bc

Selir-Selir Sang Mafia

book_age18+
411
IKUTI
4.8K
BACA
revenge
dark
one-night stand
HE
gangster
blue collar
like
intro-logo
Uraian

[21+] ADEGAN KHUSUS DEWASA

Di dalam manor ketua mafia Rusia, ada sebuah pondok kecil di belakangnya. Sebuah pondok yang berisi wanita-wanita cantik kesayangan Rudolf Karp Sevastyan. Anggota-anggota pondok itu adalah wanita hasil jarahan atau pekerja malam yang berhasil menarik Rudolf ke atas ranjangnya sebagai teman tidur atau pemuas hasrat semata. Salah satu anggotanya, yang paling baru datang dari masa lalu pria yang dijuliki kaisar Rusia itu. Sebut saja Pasha Dmitry, wanita yang sengaja dijarah oleh Rudolf sebagai target balas dendamnya.

Dalam malam-malam yang panas di antara keduanya, Rudolf telah dibutakan oleh fakta bahwa semua aksi balas dendamnya kepada Pasha bermula dari kesalahannya sendiri di masa lalu. Jadi ketika kebenaran di masa lalu mereka terungkap, apa yang akan Rudolf lakukan untuk menebus kesalahannya terhadap Pasha? Akankah Pasha mampu bertahan dari ego dan hasrat Rudolf? Apalagi dengan persaingan ketat yang menghalalkan segala upaya di antara para gundik-gundik pondok untuk menjadi nyonya rumah sang mafia.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Asal Muasal Dendam
"Ini pertama kalinya aku melakukan itu.” Sambat gadis cantik yang tengah terhimpit tubuh berotot pejantan, sedangkan lawan bicaranya yaitu seorang pria tampan bernama Rudolf Karp menyiapkan posisi yang lebih baik dengan membuang puing-puing bangunan di sekitarnya. Reruntuhan gedung jaga telah menenggelamkan daratan yang diubah menjadi bendungan dan sepasang pria dan wanita itu terjebak di sana. “Bawa tanganmu mengalung ke leherku, Sayang.” Goda Rudolf. “Pintar, pintar sekali, benar seperti itu.” “Sekarang diam saja dan tatap mataku ya.” Gadis dengan rupa elok itu merasakan pusat dirinya terantuk ketika pria yang baru pertama kali ia temui itu merenggut kesuciannya. Pusat tubuh Rudolf berhasil membohol pertahanannya. “Argh!” jeritnya menjadi. “Hentikan! Hentikan! Aku tidak bisa menahannya.” Paksa si wanita yang sekarang ke dua tangannya di simpul oleh genggaman si jantan. “Kamu tenang saja, rasanya seperti di surga. Kita akan ke sana,” bujuk Rudolf. Gerakannya terbatas karena celah reruntuhan bangunan yang sempit. Namun kenikmatan itu tidak bisa diganggu gugat. Masih tidak menyangka bisa mendapatkan rejeki berupa jodoh di tengah musibah reruntuhan proyeknya. Rudolf menggeram di leher gadis mungil itu, yang harumnya mahal sekali. Rudolf patut berbangga menjadi yang pertama bagi si gadis. “Iya, benar, benar, turuti aku. Seperti itu caranya memuaskan seorang pria. Kau sempit sekali, Sayang.” Tangan Rudolf menekan perut si gadis untuk melihat pusat dirinya menginvasi jauh ke dalam rahimnya dan bertanya, “Siapa gerangan gadis yang telah aku renggut kesuciannya ini?” Si mungil yang ada di bawahnya hampir lupa daratan ketika pria di atasnya memuaskan pinggang si gadis di bagian paling intimnya, ia terengah ketika menjawab, “Putri keluarga Radimir.” Gelombang kenikmatan yang menyiksa ke duanya harus terpisah oleh keputusan si pria yang melempar lembut tubuh lawan mainnya ke ujung puing. Ke duanya beradu jeritan dan napas yang berkejaran setelahnya. Rudolf berhasil mengatasi keinginan membabi butanya untuk menikmati molek tubuh putri Radimir itu. “Ini pakaianmu,” ucap Rudolf seraya membantu si gadis yang kesusahan bergerak akibat pergumulan mereka tadi. Ia membantunya memakai setelan dress putih yang kotor oleh debu. “Di mana celanaku?” tanya putri keluarga Radimir. Rudolf pura-pura mencari barang yang dimaksud namun bibirnya tidak bisa tidak tersenyum, ia menepuk saku celananya pelan-pelan. Celana renda warna putih itu telah ia amankan. Maka dengan begitu ia berkata, “Kau mengenakan dress yang panjang, tidak seorang pun akan tahu. Lagi pula aku sudah mendengar teriakan orang-orang ku. Kita harus bergegas keluar dari sini.” Ternyata benar yang dikatakan oleh pria itu, teriakan-teriakan orang yang mencari korban selamat dari reruntuhan puing mulai terdengar gembar-gembor di luar sana. Hanya butuh dua puluh menit kemudian keduanya bisa keluar dari reruntuhan puing tersebut. Kini keduanya tengah berada di tenda darurat penanganan korban dan pria itu masih ada di sampingnya, tanpa canggung sama sekali. Tatapan mata pria itu tajam dan menghanyutkan ketika berucap, “Aku telah melakukan hal pengecut dengan mengambil kesucian dirimu di antara keadaan kita tadi. Jadi bolehkah aku menjanjikan sebuah tanggung jawab untukmu? Aku yakin jika peristiwa tadi tidak mungkin tidak mengubah perasaan kita.” Gadis konglomerat tanah Rusia itu mengeratkan handuk yang ada di pundaknya, dalam sekejap saja ia bergembira dengan niat pria di depannya itu. “Tanggung jawab?” tanya memastikan. “Aku Rudolf Karp Sevastyan, aku akan meminang kamu dari keluargamu.” Si gadis bersemu merah muda dan mengangguk yakin saking gembiranya. “Aku tunggu kedatanganmu di rumah, Tuan Rudolf,” timpalnya. “Tunggu aku.” Rudolf mengelus surai hitam si mungil dengan sayang. Seperti ungkapan cinta yang naif bahwasanya kepalanya yang diusap, hatinya yang berantakan. Kedua insan itu saling memandang dalam perasaan yang murni, sebuah peristiwa menegangkan yang menghadirkan cinta. Pertemuan itu disudahi oleh pelayan kecil yang menangisi anak majikannya, Rudolf mengantarkan ke dua gadis itu pergi dari tempat yang rawan dengan berat hati. Namun jauh di dalam sudut hatinya ia juga berbunga, ia menepuk dari luar sakunya yang berisi celana si gadis putri Radimir itu dengan perasaan yang luar biasa senangnya. “Tunggu aku. Aku akan datang dan melamarmu, Sayang.” *** Butuh waktu dua bulan untuk membuat Rudolf meyakinkan orang tuanya agar mau berangkat melamar putri tunggal keluarga Radimir yang telah menjadi mimpi-mimpi indahnya. “Tuan Albert Radimir, kedatangan saya ke mari bersama anak istri saya tidak untuk membahas pekerjaan. Saya datang untuk membicarakan perihal pribadi dengan Anda,” ungkap Tuan Abram Sevastyan, seorang makelar kontraktor yang cukup besar di tanah Russia yang juga Ayah Rudolf sendiri. “Apa itu?” tanya Albert Peter, pria berwangsa Radimir yang agung itu tampak tidak peduli dengan maksud seorang pebisnis kelas bawah mendatanginya. “Jika tidak ada urusannya dengan uang, aku tidak tertarik.” “Ini mengenai putra saya,” ungkap Tuan Abram dan menyikut lengan Rudolf untuk segera mengutarakan niat kedatangan mereka. “Saya Rudolf Karp, Tuan Albert. Saya telah membuat keputusan terbaik dengan berani datang ke manor Anda dengan maksud menaruh hati, Tuan Albert, izinkan saya meminang putri tunggal Anda.” Lamar pria muda yang tampan itu. “Saya telah jatuh hati dengan putri Anda, Patya Dmitry.” Jantung bertemu detaknya, debaran bertemu ombaknya dan pinangan itu mendapat balasannya. Sebuah nada jenaka yang dihiasi oleh tawa yang menggelegar dari Tuan Albert. “Anak Muda, siapa kamu berani melamar putriku? Punya apa kamu berani datang ke mari dan menaruh hati?” celanya dengan nada merendahkan. “Tuan Albert, saya mempunyai cinta yang tulus untuk putri Anda.” “Putriku tidak makan cinta, ia makan harta.” “Saya juga sudah cukup mapan untuk membina rumah tangga.” Tuan Albert yang berumur hampir setengah abad tertawa lagi, nadanya congkak dan seolah-olah jijik dengan lamaran bocah di depannya. “Bocah sepertimu yang hanya mewarisi perusahaan kecil milik ayahmu berani menyombongkan diri di depanku? Jika harta ayahmu dikumpulkan, semua itu tidak akan bisa membangun seperempat rumahku ini.” “Tuan Albert!!” hardik Tuan Abram karena tersinggung telah dilecehkan. “Apa? Memang kenyataannya seperti itu? Harta kalian tidak cukup banyak untuk meminang putriku.” Ketiga tamu di sana sungguh memerah wajahnya dipermalukan seperti itu, niat baik mereka dihina karena dirasa kurang kaya. “Anda seharusnya tidak menghina kami seperti itu!” Bantah Rudolf. “Niat kami baik, setidaknya perlakukan kami dengan baik.” “Aku tidak!” debat si tuan rumah. “Orang miskin yang datang ke mari dengan dalih melamar putriku sudah sangat mempermalukanku. Aku tidak akan membiarkan putriku menjadi menantu kontraktor seperti kalian.” Lanjut tuan rumah. “Anda tidak seharusnya menghina kami jika menolak lamaranku, Tuan Albert,” desis pria muda yang bernama lengkap Rudofl Karp Sevastyan. “Kami juga memiliki harga diri,” imbuhnya. “Pergi kalian, Orang Miskin! Manor milikku tidak menerima orang jelata seperti kalian!” perintah tuan rumah. Ketegangan itu buyar ketika sepasang muda mudi tampak bergandengan tampak dari lorong manor. Dari keduanya, ada seorang gadis yang berbahagia luar biasa sedang digandeng oleh seorang pria. Rudolf langsung tahu siapa gadis itu dan siapa yang menggandengnya. Hanya butuh dua detik untuk merasakan dunianya runtuh. Gadis itu adalah gadis yang ia pinang. Betapa sakit hati dirinya melihat pengkhianatan gadis itu dengan pria lain. “Sayangku, Nak Stevan” sanjung Tuan Albert kepada muda-mudi itu. “Ada urusan apa mereka, Ayah?” tanya putrinya. “Mereka datang untuk melamarmu. Ayah sudah mengusir mereka, mungkin kau bisa memberi mereka pengertian.” Wajah terkejut gadis itu tampak biasa saja, seolah-olah tidak terkejut dengan wajah Rudolf yang emosi. “Aku menolaknya, aku sudah punya kekasih dan akan bertunangan dengan Stevan.” “Patya Dmitry. Aku tidak tahu kau sejahat ini padaku. Aku telah berani datang ke sini dan kau memperlakukanku seperti ini,” keluh Rudolf. “Aku mencintaimu dengan tulus dan melamarmu.” “Aku tidak mau.” “Kenapa?” “Kenapa? Tentu saja karena kau kurang kaya seperti Stevan. Tidak ada yang bisa menandingi kekayaan kekasihku itu.” “Patya Dmitry!” pekik Rudolf. “Beraninya kamu membentak kekasihku!” Bentak Stevan. “Patya sudah menolakmu, jangan memaksanya. Lagi pula aneh bagi seorang pria datang melamar kekasih orang,” sindir pria tampan kaya raya itu. “Aku jelas lebih kaya darimu, hartaku bisa membahagiakan Patya lebih baik darimu. Jadi tolong pergi dari rumah calon mertuaku!” “Kalian keterlaluan!” pekik Tuan Abram sembari memegangi dadanya yang tiba-tiba berdenyut. “Kami datang ke mari tidak untuk menerima penghinaan ini! Kami juga manusia.” “Manusia miskin seperti kalian memang pantas mendapat penghinaan seperti ini.” Bantah Patya, wanita itu berdiri dan menjulang ketika menghina. Mendengar penghinaan itu, emosi Rudolf sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Ia bangkit sebelum tangannya dicekal oleh ayahnya yang memegangi dadanya sendiri. “Ayah!” serunya khawatir. “Ayah baik-baik saja?” tanyanya. Rudolf tidak perduli apa-apa lagi, ia bangkit dan memapah ayahnya untuk keluar dan menuju rumah sakit karena kemungkinan sakit jantung ayahnya tengah kambuh. Kepergian itu membawa kemarahan yang besar di dalam hati Rudolf. Betapa sakit hatinya dilecehkan seperti itu oleh wanita yang ia cintai selama itu. Bagaimana gadis lugu itu berubah secepat itu dan memilih orang lain yang lebih kaya darinya? Apa Patya tidak ingat janjinya di reruntuhan? “Dokter, tolong ayahku! Apapun yang terjadi ayahku harus tetap selamat,” pinta Rudolf kepada dokter di rumah sakit. Ia memperhatikan ibunya yang hanya bisa duduk lemas dan berdoa. Namun doa ibunya tampak tidak diterima oleh sang pemberi nyawa. “Maafkan saya! Kami dan para tenaga medis sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan pasien. Ayah Anda tidak bisa diselamatkan karena serangan jantung yang mendadak.” Dokter memvonis kematian ayahnya. Dunia Rudolf telah hancur siang itu. Setelah lamarannya ditolak oleh gadis yang ia cintai sekarang ia diterpa duka yang bermuram durja. Dalam hatinya yang diliputi emosi yang membara, ia sangat membenci putri Radimir karena telah menjadi penyebab kematian ayahnya. “Aku bersumpah, Patya Dmitry, aku akan menjadi kaya raya dan membalaskan dendamku. Aku akan menghancurkan keluargamu dan menjadikanmu sebagai jal*ngku.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook