Aku memejamkan mataku dan mengatur nafasku, dan saat aku membuka mataku, Roland sudah berada di atasku dengan bertumpu pada kedua tangannya.
“Belum selesai sayang, sekarang giliranku.” Roland dengan wajah yang berkabut penuh gairah.
“Giliran apa?” Aku pura-pura tak tahu dengan maksud roland.
Roland bukan menjawabku, tetapi malah menciumku. Kembali mencumbuku dengan gerakan yang sangat membangkitkan gairahku.
Tangannya kembali menjelajah gunung kembarku dan puncaknya. Aku seolah kembali kehilangan akal sehatku, saat Roland menggesek-gesekkan batangnya ke intiku, dan berusaha memasukkannya disana.
“Akkhh sakit Roland..” aku berteriak saat sesuatu berukuran besar memaksa masuk kedalamnya.
“Tahan sebentar ya sayang..” Roland kembali mencium bibirku, dan tangannya kembali memilin puncak gunung kembarku.
“Aaaaakkkhhhh..” aku kembali berteriak saat aku merasakan seperti ada yang robek didalam sana. Aku menitikkan air mataku saat sakit itu terasa.
“Maafkan aku sayang, aku akan lebih lembut lagi.” Roland mencium mataku, dan pinggulnya kembali bergerak dengan lembut. Awalnya memang terasa menyakitkan, tetapi semakin lama terasa memabukkan.
“I Love You Manda.” Dengan terus mengulum puncak gunung kebar, dan sesekali mencium bibirku, Roland terus memacu energinya untuk bergerak.
“Roland aku mau pipis lagi..” Aku merasakan seperti ingin buang air kecil kembali.
“Bareng ya sayang, aku juga maaauuu..” Roland memacu pinggulnya semakin cepat.
“Roland, aku gak mau di pipisin..” Aku sudah tak tahan, dan aku kembali seperti mengejang.
“Aahhhkk sayang enak banget, ohh noo..” Aku merasakan seperti ada lahar panas yang menyembur didalam intiku, dan tak lama kemudian Roland menindihku dangan lemas.
“Roland minggir, berat tau..” Aku berusaha menyingkirkan Roland dari atasku.
“Hahaha kamu lucu banget sih sayang..” Roland berangsur menyingkir dari atasku dan pindah disebelahku.
“Roland darah ini?” Aku menunjuk pada darah yang tercetak di sprei.
Roland memelukku yang sedang terduduk memandang darah yang tercetak disana.
“Maafkan aku sayang, mengambil milikmu yang paling berharga. Jangan pernah pergi dari aku ya, aku akan minta mama dan papa untuk menjadikanmu istriku.”
“Apa maksudmu Roland? Aku belum mau menikah, aku masih mau melanjutkan kuliahku. Darah apa ini Roland? Aku gak lagi haid sekarang.”
“Kamu benar-benar gak tau ini darah apa? Ini darah perawanmu sayang.” Kata-kata Roland membuat aku terkejut dan seketika itu juga aku menangis.
“Kamu jahat banget Roland, sekarang aku sudah benar-benar gak punya apa-apa dalam diriku, mending aku mati aja.” Aku putus asa.
“Gak, kamu gak boleh mati sayang. Kamu punya aku, punya mama papa ku. Aku akan bertanggung jawab. Aku mencintai kamu Manda.”
“Jangan becanda kamu Roland, kita masih kecil untuk menikah, bahkan aku gak cinta sama kamu.” Aku masih terus menangis.
“Suatu saat kamu akan mencintai aku Manda, belajarlah menerima aku.” Mohon Roland padaku.
“Gak mau, mending aku mati aja.” Aku semakin histeris, dan memukul-mukul Roland.
“Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh memukulku sekuat tenagamu, tapi aku mohon jangan pernah berpikir untuk pergi dariku.” Roland membawaku kedalam dekapannya.
Aku terus menangis tersedu, sedangkan Roland tetap setia memelukku dengan erat, dan sesekali mengusap rambutku dan punggungku yang tak tertutup kain sehelai pun.
Tanpa sadar, aku yang terlalu lelah menangis akhirnya tertidur dalam pelukkan Roland.
***
“Bener ini kan kamarnya?” Rani mencoba memastikan kembali dengan melihat pada pesan yang dikirimkan oleh Rasyid.
“Bener deh Ran, coba aja ketok.” Jawab Siska.
Tokk tokk tokk
Indri yang tak sabar untuk mengetahui dimanakah Roland, dengan cepat mengetuk pintu yang ada dihadapannya.
“Roland.. Roland buka pintunya.” Indri mulai berteriak dengan tidak sabarnya.
Dookkk dookk dookkk
Kali ini Indri tak lagi mengetuk, tetapi memukul pintu dihadapannya.
Cklek
“Duh apaan sih berisik banget, gangguin gue tidur aja.” Roland membuka pintu dengan malas.
“Manda mana Land?” Tanya Siska sambil celingukkan melihat ke arah dalam.
“Mau ngapain kalian kesini? Tau dari mana apartemen gue?” Tanya Roland tak menjawab pertanyaan Siska.
Indri yang tak sabar dengan jawaban Roland, mendorong Roland untuk menyingkir dari pintu, dan dia nyelonong masuk kedalam ruang apartemen Roland. Indri melihat ada handuk yang tergeletak didepan pintu kamar mandi. Indri membuka kamar mandi dan melihat ada gaun Manda yang tergeletak disana.
“Wooy, lancang banget sih loe main masuk ke apartemen gue.” Roland menarik tangan Indri dengan kasarnya.
“Roland, Manda ada disini?” Tanya Siska lagi. Sedangkan Rani memilih untuk diam saja, karena melihat sikap Roland yang sangat dingin pada mereka.
“Iya, dia ada disini sama gue. Mau apa loe pada?” Roland berdiri didepan pintu kamar yang hanya tertutup separo.
“Kamu gak apa-apain dia kan?” Indri terlihat sudah sangat takut.
“Kalau gue apa-apain emangnya apa urusannya sama loe ha?” Roland terlihat sangat dingin saat berbicara dengan Indri.
“Sayang, kamu gak apa-apain manda kan?” Indri kembali bertanya pada Roland dengan nada yang bergetar.
“Jangan pernah panggil gue dengan kata-kata sayang dari mulut loe yang menjijikan itu.” Roland menunjuk Indri tepat didepan wajahnya.
“Sabar dulu Land, jangan kasar sama Indri, dia kan perempuan.” Siska berusaha meredam amarah Roland.
“Sabar loe bilang? Tanya sahabat loe ini, perbuatan menjijikan apa yang dia buat ke Manda? Minta gue laporin ke Polisi loe?” Roland megancam Indri.
“Aku gak ngapa-ngapain Manda sayang.” Indri masih berusaha berbohong.
“Gak ngapa-ngapain? Loe taruh obat diminuman Manda sampai Manda b*******h yang gak terkendali, dan loe bilang gak ngapa-ngapain? Gue udah simpan bukti-buktinya, loe beneran mau mendekam dibuih ha?” Roland menutup pintu kamarnya rapat-rapat, karena dia gak mau Manda terbangun dengan suara marah-marahnya.
“Kenapa kamu belain w************n itu Roland?” Indri menangis dengan drama nya.
“w************n? Disini yang w************n itu loe. Bahkan loe bilang Manda wanita panggilan, pemuas nafsu p****************g, loe gak ngaca siapa loe sebenernya ha? Sudah pernah di pakai di gudang sama Andri loe lupa? Atau mau gue kasih rekamannya? Loe kira gak ada siapa-siapa digudang, padahal gue ada disana lagi menyendiri, tapi ternyata ada masuk gudang dan ah uh berkeringat disana. Hahaha.” Kata-kata Roland semakin membuat Indri menangis.
“Tapi dia beneran wanita panggilan Roland.” Indri masih mencoba untuk menjatuhkan Manda.
“Loe punya buktinya? Mana ada wanita panggilan yang masih perawan ha?” Kata-kata Roland membuat Rani, Siska dan tentu saja Indri terkejut.
“Kamu sama Manda?” Siska membuka suaranya, dengan wajah seolah tak percaya.
“Iya, gue yang perawanin dia, puas loe semua.”
“Gak mungkin Land, ini gak mungkin.” Indri menangis dan menutup mulutnya.
Roland menyeret tangan Indri, dan membuka pintu kamarnya. Disana terlihat manda sedang tertidur dengan tubuhnya yang tertutup selimut, tetapi punggungnya yang nampak terekspose tanpa sehelai benang pun.
Roland sedikit membuka selimut yang menutupi seprei yang bernoda darah itu. “Lihat ini baik-baik, ini noda darah perawannya. Dan loe tau itu gue yang dapet, dan rasanya sangat nikmat. Punya loe pasti gak akan bisa senikmat punya calon istri gue itu, punya loe sudah bekas entah berapa banyak cowok yang udah bisa nikmati punya loe, w************n sesungguhnya.” Kata-kata Roland sangat menjatuhkan Indri.
Roland membiarkan Indri yang masih menatap noda darah di sprei itu, dan dia berjalan mendekati Manda, membenarkan selimut yang menutupi tubuh Manda, kemudian mencium puncak kepala Manda.
Kemudian Roland kembali berjalan mendekati Indri dan menyeretnya untuk keluar dari kamar itu.
“Mending kalian pergi dari sini deh, atau mau aku panggilkan keamanan untuk nyeret klian dari sini?” Roland mengancam ke 3 orang wanita itu.
“Kita pamit Land, sorry udah gangguin loe. Ayo Ndri kita cabut.” Siska mengajak teman-temannya untuk pergi dari apartemen Roland.
“Satu hal lagi yang perlu loe ingat Ndri, sampai gue tau loe bikin susah Manda lagi, jangan pernah salahin gue kalau video loe ah uh di gudang kesebar ke seluruh orang termasuk ortu loe.” Roland memberikan peringatan pada Indri.
Dengan air mata yang masih berderai, Indri pergi meninggalkan apartemen Roland bersama kedua sahabatnya.
Bersambung..