bc

Bapak Jadi Imam Saya, Yuk!

book_age16+
4.0K
IKUTI
55.7K
BACA
drama
comedy
sweet
like
intro-logo
Uraian

Farissa, si muslimah ulet keket yang tidak bisa diam barang sejenak. Menyukai duda Satria baja hitam yang cool bagai kulkas berjalan. Bagaimana jadinya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1
"Eiiiiitssss... mau kemana kamu anak bandel?" Tanya Malak alias Mama galak saat melihat gelagat Farissa gampangnya panggil saja Icha supaya tidak kepleset lidahnya menjadi markisa.  Mata Malak sudah melotot. Farissa jadi khawatir mata Malaknya gelinding jatuh seperti bakso yang jatuh menggelinding keluar dari mangkoknya. Aih gagal maning. Gagal maning.  Ini sudah usahanya yang kesekian kali untuk kabur dari ruangan berhawa layaknya ditengah badai salju. Alias ruangan mewah dengan banyak fasilitas keren dan berharga fantastis milik Malak.  Please jangan plesetin panggilan sayang Mama aku jadi Valak.  Walaupun sebelas duabelas nyereminya. Tapi Malak yang paling the best.  "Ehehehe... mau jalan bentar ngambil chiki di depan. Janji deh Icha langsung balik."  "Janji manis aja kamu. Entar juga Mama diphpin lagi. Udah duduk.. duduk. Jangan-jangan p****t kamu bisulan daritadi mondar mandir kaya setrikaan Mbak Alya."  Walaupun cemberut Farissa mendaratkan b****g nya di sebelah Malak yang sedang sibuk dengan komputerya.  Farissa menggigit bibirnya gelisah. Tidak tahan dia rasanya berada di ruangan sang Mama yang hampir membekukan semua saraf saraf cinta yang bersarang ditubuhnya. Huweee... dia juga butuh hawa segar. Dari pelanggan supermarket misalnya.  Satu-satunya cara agar Farissa dapat menggeniti laki-laki ganteng berdompet tebal tapi bukan karena sumpelan kertas bekas hanya dengan menjadi kasir di supermarket milik sang Mama.  Anehnya bukannya senang putrinya yang paling cantik ikut membantu memajukan kesejahteraan pegawai asli kasir yang kerjaanya cengengesan dan menyeruput coffe latte saat Farissa menggantikan tugasnya. Mamanya malah uring-uringan tidak jelas. Yang katanya mesin kasir bisa meledak lah kalau ditangan Farissa. Dan masih banyak ini itu yang membuat Farissa tidak bebas memandangi laki-laki yang berpotensi menjadi imamnya kelak. Menginjak umur 21 tahun. Entah kenapa hormonya mencari laki-laki yang tidak hanya cihuy secara fisik tapi cihuy juga secara finansial dan segala t***k bengeknya menjadi lebih tinggi.  Farissa sudah merasa umurnya sudah pas untuk menjadi seorang istri dan menjadi seorang ibu yang menyayangi keluarga kecilnya. Aih jadi baper si Icha. "Minta susunya dong Ma. Aus." Tangan Farissa sudah menyentuh kotak s**u ultraman. Tapi tangannya keburu di tepis.  "Ichaaa ya ampun. Di pojokkan kulkas masih belum pindah. Kamu nggak akan tersesat cuman ngambil minum disana." Omel Syafira memindahkan kotak susunya sejauh mungkin dari jarak pandang putrinya. "Mama pelit ih. Yaudah Icha ambil di luar aja."  Farissa cengengesan dan sudah berdiri hendak menyongsong pintu. Lagi-lagi kerah belakang kaosnya ditarik sang Mama.  "Icha bingung. Sebenernya Icha anak Mama apa anak kucing sih. Tarik tarik mulu deh." "Anak kucing! Mama ama Papa nemu di dekat bak sampah." "Mama jahaaaaat." Farissa mencebikkan bibirnya lalu menghentak-hentak kakinya di lantai. "Nggak usah kemana-mana. Kamu disini aja. Mama nggak mau kamu bikin ribet di depan. Cukup kemaren komputer kasir tiba-tiba rusak. Udah kamu ongkang-ongkang kaki aja di sini. Kipasin Mama, lebih berkah." Syafira menarik kerah belakang putrinya untuk kembali duduk.  Farissa menyandarkan punggungnya. Aha!! Dia punya ide. Aduh otaknya memang benar-benar cemerlang. Satu!  Farissa sudab memasang ancang-ancang untuk berlari menembus pintu. Eh enggak... Farissa bukan hantu jadi nggak bisa nembus pintu.  Dua! Kaki Farissa sudah setengah berdiri. Dan bokongnya terangkat sedikit.  Tiga! "Kabuuuuuurrrrrrr!!!!!!!"  "Ichaaaaaa balikkk!!! Ichaaa..."  Farissa tertawa girang mengabaikan teriakan melengking Syafira Mamah galaknya.  Kalau sudah diluar begini. Syafira tidak mungkin mengejar atau menyeretnya seperti anak kucing. Ah senangnya bebas! Farissa cantik, baik hati dan tidak sombong ini sebentar lagi akan berubah. Dari putri keraton menjadi gadis penebar senyum manis di depan kasir.  "Semoga ada cogan satu nyantol. Bismillah."  **** Tuk Senyum manis Farissa luntur saat kepalanya dijitak oleh perempuan berperut buncit yang asik memakan banyak jenis permen. Dari permen karet, lolipop, permen tangkai, dan segala macam.  Perempuan yang sedang mengandung itu tersenyum jahil dan merasa sangat gembira mendapat sogokan walaupun hanya permen.  Sebagai ibu hamil yang nafsu makannya tinggi. Itu sudah membuat perempuan yang memakai jilbab merah maroon itu mesam mesem sepanjang jalan kenangan.  "Mbak ih kok kepala aku dijitak." Kesal Farissa.  "Eh makasih ya Mas ganteng udah belanja. Harus balik lagi kesini ya. Jangan kapok-kapok." Farissa menambahkan senyum maut dan kedipan mata polosnya. Mahasiswa manis nan tampan nan menggoda itu hanya tersenyum menanggapi aksi menggemaskan kasir jalangkung di depanya.  Alias ilang-ilangan. Kadang ada kadang tidak ada.  "Antara ada dan tiada huwowowowo."  Tuk "Auhh Mbak Maita kenapa sih. Pala aku digetok mulu. Mentang-mentang ibu hamil bebas." Farissa mengerucutkan bibirnya.  "Untung yang punya lagu nggak tau kamu nyanyiin lagu dia kaya kaleng rombeng gitu. Kalo tau Mbak yakin kamu dibawa kepengadilan. Nggak diperbolehkan nikah selama-lamanya. Karena merusak kesyahduan lagu." Kata Mbak Maita santai. Farissa mengetuk-ngetuk kepalanya.  "Amit-amit mbak. Aku pingin nikah tau. Lagian suara ku bagus. Bukan rombengan."  Berhubung antrian di kasirnya kosong. Farissa ikut bergabung lesehan bersama Maita.  Lupakan lantai dingin atau hanya beralaskan kardus.  Karena Maita merupakan kasir cuantik yang paling disayang Farissa walaupun kadang nyuebelin. Farissa meminta Mamanya menyediakan tempat paling nyaman untuk Mbak Maita.  Sehingga tempat ini disulap menjadi tempat paling wuenak digunakan selonjoran Maita saat pegal menyiksa.  Karpet tebal berbulu lembut itu sedikit membantu meringankan pegal yang diderita Mbak Maita yang sedang berbadan tiga.  Jangan kaget. Anaknya kembar. Suami Mbak Maita emang jos banget. Udah ganteng, sopan, alim- eh stop stop jangan bahas suami Mbak Maita.  Farissa jadi mewek karena ingin memiliki suami juga. Semoga stok seperti Mas Galih masih ada dan udah ready disaat yang dibutuhkan.  "Iya bagus kalo didengernya dari Afrika Selatan. Anak-anakku jadi demo didalem perut gara-gara denger suara petasan banting kamu."  Farissa tidak menjawab. Dan memilih bersedekap sambil manyun. Karena percuma. Ibu hamil selalu menang. Tidak ada ceritanya Mbak Maita kalah saat berdebat. Yang ada nanti dia yang di pojokkan.  Tidak lama. Ponsel Mbak Maita berbunyi. Farissa dibuat manyun lebih manyun lagi. Bener-bener deh Mbak Maita. Udah ada jomblo cantik disebelahnya. Malah teleponan mesra sama si suami. "Wa'alaikumsalam Mas."  Farissa ikut tersenyum saat Maita meletakkan ponselnya. Binar bahagia tidak lepas dari kedua bola matanya. Bener ya. Ibu hamil akan terlihat lebih cantik dan glowing. Jadi pengen dihamilin juga. "Oh iya. Mbak Maita kenapa masih kerja? Emang Mas Galih nggak melarang Mbak? Udah lumayan gede lo perutnya. Kasihan dede bayinya dibawa kerja terus." Kata Farissa mengelus perut Mbak Maita.  Mbak Maita tersenyum. Ikut mengelus perutnya. "Jadi kamu mau Mbak keluar dari supermarket kamu? Bosen liat muka Mbak?"  "Ahh mbak!! Aku beneran penasaran tau."  Wajah Maita seketika berubah saat akan membahas suaminya. Seakan sangat mengagumi sosok sang suami. "Mas Galih oke aja. Selama Mbak enjoy. Mbak seneng. Dia hooh aja." Maita memasukan permen gummy berbentuk cicak kedalam mulutnya. Farissa jungkir balik ditempatnya. "Huaaaa aku juga mau punya suami. Mau diblendungin juga perutnya kaya Mbak Maita." Farissa seperti kesurupan. Maita sampai mengelus perutnya. Supaya kedua putranya tidak mengikuti jejak gila Farissa. "Ekhem!"  Farissa masih saja berceloteh seperti kaleng rombeng diseret. Tidak menghiraukan deheman bersuara hexos. "Permisi."  Barulah Farissa mengangkat kepalanya. Seketika kepalanya menjadi pusing. Matanya yang semula bulat tiba-tiba berubah menjadi love.  "Bapak!" "Saya?" Lelaki tampan, matang, dan siap membuahi Farissa itu menunjuk dirinya sendiri. "Iya. Bapak pasti dikirim Tuhan kesini ya." "Ha?"  "Iya buat jadi imam saya. Ayah dari anak-anak saya. Ih liat Bapak rasanya jantung saya kok pretelan ya Pak jedag jedug gitu bunyinya." "Adek kurang minum obat?"  "Eh?"  Suara tawa menyebalkan Mbak Maita menyadarkan Farissa dari mabuk kepayangnya.  Alah bodo amat. Gasak aja udah. Sikat sikat!!!! Tidak sia-sia tadi dia membaca bismillah untuk mendapatkan satu saja cogan berparas tampan. Eh doanya cepat terkabul ternyata. Calon imam sudah berdiri dengan gagahnya. Siap untuk meminangnya. "Bisa cepat? Saya buru-buru. Kalo diliatin terus kapan belanjaan saya diitung."  Wajah si Bapak ganteng sudah mengkerut kesal. Tapi riang gembira, Farissa menjumlahkan semua belanjaan Bapak ganteng.  "Pak, kok bisa ganteng sih makan apa?" Kata Farissa di sela-sela kegiatannya menunjukkan kode ke mesin- ah nggak tau namanya apa. "Nasi." "Bapak jomblo? Kalo saya jomblo lho Pak." "Terus."  "Bapak jadi imam saya yuk." "Hah?" "Kita tukaran tulang. Saya jadi tulang rusuk Bapak. Bapak jadi tulang punggung saya. Tenang saya tipe perempuan gemesh yang setia. Nggak akan kelain hati." "Ya Allah... kamu gombalin saya?" Tanyanya tidak percaya. "Saya serius." Farissa sudah memperlambat cara kerjanya. Tapi apa daya. Semua belanjaan sudah masuk kedalam kantong berlogo supermarket hip hip hura hura.  Tangan Farissa sedikit menyentuh kulit si Bapak yang sepertinya merinding dengan kelakuan nyeleneh dari kasir cantik tapi sayang edan.  Walaupun sudah masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan hip hip hura hura. Farissa masih mematung sambil cengengesan. "Woyyy!!!! Jangan bengong kerja kerja." Kata Maita sambil mengunyah ngunyah dan selonjoran santai. Kampret! Yang karyawan siapa yang disuruh-suruh siapa. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

INFANTEM

read
44.1K
bc

Chiko, Let's Play!

read
23.9K
bc

Perfect Marriage Partner

read
821.7K
bc

To Lost You, I Won't

read
164.2K
bc

Maaf, Aku Memilih Dia!

read
230.8K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

You'll Be Mine (Indonesia)

read
223.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook