BAB 1: Efek Domino yang Rusak
Gema tawa bernada ejekan memenuhi ruang olahraga yang mulai lengang.
"Astaga... lihat seragamnya."
"Cocok juga ternyata."
Ciprat!
Air mineral dingin membasahi bahu Kang Ji-won hingga beberapa helai rambut pendeknya ikut menempel di pipi yang pucat. Botol plastik kosong itu menggelinding pelan di lantai, menimbulkan suara bising yang hampa.
Im Gyuri mengangkat kedua tangannya, berpura-pura terkejut dengan senyum meremehkan yang amat kentara. "Ups. Tanganku terpeleset."
Gelak tawa langsung pecah di antara kerumunan murid di sana.
Ji-won menatap genangan air yang menetes dari ujung lengan bajunya. Pikirannya melayang sesaat. Dulu... orang-orang yang sama ini selalu berebut untuk membawakan tasnya, menyanjung setiap potong pakaian yang ia kenakan. Sekarang? Mereka berebut menjadi orang pertama yang menginjak harga dirinya hingga lumat.
Tangan Ji-won perlahan mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Kalau berani..." suaranya rendah, sarat akan ancaman yang tertahan. "...lawan aku satu-satu."
Ruangan mendadak sunyi sepersekian detik. Atmosfer sempat menegang. Namun, sedetik kemudian...
"Hahaha!" Tawa mereka justru meledak semakin keras, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol tahun ini. "Ey, yahh...si Putri palsu ingin melawan kita."
Im Gyuri melangkah mendekat, mendengus sinis tepat di depan wajah Ji-won. "Melawanmu? Untuk apa? Kau bahkan bukan seorang 'Kang' yang asli. Kau sudah seperti anak pungut, parasit yang bisa saja ditendang kapan saja."
Kalimat itu menghantam d**a Ji-won lebih keras dan lebih menyakitkan daripada siraman air dingin tadi.
"Anak tertukar."
"Parasit."
"Pantas saja orang tuamu lebih memilih anak kandung mereka yang asli."
Bisikan-bisikan itu menusuk dari segala arah. Ji-won menatap lurus ke depan. Tubuhnya tidak bergerak, ia juga tidak membalas sepatah kata pun. Namun, urat di lehernya mulai menegang menahan amarah yang bergejolak.
Satu langkah. Dua langkah. Baru ketika ia hendak menerjang maju, dua siswa laki-laki dengan sigap lebih dulu menahan kedua lengannya dari belakang.
"Sudah."
"Jangan bikin masalah."
Sebuah dorongan keras dari depan membuat tubuh Ji-won kehilangan keseimbangan.
Bruk.
Ia jatuh berlutut di atas lantai semen yang dingin. Gelak tawa kembali memenuhi ruangan, mengiringi posisinya yang terhina.
"Kasihan."
"Tapi lucu juga."
"Ayo pulang, tidak ada gunanya meladeni dia lagi."
Satu per satu dari mereka pergi beriringan, meninggalkan ruang olahraga. Tak seorang pun dari mereka yang menoleh lagi ke belakang.
Ji-won tetap berlutut di sana untuk waktu yang cukup lama. Baru setelah suara langkah kaki terakhir benar-benar menghilang dan menyisakan kesunyian, ia mengembungsukan napas panjang. Pelan. Sangat pelan.
Ia berdiri. Seragamnya basah, lututnya kotor, dan harga dirinya... entah tertinggal di mana. Ji-won tidak menangis. Matanya justru memancarkan kilat dingin yang berbahaya.
Pintu kelas 11-A berderit pelan saat Ji-won mendorongnya dari luar.
Kosong. Sunyi. Hanya cahaya matahari sore berwarna jingga kemerahan yang masuk menembus celah jendela, memberi kesan temaram di dalam ruangan. Ji-won melangkah masuk, berniat menuju mejanya untuk mengambil tas dan segera pergi dari sekolah terkutuk ini.
Baru dua langkah kakinya berayun, ia mendadak berhenti. Atensinya tertuju pada sudut paling belakang kelas. Ada seseorang di sana.
Sesosok tubuh perempuan terbaring miring di samping kursi, terkapar di atas lantai. Rambut hitamnya yang panjang berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang menghadap ke bawah. Tas sekolah milik gadis itu masih menggantung dengan tenang di sandaran kursi, kontras dengan kondisi pemiliknya.
Itu Shen YuXi. Anak beasiswa yang dikenal selalu menyendiri di kelas bagai hantu.
Jantung Ji-won berdegup sedikit lebih cepat. "...Shen YuXi?" Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam keheningan kelas.
Ji-won melangkah mendekat. Semakin dekat ia melangkah, semakin terasa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres. Kulit gadis itu terlalu pucat—bahkan cenderung membiru—dan tubuhnya terlalu diam. Tidak ada pergerakan naik-turun di dadanya.
Ji-won berjongkok di samping tubuh itu. Dengan ragu, ia mengulurkan tangannya yang gemetar. Baru saja ujung jarinya hampir menyentuh bahu seragam gadis itu...
"UHUKK!!UHUK UHUK!"
Ji-won langsung melompat mundur saking terkejutnya hingga hampir terjungkir ke belakang. Dia terpekik spontan dengan mata membelalak.
Gadis yang tadinya terkapar tanpa tanda-tanda kehidupan itu tiba-tiba tersedak keras, bangkit dengan dadanya membusung ke atas seolah baru saja dipompa paksa oleh udara. Matanya terbuka lebar, melotot menatap langit-langit kelas dengan napas yang memburu brutal.
"A-Apa...?" Ji-won membeku, memegangi dadanya yang berdegup kencang karena syok.
Sementara itu, gadis yang kini menduduki tubuh Shen YuXi—yang sebenarnya adalah jiwa Seo Ara—langsung memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Pikirannya luar biasa rancu. Memori terakhirnya adalah begadang semalaman di kamar kostnya yang sempit demi menyelesaikan tugas akhir kuliah yang menumpuk.
Maka, alih-alih bertanya di mana dirinya berada, kalimat pertama yang keluar dari bibir pucat gadis itu adalah—
"Deadline..." gumamnya dengan suara serak.
Ji-won yang masih memegangi dadanya karena syok hanya bisa mengerutkan dahi dalam-dalam. "...?"
Tanpa memedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, gadis itu—yang sebenarnya adalah jiwa Seo Ara—langsung duduk tegak dengan panik.
"Mana laptopku?!" serunya sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.
Sunyi. Tidak ada laptop Asus tua miliknya. Tidak ada tumpukan mi instan di sudut kamar kost. Lalu, Ara melihat kedua tangannya. Kecil, kurus, dan... mengenakan almamater sekolah elite?
Ara menatap meja kayu di dekatnya. Lalu menatap deretan bangku, loker, dan sebuah papan tulis pintar berukuran besar di depan ruangan.
"..."
"..."
"Kenapa... ada papan tulis?" Ara mengerutkan kening, menatap benda itu dengan tatapan dikhianati. "Ini di mana?"
Detik itu juga, kepanikan mulai mengambil alih akal sehatnya. Ara mulai berkomat-kamit sendiri dengan ritme bicara yang sangat cepat dan ngaco. "Oke, tenang. Tarik napas, embuskan. Mungkin aku lagi mimpi. Iya, pasti gara-gara ketiduran di depan laptop. Kalau mimpi berarti tinggal bangun, kan? Gampang."
Plak!
Ara menampar pipinya sendiri dengan cukup keras menggunakan telapak tangan kecilnya. "Aduh!" Ia meringis, memegangi pipinya yang seketika memerah. "Hmm... sakit."
"..."
"..."
"Berarti ini bukan mimpi." Ara menatap kosong ke lantai, mulai menyadari ada sesuatu yang sangat, sangat salah dengan takdir hidupnya.
Sementara itu, Ji-won yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa memperhatikan seluruh adegan absurd itu dengan tatapan datar dan penuh penilaian. Sudut bibirnya berkedut samar. Dia mendadak lupa dengan rasa sedih atau dendam akibat kejadian di ruang olahraga tadi.
Pikiran Ji-won saat ini hanya satu: Kenapa dengan gadis aneh ini? Apa dia memang sudah gila?
Gadis pendiam, ringkih, dan penyakitan yang biasanya nyaris tak pernah bersuara itu kini tampak berubah atau dia memang seperti ini? Ji-won tidak tahu, dia tidak mengenal gadis in secara dekat. Tetapi, "Shen YuXi" yang baru bangun dari pingsan dan langsung sibuk meratapi hilangnya laptop, tatapan anehnya pada eksistensi ruangan kelas tampak sangat konyol. Ada apa dengan otaknya?
Di bawah temaram matahari sore yang mulai tenggelam, sebuah poros takdir baru baru saja berputar, menarik dua gadis dari dunia yang berbeda ke dalam satu orbit yang sama.