"Bih... seneng banget kayanya Mbak. Mau diajak kemana sih sama Mas Galih?" Tanya Farissa sambil memperhatikan Maita memperbaiki jilbab berwarna merah mudanya.
"Mau belanja baju-baju Adam ama Yusuf. Mau ikut nggak?"
"Males! Yang ada dijadiin obat nyamuk. Mending cari makan. Siapa tau ketemu yang seger seger. Terus diseret deh ke KUA buat ngucapin ijab qobul. Bisa deh lepas segel."
"Cari yang seger. Kawin aja sama sayur ribet banget. Atau sama ikan mentah dijamin suegeerr." Mbak Maita terkikik sendiri.
Ihh ngeseliiiiiinnn. Makin tua kehamilanya. Mbak Maita semakin jadi saja. Ada saja kata-katanya yang berhasil membuat Farissa lelah menyinyir. Habis tenaga Farissa kalau lama-lama berbincang dengan Mbak Maita yang ngalah-ngalahin pembawa acaranya rumpi no sikrit. Heran deh.
"Lagian dikira enak apa lepas segel." Sengit Maita.
"Lha kan emang enak Mbak. Tuh buktinya bocah-bocah abg pada doyan begituan sampe mblendung duluan. Kurang enak apa???"
Maita menepuk jidatnya. Biarkan saja anak perawan dengan segala pemikiranya. Nanti juga teringat kata-katanya saat lepas segel kelak. Kalau dirinya dijadikan tempat curhatan. Maita tidak menerima lowongan. Cukup dia dengan ceritanya sendiri. Tidak sanggup mendengar cerita orang lain.
Suara klakson mobil Galih menghentikkan pembicaraan absurd mereka. Kaca mobil terbuka. Galih sudah tersenyum memanggil istrinya.
Aihhhh... nggak pada sadar disini ada kambing congek. Emaaakkkk kapan Icha kawinnn. Udah kebelet.
Ditinggalkan sendirian. Farissa memilih berjalan kaki saja sambil mencari warteg terdekat. Lidahnya memang sangat kampungan.
Pernah satu kali dia dibawa Mama ke restauran mahal yang air putih saja dihargai seperti dua mangkok bakso ukuran paling jumbo. Heran deh. Emang air putihnya dikasih parutan emas apa sampe semahal itu.
Belum lagi makanannya yang seuprit layaknya porsi untuk kucing. Ya mana bisa memanjakan lidah dan perut Farissa yang seperti gentong ini.
Jelas beda kalau makan warteg atau pinggir jalan. Murah meriah. Dan banyak porsinya. Tidak takut nambah sebanyak-banyaknya.
DUUUGGG
"Aaaaaawww ayam copot!!!" Kaget Farissa.
Farissa berjongkok sambil memegangi lengan nya yang diseruduk banteng ngamuk. Eh bukan! Mana ada banteng dipinggir jalan raya. Adaww!!! Siapapun yang nyeruduk lengan seksinya bakalan dia uleg bareng cabe rawit.
Nggak tau apa kalo orang laper bisa makan orang! Gue resek kalo lagi laper.
"Eh ganjel pintu lo bisa liat ada cewek cantik disini nggak sih. Maen seruduk aja. Gimana kalo tangan gue patah? Diamputasi?" Ketus Farissa masih mencoba menenangkan diri.
"Maaf Mbak. Abi nggak sengaja. Yang mana yang sakit? Mau Abi bawa kedokter nggak? Sakit banget ya Mbak. Aduh Abi harus gimana ini."
"Pake tanya segala. Ya sakitlahh. Lagian dek kalo lari-lari jangan disini bahaya. Masih mending kamu nyeruduk saya bukan mobil. Masih harus bersyukur kamu itu."
"Alhamdulillah makasih ya Mbak udah Abi seruduk." Celetuk Abi.
Edannya itu Farissa mengangguk dan tersenyum lebar. Dia mengulurkan tangannya kepada pelaku penyerudukkan itu. Ternyata pelakunya remaja tanggung empatbelasan yang sepertinya pulang dari bermain futsal.
"Lain kali kalo jalan ati-ati. Liat kiri kanan kalo ada mobil atau motor jangan asal nyelonong bahaya itu." Nasihat Farissa sambil menepuk bahu remaja bernama Abi itu.
"Iya Mbak maaf ya." Abi menunduk merasa bersalah.
Farissa juga merasa tidak tega mengomeli si Abi Abi ini. Dia menepuk kepala Abi. Membuat Abi mendongak menatap si Mbak cuantik yang tersenyum dengan lembut.
"Nggak apa-apa. Tapi lain kali hati-hati. Nggak semua orang sebaik saya lho. Coba ketemu orang lain. Udah di pites pites kamu kayak kutu kupret."
Dasar si somplak. Disaat-saat seperti ini malah membanggakan diri sendiri. Tapi Abi tidak masalah. Dia mengangguk senang.
"Iya mbak baik banget sama Abi. Makasih ya."
"Iya woles santai aja sama mbak. Oh iya kamu dari mana bawa-bawa bola kayak gitu? Abis main catur kan pasti."
Mereka sudah berjalan bersisian. Farissa jadi sudah bisa membayangkan bagaimana kelak dirinya berjalan bersisian dengan putranya selepas menjemput sang putra berlatih futsal.
Ya Allah dekatkanlah jodoh saya. Kalau belum dekat. Tolong didekatkan ya Allah. Saya maksa. Titik.
Abi tertawa. Sudah lama rasanya dia tidak tertawa lepas seperti ini. Semenjak...
"Mbak lucu banget sih. Abi habis pulang latihan futsal Mbak. Ayah kayanya lupa jemput Abi."
"Udah makan?" Abi menggeleng.
"Makan sendirian itu nggak enak Mbak." Abi menunduk. Menendangi kerikil di depanya. Spontan Farissa merangkul bahu Abi yang sebenarnya tingginya sejengkal di atasnya. Kebanyakan makan tiang kali ni bocah. Tinggi amat yak.
"Mau mbak temenin? Kita makan disana yuk. Tenang mbak yang traktir silahkan Abi makan sepuasnya sampai perut kenyang. Sampe meletus juga boleh."
"Beneran Mbak?" Tanya Abi antusias.
"Iya dong. Mau makan apa?"
Abi berpikir sejenak. Sebelum mencetuskan makanan yang memang selalu menjadi idaman gadis manis asli keturunan Jawa itu.
"Bakso gimana mbak? Kayanya enak malem-malem gini makan bakso."
"Setuju."
****
"Ini rumah Abi?"
Rumah berlantai satu dengan printilan Jawa kental itu menarik perhatian Farissa. Terlebih ke bentangan rumput hijau di halaman rumah. Bisa tuh dibuat guling-guling sama jadi tempat pengungsian kalau lagi diusir istri tidur di luar. Benar-benar potret rumah impian.
"Iya Mbak ini rumah Abi. Mampir yuk mbak. Ayah pasti seneng liat mbak baik banget sama Abi. Terus cantik lagi. Kasihan Ayah.. semenjak Bunda meninggal. Ayah nggak kenal waktu lagi mbak. Sibuk kerja terus." Abi menunduk sedih.
Merasa tidak tega. Farissa mengusap bahu Abi. Mana mungkin dia berani main pelak peluk. Iya kalau Abi masih setuyul. Nah ini tinggian Abi. Bisa dikatain p*****l ntar.
"Abi mau mbak mampir?"
"Iya mau mbak."
"Yaudah mbak mampir. Tapi nggak lama ya." Farissa melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah lumayan larut untuk bertamu lama-lama. Bisa dikatain Mama mangkal lagi jadi cabe-cabean.
Ih sorry yes. Icha maunya diperawanin Kakanda suami tercinta. Nanti sih... kalo udah nemu yang pas. Kalo nggak ada yang pas yo pasrah saja. Yang penting dapat bantal guling bernawa. Asik.
Abi membuka gerbang setinggi pinggang itu. Membawa Farissa masuk ke dalam halaman berumput.
"Guling guling disini enak kali ya Bi."
Tawa Abi pecah melihat Farissa melompat seperti anak kecil. Heh kalau Malak tau pasti diomelin habis-habisan karena katrok ndeso.
"Assalamu'alaikum. Ayah.. Abi pulang." "Yahh."
"Ayaaahhhh."
"Kalo Ayah kamu nggak bukain pintu. Nginep di rumah mbak aja. Ada emak emak noh satu yang sukaaaa banget ama bocah."
Abi menaikkan alisnya tidak terima. Lalu melirik Farissa yang tingginya sejengkal dibawahnya.
"Tinggi Abi lho mbak."
"Ye gitu a...."
CEKLEK
Abi sudah menyalami Ayahnya yang terlampau gagah untuk menjadi seorang duda. Sedangkan Farissa menganga tidak percaya. Apa benar jodoh datangnya secepat ini.
"Mbak kenalin ini Ayah Abi. Yah ini mbak cantik tadi Abi ketemu dijalan."
Mata Ayah Abi tidak kalah melotot. Matanya yang semula sepet langsung segar bugar. Dia menunjuk gadis nyeleneh yang baru dia temui tadi siang.
"Kamu."
"Bapak."
Ucap keduanya berbarengan. Abi menggaruk rambutnya bingung.
"Ayah sama mbak cantik saling kenal?"
"Kamu kan kasir aneh tadi siang kan yang ngelamar saya?"
"Ngelamar?" Abi semakin bingung.
"Eh emang saya ngelamar Bapak ya?"
"Lha iya kamu tadi ngelamar saya. Masa masih muda udah pikun gitu."
"Kalo iya emang Bapak mau terima?"
"Nggak. Saya cari calon istri bukan calon kakaknya anak saya. Lagian saya nggak minat nikah lagi."
"Yah." Tegur Abi menyenggol lengan Ayahnya. Bih keterlaluan. Gimana kalau Mbak cantik minta ganti rugi dua mangkuk bakso yang udah masuk kedalam perut Abi? Kasihan kan mata mbaknya ntar bintitan.
"Udah malem. Mbak pulang takut dicari Mama. Dadah Abi."
Panggilan Abi dibelakangnya tidak menghentikkan langkah Farissa. Dia sibuk memegang dadanya yang berdetak cepat. Dia pergi bukan karena marah karena kalimat pedas bin nyinyir dari Ayah Abi. Tapi karena takut dirinya melompat kesenangan karena dipertemukan bapak cogan itu.
Huhuhu... akhirnya Icha mau kawin emak. Hilalnya udah keliatan. Nggak papa deh punya anak. Abi ganteng kok bisa pamer ke sosial media. Kudu bilang ke emak kalo gue mau nikah secepat mungkin.
"Mamaaaahhhh Icha mau kawin Maahhh." Lengkingan Farissa di telepon hampir membuat Syafira struk ringan di rumahnya.
"Mau kawin sama siapa kamu Ichaaaaa!!! Nikah dulu jangan maen kawin aja. Pulanggg!!!"
Ups salah ngomong.***