Azel dan Quindy berdiri dengan kedua lutut mereka di pojokan toilet sekolah yang ada di lantai dua. Keringat membasahi dahi mereka, bahkan wajah Quindy sudah basah sekali. Benar kata Yudistira, jangan pernah berusaha menjadi pahlawan kesiangan. Kalau ada masalah, cepat hubungi guru atau menghubunginya. Tapi Azel berpikir hal itu hanya berlaku saat ia masih sekolah dasar. Saat ia masih terlalu kecil untuk bisa membantu orang lain. Sekarang ia memahami bahwa kata – kata Yudistira berlaku untuk selamanya. Hanya saja Quindy bukan siapa – siapa selain sahabatnya dan ia harus membantu sahabatnya. Meskipun itu artinya ia sendiri akan ikut kesulitan. “Kenapa kalian melakukan ini semua?” tanya Azel sambil sedikit mendongak untuk melihat ekspresi wajah tiga cewek yang tampak puas. “Lo nggak tah

