ngga, mungkin dia memang bukan yang tertulis dilauhul mahfudz gue". Jawab aldy pasrahbahkan mata nya sudah mulai berkaca-kaca.
Bagaimana tidak, wanita yang berhasil merebut hatinya itu tidak dapat dimilikinya. Semua hanya dipendam dan bahkan wanita yang dicintainya itu tidak mengetahui akan perasaannya.
Rangga heran dengan sahabatnya itu, tidak ada yang perlu di insecurekan darinya. Lalu kenapa dia seolah sangat merendah padahal dia bisa jauh diatasnya.
"Terserah lo lah, capek gue lama-lama. Dari dulu udah di bilangin, kalau suka ya gas, bukan nya curi-curi pandang dari jauh, pengecut lo" Ucap Rangga Ketus.
1 Minggu kemudian
Kini ira telah berada dikota kelahirannya yang disebut kota teh obeng. Dirinya mulai mengabari para sahabatnya untuk meet up bersama mengingat kesibukannya membuat dirinya jarang pulang ke kota kelahirannya itu.
"Ra, kok belum tidur?" Tanya ayah rahman
"Ira belum ngantuk yah, ayah kok belum tidur?" Tanya ira
"Ayah haus ra, ini mau ambil minum di dapur"
"Mau ira buatin minum yah?" Tanya ira
"Gak usah ra, ayah cuman mau ambil air putih kok. Mending kamu masuk kamar nak, istirahat yang cukup." Ucap ayahnya.
"Iya yah, ayah juga."
"Jangan lupa besok kita makan malam sama calon suami kamu ya nak,"
"Iya yah, kalau gitu ira istirahat dulu ya yah." Pamit ira”
Ira terbangun dari tidurnya pukul 03.00 dini hari, sudah menjadi alarm tersendiri baginya untuk bangun jam segitu tanpa diberi penanda. Sejak umur 21 Tahun, ira kerap terbangun otomatis di jam 2-3 dini hari. waktu itu hira bukanlah wanita yang rajin beribadah. jam segitu digunakannya untuk membaca cerita online. ada niat terbesit dihatinya untuk melaksanakan sholat tahajud, tapi kondisi yang tidak memungkinkan membuatnya takut keluar dari kamarnya untuk melangkah mengambil wudu.
Ira bergegas mempersiapkan diri untuk menunaikan shalat tahajud yang sudah menjadi rutinitas ira semenjak di tanah rantau
"Ya allah, panjangkan lah umur kedua orang tua hamba, permudah lah hamba dalam mencari surga mu ya allah, persatukanlah hamba dengan imam yang bisa membimbing hamba ke jalan mu ya allah. Hanya kepadamulah hamba memohon dan meminta ya allah, aamiin ya rabbal alamin" ucapnya dalam rangkaian doa setiap sepertiga malamnya dan bahkan rangkaian doa tersebut disematkannya juga sebelum membaca doa tidur.
Selain rutinitas tahajud, ira juga rutin membaca al-quran selepas menunaikan shalat, baik itu shalat fardu ataupun sunah. setidaknya ia akan membaca 1 lembar al-quran.
Semenjak hidup di tanah rantau, banyak yang berubah dari pribadi ira. Dirinya menjadi sosok wanita yang lebih baik.
Di tempat yang berbeda, seorang lelaki tengah memanjatkan doa rutin tiap sepertiga malam nya.
"Ya allah, mungkin ini hari terakhir hamba menyebut nama nya, berilah dia kebahagiaan kelak bersama lelaki yang telah engkau pilih untuk nya, hamba ikhlas ya allah. Dan pindahkanlah rasa ini untuk calon istri hamba ya allah, beberapa jam lagi hamba akan bertemu dengannya.
Duhai engkau sang pembolak-balik hati, mantapkan lah hati hamba untuk mencintainya setelah namanya hamba sebut dalam ijab kabul nanti, hamba tidak mau mengulang kedua kali nya ya allah. Mungkin engkau cemburu kepada hamba karna terlalu mencintai umat mu yang berlebihan sehingga engkau tidak mengabulkan dia untuk menjadi pendamping hidup hamba. Atau bahkan ada lelaki lain yang lebih gencar menyebut nama nya di banding hamba, hamba mengaku kalah ya allah.
Bismillah, atas izin mu hamba akan mencoba melupakan nya, bantu hamba ya allah Aamiin ya rabbal alamin"
Aldy Pov
Ini hari terakhir aku menyebut namamu di sepertiga malamku, salah ku yang terlalu menaruh hati pada mu tanpa melakukan usaha untuk mendekatimu. Aku harap kamu kelak mendapatkan lelaki yang dapat membuat kamu bahagia, aku mundur.
Tak sadar aldy pun meneteskan air mata nya, untuk pertama kali nya dia menangisi wanita selain ibu nya, melupakan wanita yang telah berhasil merebut hatinya tidaklah mudah, sosok wanita yang selalu dikagumi nya, wanita yang membuat dia semangat bekerja untuk memantaskan diri bersanding dengannya.
Tetapi tuhan berkata lain, ternyata wanita yang rutin disebut dalam doanya bukanlah nama yang tertulis di lauhul mahfudznya.
“Terimakasih sudah hadir, walaupun hadirmu hanya berada dalam hayal ku.”