Rindu menggigit bibirnya sendiri, galau dan bahagia bercampur aduk jadi satu di hatinya. Galau karena dirinya tidak bisa datang tepat waktu di pernikahan sahabatnya. Ya, Jasmin sahabatnya dan Emir sahabatnya di waktu masih kecil, hari ini menikah. Dan ia menyesal, karena tidak bisa hadir tepat waktu, ada jadwal mengantar ibunya terapi ke tempat alternatif. Dan Rindu bahagia karena, setelah sekian lama membawa ibunya mondar mandir pergi berobat ke banyak dokter dan tempat pengobatan alternatif akhirnya berbuah manis, ibunya yang sebelumnya hanya bisa berbaring tanpa bisa bicara, menderita penyakit stroke selama satu bulan lebih, perlahan berangsur membaik. Perkembangan bicara ibunya semakin hari semakin lancar, dan kini wanita itu sudah bisa bercerita tentang berbagai hal dengan lancar
Di dalam mobil milik tetangganya, Bu Yunita sedang asik bicara dengan putrinya. Wanita itu terus mengucap terima kasih pada nya, karena sudah bersabar merawat dan selalu menemaninya. Tanpa rasa putus asa terus mengupayakan kesehatannya, dengan membawanya kemanapun apa kata orang.
Bu Yunita lalu bertanya tentang nasib kuliah Rindu. Apakah keteteran karena selalu merawatnya, membawa dirinya berobat pasti menyita waktunya seperti yang ia lakukan saat ini, mereka baru saja pulang dari salah satu tempat pengobatan alternatif.
Mendengar pertanyaan ibunya, Rindu pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, tangannya lalu menggenggam tangan ibunya. Mengatakan agar dia tidak perlu mengkhawatirkan dirinya, ia sudah dewasa dan bisa mengatur waktunya dengan baik. Rindu lalu menjelaskan jika dirinya baru selesai melakukan kegiatan PPL yang di lakukan tak jauh dari rumahnya, dan sudah tiga hari ini mulai sibuk mempersiapkan skripsinya.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya Rindu dan ibunya tiba di rumah. Pak Rahman yang menjadi supir, selalu menolong Bu Yunita keluar dan masuk mobil, dengan telaten membantunya duduk di kursi roda.
Baru saja Rindu mendorong kursi roda ibu nya, tiba-tiba ia berhenti melangkahkan kakinya, matanya melebar tak percaya, di depan gerbang rumahnya berdiri Bu Aishe dan Pak Ridwan, orang tua Emir, mantan majikannya sehari. “Nyonya? Ada apa?” ucap Rindu sembari menyalami kedua tangan orang itu, mencium hormat tangan keduanya, ia pun jadi bertanya-tanya, mengapa kedua orang tua Emir berada di sini? Bukannya bersama dengan putranya yang sedang menikah.
“Emm…, kami ingin bicara sesuatu sama kamu, boleh?” ujar Bu Aishe ramah.
“Boleh, tentu saja boleh. Silahkan masuk rumah.” jawab Rindu sembari tersenyum, ia lalu segera berjalan mendahului kedua orang itu, membuka pintu lalu mempersilahkan Bu Aishe dan Pak Ridwan masuk. Rindu lalu meninggalkan ibunya di ruang tamu bersama kedua orang tua Emir, sedangkan ia pergi ke belakang membuat teh.
“Kita…, sepertinya…, aku pernah melihatmu, Bu. Bukankah begitu, Pa?” ucap Bu Aishe pada Bu Yunita.
Bu Yunita tersenyum. “Kalian melupakan aku? Padahal aku masih ingat betul siapa kalian.” Bu Yunita, ibunya Rindu kali ini mengulum senyumnya.
“Tunggu-tunggu aku ingat, kamu…, Bu Yunita kan? Tetangga ku dulu.” sahut Pak Ridwan antusias. Bu Aishe tercengang, sesaat kemudian tiga orang itu tertawa lepas. Terdengar jelas hingga dapur, membuat Rindu yang sedang memasak air ikut tersenyum. Ia senang mendengar tiga orang itu saling mengingat, bahkan hubungan mereka tetap menghangat walau belasan tahun telah berlalu. Rindu ingat, Bu Aishe dan Pak Ridwan dulu pernah tinggal sekampung dengan keluarganya. Walau keluarga mereka kaya raya namun mereka tidak sombong, dekat dengan masyarakat sekitar. Dan keluarganya dulu pernah dekat dengan keluarga Emir, terikat dengan kerjasama. Pak Ridwan menyewakan mobil mereka melalui ayah Rindu yang bekerja sebagai pemilik agen travel yang menyediakan berbagai mobil. Itulah sebabnya Rindu dan Emir pernah menjadi sahabat dekat. Sayang hubungan Emir dan Rindu berakhir buruk. Karena suatu kejadian pahit, Emir akhirnya membenci Rindu. Karena orangtuanya tidak tahan dengan keadaan itu, mereka pun memindahkan Rindu, menjauh dari keluarga Pak Ridwan. Berharap luka itu bisa cepat terlupakan.
Sambil mengaduk teh, Rindu berdoa dalam hati, semoga Pak Ridwan dan Bu Aishe tidak membenci dirinya seperti apa yang di lakukan Emir dulu pada dirinya. Rindu sadar, kesalahannya dulu terlalu fatal hingga membuat sahabat baiknya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat membencinya, bahkan hingga kini Rindu tidak bisa melupakan kenangan pahit itu, belum bisa memaafkan dirinya sendiri.
Dengan langkah kaki ragu, Rindu berjalan ke ruang tamu keluarganya yang tidak mempunyai perabot bagus, bahkan bisa dikatakan jadul dan ketinggalan jaman, sia-sia sudah kerja keras ibunya merantau ke Arab saudi, sekarang semua sudah lenyap dibawa oleh ayah dan istri mudanya yang serakah.
Rindu senang saat melihat ibunya kini bisa tertawa lepas sambil bercerita pada sahabat lamanya, ia pun jadi bertanya-tanya, sebenarnya Bu Aishe ingin mengatakan apa pada dirinya.
“Rindu…, kenapa kamu repot-repot buatin teh, Sayang. Ah bukan, kamu bukan Rindu, tapi Ana kecil yang sangat cantik. Saat itu aku dan para pembantu di rumah sering membicarakan mu, kami sepakat, kalau kamu sudah dewasa nanti pasti jadi primadona. Ternyata benar kan, kamu memang tumbuh jadi gadis yang sangat cantik.” Gelak tawa lalu terdengar di ruang tamu itu, tapi wajah Rindu justru merona merah karena malu. Ana adalah nama yang digunakan Rindu dulu, berasal dari kata Rindu Ahsana Nadia.
"Anda berlebihan, Nyonya. Wajah saya biasa-biasa saja, tidak mungkin jadi primadona. Silahkan diminum Nyonya, Tuan.”
“Kamu ngomong apa sih Rindu. Jangan panggil aku nyonya lagi, aku kan bukan majikanmu lagi. Ayo duduk sini.” Bu Aishe memegang tangan Rindu, mengosongkan tempat duduk di sampingnya memberi ruang untuk Rindu duduk.
Sambil tersenyum kaku Rindu pun duduk di samping Bu Aishe, sementara di sisi lainnya ibunya duduk di atas kursi rodanya.
“Kamu udah makan, Rindu?” tanya Bu Aishe basa basi.
Rindu pun menggeleng jujur. “Kami baru pulang.” jawabnya.
“Emm…, gimana kalau kita bicara sambil makan di luar aja?” ungkap Bu Aishe tiba-tiba.
“Sebenarnya ada apa, Jeng Ais? Kalau mau bicara di sini aja juga nggak pa pa, nggak perlu sampai keluar rumah. Sepertinya Rindu masih kurang sehat, dari kemarin, sejak pulang dari rumahmu, dia ini diam terus, kebanyakan melamun.” tutur Bu Yunita.
“Sebenarnya ada sedikit kejadian waktu Rindu berada di rumah Emir, dia putra kami, temannya Rindu waktu kecil.” ungkap Bu Aishe, dan Bu Yunita pun menyimak baik-baik. Sedangkan Rindu menggigit bibirnya sendiri, gugup, takut, bagaimana kalau kejadian kemarin malam di beberkan di depan ibunya, dirinya dan Emir tidur dalam keadaan saling berpelukan di sofa.
Pikiran Rindu kalut, sudah susah payah ia menjauh dan tidak mau kembali ke rumah Emir dan keluarganya, berusaha melupakan kejadian antara dirinya dan Emir yang tak pantas di lakukan, tapi sekarang, kenapa mereka malah datang ke sini? Batin Rindu gelisah, apa ada barang berharga Emir yang tanpa sengaja masuk ke dalam tas nya? Jam tangan Swiss nya? Atau baju-bajunya yang mahal tanpa sengaja masuk ke dalam bagasi motornya? Masa sih?
“Kamu ingat kejadian waktu Emir dan Rindu masih kecil?” tanya Bu Aishe, keadaan di sekitar tempat itu seketika terasa muram, siapapun tidak ingin kejadian itu terjadi, dan membicarakannya membuat luka yang sudah mengering terkelupas lagi. “Sebelumnya aku minta maaf, Rindu. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu atas kejadian itu.” Bu Aishe menggenggam hangat tangan Rindu. “Karena kejadian itu, Emir sampai sekarang phobia pada kegelapan. Dan kemarin malam, waktu lampu di rumah Emir mati, kamu kebetulan yang ada di sana. Jadi mau tidak mau, Emir yang ketakutan otomatis meluk kamu." Bu Aishe lalu menghadap Bu Yunita. "Mereka lalu pelukan sampai ketiduran, hingga akhirnya kami datang." lanjutnya.
“Benar kamu pelukan sama Emir, Nak?” tanya Bu Yunita pada putrinya. Rindu pun hanya diam, menunduk menahan malu. “Kamu menyembunyikan sesuatu? Jangan-jangan kalian melakukan lebih dari sekedar pelukan?” Bu Yunita mulai curiga.
Rindu seketika langsung mendongak. “Kami tidak melakukan apa-apa. Emir hanya memelukku tidak lebih.” sangkal Rindu cepat.
“Oh ya? Tidak mungkin kalian hanya sekedar pelukan, kalian ini sudah dewasa, jiwa kalian normal. Saat dua orang saling berdekatan pasti ada sesuatu tak pantas yang kalian lakukan.”
“A-aku tidak melakukan apapun, Ma. Emir tidak mungkin melakukan itu, dia tidak menyukaiku, dia sudah punya calon…,”
“Sabarlah Jeng Yunita,” potong Bu Aishe tiba-tiba, berusaha menengahi ketegangan antara Bu Yunita dan Rindu. “Emir dan Rindu memang tidak melakukan apa-apa, mereka hanya pelukan di ruang tamu, jadi tidak mungkin mereka melakukan yang aneh-aneh di sana kan? Aku percaya putraku tidak melakukan itu. Dan kamu juga harus percaya pada Rindu kalau dia tidak melakukan perbuatan seperti itu.” ujar Bu Aishe tenang.
“Kamu tidak sadar keadaan pergaulan anak jaman sekarang, Jeng Ais? Mereka tidak bisa dipercaya gitu aja. Video porno menyebar di mana-mana. Katakan padaku, anak mana yang belum pernah melihatnya? Selain melihat, mereka pasti sangat penasaran, cewek sama cowok sama aja, mereka sama-sama penasaran dan ingin melakukannya waktu ada kesempatan.” tutur Bu Yunita panjang lebar.
“Kalau begitu, apa kamu setuju, kalau anak-anak kita harus tanggung jawab dengan apa yang sudah mereka lakukan?” Pak Ridwan menimpali.
‘Apa-apaan ini? A-apa maksud mereka ngomong gitu?’ firasat Rindu tidak enak.
“Apa maksud kalian?” Tanya Bu Yunita dengan dahi berkerut
Pak Ridwan menggaruk tengkuknya tak nyaman, “maksudku…, em…, bagaimana…, kalau kita nikahkan saja Emir dan Rindu? Sebelum ada gosip yang menyebar, dan pembicaraan yang tidak mengenakkan. Sebaiknya kita nikahkan saja mereka, bagaimana?” lanjutnya.
“Tidak mungkin!” sahut Rindu refleks, “Emir sudah punya Jasmin, dan hari ini mereka menikah. Saya tidak bisa menikah sama Emir.” Dan karena dirinya mengantar ibunya berobat, rencananya ia akan menghadiri pernikahan sahabatnya nanti sore. ‘Apa-apaan ini? Mereka ingin menjadikan aku madu untuk sahabatku sendiri? Jangan pernah bermimpi, aku tidak akan melakukannya.'
“Emir menikah sama Jasmin?” Tentu saja Bu Yunita mengenal siapa Jasmin. Dia adalah sahabat Rindu sejak masih SMP.
Bu Aishe seketika menggenggam tangan Rindu. Bibirnya bertutur halus dan tenang. “Begini Rindu, ada beberapa kejadian yang tidak kamu tahu beberapa hari belakangan ini. Tiga hari yang lalu…, Emir langsung memutuskan Jasmin waktu tahu Jasmin sudah tidak perawan. Mungkin…, dia merasa kecewa dan terkhianati.” terang Bu Aishe.
Jantung Rindu seketika berdegup keras. ‘Bagaimana rahasia besar itu terungkap saat pernikahan mereka tinggal tiga hari?’ Rindu bertanya-tanya dalam hati. ‘Tega sekali Emir melakukan ini? Tapi..., siapa yang membongkar rahasia ini? Tidak ada yang tahu masalah ini selain dirinya dan Jasmin. Oh…, jadi ini sebabnya mereka hari ini malah ke sini, bukannya hadir di pernikahan putranya. Terjawab sudah rasa penasaran di hatinya sejak tadi. ’Maafkan aku Jasmin, akhir-akhir ini aku selalu sibuk mengurus ibuku, aku sampai tidak tahu, kalau pernikahanmu sudah hancur.' sesalnya.
“Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa menikah dengan Emir. Apa nanti yang dipikirkan Jasmin kalau dia tahu saya menikah dengan calon suaminya. Saya sahabatnya Jasmin.” tolak Rindu.
“Kamu sahabatnya Jasmin?” Bu Aishe terhenyak. Dan Rindu mengangguk. “Itu artinya kamu juga kenal sama Emir?” tanya nya lagi.
Rindu mengangguk. “Saya kenal Emir sebagai calon suami sahabat saya, dan saya sadar kalau Emir adalah teman kecil ku dulu. Tapi Emir tidak tahu kalau saya adalah Ana, teman masa kecilnya dulu.” Beber Rindu, kali ini jangan sampai ada kesalahpahaman.
“Oh…, rupanya kamu sudah tahu siapa kami sebelumnya dan kamu tetap tidak mau berterus terang?” ucap Bu Aishe kaget dengan fakta itu. Nafasnya menghembus berat sembari bersandar di sofa usang milik Rindu, suara derit kayu tua terdengar memalukan di telinga. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan. Ayahnya sudah mengangkut sofa terbaik di rumah mereka, menyisakan sofa lama di rumahnya yang seharusnya sudah pensiun. Istri muda ayahnya benar-benar tidak punya rasa malu, selain minta di bangunkan rumah baru, dia memilih mengisi rumah kosongnya dengan perabot dari rumahnya.
“Maaf.” hanya itu yang bisa Rindu ucapkan. Lagi pula tidak mungkin kan kalau dirinya mengucapkan pada majikan mereka jika mereka dulu sudah saling mengenal. untuk apa? Agar bisa lebih dekat dengan majikannya dan membuatnya terlihat seperti seorang penjilat? Bagaimana kalau mereka justru merasa malu mempekerjakan mantan tetangga?
“Baiklah aku mengerti masalahmu,” celetuk Bu Aishe. “Aku bisa memahami perasaanmu saat itu.” lanjutnya. “Karena kamu sudah tahu posisi Emir yang tidak jadi menikahi Jasmin, kamu bersedia kan menikah sama Emir?” wajah Bu Aishe terlihat harap-harap cemas memandang Rindu yang menunduk.
Rindu menggeleng. “Kalau saya menikah dengan Emir, lalu bagaimana dengan hati Jasmin? Saya tidak bisa melakukan ini.”
Bu Aishe memeluk lembut bahu Rindu. “Jangan khawatirkan tentang itu. Jasmin bukannya gagal menikah. Hari ini dia menikah dengan dosennya, namanya…,” Bu Aishe sedang berpikir. “Namanya Rei…, Rei apa ya? Aduh aku lupa.”
“Reisaka?” tebak Rindu? Kabar apa lagi ini? Bukannya Jasmin selalu bilang benci sama dosen itu? Ia tidak menyangka, ternyata dirinya sudah banyak ketinggalan informasi tentang sahabatnya.
“Kamu juga kenal dosen itu? Aku nggak nyangka, Jasmin begitu cepatnya berubah setelah di putuskan Emir, beberapa hari yang lalu dia sering bilang cinta pada Emir, dan begitu Emir memutuskannya, dia langsung berpindah hati pada pria lain, jangan-jangan selama ini Jasmin sama dosen itu sudah selingkuh di belakang Emir? Hhh…. Untung Emir nggak jadi menikah dengan wanita tukang selingkuh seperti dia. Sebenarnya aku lebih setuju kalau Emir menikah sama kamu yang lebih menjaga aurat seperti ini. Aku suka sama kamu Rindu. Kamu lebih menjaga diri, baju dan kerudungmu yang selalu syar i mennjukkan kalau kamu benar-benar hijaber sungguhan, tidak hanya memakai kerudung ketika keluar aja.” Bu Aishe tersenyum tulus pada Rindu. Tangannya membelai lembut bahu wanita itu.
‘Jasmin tidak mungkin selingkuh dengan dosen itu. Aku tahu betul siapa dia. Berkali-kali dia selalu bilang cinta pada Emir dan membenci dosen sok kegantengan itu. Pasti ada penjelasan, kenapa Jasmin melakukan ini.’ pikir Rindu. ‘Kalau aku menikah dengan Emir, itu artinya aku setuju dijadikan pelampiasan dan pelarian Emir. Jangan-jangan ini juga yang jadi alasan Jasmin menikahi dosen itu? Dosen itu hanya jadi tempat pelarian Jasmin saja? Dia kan tahu betul kalau dosen itu selalu mengejarnya, walau tahu sahabat nya sudah punya calon suami. Setelah ini dirinya harus menghubungi jasmin, bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua kacau balau seperti ini?
“Maaf Nyonya, saya tidak bisa menikah dengan Emir. Saya…, juga sudah tidak perawan.” Suara Rindu lirih, wajahnya menunduk tidak berani menatap wajah mantan majikannya apalagi wajah ibunya. Uuh…, sial! Kenapa aku harus mengarang cerita seperti ini? Aku telah menodai harga diriku sendiri. Sesal Rindu, tidak tahu lagi cara menolak lamaran itu.
“Apa? Kamu sudah tidak perawan?" Bu Yunita terdengar syok, buru-buru Rindu menghampirinya, dan hatinya hancur saat melihat wajah ibunya merah menahan amarah, semakin terluka saat ada air mata mengambang di mata nya yang mulai muncul garis-garis kerutan di sudut netranya.
“Kita bicara di dalam, Ma. A-aku bisa jelaskan semuanya.” Rindu berbisik di telinga ibunya. Ia hendak mendorong kursi roda ibunnya masuk ke dalam rumah, namun tidak jadi karena ibunya menolak untuk masuk.
“Kalau kalian mau, silahkan ambil barang bekas ini.” ujar Bu Yunita, suaranya bergetar menahan emosi, tentu saja dia emosi dan tidak terima setelah mendengar pengakuan Rindu. Kenapa tidak sekalian ia buang anaknya yang telah mencoreng nama baiknya pada orang yang jelas menginginkan putrinya.
“Mama…, jangan marah dulu, aku punya alasan bicara seperti ini di depan mereka.” bisik Rindu lagi. Namun Bu Yunita tidak bereaksi sama sekali dengan permintaan putrinya.
“Benarkah Rindu boleh untuk Emir?” sahut Pak Ridwan girang, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya, ia bahkan mengabaikan istrinya yang sembunyi-sembunyi mencubit pinggangnya. Tidak setuju dengan perkataan nya yang memutuskan dengan cepat permasalahan baru tersebut.
“Iya, silahkan saja kalau kamu dan anak mu menginginkan Rindu, untuk apa mempertahankan lebih lama anak yang tidak bisa menjaga harga diri dan martabatnya? Bukankan orang tua harus segera menikahkan anak gadis nya ketika sudah tiba waktunya? Daripada dia terus melakukan perbuatan suami istri di luar nikah, lebih baik dia melakukannya dengan suaminya.”
“Mama…! Apa yang Mama katakan? Aku tidak ingin menikah…” Pekik Rindu pelan. Tubuhnya seketika ambruk di belakang kursi roda ibunya, terduduk lemas di atas lantai. Rindu menangis dalam diam di atas lututnya yang tertekuk ke atas. 'Oke, dirinya memang mencintai Emir, tapi bagaimana dengan Emir? Jelas-jelas pria itu tergila-gila pada Jasmin, tidak ada tempat untuk dirinya di hati Emir. Apalagi akibat kejadian di masa lalu, Emir dulu sangat membencinya. Bagaimana kalau sekarang Emir masih membencinya?
“Syukurlah kalau kamu setuju.” ucap Pak Ridwan. “Aku lebih senang dan setuju kalau Emir mendapatkan Rindu. Kamu tahu Rindu? Kalau kamu memang sudah tidak perawan itu tidak masalah bagi kami, kamu yang selalu menjaga penampilanmu, itu menunjukkan kalau kamu sudah taubat. Berdiiri di jalan yang benar itu lebih baik daripada perempuan yang tidak mau mengakui kesalahannya dan terus berada di jalan yang salah.”’ ujar Pak Ridwan, tidak mau tahu Rindu yang terduduk syok di belakang kursi roda ibunya.
“Tapi sebelum aku menyerahkan Rindu pada putramu. Aku ingin tahu, sebenarnya yang menginginkan pernikahan ini hanya kalian saja? Atau putra mu juga menginginkannya? Aku ingin tahu, dia mengingin Rindu atau tidak?”
“Sebelumnya aku minta maaf, kalau pernikahan ini seolah kami yang menginginkannya.” Pak Ridwan menarik nafasnya panjang. Lalu menghembuskannya banyak-banyak. ”Maaf kalau membuat Rindu merasa jadi tempat pelarian Emir. Tapi percayalah, kalau Emir juga setuju dengan pernikahan ini. Lagipula mereka dulu teman baik, kalian pasti bisa saling mengerti. Untuk masalah cinta itu mudah, perasaan itu bisa tumbuh kalau kalian nanti berusaha saling memahami, ya kan Bu Yunita?” Pak Ridwan tersenyum saat melihat Bu Yunita mengangguk setuju. “Aku akan menelpon Emir, akan ku tunjukkan pada kalian, kalau Emir menyetujui pernikahan ini.” lanjut Pak ridwan. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya, menyentuh-nyentuh layar ponselnya. Tidak lama kemudian telpon telah terhubung dengan Emir.
“Assalamualaikum, Mir. Kamu lagi ngapain? Kenapa kamu belum menyusul ke rumah Rindu? Kami sudah ada di sini sejak tadi.”
“‘Aku masih sibuk, Pa. Masih gladi bersih wisuda. Papa ingatkan, seminggu lagi aku wisuda. Mungkin…, aku tidak bisa kesana. Ali barusan menelponku, ada sedikit masalah di Mall ku.” jawab Emir. Bu Yunita bisa mendengar suara Emir, karena Pak Ridwan menyetel panggilannya secara loudspeaker. Rindu bahkan terdiam seketika, ingin memastikan apa itu benar suara Emir atau bukan, dan menurutnya, fix, itu benar suara Emir.
“Aku ingin tahu keputusanmu mengenai pernikahan mu dengan Rindu. Kamu tidak berubah pikiran kan? Kamu setuju menikahi Rindu?” tanya Pak Ridwan.
“Aku tidak berubah pikiran. Aku …, setuju menikah dengan Rindu. Maaf, Pa. Kita sudahi telpon ini, aku harus pergi, dekan ku memanggilku. Assalamualaikum.” Tut… Telpon sudah diputuskan oleh Emir begitu saja. Hati Rindu pun jadi bimbang untuk menolak, Emir adalah cinta monyetnya dan juga cinta pertamanya. Selama ini dirinya belum pernah berpacaran, bukannya tidak laku, tapi hanya karena ia tidak ingin berpacaran, itu saja. Selama ini dirinya selalu disibukkan belajar dan terus belajar, ia harus selalu jadi bintang kelas sesuai dengan apa yang ibunya inginkan, yang selalu membisikinya ketika dirinya hendak tidur, sugesti yang selalu wanita itu berikan, agar dirinya jadi anak yang pandai dan juara kelas. Dan sugesti yang ibunya berikan berhasil membuat Rindu selalu belajar dengan rajin dan selalu menjadi juara kelas, sehingga sejak SD hingga kuliah, dirinya selalu mendapat beasiswa.
Rindu pasrah saja ketika Bu Aishe mengajaknya kembali duduk di sofa bersama dia dan suaminya. Sepertinya dirinya sudah tidak punya alasan menolak pernikahan itu. Percaya pada keputusan ibunya, bahwa orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak mungkin ibunya mendorongnya pada jurang kesedihan dan kesengsaraan. Seperti biasa, ia selalu patuh pada orang tuanya. Apalagi Emir jelas tidak menolak pernikahan itu. Itu menunjukkan jika Emir tidak membencinya, ia percaya cinta pasti bisa tumbuh dan mekar di hati Emir. Ia akan berjuang sekuat tenaga agar Emir melupakan Jasmin dan melihat hanya kepadanya.
Pertemuan siang itu berakhir dengan bahagia. Pak Ridwan berjanji, dia sendiri yang akan mengurus ayah Rindu. Karena pria itu yang akan menjadi wali untuk pernikahan Rindu.
Bersambung….