2. Ajari Aku

1110 Kata
Aku melangkahkan kakiku memasuki gedung sekolah SMA yang aku tempati kini. Langkah kakiku tenang seolah tanpa beban. dengan pandangan datar, perlahan kubuka pintu kelas dan masuk ke dalamnya tanpa mempedulikan tatapan teman sekelasku maupun guru yang tengah mengajar saat ini. Aku duduk di kursi paling belakang yang bersisian langsung dengan jendela. Kemudian kutaruh tas dan menelungkupkan kepalaku pada meja sambil menghadap ke luar jendela. Pelajaran kembali berlangsung, dan aku hanya mendengarkan tanpa memperhatikan sekalipun. Tak ada yang menegurku di sini, meskipun itu guru sekali pun. Karena memang pada dasarnya, aku adalah siswa yang bisa dikatakan cukup pintar dan cerdas? Entahlah, apapun pendapat mereka aku tidak peduli. Merasa bosan dengan penjelasan guru di depan yang menurutku terlalu panjang dan bertele-tele, aku kini mengarahkan pandanganku ke luar jendela. Dan saat itulah pandanganku terfokus pada objek yang telah berhasil membuatku merasakan sebuah ketertarikan. Bukan ketertarikan mengenai perasaan cinta dan sebagainya, melainkan sebuah ketertarikan mengenai kepribadian seseorang yang cukup menjadi misteri bagiku untuk saat ini. Dapat kulihat langkah kakinya yang tenang dan raut wajahnya yang datar, malah semakin membuatku penasaran akan sosoknya. Tanpa basa-basi segera kulangkahkan kakiku untuk keluar dari kelas yang kutempati saat ini. Tak kuhiraukan teriakan guru yang memanggilku agar kembali duduk di meja tanpa melakukan hal yang berguna. Sekeluarnya dari kelas, aku segera mempercepat langkah kakiku untuk mengejar sosoknya yang kuperkirakan tadi sedang menuju ruang musik lama. Untuk apa dia kesana, bukankah ruang musik yang lama sudah tidak digunakan dan rencananya akan dijadikan sebagai gudang. Langkah kakiku kini semakin melambat, saat sayup-sayup dapat kudengar suara rintih seseorang dari dalam ruang musik lama. Rasa penasaran semakin mengusikku, suara ini? Krekkk Jleppp Pisau yang berlumuran darah itu perlahan dikoyakkannya guna agar bisa terlepas dari rongga leher korbannya. Sementara sang korban hanya bisa meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian kerongkongannya yang telah tertembus tajamnya pisau. Mulutnya membuka dan menutup dengan susah payah lantaran rasa sakit yang semakin menyiksanya. Bisa dikatakan bahwa pita suaranya saat ini telah rusak atau bahkan terputus. Entahlah, tapi yang jelas raut wajah kemenangan tampak begitu tergambar dari seseorang yang kini masih berada di atasnya. Bagai malaikat pencabut nyawa, yang siap menghakimi targetnya dengan segala macam jenis penyiksaan yang dapat dilakukannya. Perlahan pria yang masih berada di atas sang korban tersebut mulai menggerakkan mata pisaunya naik ke atas menuju dagunya. Terus naik hingga ke pipinya yang putih mulus. Lalu pria tersebut menghentikan langkah pisaunya, tatkala darah segar perlahan memancar keluar dari sela goresan pisau yang dijalankannya tadi. Dengan jari-jemarinya yang kokoh, perlahan ia membelai dengan lembut darah yang masih mengalir dari luka memanjang yang tadi dilakukannya. "Manis, aku ingin lebih banyak." Setelah pria tersebut menjilat sisa cairan merah pekat dari ujung jarinya, kini tangannya kembali beraksi dengan terus melajukan pisaunya tepat di atas pelupuk mata sang gadis yang kini tengah memejamkan kedua matanya dengan erat. Raut wajah kesakitan dan juga ketakutan tampak begitu jelas terlihat dari sosok gadis yang hanya tinggal menunggu waktunya untuk pergi. "A__" Hanya terdengar erangan tanpa suara yang ditunjukkan sang gadis, tatkala dengan perlahan ujung mata pisau tersebut memaksa untuk menerobos masuk ke dalam celah matanya yang kini terpejam erat. Air mata perlahan mulai keluar dari sela pisau yang berhasil menembus di pelupuk mata sang gadis. Air mata bercampur darah. Dengan sekali sentakan, tubuh gadis tersebut mengguncang kesakitan saat sebuah bola matanya keluar dari tempatnya. Lalu, dibiarkan menggelinding jatuh ke lantai. Tidak puas hanya sampai disitu, sang pria kini kembali menurunkan mata pisaunya ke arah jari-jemari sang gadis yang telah banyak terdapat memar kebiruan di punggung tangannya. Mata pisaunya diarahkan tepat di atas jari-jari sang gadis, sebelum kemudian diangkat ke atas dan diayunkannya dengan cepat. Jleppp Lalu sang pria perlahan mengangkat tangan gadis tersebut, dan perlahan satu per satu jari-jarinya mulai terlepas dari tepatnya yang hanya menyisakan jari kelingking. Dengan sekali sentilan, akhirnya jari kelingking tersebut ikut terjatuh tak berdaya di atas lantai dengan lumuran darah segar yang terus mengalir keluar. Gadis tersebut terus mengeliatkan tubuhnya akibat rasa sakit yang teramat dirasa di sekujur tubuhnya. Air mata bercampur darah terus keluar dan tubuhnya perlahan semakin memucat akibat terlalu banyak kehilangan darah. Jika boleh memilih, ia lebih menginginkan mati saat ini juga ketimbang harus merasakan penyiksaan ini lebih dalam lagi. 'Kumohon bunuh aku!' gadis tersebut berbicara tanpa suara, bibirnya terus berkata, 'bunuh aku!' karena ia merasa sudah sampai pada batasnya. Gadis itu tidak sanggup lagi untuk menanggung rasa sakit di sekujur tubuhnya yang semakin menjadi. "Kau ingin mati? Yahh sayang sekali, padahal aku masih ingin bersenang-senang denganmu." Dengan ekspresi cemberut yang dibuat-buat pria itu menatap sedih pada korbannya, "tapi...," pria tersebut melihat jam tangannya sekilas, sebelum kembali melanjutkan. "Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu." Dengan memberikan senyuman termanisnya, pria tersebut kembali mengangkat mata pisaunya dengan tinggi sebelum kemudian menancapkannya dengan kuat tepat di jantung sang gadis, yang menyebabkan gadis tersebut memuntahkan darah segar dari mulutnya hingga berimbas mengenai seragam sekolah yang dikenakan pria di atasnya. "Kurasa sudah cukup untuk main-mainnya." Pria tersebut kemudian beranjak dari atas sang gadis yang didudukinya tadi, dan membereskan alat-alat bermainnya. Sama sekali tak menghiraukan tatapan seorang gadis yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, dan dengan terang-terangan menonton pertunjukan yang dilakukannya tadi. Lalu dengan wajah datarnya, pria tersebut mengambil tasnya dan berjalan hendak melewati gadis yang masih diam seribu bahasa. Tanpa mengeluarkan suara apapun. "Tunggu!" Pria tersebut menghentikan langkahnya ketika gadis tersebut menahan tangannya agar tidak pergi. Dengan tetap menampilkan wajah datarnya, bahkan tanpa sedikitpun menoleh pada gadis tersebut. "Mengapa kau mengabaikanku?" Pria tersebut tak memberi jawaban, membuat gadis itu dibuat semakin penasaran. "Aku sudah melihat semuanya. Apakah kau tidak takut kalau aku akan melaporkanmu?" Dengan berani gadis tersebut mengungkapkan pemikirannya, bahkan tak ada ekspresi takut sedikit pun yang terpancar dari wajahnya. "Apa kau akan melaporkanku?" pria tersebut menjawab dengan nada datar tanpa ekspresi. Pria tersebut memutar badannya dan melepaskan pegangan gadis tersebut dari lengannya sebelum kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang. Tak puas dengan jawaban yang diberikan pria tersebut, gadis nekat itu memutuskan untuk mengikuti kepergiannya. Meski pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang dikhususkan bagi laki-laki. Seolah merasa tak terusik dengan keberadaan gadis yang mengikutinya. Pria itu dengan cuek mengganti seragam sekolahnya di depan gadis yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi. Ia menggantinya dengan seragam yang baru tanpa noda darah. Setelahnya, ia membasuh kedua tangannya dengan air dari wastafel dan membersihkan pisaunya dari lumuran darah. "Mengapa kau mengikutiku?" "Karena aku tertarik padamu." "Tertarik? Aku bukan seseorang yang menarik, lebih baik menjauhlah dariku." Gadis tersebut tetap diam ditempat selama beberapa saat, sebelum akhirnya melanjutkan. "Ajari aku!" Tatapan mata mereka bertemu melalui pantulan kaca wastafel yang ada di hadapan mereka saat ini. Sementara pria tersebut hanya menaikkan sebelah alisnya menanti kelanjutan dari perkataan gadis di belakangnya. "Ajari aku membunuh!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN