Part 15

1111 Kata
Selepas kepergian Indri, Siska, dan Rani, Roland menghubungi pihak resepsionis. Roland tidak ingin ada yang lancang mengetuk kamarnya seperti kejadian barusan Roland membuat mie instan karena dia merasakan lapar setelah tenaganya terkuras. Saat sedang menikmati mie instan sambil menonton TV, Roland dikejutkan dengan suara dering handphone, yang berasal dari dalam tas Manda. Roland membuka tas milik Manda dan meraih handphone model lama milik Manda itu. Terdapat banyak sekali missed call dan nama yang tertera disana adalah Adit Mlg. Roland tak menerima panggilan itu, namun dia membuka pesan-pesan yang masuk kedalam aplikasi chat milik Manda, dan mulai membacanya. “Man, katanya mau ngabarin? Kok aku telepon gak ada yang diangkat?” “Manda? Kamu kenapa? Angkat teleponku dong.” “Jangan bikin khawatir gini deh.” Dan beberapa pesan yang isinya hampir sama dikirimkan Adit. Roland berpikir, mungkin Adit ini pcar Manda? Pikiran Roland menerawang bagaimana jika Manda benar-benar sudah memiliki kekasih. Lamunannya terpecahkan dengan sebuah pesan yang kembali masuk ke chat Manda. “Kamu online tapi kok gak mau angkat teleponku? Aku telepon lagi dan kalau kamu tetap gak mau angkat, malam ini juga aku berangkat ke sana.” “Hallo Man..” Suara Adit terdengar sangat khawatir. “Manda? Kamu gak pa pa kan?” Karena tak ada jawaban dari seberang, Adit kembali bertanya. “Amanda lagi istirahat bro, tadi dia lagi gak enak badan.” Akhirnya Roland bersuara untuk menjawab Adit. “Kamu siapa? Kok bisa sama Manda?” “Gue pacarnya Manda, lebih tepatnya calon suami Manda.” Dengan sombongnya Roland menjawab Adit. “Ngaco nih orang, ngomongnya dah kayak orang mabuk.” Jawab Adit tak percaya dengan jawaban Roland. “Iya gue mabuk cinta sama Amanda. Hahaha” Jawab Roland dengan tawanya yang menggelegar. Tuuttt, terdengar suara Adit memutuskan sambungan telepon itu sepihak. “Yah gak sopan dia, main nutup telepon seenaknya.” Roland kembali meletakkan handphone Manda kedalam tasnya, dan dia kembali masuk ke dalam kamarnya. Roland membenarkan letak selimut Manda, kemudian dia ikut berbaring disisi Manda. Waktu menunjukkan pukul 4 subuh, Manda terbangun dari tidur pulasnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, dia tersadar bahwa apa yang telah di laluinya tadi bukanlah sebuah mimpi, tetapi semua itu nyata adanya. Dia memandangi sosok Roland yang tertidur pulas disisinya. “Aku harus cepat pergi dari sini, sebelum dia terbangun.” Pikiranku menyuruhku untuk segera pergi dari apartemen Roland ini. Aku mencari-cari gaunku yang tadi aku gunakan, tapi aku tak menemukannya dikamar mandi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil haos dan juga jaket hoodie Roland, tak lupa aku mengmbil celana training milik Roland. Aku menggunakannya dan pergi mengendap-endap dari apartemen Roland. Aku memesan taksi online, karena aku tak tahu dimana sekarang aku berada, dan ini masih terlalu pagi untuk aku menunggu angkot. Sesampainya di lobby apartemen yang aku tinggali, aku bergegas menuju kamarku. Aku membuka semua yang aku gunakan, dan menangis tersedu di bawah guyuran air dingin. Aku tahu ini bukan sepenuhnya salah Roland, karena aku ingat benar kalau semua ini aku yang mengawalinya. Bukan karena kemauanku, tapi ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku. Setelah puas berlama-lama menangis, akhirnya aku mengeringkan tubuhku dan menggunakan baju hangatku. Aku membuat teh hangat dan memasak omelet. Aku tak boleh putus asa, karena ada mimpi ibu yang belum aku wujudkan, ibu ingin aku menjadi wanita sukses dalam hal apa pun itu. Aku tak lagi memperdulikan dering handphoneku. Aku masuk kekamarku dan tidur sepuasnya, karena tubuh, dan pikiranku sangat lelah. **** Dookkkk doookkkk dooookkk Aku terkejut dengan suara hantaman dipintu, dan melihat jam yang ada diatas meja belajarku, jam 2 siang. “Amanda, buka pintunya. Aku tahu kamu ada didalam.” Suara itu sepertinya aku mengenalinya. Aku keluar dari kamarku dan mendekati pintu utama, mengintip dari lubang pintu, dan benar saja itu adalah Roland. Roland didampingi oleh 2orang security aprtemen. “Tolong buka paksa aja pak, saya gak mau ada apa-apa sama pacar saya.” Roland meminta ke2 security itu untuk membuka paksa pintuku. Aku menghubungi resepsionis, dengan suara yang lirih. Aku mengabarkan pada resepsionis bahwa ada seorang pria dan 2 orang security didepan unitku dan akan membuka paksa pintuku, aku bilang bahwa aku hanya tak ingin diganggu dan menyuruh resepsionis itu untuk membawa pergi orang-orang yang ada didepan unitku. Tak berapa lama security tersebut menerima panggilan melalui interkomnya, dan mengajak Roland untuk menjauh dari unitku, dan menyuruh Roland untuk pergi karena aku tak ingin diganggu. Aku benar-benar mengurung diri dikamar. Aku bahkan tak keluar untuk kesekolah. Aku tak lagi menyalakan hapeku, ku biarkan hape itu kehabisan daya. *** Setelah 3 hari aku mengurung diri, akhirnya aku memutuskan untuk membeli nomor hape yang baru, aku yakin bahwa Roland pasti akan terus-terusan menghubungiku. Aku juga sudah meminta pada pihak sekolah untuk menghubungi saat ijazahku sudah keluar, aku meminta maaf karena tak dapat masuk sekolah karena aku sudah bekerja di Malang, hanya itu alasan yang masuk akal pikirku. Tak lupa aku menghubungi ke2 sahabatku yang pasti sangat mengkhawatirkanku. “Hallo, Astrid.” “Ya ampun Mand, kemana aja kamu? Adit khawatir banget sama kamu.” Astrid langsung menyemprotku dengan kata-kata yng munjukkan kekhawatirannya. “Maaf As, hapeku hilang. Ini aja baru sempet beli hape.” Aku memberi alasan mengapa selama beberapa hari aku tak bisa dihubungi. “Kok bisa ilang sih Man?” “Gak tau, mungkin pas lagi apes aja ya.” Jawabku pura-pura acuh. “Kamu udah kasi kabar ke Adit?” “Belum, habis gini baru mau telepon Adit juga.” “Ya udah buruan gih, kasian dia khawatir banget sama kamu.” “Iya. Jangan lupa nomor baruku ini di simpan ya As.” “Siap, beres.” Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan Astrid, aku langsung menghubungi Adit. “Hallo.” Suara dari seberang yang menerima sambungan teleponku. “Adit.” “Manda?” Selang beberapa detik dia melanjutkan bicaranya. “Nomer siapa ini Man?” “Ini nomerku yang baru Dit, di save ya.” “Nomer baru? Terus nomer lamamu kemana?” “Hapeku hilang Dit.” “Kapan hilangnya?” “Hari sabtu kemarin, waktu aku keluar beli kebutuhan dapur.” Aku kembali berbohong. “Ya ampun pantes aja, waktu aku telepon kamu sabtu malam itu, yang angkat orang laki dan ngaku-ngaku pacar kamu, mungkin dia yang ambil hape kamu ya.” “Ha? Laki-laki yang angkat telepon di hapeku?”aku terkejut dengan cerita Adit. “Iya, kenapa Man?” Adit bingung dengan pertanyaanku. “Eh gak kenapa sih Dit, mungkin dia yang ambil hapeku ya.” “Iya. Kamu gak apa Man?” “Gak pa pa Dit, ya udah ntar sambung lagi ya.” Aku menutup sambungan telepon dengan Adit. ‘Kurang ajar Roland sudah lancang mengangkat teleponku.’ Aku berkata pada diriku sendiri. Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN