Part 10 laMaraN

2172 Kata
Alohaaa... Diriku lagi galau nih kisanak.. Kenapa yah..tiap kali post cerita itu tulisannya selalu berantakan, aku nulis di word dulu baru kupindah, Padahal saat masih di draft sudah rapi, dan sebelum publish pun selalu recheck Tapiii...kenapa begitu sudah publish trs recheck, hasilnya .. aMbyaaarrrrr... Tolong dong kisanak, ajari diriku ini....   ******************************                                                                             Lamaran   Biru menyandar pada lengan kakaknya, matanya sudah tertutup. Sedangkan Kilau badannya menyandar di kursi, pandangannya ke televisi tapi matanya juga sudah merem melek. Jagad dan Alaska  masih ngobrol tentang pekerjaan, dan seputar rencana  mereka. Jam diatas pintu menuju dapur sudah menunjuk ke angka sebelas lebih dua  puluh menit. Jagad membetulkan posisi  badan Adiknya agar lebih enak tidurnya, kepalanya menoleh kearah Kilau, yang ternyata sudah tertidur juga. “ Dipindah kekamar aja, bentar aku buka dulu pintunya” Alaska lalu berjalan ke arah tangga, beberapa saat kemudian sudah kembali. “  Kamu angkat si tengil ini, aku angkat dia “ “ Waahh...ada yang posesif nihh” kata Alaska sambil mendengus geli, yang dibalas dengan umpatan oleh Jagad. “ Ini juga mempertimbangan hajat hidup seorang sahabat “ ucap Jagad kalem, Alaska tertawa lebar sambil mengacungkan jari tengahnya. Kemudian dengan pelan diangkatnya Biru, sampai di kamar dibaringkan disisi ranjang sebelah kanan. Dibetulkannya tangan biru yang menjuntai ke bawah.  Selang beberapa saat  Jagad datang, dan menempatkan Kilau disisi kiri. Sebelum mereka keluar kamar, Alaska mematikan lampu kamar dan mengganti dengan lampu tidur disisi ranjang. “ Jadi Gimana rencanamu setelah ini?” tanya Jagad sambil tangannya mengambil gelas minuman di meja.  Alaska terdiam sambil menyalakan rokok, dia bukan perokok tapi saat tertentu dia merokok, seperti sekarang ini karena pikirannya sedang kacau. “Lusa berangkat jam berapa? Lapor Singapura dulu?” Yang dijawab dengan gelengan. “Kalau misal lamaran langsung menikah, bisa nggak ya? “Haa..anak siapa yang kamu lamar? Emang ada yang mau?” Seru jagad. Alaska terdiam, jarinya  memutar-mutar rokok. Mulutnya menghembuskan asap rokok, pikirannya penuh. Semua rencananya berubah dan harus diubah, dia harus membuat rencana baru. Mulai sekarang banyak yang harus menjadi pertimbangan. Ada dua keluarga yang akan terlibat. “haa...kamu serius? Anak itu?Serunya lagi. “dia masih suka pecicilan, kadang suka nangis, kamu nggak keberatan dengan sifatnya itu?. Mungkin juga belum mengerti tentang tanggung jawab” urai Jagad panjang lebar. “ Aku baru bisa pulang tiga bulan lagi itupun hanya libur bukan cuti, dan itu saja sudah habis dijalan, harus lapor dulu ke Singapura. Dan pulang lagi natal atau akhir tahun. Kalau untuk persiapan sih, itu gampang ada mama. Menyesuaikan waktu itu yang bikin mumet” jawab Alaska. “Kamu serius? Sekali lagi Jagad menanyakan keseriusan sahabatnya itu, juga untuk menyakinkan dirinya sendiri. Bahwa yang dimaksud sahabatnya adalah adiknya sendiri. Adiknya yang tingkahnya pecicilan. Walaupun mereka beda ibu, dia sangat menyayanginya. Jadi dia masih belum rela kalau mereka berjauhan. “ Dia masih kuliah lho, meskipun kalian sudah menikah kamu belum bisa mengajak dia pindah ke sana”. “yang penting menikah dulu, jadi lebih tenang kalau sudah terikat” jawab Alaska sambil tersenyum lebar, melihat sahabatnya itu mengumpat. “ waahh..ada yang sudah terjebak sama si tengil nih”. Menanggapi sindiran itu Alaska hanya tersenyum samar. Pikirannya mulai menyusun rencana-rencana. “ Kalau memang serius, nanti deh aku ngomong sama mama, kalau papa itu terserah mama aja”. Cuma pesen aja, jangan bikin hamil , biar anak itu menyelesaikan kuliahnya dulu, nafsunya ditahan dulu” lanjutnya, sambil menahan senyum. “ Kaum jadi jomblo berkurang, nggak seru ah” serunya sambil berdiri. “ thanks ya” sahut Alaska. “ Ok..udah pagi aja nih “ ketika melihat jam menunjuk angka dua pagi. “ Nggak nginap sekalian aja” tawar Alaska. “ Nggak bisa, besok harus ke kantor ketemu bos, mengenai penempatan “ jawabnya. Mereka berjalan ke arah pintu. “ Nitip dua bocah itu ya” Alaska mengangguk. Setelah mobil Jagad keluar pagar, Alaska mengunci pintu dan naik ke kamarnya. Suara orang bercakap-cakap dan tertawa membuatnya terbangun, diliriknya jam dimeja dekat pintu, jam sembilan,  dipijatnya kepalanya. Tadi malam dia tidak bisa memejamkan mata, dan baru bisa tidur hampir jam lima pagi. Setelah kepalanya agak mendingan dia turun dari ranjang berjalan ke kamar mandi. Saat menuruni tangga dilihatnya mamanya dan kedua gadis itu sedang bercakap-cakap sambil sarapan, dimeja ada beberapa gelas s**u. Alaska langsung bergabung di meja makan. Duduk disebelah mamanya. Biru menatap Alaska yang berjalan ke meja makan, sepertinya habis mandi, tampilannya segar. Rambutnya masih basah, dia memakai setelan kemeja dan celana chinos. Samar tercium aroma kayu dan citrus. Ganteng juga si songong ini, wangi lagi. Pasti menyenangkan kalau bisa memeluknya.  Uhukk..  tiba-tiba dia tersedak, dan langsung menyambar gelas yang diulurkan Kilau, “ pagi-pagi udah menebar racun, makanya otaknya jadi nglantur ? teriaknya dalam hati. “ Mau apa? Roti apa nasi? Tanya mamanya, setelah melihat Biru baik-baik saja setelah batuk-batuk tadi. “ Roti aja” diambilnya roti dipiring, juga segelas s**u. Dilihatnya Biru juga sedang makan roti, Kilau tampaknya sudah selesai. “Habis ini mama pergi belanja bahan kue, nanti siang rencananya kita belajar bikin kue. Kita pergi bertiga, kamu bisa antar khan? “ Kemana? Tanya Alaska. “ Di toko bahan kue langganan mama , yang kemarin kita belanja itu”. “ Tapi nanti siang, ada teman yang mau datang tante” tiba-tiba Kilau nyeletuk. Matanya memandang tante Amelia memberi kode, dan sepertinya itu dipahami dan dilaksanakan dengan baik. Jadilah drama dadakan. “ Jadi gimana dong? Tante juga baru ingat, kalau harus menyiapkan menu tantangan sambal pedas. Atau kalian aja yang pergi? Saran tante Amelia. “ Kalau Kilau juga pergi, terus mereka datang, kasihan dong” “ Lha iya...masak tante yang menemani mereka, Yaudah Laut Biru sama kamu aja yang pergi ya? nanti mama kasih catatan” cetus tante Amelia menoleh ke Alaska. Biru melotot ke arah sahabatnya itu, dia mengerti ini pasti rencana si anak cebong itu, ditendangnya kakinya dibawah meja. Mulutnya mencebik, karena hatinya kesal, sisa roti ditangannya langsung berpindah ke dalam mulutnya semua.  Katanya teman sehidup semati, teman seperjuangan. Apaan, teman kok berkhianat. “dasar bekicot” sungutnya. “Laut Biru” tegur Alaska, begitu melihat pipi gadis itu menggembung penuh makanan. “ iya..ih” sahutnya sambil nyengir karena ulahnya dipergoki, diambilnya s**u dimeja, sekali teguk langsung habis. Alaska hanya menahan geli melihat itu. “Kenapa? tanya tante Amelia bingung melihat mereka tertawa cekikikan. “Itu si Moo kalau makan suka ngawur, tante. Rotinya masuk kemulut semua” jawab Kilau yang sudah tidak tahan untuk tertawa. “Siapa si Moo? Alaska dan Kilau tambah terbahak melihat tante Amelia kebingungan. Telunjuknya menunjuk tepat dipipi Biru yang ada disampingnya. “  si Moo itu ya Biru, karena dia suka minum s**u sapi”. Tawanya belum berhenti. “Bohong tante, jangan suka percaya gosip” kata Biru sambil menutup mulutnya. “ coba buka mulutnya” kata Kilau kalem seperti kepada anaknya, tangannya memegang pipi Biru yang sudah menahan tertawa sambil menahan tangan Kilau yang  seperti akan membuka paksa mulutnya. Akhirnya mereka berperang tangan sambil tertawa cekikikan dan saling berteriak. Alaska dan mamanya tertawa lebar melihat mereka. Tanpa sadar Alaska menoleh ke arah mamanya dan melihat binar bahagia dimata itu. Dia menghela nafas lega. “Terima kasih” ucapnya dalam hati kepada Biru dan Kilau yang telah membuat mamanya kembali tertawa bahagia.  Ya sejak dulu mamanya menginginkan anak perempuan, tapi karena rahimnya harus diangkat, keinginan itu hanya bisa berwujud angan. Itu terjadi saat Alaska masih kelas dua SMP. Mamanya ketabrak seorang anak yang baru belajar mengendari sepeda motor.... “ Yaudah..mama bikin catatan dulu”, lamunan Alaska terpotong suara mamanya. Dia mengangguk, lalu meneruskan makan. Dilihatnya kedua bocah tengil itu masih cekikikan sambil makan kue di toples. Biru berdiri sambil merapikan bajunya. “Mau kemana? Tanya Kilau. “ Mau ambil pemutih baju” ketus suara Biru. “Buat apa? Alis Alaska naik, bingung dengan ucapannya. “ Ya buat cuci otak orang yang suka bikin rencana un-faedah, kalau direndam pake pemutih mungkin bisa putih lagi, suci gitu lho” sungutnya sambil bibirnya merenggut. Kakinya melangkah cepat kearah tangga menuju kamarnya untuk bersiap, diiringi tertawa lebar dua orang yang masih duduk di meja makan. Beberapa saat kemudian mereka sudah dijalan menuju toko langganan tante Amelia. Biru memandang keluar jendela, masih emosi jiwa, kesal dengan Kilau juga makhluk songong yang lagi nyetir itu. Karena Kilau dia terjebak sama si songong disini, Dan,  Alaska juga menyetujui rencana mereka. Tiba-tiba dia merasakan mobil berhenti mendadak, kepalanya menoleh ke arah samping. “ Kenapa? sambil keningnya berkerut melihat Alaska mendekat, sambil tangannya terulur seolah akan memegang lengannya. “ ehh...jangan macam-macam ya? Biru mengangkat tangan siap-siap menepis tangan Alaska, badannya mepet ke pintu. “ Kalau aku maunya cuma satu macam, kita menikah itu aja” sahut Alaska, bibirnya tertawa geli melihat reaksi Biru. Ternyata dia cuma memasang seatbelt. Mendengar ucapan Alaska, mukanya merah sampe telinga. Mulutnya mencebik, “jangan modus ya” balas Biru. Alaska tergelak mendengarnya. “Mau beli es cream dulu nggak? “ Dimana? Dengan matanya berbinar. “ Sebelum toko kue itu ada kedai Es Cream enak”. Biru mengangguk. Siang yang panas, enaknya memang minum es cream. Mereka masuk kedai es cream yang ternyata ramai. Tapi kebanyakan mereka membeli untuk dibawa pulang. Jadi meskipun tapi pembeli cuma keluar masuk aja. Setelah dapat tempat duduk di pojok, Alaska memesan rasa coklat dan rasa matcha. “Nggak kepingin yang lain? Tanya Alaska. Biru melihat buku menu, akhirnya memilih muffin matcha dan roti isi coklat tabur keju juga matcha creamcheese cake. Semua itu kesukaan. Biru dan Kilau adalah penggemar matcha sejati begitu mereka menyebut. Makanan ataupun minuman, walaupun nggak berbentuk, kalau bahannya dari matcha pasti mereka suka. Sambil menunggu pesanan, mata Biru berkeliling, melihat susasana kedai itu. Suasananya santai, interior ruangannya bagus, furniturenya kebanyakan berbahan kayu. Kemudian menoleh ke Alaska. “Sering kesini?” tanyanya. “ Kalau pulang pasti ke sini sama mama, kadang rame-rame bareng sepupu dan keponakan” jawabnya. Biru mengangguk. Alaska mengamati Biru, siang ini cantik sekali. Rambutnya diikat tinggi dipuncak kepala, hanya memakai bedak tipis dan lipstik berwarna lembut membuat bibirnya berkesan alami menggoda. Memakai baju warna pastel dengan kancing di depan dan dipadu rok jeans pendek. Dan memakai sandal bertali warna coklat. Kakinya yang putih  bersih, dan itu sukses menarik perhatian beberapa pengunjung terutama cowok. Ketika mereka masuk tadi tanpa sengaja Alaska melihatnya. Dan itu membuatnya tidak rela, karena Biru miliknya. Hanya dia yang berhak menikmati pemandangan itu. Tanpa disadarinya, hatinya sudah terjebak “meminjam istilah Jagad” gadis ini. “Lain kali jangan pake rok pendek gitu!” kata Alaska. “ Maksudnya? “ Kamu nggak tahu atau nggak sadar sih, kalau dari tadi banyak laki-laki yang yang melihat?! Jawab Alaska ketus. “ Melihat rok ku?” balasnya bingung dengan ucapan Alaska “apa sih maksud si songong ini?. Alaska mengangguk, membenarkan. “ Cowok-cowok itu tertarik sama rok ini? Dipegangnya ujung rok jeans itu. “ Menurutmu? Mereka itu tertarik sama kakimu, makanya lain kali jangan pake rok pendek atau baju terbuka. Aku nggak suka!” jelasnya sambil memandang tajam Biru. “ Heloow...bapak yang katang lebih tua dari aku!”, serunya sesaat setelah otaknya mencerna maksud dari ucapan Alaska itu. “Dengar ya, harusnya tuh aku nggak ada acara belanja atau keluar kemanapun. Tapi, siapa tadi yang setuju sama rencana konyol ini?! Agendaku hari ini berenang sama si duo kaleng dan si Anak cebong itu, makanya pake rok biar kalau ganti gampang”.  Ketika mengatakan itu tangan Biru bergerak-gerak, bajunya menjadi terangkat dan akibatnya jarak antar kancing menjadi terbuka. Memperlihatkan sebagian isinya, dadanya yang putih mulus tertutup bra berenda.  Karena mereka duduk dekat jendela, sinar matahari dari arah kiri Biru dan Alaska ada disisi kanannya, menjadikan pemandangan itu lebih jelas dan  membuat badannya panas dingin. Matanya menelusuri tubuh itu, dan berhenti lama didada. Akhirnya dia mengalihkan pandangannya, matanya mengamati suasana dalam kedai itu. Itupun harus dengan susah payah, kalau menuruti hati ingin dinikmatinya d**a putih mulus itu lebih lama, tapi akal sehatnya melarang. Kepalanya mendadak pusing. “ Kenapa diam? Tanya biru dengan ketus. “ Pokoknya jangan pake rok pendek lagi, kecuali perginya sama aku” Jawabnya kalem. Yang dibales cibiran sama Biru. Biru menggigit muffin, sesaat kemudian berseru “ini enak lho, cobain deh”. Diulurkannya muffin ke Alaska. Alaska maju dan menggigit kue itu, jadi seperti dia disuapi, tapi Biru tidak menyadarinya. Alaska hanya tersenyum samar. Setelah muffin habis, diambilnya kue isi coklat sampe bibirnya berlepotan , ada coklat ada es cream. Alaska menghela nafas, diambilnya tissue, tubuhnya maju diusapnya pipi dan pinggir bibirnya. Biru tidak peduli, digigitnya kue itu sampai mulutnya penuh dan tersenyum ke Alaska, matanya berbinar ceria. manis sekali. Sampai Alaska mendadak diam, tertegun , dunianya serasa berhenti sesaat. Ahhh.. ‘Ini dimakan dirumah aja, bareng Kilau” dipandanginya kue itu. “ Pesan beberapa kue lagi aja, dibawa pulang” ujar Alaska, melihat Biru yang masih memandangi kue itu. “ Bener ya? yang ini dimakan disini ya? tersenyum riang, diambilnya sendok dibaginya kue itu dengan potongan besar. Diambilnya sepotong tanpa digigit langsung happ. “hemm..nikmatnya” “Laut Biru” suara Alaska, membuat rencana dalam  otaknya ambyar. “Iya..iya, kenapa jadi bawel sih” ditaruhnya lagi kue itu, dan dipotongnya jadi beberapa. Sambil menyuap kue dengan sendok, matanya mendelik ke arah Alaska.              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN