Naik tangga dengan kaki dihentak-hentakkan, begitu masuk kamar langsung melemparkan tubuhnya diatas ranjang sambil menutupi muka dengan bantal. “Apa mungkin aku kembali ke jaman Siti Nurbaya ya?. Cepat-cepat dia bangun mencari Hp dan memeriksanya “bener kok, sekarang bulan desember tahun 2019” pikirnya. “Tapi kenapa aku masih dijodohkan”. Aaa...kakinya menendang-nendang udara sambil berteriak, kesal sekali.
Hanya menoleh sebentar, tetap melanjutkan masuk kelas dan memilih duduk dipinggir pintu, Biru tidak menghiraukan ketika Minyak Zaitun berteriak memanggilnya. Dengan bertopang dagu diperhatikannya temannya yang baru datang satu persatu. Semua gembira, mereka tidak mempunyai masalah seperti dirinya.
Rayyan menoleh pada Kilau sambil bertanya “ada apa” tanpa suara. Yang dijawab dengan gelengan. Kemudian ditariknya tas Biru “yang mulia ada masalah?, kami siap membantu”. Biru hanya melirik masih tetap bertopang dagu.
“Selamat siang buuu...” begitu dosen Manajemen Pemasaran memasuki kelas. Selanjutnya kelas menjadi sunyi hanya suara proyektor dan dosen yang menerangkan. Satu jam kemudian “minggu depan kita kuis ya” yang disambut dengan dengungan protes.
Biru berjalan ke arah kantin diikuti oleh 3 orang dayang-dayang setia. Setelah memesan minuman, kembali dia hanya bertopang dagu. Beberapa saat kemudian kepalanya diletakkan di meja, sambil memejamkan mata.
“Sekarang bulan apa?” tanyanya.
“Desember”
“Tahun?
“Tahun 2019, apa yang mulia menderita lupa ingatan? Aldino bertanya sambil memegang dahi Biru. “hangat, mungkin isinya meleleh” sambil menoleh ke arah Kilau dan bugh...diusapnya lengan yang barusan kena pukul sambil meringis.
“Berarti aku sudah berada di bulan dan tahun yang bener ya? Gumamnya sambil mengaduk-ngaduk esnya tanpa berniat minum, sedang yang lain hanya saling memandang dengan kerutan di kening.
“Kirain aku masuk mesin waktu, dan melompat ke tahunnya sitti nurbaya” keluhnya.
“Yang mulia... sebenarnya ada apa sih? Ujar Rayyan.
Tiba-tiba “ Rayyan apakah kamu bersedia mati untukku? Yang ditanya hanya mengangguk sambil kebingungan. Akhirnya Biru bisa tersenyum lebar “semua masalah pasti ada solusinya. Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan ummatnya. Terima kasih ya Allah”.
“Tapi...nggak harus mati sekarang khan La? Ujarnya dengan wajah pucat. Yang disambut tawa cekikikan dari sebelahnya. Aldino yang sedang minum sampai terbatuk-batuk dan dan airnya muncrat kemana-mana. Kilau menjerit sambil menendang Aldino karena airnya mengenai wajahnya.
“Nggak, tugasmu gampang cuma jadi pacarku aja” ujar Biru. Rayyan melongo sambil memegang tangan Aldino. Dipegangnya d**a sebelah kirinya. Masih ada dan jantungnya berdebar keras.
“Apa ini mimpi? dicubitnya lengan orang disebelahnya. Adoww...sakit kucing garong! lagi-lagi Aldino yang harus jadi korban.
“kamu kenapa sih? tanya Kilau, sambil bertopang dagu dimeja.
“Iya...kamu kenapa sih La? sambung Aldino, sedang Rayyan masih sibuk memeriksa jantungnya.
“Dijodohkan” jawabnya dengan wajah kesal. “mulai hari ini Rayyan pura-pura jadi pacarku” sambungnya.
“Serius? sama kak Alaska? teriak Kilau dengan wajah sumringah. Akhirnya...
“eeh...anak cebong, kok kamu seneng sih? Kilau hanya tersenyum makin lebar.
“Kak Alaska orangnya baik kok, aku suka kalau kamu jadian sama dia”
“ helloww...mohon maaf, hamba masih bingung” sambil garuk-garuk kepala, rayyan melihat Biru. Yang dilihat hanya menarik nafas sambil melipat tangan diatas meja, kemudian “ agenda rapat hari ini adalah mengatur sekaligus mematangkan strategi”.
Aldino menggaruk rambutnya yang nggak gatal “kisanak...adakah yang sudi menjelaskan? Ada apa ini sebenarnya”.
“Jadi kamu Minyak Zaitu hari jumat nanti”, sambil menunjuk tepat dihidung. “Kamu harus jemput kita berdua dirumah sekaligus mengantar ke rumah si target, Tapi jangan langsung pulang, ngobrol dulu sama si target” jelas Biru sambil tangannya mengaduk minuman. “Jemput jam lima-an ya, terus hari minggu jemput lagi jam tiga”Rayyan hanya mengangguk.
“Terus tugasku”ujar Aldino sambil menunjuk dirinya.
“Kamu dan Kilau sebagai tim pendukung, tugasnya memberi semangat pada si Minyak Zaitun untuk terus Pedekate ke aku, hari minggu kamu ikut jemput”.
“Bisa nggak kalau kita pacaran beneran?” yang hanya dibalas delikan maut. Langsung kepala Rayyan terkulai diatas meja. nasib...
“ok...sudah mengerti semua tugasnya? Jangan lupa Rayyan dandan yang keren” pesan Biru.
“Baik yang mulia..hamba mengerti”.
“Sekarang mari kita rayakan kerjasama ini...makan nasi padangg!!!” ajak Biru yang disambut dengan gerutuan protes, nggak ada yang lain apa...
Siang yang panas ....kalau bukan karena desakan mama pasti Biru nggak akan mau berdiri di sini dengan baju yang sudah lepek dan nempel karena keringat, halte depan kampus siang ini hanya ada 3 orang aja, termasuk dirinya. Tadi pagi mama pesan kalau siang ini dia harus menunggu si songong dihalte depan kampus, karena ada titipan dari tante Amelia untk mama. Pasti kue...
Kilau sudah pulang duluan karena akan mengantar adiknya ke tempat les, jadi dia hanya sendiri. Sebenarnya agak mencurigakan, dia merasa ini disengaja, karena tidak biasanya Kilau mau mengantar adiknya les. Tapi belum ada bukti, hemm..awas aja.
Sudah 10 menit dia berdiri, hanya tersisa seorang laki-laki dan dirinya di halte. “Si songong mana sih? 5 menit lagi nggak datang aku tinggal“putusnya. Buku yang dia pakai untuk kipas sudah lecek, keringat berlelehan di seluruh wajah. Diliriknya jam ditangan kirinya, mulai berhitung. Dia sudah mulai gerah dan kepingin segera pulang, mandi terus leyeh-leyeh dikamarnya.
Dengan wajah cemberut, akhirnya dia memutuskan utuk pulang aja. Sambil menunggu ojol, dia telpon mamanya “ini Biru sudah nunggu 20 menit, tapi si songong belum datang” jawabnya.”Ini masih nunggu ojol, ...iya ma”.
Setelah menutup telpon, sambil menunduk dicarinya cairan pembersih tangan didalam tasnya. Kemudian dia tersentak kaget karena tiba-tiba Alaska sudah berdiri didepannya. Sampai botol cairan pembersih jatuh dari tangannya. Biru hanya bisa melongo tanpa suara. Saat tersadar langsung melotot sambil cemberut.
“Kenapa lama sekali sih?omelnya.”Aku sudah nunggu setengah jam lebih lho, kalau nggak jadi datang bilang dong, jangan biarin anak orang terlantar”. Mana panas dan haus lagi...gerutunya.
Alaska hanya tersenyum geli, dibiarkannya Biru ngomel. “Maaf..tadi ada kerjaan dikit”, sambil diperhatikannya titik-titik keringat didahi dan yang berlelehan dileher gadis itu. Tangannya sudah gatal ingin mengusapnya. “Sabar..jangan membuatnya kaget” batinnya.
“Ayo” ajaknya, yang ditanggapi dengan kerutan dikening Biru. Ketika tidak ada jawaban, ditolehnya gadis itu . “ayo kita berangkat” ulangnya.
“Lho ..kita mau kemana? Terus mana kue titipan tante Amelia” ujar Biru.
“Iya ini ambil kue ke rumah” sambil ditariknya tangan Biru berjalan ke arah mobilnya.
Dengan kebingungan Biru masuk ke mobil Alaska, diikuti Alaska yang kemudian menyuruhnya memasang seatbelt. Beberapa saat dia terdiam kemudian dia baru ingat sesuatu. “eee..stop,tadi aku sudah pesan ojol! Teriaknya.
Alaska masih tetap menjalankan mobilnya, Biru masih teriak ”stop..stop” katanya. “ aku pulang pake ojol aja” sambil membuka pintu akan turun.
Tapi “Sudah aku cancel tadi” jawab Alaska, membuat Biru menoleh bingung. Ditunggunya penjelasan selanjutnya “tadi waktu aku datang, barengan sama si ojolnya, sudah aku kasih ganti rugi juga”ujarnya.
“Sekarang cepat tutup pintu dan pasang seatbelt karena kita sudah ditunggu mama”.
“mamanya siapa? Ucap Biru dengan ketus sambil menggerutu “ Songong tetap aja songong”. Walaupun sekarang amarahnya agak turun karena masuk mobil badannya langsung adem, beda waktu masih diluar tadi yang panas menyengat, bikin emosi langsung naik aja. Diambilnya tissue lalu disekanya keringat didahi. Diamatinya interior dalam mobil, menoleh kebelakang dia melihat tumpukan map dan beberapa kertas. Sebuah tas ransel warna hitam diletakkan dibawah jok. Kemudian diliriknya si songong yang siang ini memakai baju atasan biru laut dengan bawahan celana bahan warna Biru gelap. “Ganteng juga si songong ini” batinnya
“Sebetulnya ada apa sih? kalau tante kirim kue khan bisa diantar sama ojol, kenapa harus aku yang ambil? Sambil meremas tissue bekas keringatnya tadi.
Alaska hanya menoleh, kemudian menjawab kalem “ khan biar kita bisa lebih dekat lagi”. Yang dibalas pelototan sama Biru. “Kayak perangko sama lem aja” batinnya.
“Kenapa kita harus lebih dekat?
“Khan kita dijodohkan” sahut Alaska kalem sambil tersenyum. Melihat itu Biru hanya diam, duhh....jantung tenang ya jangan loncat-loncat dong.
“Malah melamun..Biru...Laut Biru”Biru gelagapan. Mukanya memerah karena malu. Kemudian pura-pura diambilnya tissue tapi hanya dilipat-lipat saja.
“Aku menolak perjodohan ini ya” ujar Biru dengan muka cemberut.
“Aku menerima dengan ikhlas perjodohan ini ya” menirukan ucapan Biru.”Kita khan belum menjalaninya? Kenapa harus menolak duluan? Kenapa harus menolak sesuatu yang kita tidak tahu tingkat kegagalan atau keberhasilannya” lanjut Alaska.
“Hubungan kok coba-coba” katanya menirukan iklan.
“Bukan coba-coba kita jalani sambil saling mengenal”.
“Pasti tidak berhasil, usia kita jaraknya jauhhh” sambil membentangkan tangan. “Aku masih kuliah, kamu sudah bekerja, aku masih kepingin bekerja, kamu pasti ingin istri yang cuma diam dirumah sambil nunggu suami pulang kerja”. “Banyak sekali perbedaan diantara kita dan itu hal-hal yang paling penting dalam suatu hubungan”.
“Apa yang paling penting dalam hubungan?usia?kamu yang masih pingin kuliah?Bukannya dasar dari suatu hubungan itu saling mengerti, saling memahami dan yang paling penting adalah saling menyayangi?.
“Umurku tahun depan dua puluh tahun, kamu?
“Bulan depan tiga puluh tiga tahun”.
“Nah khan...Aku masih suka jalan ke mall, masih suka tidur sama mama,masih suka minta uang sama kak Jagad, suka nangis juga tapi nggak sering kok” sambil nyengir,”kamu pasti nggak suka khan kalau pulang kerja tapi istrimu masih jalan-jalan dimall terus tiba-tiba istrimu minta tidur sama mamanya” ucapnya tanpa jeda.
Alaska hanya diam mendengarkan celotehannya, hemm..menarik, batinnya.
“Kenapa harus tidur sama mama kalau sudah ada suami yang bisa diajak tidur juga, halal lagi” godanya. “Terus kamu juga bisa kok minta uang sama aku”.
“Terus kamu pasti kepingin punya anak juga” sambungnya dengan muka merah seperti kepiting rebus. “Pokoknya kita nggak akan pernah cocok, makanya kita tolak aja perjodohan ini ya? rengeknya.
“Kalau kamu belum mau punya anak dulu nggak papa kok, tapi kita tetap tidur bareng khan?? Yang langsung membuat gadis disebelahnya menoleh kearah luar dengan muka bertambah merah.
Alaska semakin tersenyum geli sambil memandangnya. Dalam hatinya semakin yakin untuk menjalani perjodohan ini. Dan secepatnya meminta orang tuanya untuk segera melamar Biru...ya Semenanjung Laut Biru. Gadis manis berkulit putih beraroma vanilla yang sudah membuat hatinya berdebar tiap kali mereka berdekatan. Apalagi bibir pink basah itu kalau berceloteh sambil cemberut sangat menggemaskan.
“Kalau kita coba menjalaninya dulu gimana? Setahun, kalau memang nggak cocok ya kita batalkan perjodohan ini”. Mencoba merayu dan menyakinkan gadis cerewet yang menggemaskan disebelahnya.
“setahun?teriak Biru. “No... enam bulan” tawarnya.
“ Sepuluh Bulan”.
“Tiga bulan aja”.
“Setahun nggak akan lama kok” ujar Alaska.” Kamu naik semester tahun depan, itu sudah setahun, nggak lama itu” lanjutnya sambil menghentikan mobilnya.
Kening Biru berkerut”kenapa berhenti” tanyanya.
“Sudah sampai”
Matanya berkeliling, dan dilihatnya ini memang sudah didepan rumah tante Amelia. Dia tersenyum sambil nyengir malu. Keluar dari mobil diikutinya Alaska berjalan kearah pintu. Sambil membuka pintu Alaska menggandeng tangannya, yang membuat tubuhnya kaku dan jantungnya seperti menari Zumba. Mencoba menarik tangannya dari genggaman Alaska tapi susah sekali karena si songong ini tidak mau melepasnya, apalagi tante Amelia sudah menyambut mereka sambil tersenyum. Jadinya dia diam aja tangannya digenggam, nggak enak juga kalau dilihat tante Amelia menarik tangannya begitu aja.
“Aduh...maaf ya merepotkan, sebenarnya tante maunya diantar ojol aja, tapi si Alaska menawarkan diri” jelasnya.
“Nggak papa tante...tadi juga dijemput sama kak Alaska kok”. Sambil merencanakan pembalasan yang lebih kejam.
“Ini pulang kuliah ya? ayo..ayo makan dulu, sudah tante siapkan” ditariknya tangan Biru dari genggaman Alaska, diajaknya duduk dimeja makan yang sudah tersedia aneka hidangan. Dituangkannya es jeruk ke dalam tiga gelas.
Wahhhh...si songong mulai berulah batin Biru. Biru menoleh mencari Alaska yang sudah menghilang, entak kemana.
“Makan yang banyak ya..tante senang rame gini, biasanya cuma sendiri”.
“Kalau Biru enak ya..rame dirumah”.
“Iya..biasanya sama mama dan Kilau” sahutnya, sambil mengambil nasi dan ayam goreng terakhir dua sendok sambel.
Sambil makan tante Amelia menanyakan lagi rencana mereka hari sabtu nanti, Biru mengangguk, sambil tersenyum dalam hati mengingat rencana yang sudah disusunnya dengan para dayang.
Alaska terlihat menuruni tangga sudah berganti baju biasa, rupanya habis mandi terlihat rambutnya masih basah. Memakai kaos warna mocca dengan jeans warna hitam. Kemudian duduk ambil piring lalu makan sambil memandang Biru yang mukanya berkeringat dan merah karena sambel. Sedang Biru sambil menahan nafas karena pedas juga menahan diri agar jantungnya yang meloncat-loncat jangan sampai membuatnya pingsan, karena melihat Alaska yang makin ganteng dengan baju santai itu.
“Udah jangan nambah sambel lagi...nanti sakit perut” ujar Alaska, ketika dilihatnya tangan Biru terulur untuk mengambil sambel.
Mama yang jawab “iihhh Alaska ..mana enak makan tanpa sambel, iya khan? Mencari dukungan dari Biru. Yang hanya dibalas dengan anggukan, dan senyum menantang ke arah Alaska.
“Tapi itu mukanya udah merah gitu, kalau sakit perut yang punya anak marah ma..jelasnya sambil tersenyum diikuti tante amelia.
“Aku bukan anak kecil yaa..sanggahnya sambil cemberut tapi tetap mengambil sambel satu sendok. Alaska hanya menatapnya tajam tanpa berkata apapun.
Selesai makan kemudian tante Amelia mengajaknya duduk dikursi yang ada dibelakang rumah dekat dengan kolam renang, Biru baru mengetahui kalau disitu terdapat kolam renang walau agak lebih kecil dari kolam miliknya. Karena tertutup taman dan juga kolam ikan jadi kalau mau berenang harus jalan memutar.
“Besok kalau kesini jangan lupa bawa pakaian renang, habis bikin kue kita berenang ya? ajaknya. “Tau nggak..tante seneng banget kalian berdua mau main kesini, tante sudah nggak sabar menunggu hari sabtu” ujarnya sambil matanya berbinar senang. Biru sampai nggak tega melihatnya dan berniat membatalkan rencananya itu.
Hari sudah sore ketika dia pamit pulang, kue untuk mamanya sudah ditentengnya. Setelah basa-basi dan cium tangan tante amelia, kemudian bergeser mencium tangan Alaska. Setelah itu berjalan keluar ke arah pintu sambil mengambil HP bermaksud pesan ojol, tante Amelia sudah masuk kedalam. Sambil menunduk dibukanya aplikasi ojol. Tiba-tiba dia tersentak kaget karena ada yang merebut Hpnya. Ketika menoleh dia tidak terkejut, siapa lagi pelakunya kalau bukan si songong “Kak Alaska”teriaknya sambil cemberut.
Alaska hanya tertawa “ kenapa pesan ojol sih, nggak mau diantar?
“Mana aku tau, wong nggak ada pengumuman ” jawabnya sambil tetap berjalan keluar ke arah mobil Alaska yang parkir disamping, dan menolak digandeng. Tapi Alaska akhirnya berhasil menggenggam tangannya, walaupun yang empunya tangan menggerutu.
“Sudah punya tangan masing-masing, kenapa masih merebut tangan orang”, gerutunya. Alaska sampai tertawa keras mendengarnya.
“Kenapa nggak bilang kalau mau ngantar pulang sih, jadi nyesel tadi udah cium tangan”, Alaska hanya diam dibiarkannya Biru ngomel yang akhirnya diam sendiri.
Saat dijalan Biru memegang perutnya karena kebelet pipis, tapi Alaska pikir dia sakit perut karena kebanyakan makan sambel.
“khan...bandel sihh, dilarang malah nekat,” ujarnya. Sambil menoleh kanan kiri mencari apotik atau minimarket untuk membeli obat. Sedang Biru hanya melihatnya karena tidak mengerti maksudnya. “Besok lagi nggak usah makan sambel deh” lanjutnya. Baru Biru mengerti, dan langsung mendapat ide untuk mengerjainya.
“Iya..janji nggak makan sambel lagi, tapi perjodohan kita batal ya” rayunya sambil menatap Alaska.
Alaska hanya menatapnya sekilas dan kembali fokus menyetir sambil melihat kanan kiri. Huhfftt...Bahunya melorot karena tidak ada tanggapan. Kembali berpikir cara apalagi ya yang bisa bikin perjodohan ini batal. Haaa...akhirnya sambil tersenyum dia menegakkan tubuhnya yang tadi bersandaran.
“ Atau gini aja, kalau kak alaska berani lomba makan pedas sama aku, aku terima deh dijodohkan sama siapa aja”. Tik tok tik tok..
Alaska langsung memandangnya dengan tajam dan terlihat marah, Biru balas menatapnya tanpa tau kesalahannya. “ yang lomba makan sambal khan aku, terus kenapa dijodohkan dengan orang lain? Tanyanya sambil menahan marah.
“eee...iya makudnya dijodohkan dengan kak Alaska deh”
“Kenapa pake “deh”?
“Ya ampun..iya sama kak alaska” tambahnya dengan muka kesal.
“ Jadi kalau aku bisa makan pedas, kamu nggak akan menolak khan? Biru mengangguk.
“Ini tanpa masa percobaan langsung kita tunangan ya?” tantangnya.
Waduh...Biru mendelik sambil berpikir, baik..baiklah dia tidak akan mundur karena berpegang informasi dari tante Amelia, maka harusnya Alaska pasti tidak akan berhasil.
“ok..deal”sambil mengulurkan tangan bersalaman tanda sepakat.
“Syaratnya Cuma kuat makan pedas khan ya? sebulan kemudia kita tunangan” ucapnya menyakinkan kesepakatan mereka lagi dan Biru hanya mengangguk.
Ketika pikirannya normal kembali “ee..bulan depan banyak tugas habis itu Ulangan semester jadi sibuk sekali, tiga bulan ya” rayunya. “itu sudah pas buat menyiapkan acara tunangan”lanjutnya. Berharap usahanya berhasil.
Alaska memandangnya dengan tajam akhirnya mengangguk dan berkata “ini bukan rencanamu untuk membatalkan tunangan kita khan?. Biru sedikit kaget karena rencananya bisa ditebak dengan benar. Tapi dia hanya menjawab dengan gelengan.
“Baiklah tiga bulan dari sekarang”
“Itu kalau Kak alaska menang lho, kalau kalah gimana? Gagal perjodohan ya? Ujar Biru dengan riang. Yes...teriaknya dalam hati.
Alaska hanya mendengus seraya berkata “ kita lihat aja”.
“Tapi kalau kalah batal ya? sambil mengajak bersalaman. Tanda sepakat. Tapi nyatanya hanya dirinya yang antusias, tangannya tidak ada yang menyambut.” Kenapa tidak mau sih, itu khan tanda kalau kita sepakat” gumamnya. Akhirnya dia menoleh kesamping melihat keluar jendela sambil cemberut sampai mereka tiba dirumah. Biru tetap nggak mau ngomong ketika Alaska pamit yang hanya ditanggapi dengan tawa tergelak sambil mengacak-acak rambutnya