Setelah percakapannya dengan Taka semalam tak membuat pagi Yusa berbeda dari sebelumnya. Ia masih sibuk berjualan nasi pecel. Yang berbeda hanya sore harinya dia sudah tidak bekerja lagi di minimarket, karena penggantinya sudah ada dan dia sudah resmi keluar dari tempatnya mencari nafkah tersebut.
Ketika Yusa sedang membereskan gerobak untuk segera pulang, Riani datang menanyakan rencana Yusa yang akan bekerja di Surabaya. Yusa menjelaskan keadaannya dan meminta waktu seminggu lagi untuk menyelesaikan semua urusannya. Awalnya Riani keberatan, tapi melihat Yusa yang memohon membuatnya iba.
"Okelah, Sa. Ibuk bilangin ke orangnya biar sabar nunggu kamu, ya."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Bu Riani."
Riani pergi setelah urusannya dengan Yusa sudah selesai. Tak lupa Yusa membawakan beberapa bungkus peyek sebagai tanda permintaan maafnya pada Riani. Jika saja nasi pecelnya masih ada, pasti itu yang akan diberikan.
Yusa segera pulang ke rumah usai membereskan tempat jualannya. Sampai di rumah, ia tak terlalu banyak bicara, bahkan lebih diam dari biasanya, menjawab juga seperlunya.
Usai melaksanakan salat Dzuhur, Yusa pamit untuk pergi keluar sebentar. Ia tak mengatakan akan pergi ke mana, tapi dari pakaiannya cukup rapi. Sumi sempat mendesak, tapi Yusa memilih untuk tak memberitahu dan pergi begitu saja.
Dengan memakai angkutan umum, Yusa tiba di depan sebuah gedung bank swasta. Ia harus meminta sedikit tambahan waktu lagi agar pihak bank tidak sampai menyita rumahnya. Beruntungnya Yusa mendapat kemudahan meskipun harus dengan mengisi surat pernyataan.
Karena banyak waktu yang dihabiskan di bank, Yusa tiba di rumah cukup sore. Ia pun dikejutkan dengan hadirnya Taka dan Cahyadi yang mengenakan batik rapi sedang duduk di ruang tamu bersama sumi. Yusa sudah menduga kedatangan mereka.
"Assalamu'alaikum," sapa Yusa seraya masuk ke dalam rumah. Ia menyapa tamunya dengan senyuman kemudian mencium tangan ibunya seraya duduk di samping.
"Wa'alaikumsalam."
"Pak Cahyadi dan Nak Taka datang kemari, secara resmi mau melamar kamu, Nduk." Wajah Sumi terlihat bahagia. "Kamu sudah memikirkannya?"
Yusa mengangguk, "sudah, Buk."
"Bagaimana jawaban kamu, Nduk?" tanya Cahyadi.
"Izinkan saya bertanya ke Bapak dulu ya, Pak." Yusa berdiri dan masuk ke kamar orang tuanya.
Yudi terlihat sudah menunggu putrinya di sana. Ia duduk bersandar di kepala kasur dengan matanya yang berkaca. Ia melambai, agar Yusa segera menghampirinya.
Yusa segera duduk di tepi kasur dan memegang tangan Bapaknya. "Yusa minta ijin terima lamaran Taka ya, Pak?" pintanya lirih. Sebab kamar Yudi bersebelahan dengan ruang tamu dan ia tak mau tamunya mendengar pembicaraannya.
"Jangan dipaksakan, Nduk. Bapak tahu ini bukan kemauan kamu." Yudi mengusap pipi putrinya. "Ini semua salah Bapak dan Ibuk. Kamu nggak perlu menanggung beban seperti ini."
Yusa menggeleng. "Yusa melakukan ini untuk diri Yusa sendiri, Pak. Minta do'anya agar segala urusan Yusa diperlancar. Yusa ingin sekali saja Bapak dan Ibuk bangga menyebut Yusa sebagai anak kalian."
Mendengar permintaan putrinya membuat hati Yudi terpukul. Ia menangis dan memeluk putrinya. "Maafkan Bapak, Nduk. Bapak bukan orang tua yang baik."
Tak terasa air mata Yusa meleleh mendengar permintaan maaf Bapaknya. Ia memeluk erat tubuh pria yang entah kapan terakhir kali ia rasakan pelukannya.
"Menikahlah, Nduk. Temukan kebahagianmu sendiri," ucap Yudi setelah puas memeluk putrinya.
"Meski kelak kita berjarak, Yusa akan tetap berbakti pada Bapak dan Ibuk."
Yudi mengangguk. "Keluarlah, berikan jawabanmu pada mereka."
Yusa mengangguk kemudian kembali ke ruang tamu. Meskipun sudah mengusap bekas air matanya, siapapun masih bisa melihat jika wanita itu baru saja menangis. Ia duduk kembali di samping Ibunya.
"Kok nangis, Nduk? Bapakmu nggak ngasih ijin?" tanya Sumi resah.
Yusa menggeleng pelan.
"Terus, gimana?"
Yusa menatap Cahyadi dan Taka bergantian. "Bismillahirrahmanirrahiim, dengan nama Allah dan atas izin dari Bapak, saya menerima lamaran ini."
"Alhamdulillaaah ...," sahut tiga orang dihadapan Yusa tersebut.
"Tapi bolehkah saya minta sesuatu, Pak?" pinta Yusa pada Cahyadi dan segera mendapat anggukan. "Saya ingin menikah dalam minggu ini dan saya tidak mau ada resepsi besar-besaran. Cukup akad nikah dan mengundang tetangga saja."
"Kenapa, Nduk?"
"Iya, Nduk. Kenapa nggak mau, sih?" tanya Sumi juga.
"Yusa nggak suka keramaian, Yah. Dia bukan wanita yang suka tampil di depan umum. Pasti tidak nyaman jika dia berdiri di pelaminan dan menjadi pusat perhatian," jelas Taka.
Yusa tersenyum kecil, "terima kasih, Ka," ucapnya.
"Yang penting sah aja udah cukup, Yah," imbuh Taka.
"Baiklah kalau memang kemauan kalian seperti itu."
*
Dua telapak tangan milik wanita berkebaya putih nan anggun tengah menengadah mengaamiinkan tiap do'a yang dilafalkan penguhulu usai para saksi pernikahan mengesahkan ijab kabul yang baru diikrarkan Taka.
"Monggo, mempelai wanitanya bisa diajak kemari."
Mendengar permintaan penghulu membuat Yusa menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berdiri dibantu Ibunya.
Para undangan yang sedang berkumpul di ruang tamu bahkan sampai di halaman rumah dibuat terpana ketika melihat wanita berkebaya putih dengan kain jarik bercorak coklat yang membungkus kakinya. Ia berjalan pelan diapit oleh Ibu dan adiknya menuju ke meja tempat Taka mengikrarkan janji suci.
Kerudung yang biasa dikenakan Yusa selalu polos, kini berhias mahkota dan rangkaian bunga melati, menggantung dari kepala hingga ke bawah d**a. Harum khas pengantin semerbak di tiap langkahnya. Wajah lusuhnya tak terlihat kali ini karena sentuhan make up perias pengantin membingkai wajah.
Yusa memang tak cantik, tapi dia sangat manis dan imut jika saja merawat diri. Buktinya, dengan sedikit sentuhan make up sederhana saja mampu membuat orang lain terpana kagum, tak terkecuali pria yang sudah memiliki tanggung jawab besar atas dirinya.
Bukannya bangga karena banyak orang yang memandang kagum padanya, Yusa justru semakin tertunduk malu, terlebih lagi ketika ia duduk di samping Taka. Pria itu sama sekali tak mengulas senyum, tapi ia tak sedikitpun mengalihkan perhatian dari wanita bermata lentik, dengan pipi ranum, hidung sederhana, dan bibir tipis teroles lipstik merah yang segar.
"Bisa cium tangan suaminya, Mbak Yusa," ucapan penghulu membuat Yusa terkesiap.
Ia meraih tangan Taka dengan gugup dan menciumnya, sesaat kemudian tangan kiri pria itu menyentuh ubun-ubunnya.
"Perlu dibimbing untuk do'anya, Mas Taka?" tanya penghulu.
"Tidak perlu, Pak," tolak Taka dengan sopan. "Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha 'alaihi. Wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi."
Bukan hanya Yusa saja yang terkejut mendengar Taka mengucapkan do'a dengan lancar, orang lain pun ikut terperangah. Secara, Taka terkenal pria urakan yang dekat dengan dunia malam. Bahkan beberapa anak muda yang baik-baik saja harus mendapat bimbingan penghulu dalam melafazkan do'a tersebut.
Sebelum menutup acara akad nikah, penghulu memberikan sedikit nasehat untuk pengantin baru dalam menjalani rumah tangga. Barulah kemudian acara syukuran kecil yang dihadiri saudara, para tetangga dan teman-teman Taka itu dimulai.
Halaman rumah sampai sebagian jalan di depan rumah Yusa tertutup tenda. Bangku-bangku plastik berjajar rapi diisi tamu undangan sambil menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah. Tidak ada kursi pelaminan di sana. Yudi dan Cahyadi hanya bisa duduk melihat tamu yang datang. Yusa, Taka dan Sumi berpencar menyambut tamu-tamu undangan. Sedangkan Risa sibuk dengan ponselnya di dalam rumah.
"Ayo, Sa!"
Yusa dibuat terkejut dengan Taka yang tiba-tiba ada di sampingnya. "Kemana?" tanya Yusa.
"Ada teman-temanku yang belum kenal kamu."
Yusa menggeleng cepat. "Aku di sini aja, Ka."
"Kenapa?"
"Aku nggak mau bikin kamu malu."
Taka menghela napas panjang, menatap wanita itu sejenak kemudian membungkuk dan berbisik pelan di telinga Yusa. "Kamu yang paling cantik di sini, Sa."
Bisikan Taka membuat jantungnya berdebar lebih cepat, terlebih lagi ketika pria itu menatapnya lembut dengan mengulas senyum tipis. Belum sempat ia mengendalikan diri, Yusa dibuat terkejut ketika Taka menggenggam tangannya dan mengajaknya pergi menuju ke gerombolan pemuda yang belum pernah ditemuinya.
"Kenalin, istriku. Niyusa Bina."
Lagi-lagi Yusa terperangah melihat cara Taka memperkenalkan dirinya dengan bangga.
"Saya Yusa, salam kenal." Yusa menyapa satu per satu teman Taka, tentunya tanpa bersentuhan.
"Gila! Gimana bisa kau yang seperti ini dapat istri sholeha?" goda salah satu temannya.
"Rejeki!" jawab Taka sumringah sambil menatap Yusa.
Melihat itu membuat Yusa ikut tersenyum. Ia tak menyangka Taka bisa memperlakukannya dengan sangat baik di depan teman-temannya. Padahal sebelumnya ia berpikir pasti Taka akan malu memperkenalkannya pada orang lain. Tapi ternyata kali ini berbeda. Apa mungkin karena kali ini dia memakai make up hingga Taka tak malu bersanding dengannya?
Entahlah ....