Kelesuan Azel dibawa sampai ke kampus. Selama kuliah, pikirannya tidak ada di tempat yang benar. Ia terus saja kepikiran Delvino. Bahkan sampai kelas selesai pun ia masih bengong di tempatnya. Archie menepuk pundak Azel dengan keras, sengaja karena ia tahu Azel melamun sejak masuk kelas. “Dari tadi gue takut lo kesambet, tahu.” Archie menggeser kursinya mendekati Azel. “Apaan sih.” Azel mendengus, melirik sahabatnya yang sudah mengganggu pikirannya. “Abisnya, dari tadi gue liat lo ngelamun aja bawaannya. Kenapa, Cin? Ada masalah sama Delvino. Atau Kak Yudis sama Delvino berantem gara – gara lo?” Archie sangat bisa membaca situasi, walaupun situasi itu tidak terjadi atau belum terjadi. Azel mengembuskan napas berat, kepalanya tertunduk dan ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya,

