Tante Amelia yang baru masuk dari arah dapur berdiri melongo sambil memegang kue yang dibeli Alaska tadi. Raut mukanya kebingungan melihat Biru yang berjalan tergesa kekamar, dan Alaska yang mengikuti berjalan dibelakangnya. Kepalanya menoleh ke arah Kilau dan teman-temannya di meja makan, dengan pandangan bertanya, yang dijawab dengan gelengan kepala.
Biru berjalan dengan muka ditekuk cemberut, melompati dua tangga sekaligus. “ Kenapa sih si songong itu, kalau marah menakutkan? Gerutunya. Hatinya kesal, campuran antara marah, sedih, capek bercampur aduk. Karena berjalan dengan tergesa, tidak dilihatnya ada keset bergambar bola dunia didepan kamar yang ditempatinya. Akibatnya kakinya tersandung yang membuat tubuhnya terdorong ke depan pintu. Matanya terpejam, pasrah kepalanya benjol karena menabrak pintu. Ditunggunya beberapa saat. Tangannya meraba kepalanya. “Tidak ada yang sakit, aman” pikirnya.
Dibukanya matanya pelan-pelan, seketika melongo kaget, karena Alaska sedang memeluk badannya sambil mengamatinya. Tenggorokannya kering, susah untuk menelan salivanya. Tiba-tiba jemari Alaska menangkup mukanya dengan kedua tangannya. Hatinya berdebar keras. “Ini cobaan.. harap sabar” .
“ Kamu sudah janji, kalau akan hati-hati!’ suara Alaska menahan amarah. “Kamu juga janji nggak akan pecicilan!, kalau kayak gini, gimana bisa ninggalin kamu?” keluhnya. Pelukannya semakin erat.
Kening mereka saling menempel, Nafas Alaska memburu. Tangan Biru memegang erat tangan Alaska. Menahan Alaska supaya jangan lebih mendekat. Tiba-tiba Alaska mencium pipinya, diantara kedua matanya, pucuk hidungnya. Hanya bibirnya yang selamat. Biru melongo, matanya berkedip, berusaha menyakinkan dirinya bahwa barusan itu kejadian nyata. Tubuhnya lemas, beruntung dia masih berada dipelukan Alaska. Saat kesadarannya kembali..
“ahh... ini sudah yang ke-tiga kalinya, aku sudah tidak dapat diselamatkan!” serunya. Tubuhnya memberontak, berusaha melepas pelukan Alaska, mukanya merah padam. Badannya berkeringat. Dia sudah lupa dengan kancing bajunya yang terlepas, bagian dadanya terbuka lebar. Kakinya mundur dua langkah menjauhi Alaska. Tangannya terentang ke depan melarang Alaska untuk mendekat.
Yang tidak disadarinya adalah, dari tadi mata Alaska menikmati pemandangan yang tersaji didepannya. Matanya menelusuri tubuh bagian depan gadis itu yang terbuka. Memperlihatkan kulit mulus bagian atas yang tidak tertutup bra. Jakunnya bergerak-gerak.
“aahhh...sayang, ini sudah termasuk KDRT lho ”, ucapnya, ketika tiba-tiba Biru mencubiti lengannya. Tangannya mengusap-usap bekas cubitan seakan kesakitan tapi bibirnya tersenyum geli.
“ Aku yang korban disini ya!” keluh Biru, tangannya terangkat memegang pinggangnya. Kembali Alaska menikmati pemandangan yang bikin jantungnya berdebar. Dua gundukan dengan belahan terpampang jelas didepan matanya. Dia membayangkan bagaimana rasanya membenamkan wajahnya dibelahan itu. Menghirup aromanya, “pasti vanilla”.
“Maunya apa sih? katanya lebih tua dari aku, sekolahnya juga lebih tinggi dari aku, tapi kok nggak ngerti kalimat larangan ya?” semburnya panjang lebar.
“Ngerti kok, meluk kamu itu bikin ketagihan sih” jawabnya sambil menyilangkan tangan di d**a.
“ haa... tapi itu di L.A.R.A.N.G !“ serunya, dia sengaja mengeja kata itu, agar Alaska paham. Tapi melihat reaksi Alaska yang tenang-tenang saja, membuat gadis itu semakin marah. Tatapannya mengarah tajam pada laki-laki didepannya, nafasnya terengah, menahan amarah.
Melihat itu, Alaska cepat-cepat maju, untuk meredakan amarahnya. Direngkuhnya gadis itu erat, kemudian diambilnya kedua tangannya. Digenggamnya dengan erat. Dipandangnya mata gadis itu dengan lembut. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera memilikinya. Ya gadis yang tingkahnya pecicilan inilah yang mengganggu tidurnya seminggu ini. Gadis yang telah membuat semua rencana dalam hidupnya berubah. Gadis yang memiliki bibir merah basah. Gadis yang selalu membuat Jantungnya berdebar tak karuan. Ada satu hal lagi yang membuatnya gembira, dia adalah laki-laki pertama yang mencium pipi gadis itu. Ini Berarti bibirnya juga masih suci. Ahh....
“ Maaf ya, jangan marah lagi “ ucapnya lembut, “sekarang masuk kamar dan ganti bajunya. Aku nggak mau ada orang lain yang melihat, karena itu hak milikku “, bisiknya tepat ditelinga Biru. Tangannya merapikan baju biru, dirapatkannya baju itu agar tidak terbuka. Dibalikkannya tubuh gadis itu, didorongnya pelan masuk ke kamar. Setelah sebuah kecupan hangat tepat dipucuk hidung gadis itu.
Biru kaget, matanya terbelalak , tidak mampu mengucapkan apapun. Setelah menutup pintu dibelakangnya, dengan masih bersandar dipintu, tangannya memegang pipi dan dadanya, tubuhnya meremang. Pikirannya kosong “ barusan dia memegang bajuku, berarti dia melihatnya dong!, mama anakmu sudah ternoda!aahhh..!” teriaknya dalam hati.
Setelah ganti baju, Biru menuruni tangga dan bergabung dengan para dayang dimeja makan. Gadis itu mengganti baju atasnya dengan kaos lengan panjang warna coklat pastel, bawahnya masih rok tadi. Rambutnya dikepang belakang. Rupanya makan siang sudah tertata rapi dimeja. Matanya tidak melihat Alaska sedikitpun. Waaupun dia tahu semua orang melihatnya dengan tatapan bertanya. Tapi dia diam saja. Langsung duduk disebelah Kilau, yang sedari tadi penasaran, “ada apa dengan mereka ya? mungkin saling cemburu, akhirnya cinta pun bersemi ,“pikirnya gembira.
“ Jadi kita mulai sekarang aja ya, tantangan sambal pedas” kata Tante Amelia menoleh kearah Alaska yang duduk disampingnya. Alaska hanya mengangguk.
“ Baiklah, tante mana sambalnya?!”Pekik Kilau bertepuk tangan.
“ Ini, mau cobain dulu nggak?” tangannya mengulurkan sambal.
“ Ini silahkan dicoba “, diletakannya mangkok sambal dihadapan Biru, Rayyan dan Dinosaurus mendekat, tangannya ikut mencolek sambal, ketika Biru akan mencicipinya....
“ whuaaa.....pedas!” teriak mereka, cepat-cepat mengambil minum, tangannya dikipas-kipaskan ke mulutnya untuk mengurangi rasa pedas. Bahkan sampai mereka meloncat-loncat panik, mukanya merah padam.
Melihat itu, semua orang tertawa, bahkan Kilau dan Biru sampai memegang perut mereka yang kaku, karena kebanyakan tertawa. Setelah tawa mereka mereda, dengan ujung jarinya Biru mencicipi, dijilatnya sambal itu. Ketika dirasakan pedas, matanya melirik Alaska sambal tersenyum senang. Dia sudah membayangkan akan merayakan kemenangan bersama para dayang. Setelah itu Kilau mengembalikan mangkok sambal itu ke Tante Amelia.
“ Ok, peserta sudah hadir, para saksi sudah lengkap, kita mulai saja ya? tangannya memegang lengan Biru. Biru menoleh dan mengangguk. “ Kamu ada syarat lain lagi nggak? karena kalau lomba ini sudah dimulai tidak diijinkan ada syarat tambahan, setuju para saksi?” teriaknya. Yang disambut teriakan bareng.
“Setujuuuuu!!” disertai tepukan tangan. Biru hanya melengos melihat itu.
“Kalian ini dipihak mana sih?” ujarnya, tangannya terlipat didada, matanya memberi delikan maut kepada duo jomblo.
“ Kami selalu setia kepada Yang Mulia, tapi kalau ada yang kirim angpao lebih besar, kami tidak sampai hati untuk menolaknya?” sambil cekikikan dan bertos ria.
“Jangan meragukan kesetiaan kami Yang mulia, kami Cuma berpaling kalau ada tawaran yang lebih besar aja” tambah Kilau cengegesan. Dan itu sukses membuat Biru semakin dongkol.
Alaska dan mamanya tersenyum lebar melihat tingkah mereka. Matanya terpaku kepada Biru, mengamati setiap gerakan gadis itu, saat tersenyum, saat mencibir, melengos, menggaruk hidungnya, membetulkan ikatan rambutnya, apalagi waktu menjilat sambal diujung jarinya. Badannya panas dingin. Pikirannya sudah nggak bisa fokus lagi. Jantungnya berdebar.
“Baiklah sebelum dimulai, kita berdoa dulu, agar tidak ada kendala, karena kalau acara ini sukses, itu berarti kita akan punya gawe besar”. Diringi tepukan tangan para saksi. Halahh..ini acara apa sih.
“Tunggu...tadi Yang Mulia belum menjawab, apa masih ada syarat lain lagi?” tanya Dinosaurus, badannya membungkuk seperti orang-orang Korea. Tangannya diletakkan didepan perut. Semua memandang Biru, menunggu jawaban. Dan itu sukses membuat gadis itu merasa tidak nyaman, karena jadi pusat perhatian, terutama sepasang mata yang menatapnya tajam sedari tadi.
“ Tidak ada”jawabnya.
“ OK...berarti kita... mulai!!” teriaknya.
Tante Amelia sudah selesai menata semuanya didepan Alaska, mangkok sambal, Ayam goreng, tempe dan tahu goreng, ikan goreng dan telur asin, ada lalapan, sop merah, terakhir nasi putih dan piring kosong. Juga segelas penuh air putih dingin, ada juga es cincau. Lengkap, semuanya demi mendapatkan menantu idaman.
Sebenarnya Alaska nggak yakin akan bisa melewati syarat dari Biru, karena selama ini dia hanya berani makan sambal dengan memakai dua lombok itupun yang kecil-kecil. Tapi tantangan ini tidak akan menghentikan niatnya mendapatkan gadis itu. Diambilnya nasi sedikit kemudian dua potong ayam goreng, sop merah di mangkok kecil karena sebenarnya dia menyukai makanan berkuah. Ketika akan mengambil sambal, dia mengangkat kepalanya karena merasa semua orang sedang memperhatikannya. Didepan sebelah kanan ada Rayyan dan Dinosaurus yang memperhatikannya dengan serius, didepannya Biru memandangnya dengan tangan terlipat diatas meja, disebelahnya Kilau melihatnya dengan tersenyum lebar, mengedipkan mata kanannya. Alaska mengerutkan keningnya, aneh.
“Ayo kak, Ingat! tiga bulan lagi menikah, semangat!” teriak Kilau, dipeluknya Biru yang erat, sampai gadis itu memukul tangannya berulang kali, minta dilepaskan.
“Eh..bekicot, nggak usah lebay ya”, ujarnya mendengus marah, badanya menghadap samping ke arah Kilau, mulutnya mencebik. Tangannya menarik rambut Kilau, yang dibalas dengan olesan sisa matcha cake dijarinya ke pipi Biru.
“ Iya, hajar kak!” seru Rayyan.
“ Pantang mundur, hidup Datuk Maringgih!” Dinosaurus ikut memberi semangat.
Perhatiannya terpusat pada Biru yang cemberut, melihat gadis itu memekik sambil mengusap pipinya, Kilau malah tertawa cekikikan. Alaska ikut tersenyum geli. Saat itu dia mendengar mamanya berbisik,” ambil yang banyak sambalnya”, selintas. Seperti tidak ada kejadian apapun, karena mamanya terlihat seperti menarik kursi dan duduk setelah mengambil mangkok air untuk cuci tangan dari dapur. Kepalanya menoleh ke samping, apa telinganya tidak salah dengar?. Dilihatnya mamanya tersenyum, matanya berkedip. Kembali Alaska heran, “ mereka kenapa sih?”.
Alaska bimbang, mengambil sambal sekaligus banyak atau sedikit dulu. Pikirannya kembali teringat bisikan mamanya, ditolehnya kembali mamanya lalu matanya beralih ke arah Kilau yang duduk didepannya. Mereka sama-sama tersenyum, sambil mengacungkan kedua jempol tangan.
“ Ayo kak, jangan kasih kendor, itu cuma sambal tidak akan mematikan seperti wabah Corona!” teriak Kilau memberi semangat. Semua tertawa cekikikan mendengar teriakan Kilau.
“Iya...jangan takut, badai pasti berlalu”, ujar mamanya.
Meskipun merasa aneh dengan tingkah mama dan Kilau, akhirnya Alaska memutuskan mengambil dua sendok sambal. Sebelum mulai makan, dilihatnya Biru, gadis itu juga memandangnya.
” Tidak ada ketentuan sambalnya harus habis khan? boleh minum juga?, gadis itu menggeleng juga mengangguk bersamaan dengan yakin, karena merasa dia yang akan memenangkan pertarungan penuh harga diri ini.
Dipandanginya sebentar piringnya, menghela nafas, berdoa sebentar, lalu dipegangnya sendok dan mulai makan. Ketika akan mengambil sambal dia berhenti sebentar, lalu mengambil sedikit diujung sendoknya. Ketika lidahnya mulai merasakan sambal itu, tangan kanannya sudah memegang gelas air. Bersiap kalau dia tidak kuat, tapi ada yang aneh, kenapa dia tidak merasa pedas. Sambil tetap mengunyah, matanya memandang ke arah Kilau, yang berdiri dibelakang kursi Biru, tangannya diletakkan dikedua bahu gadis itu. Kilau tersenyum tangannya terangkat, Alaska pikir dia akan bertepuk tangan. Tapi tangannya menunjuk mulutnya sendiri, yang meniup-niup seperti orang habis makan sambal pedas.
“Minum kak, kalau pedas boleh minum”, kata Kilau.
Ah...Alaska mulai mengerti, apalagi dia merasakan ada tendangan kaki mamanya dibawah meja. Dipegangnya erat gelas minumnya, kemudian diteguknya separuh, dan mulai bermain drama seperti Kilau. Mulutnya ikut meniup-niup, berpura-pura pedas. Dia menambah satu sendok lagi sambal, tangannya mengipas-ngipas pura-pura panas dan berkeringat. Diambilnya sepotong ayam goreng lagi.
Setelah isi piringnya habis, lalu dengan pelan dia menarik mangkok sop merah. Terakhir memegang gelas es cincau, sambil memandang Biru yang sedang mengamatinya dengan mata melotot kaget.
“whuaa....hidup Datuk Maringgih” tiba-tiba semua terkejut dengan teriakan duo kaleng. Sedangkan Kilau bertepuk tangan sambil meloncat-loncat kegirangan. Diikuti duo kaleng, mereka saling berpegangan tangan menari-nari, dengan posisi melingkar. Kemudian ditariknya tangan Biru, agar gadis itu berdiri dan ikut menari bersama mereka. Tentu saja gadis itu menolak dengan muka marah.
“ Nggak mungkin, ini pasti curang!” serunya, tangannya menunjuk Kilau.
“ Kok aku?, khan kamu sudah memeriksa sendiri tadi”, jawab Kilau sambil masih tertawa kegirangan.
Saat kedua gadis itu masih berselisih, tiba-tiba mamanya sudah mengambil sambal didepan Alaska dan mengganti dengan mangkok sambal lain. Alaska sampai kaget juga bingung. Tapi dia diam saja, walaupun nanti dia pasti akan menuntut penjelasan dari mamanya.
“ Coba dicek lagi aja? tantang Kilau, yang didukung oleh duo kaleng.
“ Iya..kita cek lagi aja? kata Rayyan.
Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba lagi, pertama Kilau diambilnya sambal dengan ujung sendok, kemudian mengangkat jempol. Selanjutnya duo kaleng, pakai sendok juga, Rayyan yang pegang sendok sambal, Dinosaurus menyiapkan air minum. Setelah saling menjilat, langsung meringis dan meneguk habis air minum digelas berdua. Terakhir giliran Biru, diambilnya sendok, langsung dijilatnya, beberapa saat kemudian, matanya melirik ketus ke arah Alaska.
“ Gimana? Nggak ada yang curang khan?” tanya Kilau. Dia sudah duduk disamping Biru, tidak sabar menunggu jawaban sahabatnya itu.
“ Memang nggak ada yang curang sih, tapi rasanya ada yang aneh deh” jawabnya. Matanya memandang curiga ke arah Kilau juga duo kaleng. Karena kalau sesuai analisanya, Alaska tidak akan bisa melewati tantangan ini. Ini sesuai dengan keterangan tante Amelia saat mereka ngobrol beberapa waktu yang lalu, kalau anak laki-lakinya itu tidak suka pedas, dan tidak akan bisa makan makanan pedas. Tapi kenapa hari ini si songong itu bisa? Bahkan menghabiskan semua makanan yang ada dipiringnya. Seakan sambal itu tidak berpengaruh sama sekali. “ahh... kenapa hari ini semua rencananya berantakan? Teriaknya dalam hati. Dia tidak bisa menerima kekalahan ini.
“Jadi gimana Yang Mulia? kapan kita mengadakan farewell party?” tiba-tiba Rayyan nyeletuk.
“Ha...maksudnya apa?”
“ Dari seorang gadis biasa menjadi Siti Nurbaya”, jelas Rayyan dengan cengiran lebar, tangannya sibuk menyelamatkan telinganya dari jeweran Biru.
“Tidak ada acara apapun, nunggu lulus aja”, jawabnya ketus, matanya melirik Alaska, kebetulan juga sedang memandangnya dengan tajam. Cepat-cepat dialihkannya matanya ke tante Amelia yang masuk dari arah dapur membawa ikan goreng.
“ Sudah-sudah, dibahas nanti aja, sekarang makan dulu” katanya. Disambut teriakan gembira mereka.
“ Ayo..Rayyan, Dino, bebas aja, jangan sungkan” ujar Tante amelia. Mereka hanya bisa mengangguk karena mulutnya penuh. Prinsip para dayang adalah tidak boleh menolak makananan, apalagi gratis. Mereka akan menerima dengan tangan terbuka, hati ikhlas penuh suka cita.
Kilau dan Biru mengambil lauk yang sama yaitu ayam goreng, bukan karena tidak suka ikan. Tapi mereka paling malas menyisir durinya, biasanya kalau di rumah masak ikan, mama yang akan memilah durinya. Atau lebih suka beli yang fillet ikan.
Kilau mengambil dua sendok makan sambal, Biru hanya mengambil satu sendok. Dia sudah tidak punya selera lagi untuk makan. Beberapa saat kemudian muka mereka sudah merah. Biru bahkan rambutnya sudah basah, bibirnya merah. Pucuk hidungnya berkeringat. Ketika dia menambah satu sendok sambal lagi, matanya melirik ke arah Alaska yang makan sop merah tanpa sambal, alisnya bertaut, aneh. Tadi seperti sudah biasa makan sambal, kenapa sekarang kayak nggak doyan? Persis seperti yang diceritakan tante Amelia. Yang benar yang mana sih?.
Nafsu makannya hilang seketika, dia menggeleng ketika Kilau menawari ayam goreng lagi, tangannya menjangkau semangkok kecil sop di depan Kilau. Sambil melamun, disendoknya sop merah pelan-pelan. Pikirannya melayang kemana-mana. Bagaimana kalau si songong ini serius, mengajak menikah tiga bulan lagi. Berarti umurnya masih belum dua puluh. Dia lulus kuliah masih dua atau tiga tahun lagi. Dan kalau benar mereka menikah, dia harus ikut si songong ini pindah. Bukan hanya pindah ke kota lain, bahkan ini pindah ke negara lain yang berjaran ribuan kilometer. Bagaimana kalau dia kangen sama Mama, papa, kak Jagad terus si anak cebong?. Tiba-tiba saja dia menjadi sedih. Seumur hidupnya dia belum pernah berjauhan dengan keluarganya. Dia harus ngomong sama si...
“ Aduhh..” teriaknya, bukan hanya dia yang kaget, semua orang juga kaget mendengar teriakannya. Tiba-tiba saja Kilau memukul tangannya yang memegang sendok sop merah, sampai kuahnya berceceran di meja.
“ Aduhh, sakit! ..Kenapa sih? gerutunya pada Kilau yang tangannya sibuk memeriksa muka dan tangannya. Sedang Biru sibuk membersihkan meja yang terkena tumpahan sop.
“ Rayyan.. ambil air putih! sama dua sendok!” mendengar teriakan Kilau, Rayyan yang awalnya kebingungan, kepalanya menoleh ke arah Biru, sesaat kemudian langsung berdiri dan berjalan tergesa kearah belakang.
Tante amelia dan Alaska heran dengan tingkah Kilau. Apalagi anak itu cepat-cepat mencuci tangannya diikuti Dinosaurus, kemudian bergegas berlari naik tangga. Tidak lama Rayyan datang membawa segelas air putih, lalu berdiri disamping kiri Biru. Sedang Dinosaurus berjongkok disisi kanan, memegang tangannya. Gadis itu sudah lemas bersandar dikursi.
“Kenapa dia? Tanya Alaska yang sudah berdiri dekat Dinosaurus.
“ Dia alergi tomat, barusan makan sop merah” jawab Kilau yang baru datang, tangannya memegang beberapa bungkusan obat.
“ Aduh...terus gimana? Ke dokter aja ya? cepat angkat ke mobil?!” Seru tante Amelia panik, dipegangnya tangan Biru.
“Nggak usah tante, Kak...tolong angkat ke kursi? Tangannya menunjuk sofa diruang tengah.
“ Kamar aja” jawab Alaska pendek, diangkatnya gadis itu.
Semua mengikuti dibelakangnya ke arah kamar tamu dibawah tangga. Diletakkannya pelan Biru diranjang, tante Amelia berdiri disebelahnya, memeriksa kening Biru. Kilau menyiapkan beberapa obat, dihancurkannya dua butir obat memakai sendok. Kemudian Rayyan mengulurkan segelas air.
“ Ini badannya panas sekali, ke dokter aja, Kil”, kata tante Amelia
“ Nggak usah tante, ini sudah ada obatnya kok. Kak ..tolong angkat kepalanya, dia harus minum obat”. Diangkatnya kepala Biru menyuapkan obat lewat sendok, didekatkannya gelas ke bibirnya, tapi hanya bisa beberapa teguk. Badannya masih panas sekali. Nafasnya pendek-pendek, berat.
“Dino! Pegangin tangannya!” seru Kilau , ketika dilihatnya tangan Biru terus berusaha menggaruk badannya, terutama bagian lehernya. Ya..orang dengan alergi tomat, salah satu reaksinya tenggorakannya akan terasa sangat gatal.
“Ini ruamnya harus dikasih salep, juga seluruh badannya, biar aku sama tante aja. Tolong ambilkan wadah kosong, karena biasanya dia muntah”, kata Kilau.
Setelah Alaska, Rayyan dan Dino keluar kamar. Mereka membuka pakaian Biru, mengolesi semua bagian tubuhnya yang muncul ruam. Tapi mereka kerepotan, karena tangan Biru bergerak terus, ingin menggaruk.
Jadi ketika Alaska masuk dan meletakkan wadah dibawah ranjang, Kilau memintanya untuk memegang tangan gadis itu. Mencegah agar tidak menggaruk lagi. Tapi sesaat kemudian dia tertegun, “ kalau kak Alaska yang megang tangan si Moo, berarti ...
“ Tapi gimana caranya ya? soalnya dia tidak pakai baju atau tutup mata aja deh”, kata Kilau. Alaska hanya mengangguk.
Setelah selesai, mereka menyelimuti biru, dan gadis itu tidur dengan tenang, tidak berusaha menggaruk badannya lagi. Mereka keluar kamar, berkumpul dimeja makan.
“ Mulai kapan dia alergi tomat” tanya Alaska.
“ Pertama kali tau itu waktu SD. Ketika itu semua diwajibkan membawa buah atau sayur. Aku sama dia bawa wortel. Dia menukar wortelnya dengan tomat, terus sama bu guru diiris dikit, supaya kami tahu rasanya tomat itu, tiba-tiba aja dia pingsan. Ya..terus kayak tadi itu. Setelah dibawa ke dokter baru tau kalau dia alergi tomat juga kentang”, jelas Kilau.
“ Kalau kita taunya pas SMA itu, tidak sengaja minum jusnya Rayyan, dipikirnya itu cuma jus semangka, ternyata campur tomat. Cuma waktu itu dia nggak pingsan”, kata Dinosaurus.
“Makanya sekarang kemana-mana, dia selalu membawa obat. Kita selalu mengingatkan itu. Kadang-kadang dia marah juga sih. Tapi ya biar aja”, sambung Rayyan.
“ Tapi kenapa dia bisa makan sambal? Tanya Alaska bingung.
“Karena tidak pakai tomat, dia tadi ngomong ke bibi, supaya jangan pakai tomat. Tadi mama sempat heran juga, mana enak sambal tanpa tomat. Mama jadi menyesal, kalau tau Biru alergi, mama nggak akan masak sop merah”, jelas tante Amelia.
“ Bukan salah tante kok, memang Biru nggak mau kalau semua orang tau. Karena dia malu, katanya nggak keren alergi kok tomat” ujar Kilau tersenyum, berusaha menenangkan tante Amelia.
Didalam kamar tamu, Alaska sedang telponan sama Jagad, dia berdiri dekat jendela. Setelah beberapa kali muntah, tapi tidak ada yang keluar, akhirnya gadis itu tertidur. Mungkin juga reaksi obatnya sudah mulai jalan. Sesekali tangannya masih menggaruk lehernya. Tapi Alaska berusaha untuk memegangi tangannya. Dan dia akan menggantikan mengusap pelan lehernya, untuk mengurangi gatal. Setelah itu dia akan tenang lagi.
“ Iya, sekarang dia sudah tidur, Kenapa nggak bilang, kalau dia punya alergi?”, kata Alaska, kepalanya menoleh ke ranjang.
.................
“ Iya, nanti aku bilang sama mereka. Jadwalku nggak bisa diundur, cuma dirubah jamnya, diganti besok malam”, keluhnya sambil menghela nafas.
.........................
” Jadi gimana kata tante? Boleh nggak?... berarti aku bisa mulai mengatur jadwal dan rencanaku mulai sekarang? dengan nada gembira.
....................
“ Sialan! Baiklah kakak ipar!”, Umpatnya. “Biar nanti mama sama tante yang mengatur semua. Ok, besok jemput Kilau siangan ya, mau kencan bentar sama calon bini” ucapnya tertawa lebar.