"Gue sakit,"
"Serius? Apa yang sakit? Sekarang masih sakit?"
"d**a gue sakit, sekarang masih."
"Ayo aku anter ke dokter, takut nya parah."
"Kejauhan, gue ajari bikin obat nya ya?"
"Lah.. Emang nya bisa? Gimana?"
"Cukup lo jangan pergi, tetap disini."
•
Jangan ketawa liat mulmed nya?
•••
"Jadi sekarang Rea lagi pergi sama Ken ya?" gumam Kasa pelan, bagai bisikan yang keluar dari bibir tipis nya.
Tubuh Kasa di hempaskan ke ranjang nya, Cowok itu melepaskan kacamata nya dan menyibakkan anak rambut yang sebagian menutupi wajah nya.
Mata cokelat bening yang indah.
Cowok itu tersenyum paksa, walau rasa nya ada yang menikam hati nya saat ini. Nafas nya terasa berat, setiap kali ia membayangkan sedang apa Rea bersama Ken disana.
Seharus nya, Kasa yang ada disamping Rea saat ini. Bukan nya Ken. Itu yang ada dikepala Kasa saat ini.
Gue suka sama Rea, iya nggak sih? Pikiran nya berputar-putar.
Tangan Kasa mengepal, memukul kepala nya kesal beberapa kali ketika ia kembali mengingat Rea. Tidak ada yang bisa Kasa lakukan, Cowok itu bahkan tidak tahu tempat dimana Rea dan Ken berada. Yang pasti, Ken mengajak Rea pagi-pagi tadi untuk sarapan keluar.
Semua Kasa dengar dengan jelas dari percakapan Desi dilantai bawah, ketika Kirana menanyakan perihal Rea yang tidak ikut serta. Mendengar nama Rea, telinga Kasa seolah melupakan suara-suara disekeliling nya.
Mungkin, Kasa benar-benar mencintai Rea.
"Apa Rea suka sama cowok itu?"
"Sejak kapan Rea deket sama cowok itu? Ken 'kan anak pindahan. Jangan-jangan satu sekolah."
Pertanyaan itu berputar di kepala nya, hingga rasa nya Kasa ingin sekali menghacurkan segala yang ada dikepala nya. d**a nya semakin sesak, Kasa bisa gila!
Cowok itu menghela napas, tangan nya terulur ke langit-langit kamar nya. "Iya lah, Jelas Rea milih Ken. Dia sempurna!"
Kasa bangkit, cowok itu terduduk di sisi ranjang dengan rambut acak-acakan. Sedari tadi, cowok itu terus memikirkan Rea.
"Allah ngambil mata kamu, dan kamu nggak marah?"
Sayup-sayup, telinga Kasa mendengar suara itu. Kasa menekan pelipis nya yang terasa menyakitkan, bayangan suara Rea tidak bisa berhenti berputar di kepala nya.
Bahkan semakin menusuk kepala nya, "Duh, gue ini kenapa lagi?"
Setiap mengingat nya, d**a Kasa semakin sesak. Nafas nya tidak teratur, apa ia akan mati secepat ini? Okey, Ini memang sedikit konyol. Tidak ada sejarah seseorang mati hanya karena mencintai terlalu dalam.
Terlalu dalam? Siapa yang suka Rea terlalu dalam? Gue? Iya, gue. Pikir Kasa.
Ceklek
Kasa menoleh kearah pintu, suara pintu dibuka membuat Kasa was-was dan segera meraba ranjang untuk mencari sesuatu. Sebuah kacamata hitam.
Bau minyak kemiri tercium jelas di hidung Kasa, jelas itu adalah Mbok Inah.
Kasa mengenakan kacamata hitam nya, ketika tangan nya berhasil menemukan benda itu ditengah ranjang. Kemudian terjadi pergerakan di ranjang samping nya, menandakan bahwa Mbok Inah duduk didekat nya.
"Maaf nggak ngetuk pintu dulu, Den.." ucap Mbok Inah, memecah kesunyian.
Kasa tidak mood bahkan untuk marah sekalipun. Padahal Kasa paling membenci seseorang yang masuk kedalam kamar nya tanpa mengetuk pintu atau izin. Tetapi hari ini, rasa nya tampak lain. Kasa malas melakukan pekerjaan apa-apa.
Mbok Inah menoleh kearah Kasa. Dari samping Kasa, Mbok Inah bisa melihat bahwa Kasa tengah memejamkan mata nya. Kacamata hitam Kasa menurun kebawah, nyaris ke ujung pangkal hidung nya.
"Den Kasa mikirin Neng Rea?"
Saat itu juga, Kasa membuka mata nya dengan d**a berdetak lebih kencang. Apa terlihat begitu kentara? Ken menghembuskan napas panjang, lalu mengacak rambut bagian depan nya pusing.
Mbok Inah terkekeh, lalu menghela napas nya.
"Nggak tau," Cicit Kasa pelan.
"Den Kasa ini mirip sama anak Mbok yang ada di kampung, ya?" kekeh nya.
Sedetik saja, Kasa mulai memfokuskan kedua telinga nya. Dahi cowok itu berkerut, "Hh?"
"Iya, anak laki-laki Mbok Inah seumuran sama kayak kamu. Dia.. Seorang Tunarungu, kenyataan pahit itu ngebuat anak Mbok Inah tertekan batin sampe bikin dia terjebak di emosional nya sendiri. Dia nggak punya teman, dia terlalu pesimis." Suara mbok Inah bergetar, diikuti sedikit isakan dari bibir keriput nya.
Tubuh Kasa menegang, ia bahkan baru tahu bahwa putera satu-satu nya Mbok Inah juga mengalami nasib yang sama dengan Kasa. Beda nya, Kasa sedikit lebih beruntung karena Kirana masih ada didekat nya walau nyata nya wanita itu cukup sibuk dengan pekerjaan kantor nya. Tetapi berbeda sekali dengan nasib anak Mbok Inah di kampung, yang ditinggal Mbok Inah untuk mencari nafkah.
"Suami Mbok Inah?" tanya Kasa, nada nya menurun.
"Suami Mbok Inah lumpuh total, dia dirawat sama keluarga nya. Putra, anak Mbok Inah dirumah Mbok Inah titipin ke tetangga. Ya, walau Mbok Inah harus ngasih transferan buat tetangga Mbok juga, sih. Tapi yang penting, Mbok Bisa sekolah in Putra di SLB." lanjut Mbok Inah, air mata wanita itu semakin deras setiap membayangkan wajah anak nya.
Kasa terkesiap, ia iba dengan apa yang telah terjadi dengan Mbok Inah. Ternyata diluaran sana, masih ada kehidupan yang lebih pahit dari diri nya. Tetapi Kasa selalu mengeluh dan mengadu, menganggap bahwa kehidupan nya paling menyedihkan didunia ini.
"Kenapa.. Anak Mbok Inah nggak sekalian dirawat sama keluarga Mbok Inah?"
Mbok Inah tersenyum tulus, "Mbok Inah ini sebatang kara, Mbok Inah nggak punya siapa-siapa. Keluarga Suami Mbok Inah nggak perduli sama Mbok Inah, mereka menyalahkan kelumpuhan Suami Mbok Inah ke Putra. Mereka menanggap, Suami Mbok Inah kecelakaan karena terlalu keras kerja buat Putra. Mereka akhir nya ambil Suami Mbok Inah paksa, dan ngucilin Mbok Inah sama Putra."
".. Mbok Inah akhir nya sendirian sama Putra?"
"Enggak, lah." Mbok Inah menggeleng, terkekeh. "Alhamdulillah, Mbok Inah nggak sendirian."
Kasa menghembuskan napas lega, "Alhamdulillah, Mbok. Kasa ikut lega,"
"Iya, Mbok Inah masih disini karena mbok Inah percaya kalo Allah selalu ada sama Mbok Inah, sama Putra."
Jawaban Mbok Inah membuat Kasa termangu, "..."
"Mbok Inah berdoa terus supaya Putra baik-baik aja, punya temen. Sampe akhir nya Putra bilang, kalo dia suka sama seorang gadis desa yang cantik banget. Nama nya Minah, dia kembang desa di kampung Si Mbok. Dia baik banget, ramah. Pokok nya sempurna banget. Putra bilang, Minah suka nemenin dia bahkan suka bawain makanan buat Putra."
Rea? Batin nya tiba-tiba teringat akan cewek itu. Gue kayak Putra, Rea kayak Minah.
"Apa.. Menurut Mbok inah, Minah juga suka sama Putra?"
Pertanyaan Kasa terdengar berbeda di telinga Mbok Inah dari apa yang Kasa katakan. Dari yang Kasa tanyakan, Mbok Inah hanya mendengar pertanyaan; Apa menurut Mbok Inah, Rea juga suka sama Kasa?
"Iya, Minah suka sama Putra. Tapi Putra terlalu sedikit pengecut buat bilang yang sejujur nya."
jawaban Mbok Inah seolah menampar Kasa, Cowok itu merasa bahwa jawaban Mbok Inah di tunjukan kepada nya.
"Lalu?"
"Ya akhir nya, dia menikah muda."
Kasa membelalak, tidak percaya. "Menikah?"
"Di kampung memang sudah lumrah menikah di usia muda." Ujar Mbok Inah.
Kasa memangut-mangut, tidak menyangka saja Putra bisa menikahi cewek yang ia suka dengan kekurangan nya. Ah, Kasa jadi sedikit iri dengan Putra. "Tapi kenapa bisa menikah?"
"Karena Putra udah terlambat. Dia nggak mau jujur sama Minah,"
"Hah?" Kasa mengernyitkan dahi, benar-benar bingung. "Gimana?"
"Minah menikah sama laki-laki lain, dan sekarang Putra masih nggak terima. Mental nya jadi sedikit terganggu,"
Kasa menelan saliva nya susah payah. Rasa nya ia takut hal yang terjadi dengan Putra, terjadi pada nya sendiri. Kasa tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Putra saat itu. Cowok itu masih terdiam, tidak bergerak sama sekali.
Apa Rea akan jadi milik Ken? Batin nya keras.
Melihat Kasa yang sibuk dengan lamunan nya, Mbok Inah menyeka air mata nya. Wanita yang mengenakan daster batik kecokelatan disamping Kasa mulai beranjak, membuat Kasa sadar akan pergerakan Mbok Inah.
Mbok Inah menyentuh bahu Kasa, mengelus nya pelan. "Aden Kasa itu udah Mbok Inah anggap anak sendiri. Mbok tau apa yang Den Kasa rasain sekarang, Mbok Inah nggak mau hal yang sama terjadi ke Aden."
Kini, Kasa tidak memiliki alasan lain untuk mengelak. Mbok Inah sudah tahu tentang apa yang Kasa rasakan saat ini.
"Neng Rea orang nya baik, cantik. Mbok pikir, Neng Rea juga suka sama Aden. Jangan dilepas, Den."
•••
"Jadi tadi lo beneran pergi sama dia?"
Rea mengangguk kan kepala nya, seraya menjilat es krim stroberi favorit nya lagi. Krim nya belepotan di ujung jemari nya, tetapi seperti nya Rea enggan perduli. Sesuatu ditangan Rea adalah prioritas bagi nya sekarang, dia masih belum sadar untuk apa Kasa menanyakan hal itu.
Kasa mencondongkan kepala nya kearah Rea ketika ia tidak mendengar jawaban atas pertanyaan nya. Yang ia dengar adalah suara aneh ketika Rea mengecap jemari nya yang terkena es-krim. Kasa jadi sedikit menyesal telah membelikan Rea es-krim tadi, cewek itu jadi mendiami nya hanya karena es krim yang tadi ia belikan di dekat taman.
"Lo ngomong apa?" tanya Kasa bingung.
Rea tertawa, ia mendorong kepala Kasa pelan dengan telunjuk nya. "Aku kan belum ngomong apa-apa,"
Kasa menegakkan tubuh nya lagi, lalu mengusap kepala nya yang terasa dingin dan lengket. "Eh, Ini apaan Monyet?!"
Kacamata hitam Kasa hampir melorot, ketika ia memekik tadi.
Rea melempar bungkus es krim nya yang sudah tandas, lalu menjilat ujung kelima jemari nya satu per satu. "Hahaha, lengket ya?"
"Jorok lo jadi cewek!" Kasa mengusap sisa krim di pelipis nya dengan punggung tangan kanan nya.
"Biarin!"
"Ini pasti jadi lengket, nih."
Tangan Rea terulur, mengusap pelipis Kasa dengan punggung tangan nya hingga membuat Kasa berhenti mengusap pelipis nya sendiri. Sudut bibir Kasa tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis.
Rea kemudian refleks menarik tangan nya ketika melihat senyuman Kasa. "Kenapa senyum-senyum?!"
"Lah? Emang kenapa? Gak boleh?"
"Pasti mikirin jorok, ya?" tuduh Rea.
"Emang siapa yang mau minta Kiss dari gue kemarin lusa?"
Pertanyaan itu langsung membuat pipi Rea bersemu merah. Cewek itu menyingkirkan sejumput rambut yang menghalangi wajah nya, menyelipkan ke belakang telinga.
"Ap--" belum sampai Rea mengelak, seseorang mengejutkan kedua nya.
"Sore.."
Rea menoleh kebelakang, ketika Ken menyentuh bahu nya dan Kasa. Cowok yang sedang mengenakan kaus polos berwarna biru gelap itu tertawa terkekeh, lalu berjalan mengitari kursi lalu duduk di samping Rea. Cewek itu menggeser duduk nya, agar Ken bisa mendapatkan tempat duduk juga.
Kasa tidak berkata apa-apa, ia hanya memutar bola mata nya dibalik kacamata hitam nya.
Sekarang ini, Rea duduk ditengah-tengah antara Ken dan Kasa.
"Nggak sakit perut?" Ledek Rea, ketika mengingat kejadian tadi pagi.
"Enggak, kan gue udah bilang. Gue kuat!"
"Padahal awal nya sih, ogah." Cibir Rea.
Ken tertawa lebar, begitu pun dengan Rea. Tetapi tidak dengan Kasa yang diam seribu bahasa. Melihat keakraban Rea dan Ken, Kasa ingin segera pergi. Tetapi ia tidak mau melepaskan Rea, benar kata Mbok Inah.
Lalu, Ken mengalihkan mata nya kearah Kasa yang masih diam. Ken tahu, Kasa mulai tidak nyaman dengan kehadiran nya. Ken mencoba tersenyum, mengajak Kasa berbicara.
"Oh iya, rumah lo dimana?" tanya Ken kepada Kasa.
Rea beralih menatap kearah kiri, dimana Kasa berada tanpa ekspresi.
Kasa tidak menjawab, ia hanya diam.
Hal itu membuat Ken tersenyum. Ken menahan tangan Rea ketika Cewek itu mau menyadarkan Kasa.
"Lo sebener nya siapa nya Rea, sih?" akhir nya, suara Kasa memecah keheningan.
Rea menahan napas, Lalu menoleh kearah Ken yang masih mengulum senyum. "Temen,"
"I-iya, temen." tambah Rea meyakinkan.
"Kok keliatan nya lain bagi gue?" Kasa tidak berhenti bertanya, dengan pertanyaan tidak biasa.
Rea mengangkat sebelah alis nya, "Aneh gimana?"
Ken menghela napas panjang, "Status gue disini sama kayak lo, kok. Cuma temen," ujar nya lembut.
Dada Kasa bergemuruh. Meskipun nada bicara Ken biasa-biasa saja, rasa nya ucapan Ken kali ini benar-benar menyebalkan. Cowok itu seolah ingin menyadarkan Kasa bahwa Kasa adalah sebatas teman untuk Rea.
Rea semakin gerah, cewek itu menutup kedua telinga nya tidak tahan.
Kasa tersenyum miring, "Lo suka Rea, kan?"
"Rea juga udah tahu," Ujar Ken, seolah pamer. "Gue udah bilang beberapa kali."
Kasa bungkam. Dibanding dengan diri nya, Ken ternyata tidak sepengecut diri nya. Cowok itu bahkan sudah mengaku beberapa kali mengatakan perasaan nya kepada Rea. Darah Kasa bagai air yang mendidih, rahang cowok itu mengeras.
Entah kenapa, pernyataan Ken baru saja seperti tantangan bagi Kasa.
"Ini apasi! Bahasan nya unfaedah banget," Tegur Rea tidak sabar.
"Re, lo suka sama Ken?" tanya Kasa akhir nya, ketika terdiam cukup lama.
Rea tercengang, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan aneh dari Kasa. Ucapan Kasa memojokan Rea. Rea tidak mau membohongi diri nya sendiri, tetapi ia juga ingin menjaga perasaan Ken.
Rea memukul bahu Kasa pelan, tertawa kecil. "Apaan, kunyuk! Basi, Receh sumpah. haha!"
"Gue serius." Dua kata Kasa membuat tawa Rea berhenti, "Jawab aja biar semua nya jelas, biar dia berhenti ngejar lo terus. Gue muak,"
Ucapan pedas Kasa tidak membuat Ken marah, cowok itu hanya tersenyum tulus lalu menatap kearah Rea. "Kasa, walau pun Rea bakal jawab enggak sekalipun.. Itu nggak bakal ngerubah semua nya. Jangan bikin Rea bimbang,"
"Gue nggak ngomong sama lo, ya?!"
"Kasa! Ken!" Rea berdiri dari duduk nya, muak. "Dari pada ribut gitu, mending kalian pulang aja sana!"
"Maaf," Ucap Ken singkat. Mata nya melirik kearah Kasa yang masih terlihat kesal.
"Rea, jangan suka sama dia ya?"
Rea menoleh kearah Kasa, "kasa, kamu ngomong apa deh?"
"Jangan suka sama Ken, jangan tanya alasan nya.."
#Tebece.