bc

ANGKASA

book_age16+
434
IKUTI
1.3K
BACA
others
drama
tragedy
sweet
humorous
heavy
lighthearted
serious
mystery
scary
like
intro-logo
Uraian

"Dunia itu kelabu, jadi buat lah banyak pelangi dalam hidup mu." -Kasa.

"Nggak usah takut sama hujan, apalagi sama petir. Yakin aja kalo setelah Hujan terderas, selalu akan ada pelangi yang terbaik." -Rea.

"Tolong lihat gue, Rea. Abaikan dia sebentar, gue yakin itu nggak akan lama. Genggam tangan gue, yakinkan bahwa lo adalah jodoh gue. Bisa?"- Ken.

#

chap-preview
Pratinjau gratis
Dia, Kasa
"Dan mengenalmu, adalah cara terindah dalam sejarah." ~Rea ••• "Aku kangen Papa!" "Papa.. kenapa Allah minta Papa tinggal ditanah? Papa orang baik 'kan? Allah nggak marah sama Papa 'kan?" "Papa.. Rea mau Papa disini." Oh, jadi nama nya Rea? Kasa memangut-mangut di posisi duduk nya, sembari memainkan telunjuk nya ke tongkat yang sedari tadi tergeletak di dekat duduk nya layak nya orang dewasa. Kasa menyimpan benda persegi yang selalu menemani nya itu ke kantong celana nya, sebuah Radio berukuran mini yang merupakan hadiah ulang tahun nya yang ke lima. Nama nya Angkasa, bocah laki-laki berumur enam tahun yang menggantung kan segala nya pada sebuah tongkat panjang di dekat nya itu. Tongkat yang menunjukkan nya sebuah arah, selain dengan indera Pendengaran nya yang tajam. Panggil saja bocah itu Kasa, seperti sang Bunda memanggil nya. Kasa adalah anak laki-laki yang terpilih untuk mendapatkan anugerah hebat ini, dia seorang Tunanetra. Untuk seukuran anak seperti nya, Kasa cenderung lebih dewasa. Berbeda dengan anak sebaya nya tidak membuat dia tumbuh menjadi anak pesimis dan pendiam, bahkan dia cenderung ceria dan ramah. Walau ada yang mengatakan bahwa; 'Seseorang yang mudah tertawa, adalah dia yang selalu terluka.' Kasa suka jalan-jalan, berpergian dan tidak suka mendekam di rumah. Tempat favorit nya adalah taman ini dan di waktu yang sama, Sore. Walau Kirana, Bunda Kasa sendiri memang cukup sibuk menemani Putera semata wayang nya untuk sekedar keluar rumah. Sebagai ganti nya, Kirana menitipkan Kasa ke seorang wanita tua yang sudah lama mengabdi di keluarga nya. Wanita tua yang disapa akrab dengan panggilan Mbok Inah, yang sudah terpercaya dan kenal dekat dengan Kirana. Seperti biasa, Mbok Inah mengantarkan Kasa ke taman ini untuk membiarkan Kasa bermain-Ralat, Duduk lama di sebuah kursi tanpa melakukan apapun selain mendengarkan musik dari radio kecil nya. Mbok Inah sendiri juga heran dengan yang dilakukan Kasa, duduk diam dan menunggu sampai ia mendengar suara deru mobil yang sudah ia kenali ... Mobil Kirana. Yang Mbok Inah tahu, Kasa ini ... Berbeda. Seperti memiliki kepribadian ganda, anak laki-laki itu sering terlihat ramah dan ceria. Namun dalam waktu yang bersamaan, Kasa adalah pribadi yang tempremental dan sentimen. "Kasa akan tumbuh menjadi laki-laki sehat, tetapi saya khawatir dengan pola pikirnya. Seiringnya waktu, Kasa akan menjadi sosok yang 'berbeda' karena terbiasa menganggap semua orang disekitarnya lebih sempurna." Kasa, anak laki-laki itu masih disana. Duduk tanpa melakukan apa-apa, sembari mendengarkan alunan musik dari radio kecilnya. Dan lagi, Mbok Inah dibuat nya takjub saat tersadar bahwa tuan muda nya ini memiliki indera pendengaran yang tajam. Terbukti saat Kasa selalu mengenali deru Mobil milik Kirana padahal di sekeliling nya, bising suara di taman tidak bisa terelakkan. Bahkan mbok Inah sendiri saja tidak bisa mendengar dengan jelas mesin mobil Kirana dengan bising suara seramai ini. Sore ini, keinginan Kasa untuk mendengar musik ditaman seperti biasa lenyap saat mendengar tangisan gadis kecil yang terdengar asing menurut nya. Bahkan, Kasa memilih untuk mematikan Radio nya dan terus mendengarkan tangisan asing itu. "Papaaaa!" Gadis kecil yang Kasa yakini bernama Rea itu menjerit, diantara keramaian taman. Dan, tidak ada kegaduhan lain seperti suara langkah kaki orang-orang menghampiri Gadis kecil itu untuk sekedar bersimpati. Begini lah jaman sekarang, tidak akan ada lagi manusia berhati baik. Mungkin hanya beberapa, dan itu pun sangat sulit ditemukan. Dan Kasa tahu siapa orang nya, dia adalah Kirana. Cahaya sore yang hangat membuat Kasa nyaman ditempat duduk nya. Dan untuk waktu yang lama, Kasa tidak mendengar lagi suara isakan Rea. Kemana dia? Kok nggak ada suara nya lagi? Dia udah pergi? Tanya Kasa dalam hati. "Hei," Deg. Tubuh Kasa menegang, dia refleks menggeser duduk nya dari sumber suara yang mengagetkan nya itu. Bukan, itu bukan suara Mbok Inah. Kasa masih bisa mendengar dengan jelas dari kejauhan Mbok Inah yang sedang mengobrol dengan pembantu sebelah rumah yang juga sedang mengasuh anak majikan nya di tempat ini. Suara yang ia dengar dari dekat itu sama persis seperti suara tangisan anak perempuan yang sempat ia dengar beberapa menit lalu. Tangan Kasa menggapai-gapai kearah sumber suara, lalu jemari nya menyentuh sesuatu yang lembut dan basah. Pipi seseorang. "Siapa ini?" Kasa terus menjelajahi wajah didepan nya dengan jari nya. "Aku." Suara imut itu keluar dari mulut pemilik wajah yang Kasa sentuh. Membuat Kasa menarik tangan nya dari wajah gadis kecil itu. "Rea," Nada nya masih terdengar sendu, seperti suara setelah menangis dalam waktu yang lama. Kasa terdiam, lalu tersenyum tipis. "Kamu yang nangis tadi ya?" "Kata Mama, Papa ku diambil Allah. Rea sedih," Suara itu mulai bergetar. Walau Kasa tidak bisa melihat, ia tahu bahwa Rea sedang menahan tangisan nya. Lah? Perasaan aku nggak nanya, pikir Kasa bingung. Namun pikiran itu ditepis nya oleh Kasa cepat, dia menjadi Iba dengan gadis kecil didepan nya. "Papa kamu pasti orang baik. Jadi dia pasti di surga, tenang aja." Kata Kasa dengan pandangan lurus, tanpa menatap kearah Rea. "Kamu ... Nggak bisa lihat ya?" Tanya Rea ragu, tanpa menggubris kata-kata Kasa sebelumnya. Kasa malah tertawa renyah. "Baru tahu ya?" "Allah ngambil mata kamu, dan kamu nggak marah?" "Marahlah, marah banget malah." Namun intonasi yang Kasa ucapkan bukanlah seperti orang marah kebanyakan. Kasa malah tertawa kecil, memperlihatkan sederet giginya yang rapi. "tapi kalo marah terus 'kan capek. Bundaku bilang, aku enggak boleh marah-marah, nanti sakit. Lagipula Allah enggak bakal ngembaliin pengelihatan aku kalau aku tetep marah." Kirana sudah tahu dengan kondisi Kasa. Anak kecil berambut lurus berantakan itu tidak boleh dibiarkan marah. Menurut psikiater yang menanganinya, Kasa seringkali kalah dengan emosinya sendiri. Kasa kecewa kepada Tuhan karena membuatnya tidak seberuntung manusia lain. Rasa kecewa itu dipendamnya sedalam mungkin, hanya karena tidak ingin membuat Kirana sedih. Namun kekecewaan yang sudah terbiasa dipendamnya sendirian itu telah membentuk karakter baru Kasa, dia seringkali dikendalikan oleh emosinya sendiri. "Aku bukannya enggak mau marah, tapi aku enggak boleh sama bunda." cicit Kasa, nadanya merendah. Pertanyaan Kasa membuat Rea tercengang, tidak bisa berkata apa-apa. Dia akhir nya duduk dengan nyaman disamping Kasa, diam-diam mengamati wajah tampan Kasa. Sebenarnya Rea tidak mengerti maksud Kasa, namun yang ia tahu-- Kasa adalah anak yang cerdas. Mengingat setiap lisan yang keluar dari bibir mungil itu selalu terdengar berat penuh arti. "Nama kamu siapa?" Tanya Rea tanpa mengalihkan mata nya dari wajah Kasa. "Kasa." jawab Kasa singkat, tersenyum lebar. "Kasa, apa yang Kasa lihat sekarang?" Untuk kedua kali nya, Kasa tertawa kecil. "Kamu lupa ya kalo aku buta?" "Buta itu apa?" "Buta itu nggak bisa lihat." "Aku nggak lupa kalo Kasa nggak bisa lihat, aku cuman tanya apa yang Kasa lihat sekarang." Rea mengulang pertanyaannya, penasaran. "Nggak ada." "Nggak ada?" Rea mengulang jawaban Kasa masih bingung. "Yang aku lihat cuman tempat yang luas, gelap. Di tempat itu, aku boleh berimajinasi tentang banyak keindahan dunia. Aku bisa bikin banyak warna-warna di tempat itu. Ada pelangi nya! Cantik banget." Kasa sedikit memiringkan kepalanya, tersenyum menerawang. Tidak ada jawaban dari Rea. Hal itu membuat Kasa mengernyitkan dahi, mengira bahwa Rea sudah pergi. Namun suara detak jantung Rea masih terdengar jelas, suara detak yang sama seperti irama jantung Kirana. Kasa tidak mau menyimpulkan sesuatu tentang suara detak jantung Rea, namun yang ia tahu; Rea adalah salah satu orang yang peduli padanya seperti Kirana. "Yah ... Itu anak udah pergi kali, ya?" gumam Kasa pelan. "Aku masih disini, kok." Kasa sedikit kaget mendengar suara Rea yang sepertinya sangat dekat dengannya, lebih dekat dari posisi duduknya yang tadi. "Ye ... Maka nya kamu jangan diem aja." Sebuah tepukan kecil di bahu Kasa membuat Kasa sedikit terjengkit. Ia tidak terbiasa disentuh oleh orang asing yang selain Kirana, meski sebatas sentuhan kecil. Tubuhnya terlalu menanggapi efek sentuhan itu berlebihan, Kasa sampai bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang terasa memompa darah lebih cepat dari biasanya. "Kasa hebat ya. Aku jadi semangat lagi!" "Aku hebat kenapa?" Tanya Kasa dengan kekehan khas nya, hingga gigi geraham mungil nya terlihat. "Yaa ... Nggak tau, deh. Hebat aja!" "Kamu sayang Papa kamu?" "Iya, dong! Sayaaang banget. Kenapa?" Kasa menjentikan jari nya, "Kalo gitu kamu nggak boleh nangis supaya Papa kamu disurga nggak sedih lihat kamu nangis." "Emang nya Papa bakal tahu ya?" tanya Rea lugu. "Iya, katanya Bundaku." Rea mengangguk mantap. "Aku nggak mau nangis lagi!" "Bagus." Kasa menunjukkan Ibu jarinya kanannya kearah lurus, padahal Rea sedang duduk disampingnya. Bukannya Kasa tidak tahu, tetapi sepertinya percuma saja ia mengacungkan Ibu jarinya kearah manapun. Pada dasarnya, Kasa tetap tidak bisa melihat. Kasa masih ada diruangan yang gelap. "Kasa pintar banget ya! Pasti Mamanya Kasa bangga-- Eh, Bundanya Kasa maksud aku." Kasa tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum tipis memamerkan gigi-gigi nya kearah lurus. Suara deruman Mesin Mobil yang sudah tidak asing lagi bagi pendengaran Kasa membuat Anak laki-laki itu menegaskan alis nya, berpikir. Kemudian, dia tersenyum lebar sembari memanjangkan tongkat nya yang ia pendek kan supaya ia bisa meletakan nya dengan mudah tadi. Untuk anak yang memiliki keterbatasan seperti nya, Kasa memang cukup gesit. Dia dengan cekatan berdiri dari kursi taman yang memang sedikit lebih tinggi bagi Kasa. Tidak lupa, dia menoleh kearah Rea duduk dengan senyuman yang tidak lepas dari wajah tampannya. "Rea, kayaknya Bundaku udah pulang. Aku mau pulang dulu, ya!" kata nya lembut. Rea masih terbengong-bengong, lalu menatap kearah sekelilingnya. Kedua mata bulatnya mengerjap, seolah sedang mencari-cari sesuatu. "Yang mana Bunda Kasa?" "Kamu nggak bakal taulah, 'kan Kamu nggak kenal." "Kasa mau aku anterin, nggak?" tanya Rea antusias, ia menggerakkan kedua kakinya yang belum sampai menyentuh tanah bergantian dengan irama semakin cepat penuh semangat. Kasa terpaku ditempatnya, napasnya tiba-tiba berubah menjadi pendek. Sudut bibirnya tertarik, menciptakan lengkungan miring. Ada nada kasihan yang ada disuara Rea, dan Kasa membenci itu. Ia mencengkram tongkatnya diam-diam, menggigit pipinya sendiri dari dalam. "Aku cuma buta, bukan lumpuh." "Ooh, aku enggak bilang begitu." Kasa menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menahan setitik emosi yang sempat muncul karena ucapan Rea barusan. Laki-laki kecil itu tersenyum, kali ini senyuman tulus. "Iya, aku tahu." Rea menatap Kasa lama, lalu tersenyum ringan. "Eh, udah jam segini. Aku pergi dulu ya, nanti ketinggalan Cilok yang lewat!" "Eh?" Kasa menggerakkan tongkat nya kearah kursi taman tadi, namun seperti nya Anak perempuan itu sudah lari duluan dan pergi. Kasa bermaksud ingin tahu dimana rumah Rea, entah lah kenapa ia ingin melakukan nya. Hanya saja Kasa seperti merasa nyaman berteman dengan Rea. Tiba-tiba, Mbok Inah sudah ada didekat nya dan menyentuh kedua bahu Kasa. "Den, Nyonya udah pulang tuh. Kok tumben nggak denger?" Tanya wanita itu lembut, dengan nada bertanya-tanya. Kasa tidak mengelak atau menjawab, walau sebenarnya ia sendiri sudah mendengar mesin mobil Kirana sebelum Mbok Inah tahu bahwa Kirana sudah pulang. Namun ia tidak ingin Mbok Inah menanyai nya alasan kenapa ia tidak langsung menemui Kirana seperti biasa. Kasa memang selalu berpikir sebelum bertindak, mirip seperti mendiang Ayahnya yang sudah meninggal. "Maaf, Mbok. Kasa keasyikan dengerin Musik," jawab Kasa akhirnya, berbohong. Mbok Inah mengangguk mengerti, "Yuk, pulang!" Kasa mengangguk tanpa menjawab. ••• Jemari Kasa menjelajah ke sampul buku yang didepan nya, dalam sekejap ia sudah tahu buku apa yang didepan nya. Itu adalah Buku pertama yang Kirana berikan untuk Kasa, saat Kasa baru pertama kali nya masuk ke SLB (Sekolah Luar Biasa) yang di peruntukan siswa/i berketerbatasan. Kasa sudah berkali-kali membaca buku berjudul 'Sunset' itu hingga bocah laki-laki itu sudah hapal diluar kepala bagaimana cerita didalam nya. Buku khusus untuk anak sepertinya, dengan huruf braille itu membuat dirinnya sama seperti anak seusianya. Bedanya, Kasa menggunakan indra peraba untuk membaca. "Kasa?" Suara itu, suara yang selalu menghangatkan dadanya. Kirana, sang Bunda berjalan mendekatinya dengan aroma parfume vanilla seperti biasa. Kasa menoleh kearah sumber suara, lalu tersenyum menyadari kehadiran Karina. Kasa menutup buku yang baru saja hendak ia buka, ia memutuskan untuk membalikkan badan kearah Kirana. "Bunda?" Jemari kecil Kasa menggapai-gapai kearah wajah Kirana, menyentuh ke kelopak mata Kirana lalu turun ke pipi Sang Bunda. "Bunda pasti capek?" "Setiap Bunda liat Kasa, Capek Bunda langsung ilang." Kata Kirana seraya menahan gerakan jemari Kasa yang lincah. "Bunda jangan terlalu capek, ya!" Tutur Kasa mengingatkan. Kirana tersenyum tipis. Wanita itu merasa beruntung memiliki Kasa, seorang anak laki-laki yang berbeda. Kasa memang tidak bisa melihat, namun bagi Kirana ... Kasa lebih dari istimewa. Untuk seukuran anak sebayanya, Kasa memang lebih tampak dewasa. "Kasa mau makan?" tanya Kirana lembut, sembari mengusap rambut tebal Kasa. Kasa mengangguk, "Iya, sama Bunda." "Eh, iya!" Kirana Menepuk dahinya pelan. "Bunda lupa belum masak nasi," "Mbok Inah nggak masak ya, Bunda?" "Iya, Mbok Inah udah pulang. Anak nya sakit," "Anaknya Mbok Inah sakit apa?" Tanya Kasa lagi. Itu lah Kasa, dia suka bertanya banyak tentang apapun. Meski kadang pertanyaan itu tidaklah amat penting. Karena itulah dia tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas. Menurut Kasa, dia sudah kehilangan kesempatan untuk membaca buku secara langsung menggunakan indera pengelihatannya. Kasa tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk bertanya, memperbanyak informasi yang belum ia ketahui. Sebelum Allah mengambil inderanya yang lain. Kirana menepuk bahu Kasa, "Kamu gak berubah ya? Suka nanya terus." Kasa nyengir. "Yuk, kamu tungguin bunda ke dapur. Bunda masakin Mie Instan sama telur mata sapi aja mau nggak?" Kasa berdiri, lalu meraih tongkatnya dan menarik pergelangan tangan Kirana semangat. "Ayo!" # tbc

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook