Nginap

3262 Kata
Alohaa terima kasih buat kalian yang sudah mau baca cerita ini, maaf sudah menunggu, karena kemarin repot sekali, si kiddos mulai masuk sekolah  setelah libur panjang, jadi mulai menyesuaikan lagi jadwal. Terima kasih buat mereka yang sudah baca, like, dan koment, ini cerita pertama ku, tiap hari aku cek, apa ada yang baca, apa ada yang koment terus berapa orang yang suka, deg-deg an rasanya seperti menunggu lahiran bayi kembarnya nanas dan jeje..hehehe Tapi setelah tujuh purnama menunggu, akhirnya kalian muncul juga .. Part ini 3200an kata lho..asyikk khan hehehe Terima kasih para Kisanak Matur tengkiyu    **************************************     Perempuan itu makhluk yang unik.  Saat ia marah, ia akan lebih memilih diam seribu bahasa. Ketika kemarahan menguasai hatinya, saat ditanya diam, saat didekati menjauh, tapi kalau ditinggal lebih marah lagi. Saat ia peduli dengan seseorang, ia bisa begitu cerewet bahkan seakan posesif. Seperti keadaan mereka saat ini, Alaska menoleh ke arah Biru, yang hanya diam memandang keluar jendela dengan bibir cemberut. Dan ini sudah terjadi sejak mereka keluar dari rumah. Sampe saat ini mereka tidak mengobrol bahkan Biru tidak menoleh ke arah Alaska sekalipun.  “ Mau mampir beli makanan atau cemilan nggak?atau mau makan dulu, kamu tadi belum makan  khan ?”ujar Alaska lembut.  maksudnya sih sedikit merayu juga biar nggak marah lagi. Tapi karena tidak ada balasan apapun, dengan menghela nafas dia kembali mengalihkan perhatiannya kejalan. Ia gemas setengah mati, dari tadi dia sudah menahan keinginannya untuk memeluk gadis kecil yang bikin jantungnya berlompatan setiap mereka berdekatan. Kemanapun dia pergi aroma vanilla itu  selalu mengikutinya. Dibelokkannya mobil ke arah kiri, ketika dia melihat ada minimarket didepan. Setelah parkir ,dilepasnya seatbelt “ ikut turun nggak?beli cemilan buat besok”  tawarnya. Tanpa menjawab apapun, Biru melepas seatbelt lalu membuka pintu langsung berjalan ke arah dalam, dengan muka cemberut. Alaska hanya geleng-geleng sambil tersenyum geli. Bikin gemas aja kalau lihat bibir merah muda basah itu cemberut. Dia sudah membayangkan gimana rasanya. “ apa rasa vanilla juga?  Pikirnya. Cepat-cepat Alaska berjalan masuk minimarket, sampe didalam dicarinya Biru, dilihatnya gadis itu sedang didepan rak minuman, dikeranjangnya sudah ada beberapa makanan. Diambilnya keranjang dari tangannya dan berdiri disamping Biru, ikut memilih.Diikutinya kemanapun gadis itu melangkah. Keranjang mereka sudah penuh dengan macam-macam cemilan, mulai keripik, roti,minuman. “Sudah semua? Buat Kilau sama temanmu yg dua itu sudah?? Biru hanya mengangguk, lalu berjalan ke arah kasir. Alaska mengikuti saja maunya gadis itu, “ kamu tunggu didepan aja” ditunjuknya kursi yang ada di depan minimarket itu. Biru kembali mengangguk sambil keluar dari kasir.  Sambil menunggu Alaska yang antri di kasir, Biru duduk di kursi-kursi yang ada diluar dan memang disediakan oleh minimarket, untuk tempat orang-orang sekedar istirahat atau minum kopi.  Perasaannya galau, antara sebel dan marah campur aduk jadi satu. Jadi dia itu sebel sama mamanya, dia yakin ini  sudah rencanakan, karena tidak ada sejarahnya ibu suri mengijinkan anaknya pergi sama cowok,  apalagi ini sampe ada acara menginap, pengecualian  ke rumah si anak cebong, dan ini nginapnya dua hari lho. Hhuhhfftt.... Biru menarik nafas untuk mengendurkan otot-otot badannya agar pikirannya tidak ikut tegang juga. Dia duduk sambil menyandarkan kepala, matanya dipejamkan. Semilir angin membuatnya tenang. Tiba-tiba ada yang menepuk-nepuk pipinya. Sayup-sayup mendengar namanya dipanggil. Rupanya dia tertidur, entah berapa lama, karena Alaska sudah duduk disebelahnya menyodorkan minuman. Sambil bangkit duduk tegak, diteguknya minuman itu. Karena dibangunkan mendadak ,kepalanya sedikit pusing. Setelah minum,  dengan berbantal tangan, kepalanya terkulai lagi di meja . “ Masih ngantuk? Langsung pulang atau cari makan dulu? tawar alaska. “ Beli martabak aja” jawab Biru. “Ya udah ayo, masih ngantuk? Tangannya sudah nggak bisa dikendalikan lagi, dengan pelan dirapikannya rambut Biru yang keluar dari ikatannya. Dielusnya pipi lalu rambutnya. Entah apa yang merasukinya... ” Biru..ayo ..katanya beli martabak” di tepuk-tepuknya pipi halus itu. Di elusnya lagi dengan punggung tanggan pelan, seringan kapas sampe Biru tidak menyadarinya, karena matanya masih terpejam. Akhirnya Biru membuka mata, kemudian duduk dan merapikan baju juga rambutnya. Alaska masih mengamatinya dengan seksama “ tidak lama lagi “ batinnya. Kemudian mereka berjalan ke parkiran, tangan kirinya memegang tas belanja sedang tangan kanannya menggandeng Biru yang hanya diam mengikuti langkah Alaska ke arah mobil mereka. Setelah membuka pintu menyuruh Biru masuk, kemudian ditutupnya pintu mobil pelan. Setelah itu dia masuk dari sisi lain, ketika menoleh dia tersenyum geli, rupanya Biru sudah tertidur. Diopernya tas belanja ke kursi belakang. Tubuhnya bergeser ke arah Biru, dipasangnya seatbelt, dihirupnya aroma vanilla yang tercium dari tubuh gadis yang sudah membuat kecanduan. Diciumnya rambut itu.”aroma apel..” gumamnya. Dijalankannya mobil dengan perlahan, sambil mengenggam tangan Biru erat, sangat pas ditangannya, dielusnya jemari mungil itu dan diciumnya dengan sayang. Rasanya memang perasaannya sudah terjebak bersama gadis kecil ini. Hanya  gadis ini yang selalu berputar-putar dalam pikirannya selama beberapa hari ini. Kepalanya menoleh kearah gadis disebelahnya yang masih tertidur dengan pulas, bibirnya tersenyum geli kalau teringat bagaimana tingkah pecicilan gadis itu, Alaska tidak perduli kalau ada yang mengatakan dia seorang p*****l karena menikahi gadis yang masih berusia sembilan belas tahun. Rasanya tidak sabar menunggu Biru menjadi istrinya. Dilepasnya perlahan tangan Biru, kemudian menghentikan mobilnya didekat tempat jual martabak langganan mamanya. Dia turun berjalan kearah samping dan dibukanya pintu perlahan. Diusapnya lembut pipi Biru “ sayang..bangun” ujarnya. Biru mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha melihat dengan jelas. Ketika dilihatnya Alaska yang berdiri disamping sambil memegang pipinya, seketika itu juga dia langsung duduk tegak dan menyingkirkan tangannya. Dengan agak terburu, kakinya melangkah turun dari mobil tapi tiba-tiba tubuhnya tertarik lagi ke dalam mobil. Rupanya dia belum membuka seatbelt-nya. “Dasar songong.. batinnya, ketika dilihatnya Alaska tersenyum lebar melihat tingkahnya. Untung malam, jadi si songong itu tidak melihat mukanya yang merah karena malu. “pelan-pelan, sayang” ujar Alaska ketika membantunya membuka seatbelt. Tangan Alaska setengah melingkari tubuhnya, jadi Biru merasa Alaska seperti memeluknya. Dia merasakan hembusan nafas Alaska di pipinya. Muka mereka hanya berjarak beberapa inci saja.  Dadanya berdebar serasa akan meledak. Dia takut si songong ini bisa mendengar debaran jantungnya yang berbunyi sangat keras. “jantung..jantung, are you ok? ” batinnya. Seketika matanya melotot kaget karena tiba-tiba Alaska memegang mukanya dengan kedua tangan, dengan dahi yang saling menempel.  Dipegangnya erat  kedua tangan Alaska sambil matanya mengerjap bingung. “Kita langsung menikah saja ya? nggak usah tunangan” Biru malah melongo mendengar ucapan Alaska, Melihat itu Alaska makin gemes aja, spontan diciumnya kening Biru. Dan efeknya sangat luar biasa, Korbannya tidak bisa bergerak hanya terdiam, membuat badannya kaku. Dengan kening yang masih saling menempel. Mukanya memerah seperti kepiting rebus. “entah apa yang merasuki si songong ini” Alaska tertawa semakin lebar melihat itu, diacaknya rambut gadis itu dengan sayang. Dengan enteng diangkatnya tubuh mungilnya keluar dari mobil. Dikuncinya mobil, setelah itu digandengnya Biru berjalan ke tempat penjual martabak. Setelah pesan dua martabak telur dan satu martabak manis, mereka menunggu di caffe yang terletak dibelakang penjual martabak itu.    Alaska memesan minuman dan Biru duduk dikursi-kursi yang terletak dibagian luar caffe. Pikirannya masih belum pulih, otaknya sulit mencerna kejadian barusan. Alaska kembali dengan membawa dua gelas minuman, satu panas dan yang satu dingin. Tangannya terulur menerima minuman dingin yang diberikan kepadanya. Tiba-tiba dia tersedak, karena begitu air dingin itu mengaliri tenggorokannya, seketika itu kesadarannya pulih.   Tiba-tiba Biru berteriak “ Kenapa kak Alaska mecium keningku? Itu khusus suami masa depanku, ya allah”. “ Kenapa nggak ngerti juga, khan sudah bilang berkali-kali”. Tangannya masih menepuk-nepuk dadanya, mengurangi batuk-batuk karena tersedak minuman itu. Matanya melotot ke arah arah Alaska dengan muka merah dan mulut cemberut.  Alaska tersenyum geli melihat itu, “ kenapa baru sekarang marahnya?”. “Karena tadi bangun tidur, jadi kesadarannya baru separuh” ” Jadi kalau sudah sadar sepenuhnya, boleh? Sekarang sudah sadar? “Iya..mana ada orang masih tidur tapi minum coklat” “Berarti sekarang boleh?” “Iya...eee apanya yang boleh?” “ ya nyium kamu dong, khan kita tadi bahas itu” jawab Alaska kalem, senang sekali bisa menggoda gadis itu. Melihat bibir merah basah itu melongo bikin pikirannya kemana-mana. Dia sudah membayangkan rasanya,matanya menatap   hanya pada bibir merah basah itu. Tidak akan dibiarkannya bibir itu menganggur  jika sudah sah menjadi miliknya. Reflek Biru menutup mulut “ waaa...tidak bisa dibiarkan nih, ini pelanggaran namanya” teriaknya. Alaska semakin tertawa lebar melihat reaksinya. Rasa sayang itu semakin bertambah setiap menit, setiap jam. Rasa itu memenuhi setiap ruang dalam hatinya. Membuatnya semakin mantap dengan perjodohan mereka. Kalau bisa dipercepat sih, dia akan bicara dengan mamanya nanti. Pasti mamanya akan berteriak heboh, karena selama ini Alaska sedikit keberatan soal perjodohan ini. Semua ada waktunya. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta, tapi kita bisa memilih siapa yang layak untuk kita perjuangkan.  Sebuah rasa tidak dapat dipaksa untuk berubah, tapi rasa juga bisa berubah karena terbiasa. Semua membutuhkan yang namanya proses. Semua butuh waktu. Sepertinya  hanya dengan tatapan sendu dan senyum tulusnya, itu saja sudah membuat hati Alaska berdebar tak tentu arah. Bibir merah basah adalah bonusnya, he he Dengan muka tertekuk marah, Biru berjalan mengikuti Alaska yang sudah duluan, untuk mengambil pesanan martabak. Tapi Biru langsung berjalan ke arah mobil, ditinggalnya Alaska yang masih antri membayar pesanan mereka. “ngapain nunggu, bikin dia tambah songong aja” gumamnya. “Huffttt... Kesal sekali, pikirnya dia sudah bisa membalas Alaska dengan cara kembali ke mobil lebih dulu. Ternyata sampe disini pun dia tidak bisa masuk mobil, karena dikunci. Cuma bisa bersandar dipintu mobil sambil menunggu Alaska datang. “Kenapa nggak masuk?” “Mana bisa? Dikunci” “Oo .. dikunci ya?’ ujar Alaska sambil menahan senyum geli. “Udah nggak usah senyum, nggak usah merasa menang” jawab Biru dengan ketus, sambil pindah tempat ke belakang tubuh Alaska. Setelah terbuka, langsung aja Biru masuk tanpa peduli Alaska yang masih berdiri didepan pintu. Yang terjadi adalah dia hampir jatuh karena kakinya tersandung kaki Alaska. Dia sudah membayangkan kepalanya akan benjol nabrak pintu. Selama beberapa saat dia menunggu, tapi tidak ada apapun yang terjadi. Pelan-pelan dibukanya matanya. Rupanya tubuhnya ada dipelukan Alaska, perlahan dia berdiri sambil tersenyum nyengir. “auwww” teriaknya sambil memegang keningnya yang disentil Alaska. “ Bisa lebih hati-hati nggak? jangan pecicilan gitu” ucap Alaska sambil mengangkat tubuhnya ke kursi. Kakinya mengapit kaki Biru. Diperiksanya kening gadis yang selalu bikin hatinya berdebar itu. Diusap-usapnya agar tidak semakin merah di kulit putih itu. Tidak dipedulikannya bungkusan martabak yang sudah jatuh ke tanah. “Kenapa sih gadis ini selalu membuatnya khawatir”. Jantungnya berloncatan tak karuan.Debarannya sangat keras sampe dia takut si songong ini bisa mendengarnya. Kalau itu terjadi betapa malunya dia. Jarak mereka begitu dekat, kakinya ada diantara kedua kaki Alaska. Hidungnya mencium bau tubuh Alaska, tercium aroma kayu dan citrus. Tangan Alaska yang satu mengusap keningnya, sedang yang satu memegang belakang kepalanya. Kalau ada orang yang melihat, pasti berpikir mereka sedang berciuman. Dan sekarang kedua tangannya sudah memeluk pinggangnya sambil memandangnya tajam.  Tubuhnya gelisah dan berkeringat,tangannya dingin. “Jantung..yang sabar ya, ini ujian ” bisik hatinya lirih. “Jangan pernah membuatku khawatir seperti tadi, janji?” Biru hanya bisa mengangguk. “ Jangan pecicilan seperti tadi, janji?” kembali mengangguk. Ketika kemudian Alaska memeluknya dengan erat, Setelah beberapa saat, Biru baru tersadar dan langsung mendorong tubuh besar itu menjauh, sambil menggerutu “ jangan ambil kesempatan ya”, terus gara-gara kaki siapa tadi yang menghalangi?” sambungnya sambil membetulkan duduknya.   Melihat hal itu, Alaska sudah tidak tahan lagi, dipegangnya muka Biru dengan kedua tangan, dengan pelan tanpa aba-aba diciumnya pipi putih bersih itu dengan gemas. Berkali-kali, sampe biru memukulinya. Alaska hanya tertawa sambil menutup pintu. Biru sudah teriak-teriak histeris ketika Alaska masuk ke dalam mobil “ ya allah, aku sudah tidak suci lagi, kak alaska sudah menciumku berkali-kali”. “ kenapa susah sekali dikasih tau? tadi sudah aku peringatkan”. Sambil terenggah-enggah, berhenti sebentar menarik nafas, kembali mengomel “ Suami masa depanku dapat sisa dong? Ini pembunuhan karakterku sebagai gadis suci” Sambil tangannya mencubit pinggang Alaska berkali-kali. Mendengar itu Alaska tertawa tergelak sambil memegang tangan Biru yang mencubiti pinggangnya, digenggamnya erat,” iya..iya, maaf maaf ya? ucapnya. Biru masih berusaha mencubitnya, ditariknya tangannya dari genggaman Alaska. Setelah tangannya terlepas, Biru menggeser tubuhnya dekat ke pintu dan melihat keluar jendela dengan muka tertekuk.  Alaska tersenyum geli, tubuhnya mendekat, dipasangnya seatbelt. Tapi Biru tidak menoleh dan tidak mau peduli. Bibirnya terkatup, cemberut. Diusapnya kepala gadis itu dengan pelan, sambil tersenyum samar. Kemudian dijalankannya mobil. Pikirannya melayang-layang. Biru tidak pernah tahu bahwa jantung Alaska juga berdebar tak karuan, bahkan sampe sekarang. Ketika memeluk tubuh gadis dengan aroma vanilla itu, membuat dia hilang akal sesaat. Rasanya masih terasa saat dia memeluk tubuh itu, rasanya pas dipelukannya. Kalau saja Biru tidak mendorongnya, mungkin dia akan lupa dimana mereka berada. Ya Alaska sudah hampir lepas kontrol, ketika matanya terpaku pada bibir merah basah itu. Saat berhenti dilampu merah,dia menoleh pada gadis disebelahnya, rupanya tertidur. Diambilnya jacket dikursi belakang, diselimutinya tubuh Biru. Diciumnya pelan kepalanya. Tangannya bergerak untuk merapikan rambut yang menutupi muka. Dipandangnya Biru sesaat, kemudian menghela nafas. Teringat kalau lusa dia harus sudah kembali bekerja. Dan mereka berpisah dengan jarak ribuan mil. Ya Alaska memang bekerja diperusahaan pertambangan milik pemerintah China. Ini tahun kelima dia Bekerja di negara Tirai  Bambu itu. Dulu Jagad juga sama, tapi kemudia dia melamar di perusahaan pertambangan di kalimantan. Setelah diterima, Jagad mengundurkan mulai bulan Desember tahun kemarin. Masih sisa tiga tahun lagi kontraknya dengan perusahannya. Karena dia baru saja memperpanjang kontrak tahun kemarin. Jadi mereka akan berjauhan selama dua tahun ini. Selama ini fokusnya hanya bekerja, bekerja dan bekerja, tidak pernah ada yang dikhawatirkannya kecuali kedua orang tuanya. Beberapa kali mereka mengunjunginya. Dalam rencananya kalau mereka sudah pensiun akan diajaknya tinggal disana. Tapi sekarang rencanannya harus berubah. Setelah ini mungkin dia akan pindah ke Indonesia juga. Ya..Alaska memang pekerja keras, tidak ada dalam kamusnya tentang cinta apalagi dekat  dengan perempuan. Bersama sahabatnya Jagad yang dikenalnya mulai sma hingga bekerja ditempat sama. Tidak pernah sekalipun mereka terlibat drama percintaan, bahkan sekedar sahabat perempuan aja mereka tidak punya. Tinggal di mess perusahaan, berangkat dan pulang bersama. Bahkan mereka disangka pasangan. Tapi mereka tidak peduli, mereka hanya fokus bekerja. Mereka sampe di rumah saat jarum jam menunjuk angka delapan lebih duapuluh  menit. Di tepuknya pelan pipi Biru,” sayang..bangun, sudah sampe”. Biru membuka matanya sambil menguap. Merapikan rambut dan bajunya sebentar, kemudian turun. Diikutinya langkah Alaska masuk ke dalam rumah, diruang tengah terdengar suara televisi. Mereka langsung ke ruang tengah,  tante Amelia menonton televisi sendirian. ” Kok malam pulangnya? Dari mana?. Alaska tidak menjawab hanya menunjuk ke arah Biru, “ lho Laut Biru?! Serunya. Setelah mencium tangan dan pipi tante Amelia, dia duduk di kursi tunggal disamping tante Amelia,” iya tante...saya diculik nih”. Alaska dan mamanya hanya nyengir,” diculik siapa? Kucing garong ya? Biru mengangkat dua jempolnya ke arah tante Amelia, sambil tersenyum. Alaska membawa bungkusan martabak ke belakang, Biru ngobrol dengan tante Amelia. Beberapa saat kemudian Asisten rumah tangga mereka keluar sambil membawa nampan berisi martabak dan minuman. “Wah..martabak ini kesukaan tante, udah langganan” diambilnya satu potong. “Iya ..enak tante, martabak manisnya juga enak” ucap Biru sambil menggigit sedikit, sampe mulutnya berlepotan coklat dan keju. “Tapi ini enaknya ditambah sambal sendiri” lalu berjalan kedalam,kembali lagi dengan sebotol sambal. Mereka makan martabak sambil ngobrol banyak hal, kemudian Alaska datang. Sepertinya habis mandi, karena rambutnya masih basah. Duduk disebelah mamanya, diambilnya sepotong martabak manis . Matanya memandang tajam ke arah Biru yang duduk persis di depannya. Pikirannya melayang-layang, membayangkan kalau mereka berhubungan jarak jauh. “ Ini sudah malam lho, antar Biru pulang sana” kata tante Amelia. “ Dia nginep kok” tangannya mengulurkan tissue kepada Biru. “ Beneran ini? Kamu nginap?! Seru tante Amelia kegirangan, heboh sekali. “ Iya tante, main tapi rasa di culik”   “ Ya udah, nggak usah pulang sekalian, disini terus aja” Alaska langsung mengacungkan jempolnya, mendengar ucapan mamanya. Biru hanya mencibir melihat ulahnya. Tante Amelia tersenyum melihat mereka. Sudah seperti keluarga aja mereka. “ Ma.. kalau kita langsung menikah tanpa tunangan, mama setuju nggak? “Ini serius?kamu nggak lagi PHP mama khan? “ eee...aku belum setuju lho ya?! masih ada tantangan” seru Biru, protes. “ tantangan apa? Tanya tante Amelia kebingungan. “Jadi ma.. kata Biru kalau aku bisa makan yang pedas, dia setuju tunangan” “ Mama juga setuju, memang harus ada tantangannya”. “Tante setuju?”. Ujar Biru keheranan. Seingatnya, tante Amelia itu mamanya si songong itu. Biasanya orang tua pasti membela anaknya, tapi ini kok aneh ya. “Iya..biar nanti nggak macem-macem. Karena ingat perjuangannya waktu dapetin istri” sambungnya. “OK..besok pagi kita siapkan ya” sambil kegirangan. “Tapi kalau kalah, gimana tante? Batal khan ya?” tiba-tiba Biru nyeletuk. Alaska dan mamanya saling berpandangan,” iya..pasti dong, kalau kalah harus konsekuen, bener nggak? sambil memandang ke Alaska minta persetujuan. Alaska hanya mengangguk. Biru tersenyum senang, sangat gembira karena akan merayakan kemenangan. “ ..akhirnya gagal juga perjodohan ini” “Ya udah... tante istirahat dulu, jangan malam-malam tidurnya” “Papa belum pulang?” Tante Amelia menggeleng. Setelah tante Amelia masuk ke dalam, mereka melanjutkan ngobrol sambil nunggu Kilau. Biru mencomot sepotong martabak manis lagi. Hampir saja semua masuk kedalam mulutnya, tapi.. “Pelan-pelan laut Biru” tegur Alaska. Biru hanya nyengir. “ Iya...bawel ih” “ Kenapa sampe belepotan gitu sih? kayak anak kecil aja” Alaska bangkit mendekat. “ Mau apa?” keningnya berkerut, begitu melihat Alaska mendekatinya. Tanpa menjawab Alaska mengusap coklat dan keju yang ada pinggir bibirnya dan pipi. Diusapnya pelan seakan takut pipi mulus itu tergores. Dia membungkuk didepan kursi Biru, kini muka mereka sejajar. Cepat-cepat Biru menutup mulutnya. Didorongnya Alaska supaya mundur menjauh. “ Jangan aneh-aneh ya?! serunya, membuat Alaska tergelak dan kembali duduk di kursinya. “Katanya membereskan berkas? Ayo “ ajak Biru, mengalihkan perhatian. “ Sudah selesai kok, tinggal merapikan aja” “ Haa..kalau gitu ngapain aku nginep? “Khan yang nyuruh Tante Dewi, aku sih setuju aja. Seneng malah” jawabnya kalem. “ Ya Allah, kenapa hamba bisa nemu orang kayak gini ya?”  digigitnya semua sisa kue ditangannya, sampe pipinya menggembung. Sesaat kemudian terbatuk, cepat-cepat diambilnya minum dimeja, diteguknya sampe habis. Mukanya merah karena batuk tadi. Alaska sampe geleng-geleng kepala melihatnya. “Bikin emosi aja” Dibersihkannya tangan dengan tissue, lalu mengubek tasnya  karena Hpnya berbunyi. Dilihatnya ada chat dari si Minyak Zaitun.          Minyak Zaitun                                                                                                                                                                       Kisanak besok jamber?                                                                                                                             Besok jam sebelas an ya.                                        langsung ke rumah si songong aja, karena aku sama Kilau sudah disana         Minyak Zaitun                                                                                                                                                                         kalian sudah di rumah si Datuk maringgih?                                                                                                                                                 Iya         Minyak Zaitun                                                                                                                                                                          Lhaa                                                                                                                                       Bawa celana renang         Minyak Zaitun                                                                                                                                                                      Minta alamat                                                                                                                 Jangan lupa bawa si Dinosaurus Minyak Zaitun                                                                                                                                                                  iya Setelah itu disimpannya kembali dalam tas, lalu melihat ke arah Alaska dengan kening berkerut. Alaska sedang menatapnya dengan tajam, seperti marah. “ Siapa yang chat?” “Teman kuliah” ditariknya tissue dan mencopot martabak dan menuang sambal. “Dia punya nama khan? “nggak punya” jawan Biru kalem, rupanya dia kepingin balas dendam. Karena Alaska membohonginya hingga malam ini dia terdampar disini. Ketika Alaska akan berdiri untuk mendekati Biru, terdengar salam dari luar. Mereka jawab berbarengan. Ternyata Jagad dan Kilau yang datang, menenteng tas besar. Biru sampe heran “ini mau pindah rumah?, lalu berdiri mencium tangan kakaknya. “ Kok lama sih? dari mana aja? Awas aja kalau pacaran” “auww..sakit kak? Teriak Biru karena keningnya disentil kakaknya. “eehhh..jangan menuduh ya kisanak” jawab Kilau sambil menjulurkan lidahnya. “Terus kenapa lama? Cuma ambil baju aja?itu kenapa bawa tas besar sekali? Mo pindahan ? tangannya mengusap-usap kening. Jagad menoleh kepada Alaska dengan mengangkat bahunya, sedang Alaska hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah dua orang gadis kecil itu.                                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN