One Step Closer

1181 Kata
Azel masuk kelas dengan setengah melompat, menyusuri Lorong panjang yang akan membawanya ke kelas 10 A yang berada di ruang paling pojok. Suasana hatinya sedang baik karena Yudistira tadi pagi berjanji akan mengajaknya jalan ke mall. Kakaknya sudah diterima di Universitas Indonesia, itu sebuah hal yang sangat menyenangkan. ia segera meminta sang kakak mengajaknya ke mall untuk merayakannya. Sampai di kelas, Azel berniat mendekati Arga. Ia sudah membuat rencana agar bisa mengobrol dengan Arga yang duduk di belakangnya. Agar keinginannya tercapai, Azel sengaja meninggalkan bullpen agar ada alasan untuk meminjam kepadanya. Tetapi keinginannya tidak sesuai harapan. Karena begitu sampai kelas, Sherly sudah duduk manis di bangkunya, sementara Arga sedang tidur seperti biasanya. Di belakang Sherly yang sibuk memakai bedak. Azel berdiri di sebelah Sherly, hendak meminta kursinya namun gadis itu memberi kode agar Azel duduk di kursi Sherly. Meski dengan berat hati, Azel memilih duduk di kursi Sherly yang sebenarnya dulu tempat duduknya. Rencananya gagal dan lebih buruk lagi ada perasaan aneh yang berkelebat di hatinya. Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan, lebih menyakitkan daripada kemarin saat Sherly mengatakan kalau akan mengejar Arga. Azel merasa bodoh karena melupakan Sherly. Gadis itu bukan rivalnya. Sherly jauh lebih baik daripada Azel dari segi kecantikan dan secara gaya pun Sherly jauh lebih baik. Azel menyadari kalau tak mungkin bisa bersaing dengan Sherly. Menarik napas panjang, Azel menguatkan dirinya untuk hanya konsentrasi sekolah saja. Tidak perlu memikirkan cowok apalagi kalau cowoknya seperti Arga. “Hei, tempatmu disitu. Kenapa duduk disini?” Suara rendah Arga membuat Azel mematung. Sekujur tubuhnya tiba – tiba menjadi panas dingin. Jantungnya seakan berdisko ria dan ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. “Hei, apa kamu dengar?” tanya Arga, membuat Azel perlahan mendongak memandang Arga yang tampak sangat tampan sekali. Di belakang lelaki itu seakan ada sinar dan penuh bunga – bunga. Azel terpesona hingga senyumnya tiba – tiba muncul tanpa alasan. “Sinting!” ucap Arga sambil merebut tas Azel dan memindahkannya ke belakang. “Pindah!” ujar Arga kepada Sherly dengan nada ketus dan dingin. Azel tidak tahu alasannya, tetapi ia merasa senang karena Arga memintanya pindah ke belakang. Sepertinya rencana awal bisa berhasil, apalagi Arga sendiri yang justru membuka pintu kesempatan untuk mendekat. “Tidak bisa, ini tempatku.” Sherly berkeras hati, wajahnya yang ditekuk tetap tampak cantik di mata Azel. Sementara Azel merasa seperti cewek cupu hanya saja tanpa memakai kacamata. Hei berbicara tentang kacamata, sebenarnya Azel membutuhkan alat bantu penglihatan tersebut. Hanya saja sampai sekarang ia tak ingin memberitahukannya kepada om, tante apalagi kakaknya. Mata Azel dan Arga berserobok, membuat nyali Azel menciut sekaligus senang karena keinginannya tercapai. Dengan cepat ia segera beranjak dari tempatnya dan menggantikan Sherly yang dipaksa pindah. Jam masih cukup pagi saat kejadian itu terjadi. Azel sendiri heran mengapa Arga bisa tiba di kelas sepagi ini. Apapun alasannya, ia senang karena Arga membuatnya kembali duduk di tempat yang paling tepat yakni di depan sang cowok yang sudah memberi warna di hatinya. Archie dan Quindy datang bersama beberapa anak yang lain. Mereka berdua menyapa Azel dan duduk di sebelahnya tanpa mengetahui apa yang baru saja terjadi. Dua dayang – dayang Sherly pun setali tiga uang. Mereka berdua tampak bersemangat namun seketika senyum di wajah keduanya lenyap setelah mendapat makian tak jelas dari Sherly. Bel berbunyi, tak lama kemudian guru mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas. Azel menoleh ke belakang, hendak meminjam pulpen kepada Arga namun niatnya menghilang setelah bersitatap dengannya. Tiba – tiba lidah Azel menjadi kelu, pikirannya berhenti dan pada akhirnya ia meminjam bullpen dari Quindy. *** Saat istirahat, Azel menoleh ke belakang. Arga ternyata masih tampak nyenyak dalam tidurnya. Padahal ia berencana mengucapkan terimakasih. Ternyata mengambil hati Arga itu sulit. Azel mengembuskan napas berat sambil mengedikkan bahu. Semua rencananya gagal begitu saja. Azel bertanya – tanya bagaimana caranya melenyapkan batu es antara dirinya dengan Arga. Lelaki yang tampan namun seperti bayangan. Tidak bersuara, acuh dengan sekelilingnya namun semua orang dalam kelasnya tahu siapa Arga. Cowok cakep yang setiap hari membawa Lamborghini merah ke sekolah. Andai ia memiliki sedikit saja rasa percaya diri seperti yang dimiliki Sherly, sedikit kecantikannya dan sedikit saja keberanian maka ia yakin bisa mendekati Arga. “OK, kerjakan tugas membuat laporan penelitian secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari empat orang. Kalian bebas menentukan dengan siapa kelompok kalian. Minggu depan, kumpulkan!” Suara Bu Yani membuat Azel seakan sadar dan kembali ke dunia nyata. Semua teman kelasnya mulai membentuk kelompok. Azel, Archie dan Quindy secara otomatis menjadi satu kelompok. Hanya saja masih kurang satu, mereka bertiga saling memandang seakan saling bertanya siapa yang akan menjadi kelompoknya. Sherly tiba – tiba mendekati Arga, dengan senyum centil mengajak anak lelaki itu untuk menjadi satu kelompok dengannya. “Kamu mau kan satu kelompok denganku. Kamu tidak perlu melakukan apapun, cukup datang saat kita belajar kelompok,” ajak Sherly dengan suara yang begitu ceria. “Aku sudah satu kelompok dengannya,” jawab Arga sambil menunjuk Azel. Mata Azel melebar seketika, memandang kedua temannya karena heran dengan sikap Arga yang tiba – tiba menunjuk dirinya sendiri untuk masuk ke kelompok Azel. Meskipun sebenarnya itulah yang diharapkan Azel. “Kamu sudah mencatat namaku kan?” tanya Arga dengan tegas membuat Azel mengangguk seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Sherly menjadi kesal, memandang Azel dengan bibir mengerucut, menghentakkan kaki kanan sebelum akhirnya melangkah cepat ke mejanya sendiri. Sementara itu Arga kembali meletakkan kepala di atas meja, menggunakan kedua tangannya yang dilipat sebagai bantalan. “Kamu serius masuk kelompokku?” tanya Azel dengan suara bergetar dan begitu ragu – ragu. “Kamu kurang satu orang,” jawab Arga tanpa mengubah sikapnya. Azel kembali memandang dua sahabatnya, keduanya saling mengedikkan bahu. “Aku mint anomer whatsappmu. Kita buat satu grup buat tugas ini,” kata Archie sambil menepuk tangan Arga. Arga hanya melambaikan tangan seakan tidak ingin siapapun mengganggu tidurnya. Tidak ada yang bisa dilakukan Azel selain mengedikkan bahu karena tidak tahu apa yang bisa ia lakukan kepada cowok yang sudah mencuri hatinya itu. Saat pulang sekolah, seperti biasa Azel, Archie dan Quindy berjalan melewati Lorong. Di depan mereka ada Arga yang berjalan pelan namun dengan langkah yang lebar. “Hei, Dude. Mana nomer WA – mu?” pinta Archie, mendekati Arga bahkan mengalungkan tangannya ke pundak lelaki itu. Arga menghentakkan tangan Archie, membuangnya seperti seonggok kertas yang memang layak dibuang. Sesaat Archie terkejut namun tidak lama kemudian lelaki itu kembali menempel seperti magnet. *** Kegigihan Archie membuat Azel bahagia. Bagaimana tidak, gara – gara Archie dia jadi tahu nomer w******p Arga bahkan tergabung dalam grup yang sama. Azel belum ganti seragam saat ia membanting punggungnya di ranjangnya yang empuk. Sambil memandang foto awan, yang dijadikan foto profil Arga, gadis itu tersenyum sendiri seperti orang gila. Hari ini benar – benar menjadi hari yang paling bersejarah baginya. Ia berharap dewi fortuna kembali berpihak sehingga hubungannya dengan Arga naik satu level lalu naik satu level hingga akhirnya sampai pada level tertinggi. Pintu kamar tiba – tiba dibuka, Yudistira tampak tampan dengan kaos coklat dan celana putih. “Kita jadi ke mall, tidak?” tanyanya dengan perasaan heran karena Azel seakan lupa dengan janjinya untuk jalan bareng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN