Pergi ke mall dengan Yudistira awalnya adalah sesuatu yang sangat dinanti Azel. Tetapi hal itu berubah setelah tahu kalau ia satu kelompok dengan Arga, membuatnya tak sabar segera belajar kelompok dengannya.
Berjalan berdua dengan Yudistira, pikiran Azel menari – nari pada Arga yang sehari – hari begitu dingin seakan sulit dijangkau. Semuanya menjadi sulit karena cowok itu tidak seperti cowok pada umumnya.
Azel merasa kalau Arga sibuk dengan dirinya sendiri, seenaknya sendiri dan tidak peduli dengan siapapun yang ada di sekelilingnya. Hal ini membuatnya mengembuskan napas berat.
Yudistira melirik sang adik yang berjalan di sebelahnya. Ia merasa kalau Azel punya masalah, membuatnya merangkul pundak Azel. Membuat adiknya menoleh dengan mata melebar, terkejut dengan apa yang dilakukan Yudistira.
“Kamu kenapa sih? Ada masalah di sekolah?” tanya Yudistira, penasaran dengan sikap Azel yang tidak seperti biasanya.
“Enggak. Cuma banyak PR aja, iya banyak PR,” jawab Azel ragu dengan jawabannya sendiri, hal ini membuat satu alis Yudistira terangkat.
“Bertengkar sama temenmu yang kayak cewek itu, siapa namanya?”
Azel melirik kakaknya, dengan pipi menggembung yang membuat Yudistira berusaha untuk tidak tertawa. Azel tidak suka dengan cara bicara Yudistira yang tidak enak di kuping. Bagaimanapun juga, Archie adalah temannya dan Archie adalah cowok tulen.
“Jangan cemberut, jelek tahu.” Yudistira mencubit gemas pipi Azel, membuat Azelia kesal dan mencubit balik pipinya.
Yudistira tertawa, senang karena telah membuat Azel yang sedang tampak bermasalah tidak lagi terlihat sedih, meskipun sekarang malah terlihat jengkel dengannya.
Azel mengejar Yudistira yang tiba – tiba melarikan diri setelah mencubit pipinya dengan cukup keras hingga membuat pipinya memerah. Namun langkahnya seketika terhenti saat tiba di depan toko es krim milik Fabian.
“Kak Fabian,” sapa Azel sambil melambaikan tangan kepada Fabian yang sedang sibuk di meja kasir.
Setelah Fabian selesai melayani pembayaran customernya, ia membalas lambaian tangan Azel sambil tersenyum lebar menunjukkan serentetan giginya yang rapi.
Tanpa dikomando, Azel masuk dan duduk di dekat meja kasir. Di belakangnya, Yudistira melangkah lebar dengan wajah berubah masam karena ini tidak sesuai dengan pikirannya.
“Aku mau es krim yang itu, Kak.” Azel menunjuk gambar waffle strawberry ice cream yang menempel di dinding.
Fabian hanya tersenyum tipis, tak lama kemudian ia menyapa sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.
“Gimana kabar lu?” sapa Fabian sambil menjabat tangan Yudistira.
“Baik, kamu?” tanya Yudistira dengan rahang mengeras, seakan Fabian adalah musuh yang harus diwaspadai.
“Seperti yang kamu lihat. Aku baik – baik saja,” jawab Fabian sambil merentangkan kedua tangannya.
Yudistira duduk di sebelah Azel, sementara Fabian duduk di depan Yudistira. Lelaki itu sempat melirik Azel, melihat gadis yang sedang sibuk dengan gawainya.
“Bagaimana kabarmu, Azel?” tanya Yudistira, membuat Azel segera memperhatikan teman kakaknya itu.
“Baik, Kak,” jawab Azel sebelum kembali tenggelam dengan gawainya.
Azel sedang sibuk heboh di grup baru yang dibuat Archie siang tadi. Sedikit membahas tentang penelitian yang akan mereka ambil, selebihnya hanya membahas hal – hal yang tidak penting.
Fabian memperhatikan tingkah Azel yang kadang senyum sendiri dan kadang berusaha untuk tidak tertawa lepas. Kedua jempol gadis itu aktif mengetuk gawainya dengan lincah.
“Azel, bisa mint anomer whatsappmu?” pinta Fabian, membuat Yudistira geram hingga rahangnya mengeras.
“Whatsappku?” Azel sedikit menelengkan kepala, tak mengerti mengapa Fabian meminta nomer teleponnya.
“Kamu bisa mengabariku kalau kamu ingin kesini. Aku akan membuatkanmu es krim special, dan itu hanya jika kamu memberitahuku sebelumnya.” Alasan Fabian terdengar masuk akal bagi Azel sehingga dengan mudah gadis itu memberitahukan nomernya.
“Dia bisa mengabarimu melaluiku,” gumam Yudistira. Hati lelaki ini tiba – tiba menjadi panas tanpa alasan yang jelas.
Yudistira memandang jam tangannya, lalu menepuk punggung tangan Azel untuk mendapatkan perhatiannya. Azel menoleh dan menunggu apa yang akan dibicarakan kakaknya, sementara kedua tangannya masih memegang gawai yang kembali mengeluarkan bunyi notifikasi.
“Kakak lupa ada janji dengan seseorang. Kita harus pulang sekarang,” ajak Yudistira, dengan mata masih tertuju pada Fabian.
“Tapi kan kita baru nyampe, Kak. Kak Fabian saja belum bikinin aku es krim,” protes Azel, terkejut sekaligus kecewa karena keinginannya tidak sesuai rencana.
Tanpa pikir panjang, Yudistira menarik tangan Azel dan mengajaknya keluar dari toko es krim milik Fabian. Sementara Fabian hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangan kepada Azel yang baru saja menoleh ke arahnya.
Azel menarik tangannya dari genggaman Yudistira, berjalan cepat menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan, ia hanya memandang toko – toko yang dilewati lalu kedua kakinya berhenti pada sebuah toko boneka.
“Aku beliin boneka itu,” tunjuknya kepada boneka stich, tokoh film animasi lilo n stich yang berukuran besar.
Tanpa pikir panjang, Yudistira segera masuk toko dan menemui pramuniaga yang mengenakan seragam T shirt putih dan celemek warna merah muda. Menunjuk boneka itu lalu membayarnya. Tak lama kemudian membawa keluar boneka yang ditunjuk adiknya.
“Puas?” tanya Yudistira sambil menyerahkan boneka berwarna biru yang sangat lucu itu.
Azel sebenarnya belum puas karena mereka belum mengelilingi mall. Tapi ia tak ingin kakaknya telat, jadi ia mengangguk hanya untuk membuat kakaknya tidak berpikir macam – macam.
Setelah tiba di tempat parkir, boneka Azel diletakkan di jok belakang. Azel segera masuk di jok depan, mengenakan sabuk pengaman dan kembali ber chit – chat ria.
“Dari tadi kamu sibuk main WA, ngobrol sama siapa?” tanya Yudistira sambil menyalakan mesin mobil.
“Sama Quindy dan Archie, memang sama siapa lagi?” Azel balik bertanya.
Yudistira tidak menanggapi pertanyaan Azel dan memilih konsentrasi membawa mobilnya. Melaju dengan kecepatan sedang.
“Kamu mau makan apa?” Pertanyaan Yudistira membuyarkan ketenangan dalam mobil.
“Katanya Kakaka da janjian mendadak?” tanya Azel.
“Tidak jadi,” jawaban Yudistira membuat Azel melotot dengan pipi menggembung.
“Kakak tadi bohong ya? Ish, nyebelin banget sih. Harusnya sekarang kita makan es krimnya Kak Fabian,” semburnya sambil melipat kedua tangan.
“Kita bisa beli es krim. Aku tahu toko es krim enak di sekitaran sini,” ujar Yudistira.
“Lebih enak es krimnya Kak Fabian, gratis lagi.”
“Kita bukan orang miskin, Azel. Lagipula kasihan Fabian kalau kamu sering minta es krim darinya. Mulai sekarang jangan beli es krim di toko Fabian!”
“Kak Fabian sendiri kok yang nawarin. Dia tuh sudah kayak kakakku sendiri.”
“Karena itu seharusnya kamu tidak meminta makanan gratis darinya.”
“Aku dapat boneka gratis dari Kakak,” ucap Azel sambil menunjuk boneka yang teronggok di jok belakang.
“Aku lain. Aku Kakakmu. Kamu boleh minta apapun dariku.”
“Yakin?”
Yudistira melirik adiknya, melihat sorot mata berkilat yang membuatnya geleng – geleng kepala. Agak menyesal dengan ucapannya sendiri.
“Kita sudah mau sampai,” ujar Yudistira.
Mobil membelok ke sebuah café es krim yang cukup terkenal. Mobil – mobil mewah menghiasi tempat parkirnya, kecuali mobil Yudistira yang sebenarnya mewah pada zamannya.
Di jajaran mobil yang terparkir itu terdapat Lamborghini merah milik Arga. Azel sangat yakin karena ia sudah menghafal nomer platnya. Tiba – tiba perasaannya jadi panas dingin tak jelas, ingin sekali segera masuk dan menyapa Arga namun mengapa kedua kakinya menjadi kaku.
Yudistira masuk ke café itu, diikuti Azel yang berjalan dengan langkah aneh. Debaran jantungnya tak teratur dan kedua tangannya berkeringat tak jelas.
Arga duduk bersama seorang Wanita cantik yang mengenakan pakaian serba ketat. Menunjukkan sepasang kaki jenjang putih mulus.
Saat kedua kaki Azel mendekati meja Arga, tiba – tiba saja lelaki itu menatapnya lalu berdiri. Berjalan cepat melewati Azel hingga pundak mereka bertabrakan.
Azel hampir terjatuh jika saja Yudistira tidak menahannya. Mengapa Arga tampak sangat marah? Siapa perempuan itu?