11

1003 Kata
Tempat jualan Yusa sudah bersih. Meja lipat dan kursi-kursi plastik juga sudah tersimpan rapi di tempat penyimpanan barang untuk para pedagang di sana. Setelah memastikan semua barang-barang yang dibawa pulang tak ada yang tertinggal, Taka mendorong gerobak dan pulang mengantar Yusa. Lagi-lagi dalam perjalanan pulang ada pembicaraan di antara mereka. Yusa sibuk dengan segala pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Mata bening itu tak berhenti memandangi punggung pria yang sedang mendorong gerobak di depannya. Mencoba menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran Taka sampai dia punya niat menikahinya? Yusa tidak menyangkal jika salah satu alasannya ingin pergi bekerja di Surabaya karena ingin keluar dari rumah itu. Ada perasaan lelah melakukan rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Berputar-putar di labirin yang sama juga membuatnya frustrasi dan kehilangan jati diri. Karena terlalu sibuk mengurusi keluarga, membuatnya lebih mengenal orang lain dibanding dirinya sendiri. Hal yang lucu bukan? Lamunan Yusa terhenti ketika Taka sudah menempatkan gerobak nasi pecel di halaman rumahnya. "Makasih, Ka," ucapnya. Pria itu mengangguk. "Pastikan kamu memikirkan baik-baik tawaranku tadi," ujar Taka. "Assalamu'alaikum," pamitnya. "Wa'alaikumsalam," sahut Yusa. Ia hanya menatap kepergian Taka dari halaman rumahnya. "Saya memahami atas musibah yang menimpa suami Anda, Bu. Tapi ini sudah terlambat delapan bulan. Harusnya kami sudah melakukan penyitaan di bulan keempat, Bu." "Tolong, Mbak ... kasih kami waktu lagi." Yusa mendengar suara ibunya seperti terisak. Ia melihat ada dua sepatu di teras rumahnya. Sedang ada tamu penting di dalam. Ia bergegas masuk untuk mengetahui siapa yang sudah membuat ibunya menangis. "Assalamu'alaikum," sapanya ketika memasuki rumah. "Wa'alaikumussalam," sahut dua orang tamu dan Sumi yang ada di ruang tamu. "Ibuk kenapa?" Yusa segera duduk di samping ibunya. "Ada apa ya ini, Mas, Mbak?" tanya Yusa pada dua orang berpakaian rapi dengan sebuah bordiran nama bank di bagian d**a kemeja mereka. Salah seorang dari mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan mengenai keterlambatan pembayaran angsuran Sumi yang sudah delapan bulan tidak dibayar. Mereka datang untuk memberikan surat peringatan jika tidak dibayarkan, mereka akan melakukan penyitaan jaminan. Dalam hal ini, rumah mereka yang menjadi jaminannya. "Kenapa bisa sampai nggak kebayar, Buk? Sampai delapan bulan?" protes Yusa pada Ibunya. "Banyak yang harus Ibuk bayar, Nduk. Keuangan kita nggak cukup. Ibuk harus putar semuanya biar kita semua tetep bisa hidup sampai sekarang," jelas Sumi dengan isak tangisnya. "Uang dari Risa?" tanya Yusa. Sumi menggeleng, "nggak cukup, Nduk." "Ya Allah, Buk ... kenapa anak kesayangan Ibuk itu nggak bisa diandalkan di saat-saat seperti ini?" Sumi hanya diam saja, memang benar yang dikatakan Yusa. Risa memang tidak bisa diandalkan. Ia terlalu menaruh harapan lebih pada putrinya tersebut. Dengan memanjakannya, ia berharap mendapatkan balas budi. Tapi ternyata ia tak mendapatkan hal itu, justru ia lebih banyak mendapatkan kekecewaan. "Berapa yang harus dibayarkan, Mbak, Mas?" tanya Yusa. "Silahkan." "Subhanallah! Sebesar ini?" pekik Yusa. Ia menatap marah Ibunya, "dari mana kita dapat uang sebanyak ini, Buk?" "Dibayarkan yang lima bulan dulu juga bisa, Mbak. Nggak harus dilunasi sekarang." "Tetap saja ini berat untuk kami," keluh Yusa. "Tolong beri waktu kami, Mbak, Mas." "Kami sudah memberikan banyak waktu untuk ini, Mbak." "Saya kabari besok. Kami harus merembukkan hal ini. Saya mohon," pinta Yusa. Dua petugas bank tersebut berdiskusi sejenak sebelum akhirnya menyetujui permintaan Yusa, dengan syarat jika mereka benar-benar memberikan sebuah kepastian besok. * Sepulang Risa dari kantor, Sumi mengajaknya berkumpul di kamar bersama Yudi dan Yusa yang sebelumnya sudah membahas permasalahan hutang tadi siang. Seperti biasa, Risa selalu bersikap egois dan tidak mau tau urusan orang lain. Bukannya memberi solusi, wanita itu hanya marah-marah dan menyalahkan ibunya karena tidak bisa mengatur uang yang sudah diberikan tiap bulan. "Kamu tuh cuma ngasih Ibuk berapa sih, Ri? Uang Bapak dan Ibuk aja nggak cukup buat bayar hutang. Harusnya kamu yang punya penghasilan lebih besar juga kasih uang lebih buat orang tua kita!" sentak Yusa. "Heh! Kalo mau ceramahin orang, ngaca dulu! Nggak nyadar apa kalau uang yang kuberi ke Ibuk lebih gedhe dari gajimu!" balas Risa lebih garang. "Nyadar, Sa! Suaramu tuh nggak guna di sini. Diem aja! Kalau nggak bisa kasih solusi, jangan malah bikin pusing!" imbuhnya. "Kita semua di sini cari solusi, Ri!" sahut Yusa. "Pinjam bosmu saja gimana, Nduk?" tanya Yudi. "Mana bisa, Pak! Bentar lagi aku pindah, mana bisa dikasih pinjaman," jawab Risa, "udahlah, pinjem orang lain aja. Yusa tuh manfaatin. Biar ada gunanya di rumah ini!" "Maksudmu apa, Ri?" protes Yusa yang mulai terpancing emosinya. "Ups!" Risa menatap remeh kakaknya, "mau dijual juga nggak laku yang beginian!" PLAK! "Gila kamu, Sa!" sentak Risa marah karena tamparan Yusa padanya. "Kamu yang gila, Ri! Mulutmu itu terbuat dari apa! Aku ini kakakmu, Ri! Nggak pernah sekalipun kamu ngehormatin aku!" "Mimpi aja, Sa! Siapa juga yang mau hormat padamu! Kalau kamu udah lebih kaya, lebih sukses dari aku! Baru tuh kucium tanganmu!" "Oke! Aku akan jadi lebih sukses dari kamu dan pastikan kamu hormat di depanku saat itu!" teriak Yusa penuh emosi. Ia berlari meninggalkan kamar orang tuanya dan pergi ke kamar mandi. Hatinya sakit sekali mendengar perkataan Risa, kemarahan membuat tubuhnya sampai panas dingin tak karuan. Ia tak mau setan menertawakannya, ia segera mengambil wudu dan sholat sunah dua rakaat di kamar untuk menenangkan diri. Istighfar diucapkannya beratus bahkan ribuan kali untuk membuang kekesalannya, tapi tetap saja amarah masih menyelimuti benaknya hingga akhirnya ia tak kuat menahannya dan melampiaskan dengan tangisnya. Mencurahkan isi hatinya pada sang pemilik kehidupan. Tiba-tiba saja tangisnya terhenti ketika mendengar pintu pagar rumah di sebelahnya terbuka. Tanpa melepas mukenah, ia berlari keluar kamar. Semua lampu sudah mati, pintu kamar orang tuanya sudah tertutup karena jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Yusa tak memedulikan keluarganya yang mungkin sudah beristirahat itu terganggu dengan langkah kakinya yang terburu-buru berlari keluar rumah. "Taka!" Dengan menjinjing bawahan mukenahnya, ia berlari menghampiri Taka yang baru mengeluarkan motornya. Pria itu tak menjawab, hanya menatap heran melihat penampilan Yusa. "Tolong bantu aku," pintanya. "Oke!" jawab Taka tanpa basa basi. "Kamu tahu maksudku?" Taka mengangguk. "Aku akan segera mengajakmu keluar dari sana." Mendengar kalimat Taka membuat matanya berair. Cairan bening mulai meleleh membasahi pipi. Ada rasa haru dan juga sedih yang menyelimuti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN