bc

Ana Uhibbuk Ya zauji

book_age12+
922
IKUTI
4.6K
BACA
student
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

Sembilan tahun lamanya Naira memendam cinta dalam diam. Merajut rindu dalam doa dan terang-terangan memohon kepada Allah untuk menjadikan dirinya kekasih halal dari Reza Ardyan Hutama, laki laki yang ia cintai. Siapa sangka garis takdir keduanya saling terikat, simpul halal itu telah menyatu. Namun rumah tangga keduanya tidak semulus apa yang diharapkan. Sanggupkah Naira menerima takdir yang telah dituliskan oleh-Nya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Gadis itu termenung dalam kamarnya menunggu seseorang yang akan mendatanginya sebagai suami. Baru saja ijab qabul itu terucap. Tidak seperti pernikahan pada umumnya yang menyatukan calon pengantin pria dan calon pengantin wanita dalam satu majelis. Itu adalah permintaannya untuk menunggu suaminya di dalam kamar. Cemas ia menunggu. Pantulan dirinya di cermin meja rias terlihat gusar. Namun tetap saja wajah itu tetap cantik ditambah lagi make up natural yang menghias wajahnya. Karena tak sabar, gadis itu membuka pintu kamar. Sayup-sayup terdengar suara obrolan dari ruang tengah rumahnya. Dia bimbang haruskah dia menghampiri suaminya dan ikut berbincang dengan keluarganya. Atau dia memilih masuk kembali ke dalam kamarnya sampai suaminya itu mendatanginya. "Tunggu! Anda mau kemana? Di sana jalan buntu!" teriak gadis itu saat melihat laki-laki asing berjalan menuju dapur. Laki-laki itu berbalik ke arah sumber suara lalu tersenyum, menampilkan sederet giginya yang tersusun rapi yang menambah ketampanan di wajah itu. "Kakak? Ngapain di sini? Kakak ada hubungan keluarga dengan suami aku?" Gadis itu bertanya kepada laki-laki itu. Acara ijab qabulnya memang hanya dihadiri oleh keluarga saja, itupun keluarga dekat. Sedangkan walimatul ursy akan dilaksanakan 3 hari lagi. Jantungnya berdegup sangat cepat saat laki-laki itu menghampirinya yang sedang berdiri di depan kamar. Dia beristigfar dalam hati dan mencoba untuk menetralkan degupan jantungnya agar tidak terdengar oleh laki-laki itu. "Saya lagi cari istri saya,” ujar laki-laki itu yang masih menampakkan senyumnya. Lain hal nya dengan gadis itu. Dia sangat terkejut saat mengetahui laki-laki di depannya ini sudah menikah. Ada perasaan yang dia sendiri bahkan bingung mengartikannya. Bagaimana mungkin aku masih mengharapkan laki-laki lain saat baru saja aku telah sah menjadi istri orang. Ya Allah ingatkan aku untuk tidak berharap kepada seseorang yang telah menjadi milik orang lain. Gumamnya dalam hati. Berkali-kali dia beristigfar dalam hati. Yaa Allah igfirly.. "Kakak sudah menikah?" tanya gadis itu sambil menunjukkan senyumnya. Kalau saja laki-laki itu tahu dibalik senyumnya tersimpan luka. Tapi gadis itu mencoba untuk menerima keadaan. Ini keinginannya untuk menerima pinangan laki-laki shaleh yang datang kepada ayahnya. Dan saat ayahnya menerima lalu kenapa dirinya menyesal. Menyesal? Entahlah. Jauh di dalam hati gadis itu dia menginginkan laki-laki yang di hadapannya ini yang menjadi imamnya. Yang membimbingnya untuk bersama-sama meraih kebahagian hakiki, yaitu surga. Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Bisik hati putihnya. Laki-laki itu mengangguk. "Kalau gitu selamat ya, Kak." "Terima kasih. Boleh saya masuk?" Laki-laki itu menunjuk pintu yang berada di balik punggung si gadis. Gadis itu langsung menggeleng cepat. "Nggak bisa, Kak. Kalau suami aku tahu aku masukin laki-laki lain ke kamar aku bisa gawat." Laki-laki itu menampilkan wajah kecewa. Sadar akan perubahan wajah laki-laki di hadapannya gadis itu langsung berucap. "Maaf Kak, ini demi keharmonisan rumah tangga aku." "Loh kok diluar? Ngga di dalem aja." Belum sempat gadis itu menutup mulut, muncul kakak laki-laki gadis itu. "Nggak boleh masuk nih, Mas,” adu laki-laki itu yang kemudian terkekeh. Kening Gadis itu mengkerut, dia bingung dengan apa yang terjadi. "Tunggu dulu deh." Gadis itu mulai bersuara. "Kakak lagi mencari istri Kakak, sedangkan aku lagi nunggu suami aku. Ini sebenarnya kenapa sih?" lanjutnya. "Duh. Dek.. Dek.. Udah nikah masih aja lemot." Kali ini kakak gadis itu yang menyahut. Gadis itu berdecak kesal dengan ucapan kakaknya. Apa hubungannya sudah menikah dengan otaknya itu? "Dia suami kamu,” lanjut kakaknya itu. Dan langsung meninggalkan mereka berdua. Ha? Suami? Mulut gadis itu sempat terbuka saat menampilkan ekspresi terkejutnya. Sadar, ia kembali menutup mulutnya itu. "Kakak? Kenapa ngga bilang?" "Tadikan Kakak udah bilang mau masuk kamar kamu, tapi ngga di bolehin." Subhanallah Walhamdulillah wa Laa ilaha illallah Wallahu Akbar! Maha suci Allah, segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain-Nya. Allah Maha besar! Tak henti-hentinya gadis itu memuji Kebesaran Tuhannya. Diam-diam gadis itu tersenyum saat memasuki kamarnya karena tangannya digenggam lembut oleh suaminya itu. Setelah shalat dan dilanjutkan dengan doa laki-laki itu berbalik menghadap istrinya. Dilihatnya istrinya itu yang masih menunduk. Sadar suaminya sedang memperhatikan, gadis itu langsung meraih tangan suaminya dan langsung mengecup punggung tangan laki-laki yang kini telah sah menjadi kekasih halalnya itu. Laki-laki itu itu meraih puncak kepala istrinya yang masih memakai mukena. Seraya berdoa "Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi maa jabaltaha. Wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha." Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya. (Hadits Imam Bukhori, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Sinni). "Aamiin.. Aamiin.." Lirih gadis itu meng-aamiin-i doa suaminya dan berdoa "Barakallahu likulli waahidin minna fi shaahibihi." Semoga Allah memberkahi masing-masing diantara kita terhadap teman hidupnya. (Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkaar). Satu persatu tetes air mata jatuh di pipi gadis itu karena tak sanggup menahan haru. Allah telah mengabulkan doanya. Sama sekali tak pernah terpikir bahwa mimpinya selama ini menjadi kenyataan. Yaitu bisa menikah dengan seseorang yang dicintainya. "Masya Allah baru beberapa jam kakak menikahimu tapi kakak sudah buat istri kakak ini menangis." Laki-laki itu menangkupkan kedua tangannya di wajah sang istri. Perlahan dia menghapus air mata istrinya itu dengan ibu jarinya. Gadis itu tersenyum, matanya berbinar-binar. Suaminya bingung dengan perubahan istrinya itu. "Percayalah kak, ini bukan tangis kesedihan tapi ini adalah tangis haru." "Aku percaya kok ibu guru." Gadis itu terkekeh mendengar jawaban suaminya yang memanggilnya ibu guru dan ditambah lagi suaranya di buat-buat seperti anak kecil. "Kenapa memilih sebagai guru?" Laki-laki itu bertanya. Dia penasaran, kenapa dua wanita paling penting dalam hidupnya berprofesi sama. Istri dan ibunya. "Dulu sebelum aku memutuskan untuk menjadi guru aku berpikir kalau guru adalah profesi untuk dunia dan akhirat." Gadis itu mulai menjelaskan. Laki-laki itu mengerutkan kening, dan menanti penjelasan dari istrinya. "Bagian dunianya, tidak memunafikkan juga kita bekerja untuk mencari uang. Untuk biaya hidup yang semakin mencekik leher. Aku juga harus membantu orang tuaku. Tidak selamanya aku meminta dari mereka. Bagian akhiratnya, aku teringat salah satu hadis yang berbunyi 'Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara. Yang pertama, sodaqoh jariyah. Yang kedua, ilmu yang bermanfaat. Dan yang ketiga, anak yang shalih yang mendoakan orang tuanya.' Dengan menjadi guru Insya Allah aku bisa mengamalkan yang kedua, yaitu ilmu yang bermanfaat. Yaa meskipun aku masih merasa miskin ilmu, tapi setidaknya ilmuku yang sedikit ini bisa aku berikan kepada anak murid. Dan masih ada lagi kak, menurutku jadi guru itu menyenangkan. Aku bisa tetap bekerja dan juga dapat tetap menjalani peran istri dan ibu. Aku tidak mau suami dan anaku terlantar. Entahlah aku bisa berpikiran seperti itu padahal waktu itu aku belum lulus SMA. Tapi bukan berarti aku menjudge pekerjaan lain jelek loh ka. Yang penting halal." Laki-laki itu mendengarkan penjelasan istrinya dengan seksama. Dia sempat berfikir, apa dulu ibunya juga berfikiran seperti itu. Bisa berkarir tanpa harus menelantarkan anak dan suami. Kemudian dia tersenyum. "Oh iya satu lagi. Kenapa kamu memilih mahar surah Ar-Rahman?" tanya laki-laki itu. Dia sudah tidak sabar mendengar alasan istrinya. "Ngga tahu kenapa, aku selalu merinding mendengar surah itu." Gadis itu diam sejenak. "Menurut aku surah Ar-Rahman itu istimewa. Aku tahu, semua surah dalam al-qur'an itu istimewa. Tapi di surah Ar-Rahman sebanyak 31 kali Allah menyuruh kita untuk bersyukur. Fabiayyi alaa-i Rabbikuma tukadzzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Allah mewanti-wanti agar hambanya tidak kufur nikmat. Kurang lebihnya seperti itu kak." "Masya Allah.. Selain aku mendapatkan istri yang cantik, aku juga mendapatkan istri yang shalihah. Ternyata benar kata Nabi, sebaik-baik perhiasan adalah istri yang shalihah." "Bantu aku untuk menjadi seperti itu, Kak." Gadis itu membuka dan merapikan mukenanya. Nampaklah rambut hitam panjang sepunggungnya. Keduanya saling bertatapan. Tatapan penuh cinta nan suci. Mengundang tatapan Allah pada keduanya dengan tatapan penuh rahmat-Nya. Jemari keduanya bergenggaman penuh mesra. Mengundang Allah mencurahkan maghfiroh atas mereka. Ketika itu malaikat-malaikat bertasbih, karena menyaksikan guguran dosa yang berserakan dari tubuh keduanya.    

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

Pengantin Pengganti

read
85.9K
bc

Long Road

read
148.4K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.0K
bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

ISTRI SATU JUTA DOLAR

read
438.0K
bc

FINDING THE ONE

read
34.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook