Setelah 1minggu aku mengurung diri didalam kamar, akhirnya aku memutuskan besok aku akan keluar untuk mencari tempat kost yang dekat dengan kampus, tempat yang tak diketahui oleh siapapun. Aku ingin menghapus jejak dari mereka yang telah menyakitiku.
Aku mengemas seluruh barang-barang milik ibu yang belum selesai aku kemas minggu lalu. Aku akan mengirimnya ke Malang, agar ke 2 sahabatku bisa memberikannya pada yang lebih membutuhkan.
Astrid calling..
“Ya As?”
“Man lagi dimana?”
“Ya di apartemen mau dimana lagi?”
“Lagi ngapain?”
“Lagi ngemas barang-barang ibu aja sih, tumben nanya nya lengkap banget?”
“Eh itu barang-barang ibu gak usah dikirim ke Malang Man.”
“Lho kenapa? Kamu sama Adit gak mau bantuin aku?”
“Justru karena aku sama Adit mau bantuin kamu, mangkanya kita OTW sana.”
“Ha? Maksudnya? Kalian mau ke Jakarta?”
“Gak usah kaget gitu deh. Kata Adit mungkin ntar malam kita sampai sana. Tungguin ya, jangan ditinggal tidur low ya.”
“Ya ampun mendadak banget sih? Hati-hati dijalan ya kalian.”
“Siap, see you Man.” Astrid memutuskan sambungan telepon denganku.
Aku mengambil hape ibu yang aku simpan dan memasukkan kartu SIM ku disana. Aku tak ingin ke 2 sahabatku curiga karena hape yang aku bilang hilang masih aku pakai. Biarlah aku akan memakai hape ibu saja, hapenya sedikit lebih bagus dari milikku.
Setelah mengganti hape, aku kembali mengemasi barang-barang milikku, dan menyebunyikan hapeku didalam tumpukkan baju-baju yang sudah aku masukkan kedalam dus.
Aku juga sedang menunggu hasil dari wawancaraku dengan sebuah kampus negeri terbaik di Jakarta ini. Aku pernah mendaftar melalui jalur prestasi, dan menurut informasi yang aku dapatkan, hari ini adalah pengumuman apakah aku lulus seleksi atau tidak. Pengumumannya akan dikirimkan melalui email yang sudah aku tuliskan pada form pendaftaran.
Karena hari sudah menjelang siang, maka aku membuat sarapan mie instan, hanya ini satu satunya makanan yang tersisa di lemari, karena selama seminggu aku tak keluar dari unit apartemen ini, jadilah semua bahan dikulkas habis, dan persediaan makanan instan pun sudah habis. Biarlah untuk makan nanti malam aku akan mengajak ke 2 sahabatku untuk makan diluar saja, sekali-sekali tak apalah aku sedikit menikmati hidupku.
Setelah selesai makan siang, aku beristirahat sebentar sambil menonton TV, dan aku mendengar suara pintu diketok. Aku berjalan mendekati pintu, dan aku lihat dia kembali lagi kesini, kali ini tidak didampingi oleh security.
“Manda, Manda..” Suaranya lembut tak ada nada khawatir, aku hanya melihatnya dari lubang pintu saja.
“Manda, aku tahu kamu ada didalam. Tolong bicaralah sebentar saja.” Aku masih saja diam tak bergeming.
Aku melihatnya sedang menunduk, dan ternyata dia sedang menyelipkan sebuah kertas melalui celah lubang bawah pintu. Aku membiarkannya terlebih dahulu, setelah aku memastikan dia pergi meninggalkan unit apartemenku, baru aku meraih mengambil kertas itu, aku membuka dan mulai membacanya.
“Dear Amanda,
Hai Manda, apa kabar? Aku bingung harus hubungi kamu kemana. Maaf kalau menurut kamu aku sangat mengganggu.
Maafkan kesalahanku Manda. Sungguh aku tak pernah ingin menyakitimu, bahkan mengambil milikmu yang paling berharga. Aku sudah berjanji akan bertanggung jawab untuk hidupmu kedepannya. Aku berencana akan meminta bantuan mama dan papa jika kamu tak juga mau berkomunikasi denganku, dan membicarakan semuanya dengan baik-baik.
Kamu pasti mengenal mama dan papa ku, mereka yang membawamu datang ke Jakarta bersama ibu mu.” Aku berhenti membacanya karena aku sangat terkejut, bahwa dia adalah anak tante Sofi dan om Adam, aku memang tak pernah secara langsung bertemu dengannya, tapi aku tahu anak tante Sofi bersekolah di sekolah yang sama denganku.
“Jadi, mari kita selesaikan semuanya baik-baik Manda. Aku sudah bersalah, maka ijinkan aku menebus kesalahanku, walaupun kesalahanku itu tak sepenuhnya memang kesalahanku, karena kamu yang memancingku untuk berbuat lebih.
Aku memberikanmu waktu 3 hari dari surat ini kamu baca, jika kamu belum juga mau menghubungiku atau membukakan pintu untukku, maka aku akan meminta bantuan mama dan papa. Pikirkan semua ini baik-baik Manda.
Roland.”
‘Kamu salah menilaiku Roland, aku gak akan minta pertanggung jawaban apapun padamu, aku bisa mengurus hidupku sendiri. Bahkan sebelum 3 hari pun aku sudah akan meninggalkan apartemen ini. Jangan pernah mengancamku.’ Aku meremas surat itu dan membuangnya pada tong sampah.
Aku menuang air dingin kedalam gelas, aku marah membaca surat yang Roland kirimkan, marah karena aku tahu kemana arah pembicaraan itu, bertanggung jawab dengan cara menikahi ku, aku sungguh tak ingin itu terjadi. Apa jadinya jika pernikahan tanpa cinta? Yang menikah karena saling mencintai saja banyak yang berpisah, apa lagi aku dn Roland yang tanpa cinta, dan hanya berlandaskan tanggung jawab. Aku tak ingin semua itu terjadi, aku ingin menikah hanya 1x dengan orang yang mencintaiku, seperti ayah dan ibu, mereka berpisah karena maut yang memisahkan, dan mereka bertemu lagi di surga-Nya.
Saat sedang emosi karena surat Roland, aku melihat ada email masuk kedalam hape ku. Tertuliskan pengirimnya adalah biro akademik universitas yang aku daftar. Aku membuka dan membaca isinya. Aku bersorak gembira, karena aku lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru jurusan ekonomi bisnis, seperti yang ibu harapkan, aku bisa masuk ke universitas negeri harapan ibu.
Aku melupakan kemarahanku pada Roland, dan kembali tersenyum karena aku bisa mewujudkan harapan ibu. Aku mencoba mencari-cari kost didaerah yang dekat dengan kampus yang baru saja menerimaku. Aku menuliskan beberapa alamat dan nomor telepon yang bisa aku hubungi. Aku akan menghubungi nomor telepon yang tercatum terlebih dahulu, untuk menanyakan harga sewanya dan juga fasilitasnya, aku hanya ingin lingkungan kost yang aman dan nyaman saja. Ingin kost yang hanya khusus untuk wanita saja, tidak ingin kost yang bebas lelaki boleh keluar masuk. Mungkin harga sewanya bisa sedikit lebih mahal, tapi demi keamanan dan kenyamanan diriku sendiri, aku akan bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan kuliahku. Jika nanti aku sudah mulai masuk kuliah, maka aku akan mengurus beasiswa agar aku lebih bisa menabung, dan membuka usaha di Malang nantinya.
Setelah menghubungi beberapa kost-kostan, dan membuat janji untuk berkunjung kesana esok hari, aku mencari-cari info lowongan pekerjaan yang bisa menerima ku yang hanya lulusan SMA dan ijazah ku pun belum keluar, dan aku harus mencari pekerjaan yang part time, agar bisa aku bagi waktuku dengan kuliahku.
Rata-rata lowongan yang ada adalah pekerjaan full time, yang mengharuskan datang pagi hari dan pulang sore hari, sudah pasti aku tak bisa mengambil pekerjaan yang seperti itu. Ada 2 lowongan yang sepertinya masih bisa untuk aku coba, menjadi pelayan disebuah cafe. Aku akan menuliskan lamarannya dan mengirimkannya melalui email.
Bersambung..