10

1154 Kata
"Iya, Mas Bob,” jawab Yusa. Itu Boby, teman satu geng Taka yang 'katanya' punya perasaan pada Yusa. Boby berkulit lebih gelap namun senyumnya terbilang manis dengan dua lesung pipit di kedua pipinya. Namun untuk penampilan, memang Taka yang paling menarik di antara teman-temannya. "Mari, Mas," pamit Yusa seraya mengayuh pedal sepedanya. "Sa!" Yusa menghentikan kayuhannya dan menoleh ke belakang. "Ya, Mas?" "Ada waktu buat ngobrol?" tanya Boby. Yusa menggeleng, "sudah malam, Mas. Aku harus segera pulang." Boby menghampiri Yusa. "Cuma sebentar, ada yang perlu aku omongin ke kamu." "Tin tin tin tin!" Suara berisik dari klakson motor di depan cukup mengganggu percakapan Yusa dan Boby. Mereka sama-sama memalingkan wajah ketika lampu motor itu menyorot. "Berisik banget sih, Ka!" sentak Boby ketika motor sport itu berhenti di depan mereka. "Sa! Dicari Ibukmu tuh! Aku baru mau jemput kamu ke pasar, ternyata udah di sini!" tutur Taka terburu-buru. "Kenapa, Ka?" Yusa ikut panik. "Nggak tau, buruan pulang, yuk!" ajak Taka. "Iya!" sahut Yusa, ia menatap Boby yang ada di sampingnya. "Mas Boby, kita bicara lain waktu ya. Aku pamit dulu, Assalamu'alaikum!" pamitnya kemudian melanjutkan kayuhan pedal sepedanya. "Bob! Aku duluan, ya!" pamit Taka. Boby hanya melambaikan tangannya, menatap hambar dua orang tersebut pergi. Taka mengendarai motornya tepat di belakang Yusa. Membuat wanita berhijab itu bisa melihat bayangannya sendiri di depan karena sorot lampu dari motor di belakangnya. "Pelan-pelan, Sa." Taka memperingatkan. "Takut kenapa-kenapa sama Bapakku!" "Aku cuma bohong," teriak Taka. Sedetik kemudian ia harus menarik tuas rem dan kopling karena sepeda di depannya berhenti mendadak. Wanita itu menoleh marah padanya. "Aku cuma bantuin kamu buat ngehindarin Boby." Taka beralasan. Yusa semakin kesal dan ia mengayuh kembali pedal sepedanya. Melihat hal itu, Tak menarik gas motornya dan segera menghadang wanita yang sedang marah itu. "Aku mau bicara denganmu, Sa!" katanya. Yusa menggeleng. "Ini mengenai lamaran itu." "Aku akan minta maaf pada Ayahmu karena sudah membuatnya salah paham." "Aku hanya ingin membantumu." Yusa mengernyit heran. "Kita harus bicara, Sa." Wanita itu berpikir sejenak. "Kita bicara besok, Ka." Taka mengangguk setuju. Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Taka menepikan motornya, membiarkan Yusa melanjutkan perjalanannya. * Sampai di rumah, Yusa lekas membongkar semua belanjaan dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak esok pagi. Seperti biasa, Sumi membantu sambil melihat televisi. "Terima saja lamarannya Taka, Nduk." Untuk kesekian kalinya Sumi membujuk putrinya. "Bapakmu sakit, nggak bisa kerja. Ibuk juga harus jaga Bapakmu. Risa habis ini ke Jakarta. Siapa yang mau nanggung beban keluarga ini?" lanjut Ibunya. "Yusa kan habis ini kerja di Surabaya, Buk. Pasti cukuplah buat kehidupan kita." "Gaji dan penghasilan Bapak sama Ibuk aja kurang buat bayar hutang, Nduk. Apalagi kalau nggak kerja gini. Bapakmu sekarang butuh pengobatan lebih. Pakai uang dari mana?" Sumi mengiba. "Ibuk kan punya anak emas yang punya segalanya? Kenapa nggak minta dia saja? Yusa yakin gajinya di Jakarta lebih dari cukup buat bayar hutang Bapak sama Ibuk. Nggak harus pake cara pernikahan gini, Buk!" sungut Yusa. "Kamu tahu sendiri bagaimana adikmu, Nduk." Yusa melempar kesal pisau pada talenan yang ada di depannya. "Kenapa waktu seneng, cuma Risa yang kalian agung-agungkan? Sedangkan kalau susah seperti ini selalu Yusa yang kena imbasnya?" sentaknya. "Karena cuma kamu yang bisa kami handalkan, Sa." "Yusa capek, Buk! Sekalipun Bapak dan Ibuk nggak pernah mikirin pendapat Yusa, nggak pernah mikirin perasaan Yusa. Yusa udah capek ngalah terus! Apalagi ini masalah pernikahan. Sesuatu hal yang sakral, Buk! Melibatkan Allah loh, Buk!" "Sudah, Buk. Jangan dipaksa terus. Kasihan anakmu." Yudi yang sedari tadi di kamar mendengarkan perdebatan antara istri dan anaknya ikut ambil suara. Yudi tak sekejam Sumi yang kehendaknya harus selalu dituruti. Setidaknya pria itu masih memikirkan perasaan putri sulungnya "Ya sudah! Terserah kamu saja! Jadi anak perhitungan banget sama orang tua! Nggak ada bakti-baktinya!" Sumi berdiri kesal dan meninggalkan Yusa dengan pekerjaannya. Wanita itu hanya bisa menangis dalam diam. Ia mengambil kembali pisau yang dilemparkannya tadi dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Nangis mulu!" ejek Risa yang tiba-tiba duduk di depannya. Jarang sekali dia duduk di karpet itu, karena di kamarnya sudah ada TV LED yang membuatnya betah tidak keluar dari tempat ternyamannya itu. Yusa menghapus air matanya, tak mau jika adiknya akan semakin mengejek dan menginjak-injaknya. "Udah, Sa. Nikah aja sama Taka. Nggak akan nyesel deh kamu sama dia," bujuk Risa. Ia mendekatkan ke telinga Yusa, "dia jago di ranjang. Nggak nyesel deh kamu," bisiknya. "Astaghfirullah! Gila kamu, Ri!" sentak Yusa. "Kamu sampai sejauh itu?" "Semua cowokku juga udah kucobain, Sa! Udik banget kalo pacaran nggak sampe ngerasain gituan." "Kamu sadar nggak sih sama yang kamu omongin? Dosa besar loh itu, Ri!" "Hadeeeeh ... keg gini nih yang bikin males ngomong sama kamu!" cibir Risa. "Udahlah, nikah aja sama dia. Biar dia berhenti ngejar-ngejar aku terus!" "Pergi, Ri! Pergi!" sentak Yusa. * Hari pertama Yusa berjualan setelah dua hari libur sedikit berbeda, sebab pagi ini Taka ikut kembali membantu Nisa di sana. Tentu saja hal ini menarik beberapa pelanggan, terutama kaum hawa yang ingin menikmati kelebihan fisik yang ada pada diri Taka. Sebenarnya Yusa sangat berat pria itu ikut membantunya. Ia masih ingat jelas bagaimana Taka mempermainkannya beberapa waktu lalu dan itu membuatnya enggan untuk berhubungan dengan pria tersebut. Sinar mentari masih belum terlalu terik tapi nasi yang ada di dalam termos sudah habis terjual. Yusa memberikan nasi terakhirnya untuk dibuat sarapan Taka sebagai ucapan terima kasihnya. Sambil menunggu Taka menghabiskan sarapannya, Yusa membereskan semua tempat lauk pauknya hingga gerobaknya kembali bersih. "Apa yang mau kamu bicarain, Ka?" Yusa duduk di depan Taka yang baru menyelesaikan sarapannya. "Tentang pernikahan itu," jawab Taka, "aku ingin membantumu keluar dari rumah itu." Yusa mencoba memahami maksud Taka. "Aku tahu kamu pasti sudah sangat muak berada di sana. Karena itu, menikahlah denganku," lanjut Taka. Yusa menggelengkan kepalanya. "Kamu benar, aku sudah sangat lelah berada di sana. Tapi menikah bukan keinginanku, Ka. Aku ingin bekerja, aku ingin sukses dan membuktikan pada mereka yang selalu memandangku rendah. Aku punya banyak keinginan, Ka." "Aku menikahimu untuk membantumu, Sa. Bukan untuk membunuh impianmu." "Enggak, Ka. Aku nggak mau. Aku hanya akan menikahi laki-laki yang kucintai." "Kamu bisa melakukannya setelah kita berpisah." "Astaghfirullahal'adzim, Ka! Bahkan belum apa-apa kamu sudah berniat untuk berpisah?" "Kubilang aku menikahimu untuk membantumu," jelas Taka lagi, "ini juga untuk kesehatan Ayah, untuk Bapakmu juga. Pernikahan ini akan saling menguntungkan untuk semua orang," imbuhnya. "Pernikahan sesuatu yang sakral, Taka! Allah terlibat langsung dengan perjanjian ini! Kamu nggak bisa mempermainkannya!" sentak Yusa. "Aku tidak mempermainkannya, aku tidak mempunyai niat buruk dalam hal ini." "Tetap saja, Ka—" "Tetap saja apanya?" tantang Taka. Yusa diam sejenak. "Aku tidak mencintaimu," katanya kemudian. "Memang kamu nggak boleh mencintaiku." "Hah?" "Jangan pikirkan itu. Pikirkan saja tawaranku." "Aku tidak akan memikirkannya. Aku menolaknya. Aku tidak mau mengikuti permainanmu!" "Pikirkan saja dulu. Aku akan menunggumu," ujarnya seraya berdiri. Ia membuang kertas bungkus sebagai alas nasi dan mengembalikan piring yang terbuat dari anyaman bambu itu di dalam gerobak. Yusa tidak bisa memberi sanggahan lagi sebab pria itu mulai melepaskan ikatan-ikatan tenda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN