Azel mengingat kembali kejadian tadi saat memilih seakan tak mengenal Delvino hanya karena ia takut kena masalah dengan Yudistira. Saat bertatapan mata, saat ia melambaikan tangan sambil tersenyum padanya, namun ia memilih pergi begitu saja. Itu adalah hal yang paling buruk yang pernah ia lakukan. Seandainya ia tidak bersama Yudistira tadi. Seandainya ia menuju wastafel seorang diri, pastinya hal itu tidak akan terjadi. Setidaknya ia akan mengatakan bahwa ia harus buru – buru atau alasan apapun agar pertemuan mereka menjadi singkat, setidaknya ada penjelasan kenapa ia buru – buru. Tapi Azel memilih acuh tak acuh. Azel memejamkan mata erat sambil mengembuskan napas berat ke udara. Duduk di dalam mobil, meletakkan kepala di jendela mobil. Azel berharap kejadian tadi hanyalah mimpi bel

