Bertemu Lagi

3240 Kata
"Sebab, pada dasar nya gue pasti punya titik kelemahan dimana saat itu gue mulai ngerasa waktu nya menyerah." -Kasa. • Pino to Ameri- opening Naruto 38? ••• "Kemana ya cowok itu?" gumam Rea. Mata nya menatap menyeluruh ke taman, dengan bibir mencebik. Padahal, Rea sudah mati-matian menahan rasa mager nya dikamar tadi demi untuk bertemu dengan Kasa ditaman. Namun seperti nya hari ini Kasa tidak ada ditaman ini. Tangan nya memainkan sesuatu ditangan nya, sebuah kacamata hitam milik Kasa yang tempo lalu telah ia ambil saat pertemuan pertama mereka. Merasa bosan, Rea Asyik memainkan frame kacamata hitam itu selagi menunggu kedatangan kasa. Pikiran nya mulai menerawang jauh tentang kejadian kemarin, dimana Untuk yang pertama kali nya Rea melihat sisi kerapuhan dari seorang Kasa. Merasa capek, Rea memilih duduk di kursi taman dengan wajah lesu. "Apa dia nggak kesini karena kemarin ya?" Gumam nya pelan. "Semoga dia baik-baik aja." Rea bangkit dari duduk nya, berniat untuk kembali pulang kerumah. Namun sebelum kaki nya benar-benar melangkah pergi meninggalkan taman, Rea menoleh ke sekeliling taman untuk memastikan bahwa Kasa memang tidak ada. Rea menghela napas panjang, ia berharap besok Kasa ada ditaman. Namun sayang nya, Rea harus menelan pil kecewa saat lagi-lagi Rea tidak menemukan Kasa. Bahkan waktu terus berlalu, tanpa pernah Rea lalui untuk menunggu seseorang di Taman. ••• "Nama saya Rea, pindahan dari Prancis. Semoga bisa menjadi teman yang baik buat kelas ini," Setelah mengatakan itu, Rea dipersilahkan duduk di satu meja kosong yang ada di bangku ketiga dari depan tanpa menanggapi ocehan dan kericuhan dari beberapa racauan anak laki-laki yang menanyai Rea dengan pertanyaan unfaedah itu. Bu Gina, Wali kelas yang sedang mengajar Fisika dikelas itu memukulkan rotan kayu beberapa kali ke meja hingga suara cuitan anak laki-laki iseng itu berhenti seketika. Walau pun begitu, Bu Gina bukan lah guru yang ditakuti oleh murid-murid. Bahkan cenderung disukai oleh banyak murid, karena wanita yang sudah berkepala tiga itu tipikal humoris saat sedang tidak di jam pelajaran. Saat sedang tidak di jam pelajaran. Ya, kalimat itu harus dicetak dengan huruf tebal atau kapital agar ia kalian tidak ketinggalan informasi penting ini. Pasal nya, Bu Gina akan berubah 180° menjadi killer saat berada di jam pelajaran nya yang bagi banyak murid itu memusingkan. Bayangkan saja, tiga jam pelajaran harus mengerjakan lembaran soal Fisika yang cukup rumit dan menyalin nya di papan tulis. Bu Gina tidak akan membiarkan murid nya duduk ditempat nya semula jika pekerjaan anak didik nya ada yang salah barang letak koma atau satuan sekalipun. "Baik anak-anak, sekarang kita buka halaman 137." Perintah Bu Gina yang disahuti oleh dengusan pasrah oleh seisi kelas kecuali Rea. "Apa ada pekerjaan rumah?" "Iyaaa.." "Tidaaak.." Mata Bu Gina menatap satu persatu murid nya tajam. "Siapa yang bilang tidak? Maju dan kerjakan dipapan tulis!" "Elu Ren," "Enak aja, noh si Adam." "Gue lagi, Lo juga ikut-ikutan." "Muna ya lo, Si Dion juga kali." "RENO, ADAM, DION! MAJU!" Ketiga anak laki-laki yang pakaian seragam nya paling berantakan itu membuat Rea merasa menahan tawa geli nya melihat ekspresi ketakutan mereka. Namun membantah pun tidak berguna, malah akan membuat Bu Gina semakin ganas. Ketiga siswa itu maju sambil garuk-garuk kepala pasrah, lalu saling mendorong satu sama lain. "Lu sana!" "Elu lah." "Udah, kalian aja sana berdua." "DIAM! KERJAKAN SOAL NOMOR DUA, TIGA DAN LIMA!!" Kemudian, tidak ada suara dari ketiga nya lagi. Bahkan Ketiga siswa itu hanya saling melempar tatapan kesal satu sama lain sambil mendengus. Suara cekikikan dari beberapa siswa lain nya membuat suasana tidak sebeku seperti sebelum nya. Rea sendiri malah tidak menduga akan mendapatkan kelas sericuh ini, berbeda sekali dengan sekolah lama nya. "Hei, Gue Vera." Bisik anak perempuan yang ada disamping nya ramah seraya tersenyum lebar. Rea membalas senyuman Siswi bernama Vera itu kikuk, "Hai, Vera." Bisik nya pula. "Sori ya, harus nya ini jadi hari pertama yang menyenangkan buat lo. Tapi lo harus yakin, anak IPA1 nggak se-buruk yang ada dikepala lo kok." Bisik Vera lagi. "Eh? Aku seneng, kok. Nggak apa-apa," "Nanti istirahat, bareng yuk." "Iya, makasih ya." ••• "Mampus, Trio Wek-wek bakal kenyang makan soal Fisika dari Bu Gina!" Ledek Vera semangat sesampai nya mereka di kantin, tempat yang sudah seperti lautan manusia kelaparan. Trio Wek-wek yang dimaksud adalah Reno, Adam dan Dion. Entah dari mana julukan itu, yang pasti penyebab adanya julukan itu dikarenakan ketiga cowok itu selalu nempel seperti lem kanji, bukan perangko lagi seperti yang kebanyakan ditulis di sebuah novel. "Iya, ya? Soal nya kan susah banget. Ya kali buah kelapa jatuh aja dipermasalahin. Ilmu kinetik lah, apa lah." Sambung Farah menambahi seraya mengeluarkan Hp nya. "Hahaha!" Rea hanya tertawa. "Nggak ikhlas banget ketawa nya," Canda Vera. "Ya udah, aku replay ya.. HAHAHA." Kemudian ketiga cewek itu tergelak. "Lo mau pesan apa, Far?" Tanya Vera. Farah, Anak perempuan kekinian yang selalu aktif di sosial media sekaligus teman baru Rea itu malah ber-selfie ria seraya memamerkan pose peace didepan kamera depan android nya tanpa memperdulikan Vera. Rea tertawa kecil, lalu menatap kearah Vera yang terlihat sudah naik darah. Greget, Vera lalu menyambar Hape Farah. "Gue tanya, i***t!" "Ih, g****k banget sih. Itu tadi belum gue upload!" Pekik Farah histeris. Vera meninggikan hape Farah agar teman nya itu tidak dapat meraih benda pipih itu. Dan usaha Vera berhasil karena Farah memang benar tidak bisa meraih nya, mengingat tinggi Farah kalah telak dengan Vera yang berstatus paskibra unggulan disekolah SMA Cempaka. Namun kemudian Vera mengubah niat nya yang semula untuk tidak memberikan kearah Farah, menjadi sesegera mungkin meletakkan hape ber-kesing panda pink imut milik Farah ke atas meja kantin. Pasal nya, sekarang mereka sudah menjadi pusat perhatian karena teriakan Farah yang terlalu melengking nyaring. "Gue nggak kenal dia, sumpah!" Dengan konyol, Vera menatap satu persatu siswa/i yang menatap nya aneh sembari mengangkat tangan nya tinggi-tinggi dengan jari telunjuk dan tengah berbentuk huruf V. "Kamu sadis banget, Ver." Kata Rea menanggapi dengan kekehan nya. "Tau, nih!" Farah malah sebal, dia meraih hape nya lagi. "Eh? Yang duduk sama Vera-Farah itu siapa?" "Mana? Mana?" "Gila cantik banget kayak cewek bule." "SMA cempaka punya bidadari, njir." "Watdepak! Gile, itu orang apa orang? Cantik bingut." Rea menatap mereka canggung, lalu tersenyum nyengir. Vera, perempuan tomboi itu berdehem keras hingga beberapa anak yang mula nya berbisik-bisik mulai melanjutkan aktivitas nya. "Itu bacot nggak pernah disaring apa gimana, sih?" Satu lagi sifat Vera, perempuan yang memiliki ciri khas berbahasa kasar. Entah itu kepada anak baru, atau teman akrab nya sekalipun. Bagi Vera, tampilan bukan lah hal penting. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menerima nya dengan apa ada nya, tidak ada kebohongan barang sedikit ujung kuku sekalipun. "Bacot lo tuh yang nggak pernah disaring. NGACA NGAPA YA ALLAH!" Lagi-lagi, Farah melakukan kebiasaan nya. Berteriak. "Mending gue, bacot rusak tapi berkelas. Dari pada mereka.." balas Vera tidak mau kalah. "Eh? Kok malah berantem sih? Ya udah, mending kita makan aja. Aku traktir, anggap aja tanda perkenalan kita. Oke?" Mendengar nya, Mata Farah berbinar. "SERIUS?" "Far, lo kalo teriak lagi gue sumpel beneran loh pake sepatu nya Joko!" ancam Vera serius, dan itu membuat Farah menjadi ciut. Bukan karena mimik wajah Vera yang serius, tapi karena sepatu Milik Joko lah yang membuat Farah menjadi berpikir dua kali ketika ia ingin membantah. Siapa sih yang tidak tahu dengan Joko--Ralat sepatu Joko yang kumal dan bau terasi itu? Bahkan melihat nya saja membuat orang-orang bergidik. Bagian karet putih sepatu yang ada dibagian bawah nya terlihat sepenuh nya berubah menjadi hitam dan keropos. Entah apa yang telah Joko lakukan dengan sepatu itu hingga membuat sepatu ber-merk.. Eh? Bahkan merk nya saja sudah tidak terlihat lagi karena bekas lumpur yang telah mengering. Namun Joko, si anak laki-laki usil yang petakilan itu malah senang dengan sepatu dahsyat nya itu. Alasan nya cukup simpel, Buat nampol orang biar pingsan karena bau nya. Namun mendengar biografi singkat dari Joko, jangan kira Joko adalah laki-laki jelek yang tidak pandai merawat diri. Bahkan, Joko adalah laki-laki paling 'oke' di kelas. Penampilan nya selalu mengikuti mode kekinian, dengan kulit yang bersih tanpa jerawat. Entah apa yang sudah Joko lakukan dengan diri nya, tidak sedikit siswi dari kelas lain yang mencoba mendekati Joko. Sekedar Info, Sebenar nya nama Joko bukan lah demikian. Nama laki-laki itu adalah Mahardika Jaka Saputra. Nama sekeren itu terasa sayang jika diubah-ubah menjadi nama kampungan 'Joko'. Walau sebenar nya panggilan itu dari nama tengah Joko sendiri. Pada awal nya memang seisi kelas memanggil Joko dengan sebutan Dika. Namun semua seolah berubah setelah Adam, Preman kelas itu memanggil Anak laki-laki pemilik sepatu terasi itu dengan sebuatan Joko. "Aku aja yang pesenin?" tawar Rea menengahi. "Oke, Makasih yaa!" Jawab Farah ceria. Kemudian Vera menoyor kepala Farah. "b**o banget, sih. Lu gak liat anak-anak heboh liat Rea? Bisa-bisa Rea udah tinggal nama kalo pesen sendirian." "Lo bisa gak sih lembut dikit, anggun dikit kek seenggak nya." Farah memprotes. "Ya allah, bisa-bisa jam istirahat abis kalo nunggu kalian berantem." Lagi-lagi Rea harus menjadi penengah di debatan mereka berdua. "Ya udah, gue aja yang pesen." Kata Vera akhir nya. ••• "Ngeselin deh!" Rea menendang kerikilan batu geram sembari tetap melangkah di siang yang panas seperti ini. Bagaimana tidak? Dihari pertama Rea sekolah, Desi malah sedang ada acara rapat meeting dengan Client penting. Dan lagi, Uang yang seharus nya bisa ia gunakan untuk membayar Taksi kini ludes karena digunakan untuk mentraktir teman-teman nya. Ini memang bukan salah Vera ataupun Farah, karena Rea lah yang tadi menawarkan traktiran dengan senang hati. Rea sendiri tidak tahu kalau Desi akan ada rapat penting hari ini karena cewek itu nggak menerima chat apapun dari Desi. Jemari lentik Rea merogoh ke saku rok abu-abu nya, lalu menarik nya setelah ia merasa menemukan lembaran di sana. Harapan nya untuk pulang dengan taksi muncul saat ia mengira bahwa yang ia temukan itu adalah uang. Bahkan, Rea akan sujud syukur kalau-kalau ia menemukan seenggak nya uang buat angkutan umum. Yang pasti untuk menyewa transportasi. Belum lagi, nomor Desi tidak aktif saat Rea menelpon nya. Ya tentu saja, biasa nya Desi sengaja menon-aktifkan Hp nya saat ada meeting agar tidak mengganggu. Walau pun Desi adalah kepala direktur di perusahaan itu, Bagaimana pun juga Desi harus berlaku profesional. "Dua ribu? Cukup buat apaan coba? Ini mah beli permen udah ludes." Gerutu Rea kesal. Namun gerutuan nya itu tidak berlangsung lama karena mata nya tiba-tiba terpusat pada punggung seseorang yang berjalan searah dengan nya namun agak jauh dari nya. Rea seperti sudah tidak asing lagi dengan hoodie abu-abu yang cowok tinggi itu kenakan. Rea menyipitkan mata, memperjelas pengelihatan nya. Cewek ber-rambut curly imut itu yakin, ia tidak salah lihat. Apalagi dengan tongkat panjang yang menuntun langkah nya. Wajah cemberut Rea kini berubah seketika setelah melihat cowok itu berjalan santai dengan sepatu kets putih nya. Dengan wajah sumringah, Rea berjalan mengejar langkah Cowok yang jarak nya semakin dekat dengan Rea. Suara sepatu Fantofel hitam milik Rea sengaja cewek itu pelan kan, dengan melangkah kan kaki nya tinggi-tinggi agar Kasa tidak mendengar nya. Kasa, cowok itu lalu menghentikan langkah nya seolah tahu sedang diikuti. Rea melototkan mata nya saat Kasa menghentikan langkah tiba-tiba. Hampir saja Rea menubruk punggung Kasa. Cowok itu membalikkan badan nya, tepat berhadapan dengan Rea. Kasa seperti biasa mengenakan topi hitam nya yang menutupi sebagian wajah nya. Dan entah kenapa, d**a Rea semakin berdegub kencang melihat wajah Kasa. Walau hanya sebatas hidung runcing cowok itu dan bibir tipis nya. Kasa masih diam, dengan Rea yang menahan nafas agar Kasa tidak menyadari keberadaan nya. "Jangan ikutin gue..," Kata Kasa singkat. "..Rea." Mata Rea membelalak, lagi-lagi ia merasa bahwa Kasa telah membohongi nya. Kasa tidak seperti orang buta pada umum nya. Namun, Rea sendiri tahu bahwa Kasa memang Buta mengingat kejadian tempo lalu. "Kamu, kok--?" "Gue bisa denger suara detak jantung lo, dan bau sampo baby dari rambut lo." Refleks, Rea mencium rambut nya sendiri. "Udah, nggak usah dicium segala kali." Kata Kasa yang lagi-lagi membuat Rea mengerjap beberapa kali, heran dengan manusia ajaib didepan nya ini. Namun, Rea malah tersenyum lebar dan mengeluarkan sesuatu dari tas punggung nya. "Ada apa?" tanya Kasa saat mendengar suara resleting dibuka. "Ini kacamata kamu," kata Rea sambil menyerahkan kacamata hitam milik Kasa. "Nggak butuh!" Rea mengernyitkan dahi, kenapa tiba-tiba Kasa menjadi sentimen dan sensitif begini. Jauh berbeda dengan Kasa yang ramah dan ceria seperti awal Rea bertemu. "Kenapa?" tanya Rea singkat. "Gue nggak butuh." "Tapi.. Aku cuman ngembaliin punya kamu." "Di bilang in nggak butuh ya nggak butuh!" Bibir Rea bergetar, menahan sesak yang tiba-tiba mencelos begitu saja di d**a nya. Entah lah, ini menyakitkan. Namun garis keras di rahang Kasa memudar, saat mendengar deru nafas Rea yang tertahan. Kasa tahu, cewek didepan nya ini cukup baperan. Diam-diam cowok itu menyesal telah membentak nya. Walau pun siang itu, jalanan kompleks masih cukup sepi. Tapi Rea merasa siang ini adalah siang yang cukup ramai, ramai dengan kata-kata judes Kasa yang memutari otak nya. "Lo kenapa?" tanya Kasa dengan suara lembut. Tidak ada jawaban. Kasa berdecak, "Mana kacamata nya?" "Ini." Rea menyerahkan Benda itu ke tangan Kasa. "Udah ya, gue mau pulang." Sebelum Kasa membalikkan badan berniat untuk pergi, Rea terlebih dahulu menahan paksa lengan Kasa agar cowok itu tidak pergi. "Ka-kamu.. Udah jarang ke taman?" Rasa nya sulit sekali Rea mengatakan nya, seolah memberi kesan bahwa Rea selalu menunggu kedatangan Kasa. Kasa tidak menjawab, tidak pula bergerak. Aneh, cowok itu rasa nya Asing bagi Rea. Yang pertama, dia seolah menjauh dari Rea, yang kedua dia tidak banyak bicara dan terkesan dingin, yang ketiga dia berubah tentang banyak hal. Dari jarang tersenyum, sampai berubah menjadi tidak perduli dan mengacuhkan. "Eh, maksud ku.. Bukan begitu. Aku bukan nya apa, sih. Hehe.." Rea menjadi salah tingkah, lalu memerah. "Tapi, kamu sibuk ya?" "Maksud lo sibuk apa ya? Nada lo kok kayak ada tanda kutip nya pas lo bilang gue sibuk? Kayak ada arti lain. Maksud lo apa?" Rea mengernyitkan dahi, mengingat-ingat apa yang telah ia katakan kepada Kasa. Rasa nya tidak ada yang salah, lantas kenapa Kasa marah? "Kamu ngomong apa, sih? Aku cuman tanya aja." "Oke, lo bener. Gue sibuk! Sibuk belajar. Ya maklumi aja lah ya, gue kan buta.. Jadi nggak bisa belajar di Sekolah umum." kata Kasa sarkastik. Mulut Rea menganga. Dari ucapan judes Kasa baru saja, Rea mulai paham arah pembicaraan mereka. "Kamu judes banget, sih? Jangan marah-marah, dong." kata Rea santai, tertawa kecil. "Gue mau pulang. Lo nggak usah ganggu gue lagi," "Kamu kenapa, sih? Kamu kok kayak ngejauh dari aku? Emang aku nya aku bau?" Rea mencium--mengendus-mengendus ketiak nya sendiri. "Aku kan selalu pake deodoran." "Basi, receh sumpah." "Hehe.. Makasih." "Gue pergi duluan." Lagi-lagi, Rea menahan lengan Kasa. "Bentaran dong!" "Apa sih?!" "Aku salah apa sih? Bukan nya kita udah jadi teman?" tanya Rea sebal. Kali ini, suara intonasi nya cukup tinggi dari ucapan sebelum nya. Kasa tersenyum. Namun tidak seperti senyum seperti dulu, kali ini lebih terkesan menyeringai. "Sejak kapan?" "Kok gitu? Ya sejak kemarin-kemarin, dong." ".. Gitu ya?" "Kamu kenapa? Kalau ada apa-apa, kamu cerita aja. Kita kan, teman." Wajah Kasa mendadak muram, dia membalikkan badan nya. "Gak perlu. Gue nggak suka dikasihani, gue gak suka." "Kasa, berhenti berpikiran negatif tentang aku!" Sungut Rea naik pitam. d**a nya mulai naik turun, dengan nafas memburu. "Kamu hanya takut, tentang sesuatu yang nggak bakal terjadi!" "Ketakutan kamu bikin kamu merasa sendiri, dengan semua kekurangan kamu. Kamu merasa cuman kamu aja yang punya kekurangan, menatap sempurna kehidupan orang-orang." "MENATAP sempurna kehidupan orang-orang?" Ulang Kasa terkekeh dengan tekanan di kata awal nya. "Lagi-lagi lo lupa kalo gue buta?" Rea menepuk dahi nya, "Maksud aku..," "Shtt, gue ngerti. Thanks atas perhatian lo. Gue pergi dulu," "Kasa? Kamu.. Besok ke taman?" pertayaan aneh Rea dengan nada ragu membuat Kasa tersenyum. Cowok itu menggedikan bahu nya, "Lo mau ketemuan sama gue?" Wajah Rea bersemu merah, menekan bibir nya salah tingkah. "G-gak! Eh, maksud aku.. Yah, cuman mastiin aja. Hehe," Walau pun alasan Rea tidak begitu cukup masuk akal bagi Kasa, Cowok yang menahan senyumnya itu memilih untuk tidak bertanya dan memperpanjang topik ini setelah ia mendengar dengan jelas detak jantung Rea yang semakin cepat. "Lo mau kemana siang-siang?" tanya Kasa. "Mau pulang kerumah. Abis pulang dari sekolah," "Sekolah dimana?" "SMA Cempaka, deket Cafe Rainbow itu loh." Jawab Rea semangat, karena Kasa telah memulai topik pembicaraan lebih dahulu. "Dan lo jalan kaki?" Kasa sedikit terkejut. "Lo nggak pingsan ditengah jalan, kan?" Rea memukul bahu Kasa pelan. "Ya enggak lah! Lagipula kebetulan Mama ada kerjaan, ya jadi aku jalan kaki." "Ya allah, Mbak!! Di sini teknologi udah canggih kali, lo bisa pesan Gojek atau apa kek." Kasa menarik napas berat. "Jangan bilang lo nggak tau cara nya!" "Ya masalah nya itu, Uang aku abis buat traktirin temen-temen baru disekolah." "Kenapa harus traktir mereka?" Rea menatap Kasa tidak mengerti. "Ya gapapa." "Lo orang nya gampang banget di geblekin, sih!" Kedua bola mata cewek itu nyaris keluar mendengar komentar pedas dari Cowok didepan nya. Namun sang empu nya tampak santai dan tidak ada niat untuk menarik kata-kata nya, memperbaiki kata-kata nya atau bahkan meminta maaf. Kasa memendekkan tongkat nya, lalu memasukkan nya ke saku. "Gue yang buta aja cukup pinter nyari temen." "Maksud kamu apaan, sih?" "Ya udah, deh. Nggak usah diperpanjang lagi kalo lo nggak nyaman sama percakapan ini, nggak usah dimasukin ke hati." Lagi-lagi, Rea dibuat Kasa bingung. "..O-oke." Cowok didepan Rea ini lalu memasukkan tangan kanan nya ke dalam saku celana, mengeluarkan sesuatu dari sana dan menyodorkan nya ke Rea. "Lo ambil, nih." kata nya. Rea menatap Kasa tidak percaya. "Uang?" tanya nya sambil melihat kearah lembaran uang berwarna biru, sejujur nya lima puluh ribu itu cukup menggiurkan bagi Rea. Namun apa dia harus menerima nya? "Kenapa? Gue ikhlas, kok. Buat ongkos naik apa kek, yang pasti jangan naik pesawat aja karena duit nya gak cukup." Kasa tertawa lebar. Rea meringis, ternyata dibalik sifat Kasa yang arogan dan setimen ini masih ada sifat ramah dan jayus alias receh. Namun yang Rea kagumi dari Kasa, cowok didepan nya itu selalu dapat diandalkan. Rea selalu nyaman bila berada didekat Kasa. Entah lah.. "Nggak apa, kok.. Aku juga udah biasa jalan." "Masa, sih? Kayak nya lo kecapekan, deh." Rea mendengus, "Sok tau! Tau dari mana? Jangan-jangan kamu nggak buta ya?" Walau pun Rea tahu kalau Kasa memang buta, Cewek itu tetap memberikan kesan tidak percaya untuk melihat reaksi Kasa. "Ya tau lah, bau keringat lo." "HHH?!" Rea mengerjapkan mata nya beberapa kali. "Aku bau ya? Kamu Sana-an sedikit biar nggak nyium bau aku. Tapi.. Aku nggak jorok, kok. Biasa nya nggak gini. Aku--" Entah kenapa rasa nya Rea tidak rela saja tampil buruk didepan Kasa. Rea ingin selalu tampil sempurna didepan Kasa. Mungkin kah? "Emang kenapa kalo bau? Bukan nya itu kewajaran Manusiawi? Lagipula lo mau tau sesuatu?" tanya Kasa dengan senyuman smirk, menyeringai lebar. "Apa?" Namun tanpa diduga-duga, Kasa mendekatkan tubuh nya kearah Rea yang masih berdiri kaku. Cowok itu melingkarkan tangan nya ke leher Rea tanpa berkata apa-apa, membuat d**a Rea berdetak sangat kencang. Wajah Rea bersemu dengan lidah kelu, dia tidak percaya kalau Kasa memeluk nya. "NIH, CIUM KETEK GUE!" Dengan gerakan cepat, Kasa mengapit kepala Rea ke ketiak nya dengan tawa puas. Rea yang kaget hanya melototkan mata nya kaget lalu meronta-ronta dengan suara nyaring nya. Siapa yang tidak kaget? Adegan yang super baper dengan angin yang seperti sedang memainkan musik romantis itu harus berakhir dengan gerakan terakhir Kasa yang membuat Rea pupus harapan. Harapan? Aku ngarepin Kasa Apaan yaa? Rea merutuk kebodohan nya sendiri. "KASAAAAA!!!" Teriak Rea nyaring memprotes cowok yang masih betah mengapit Rea di ketiak nya. ••• #tebece.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN