Gelak tawa ceria beberapa anak kecil terdengar di antara para jamaah pengajian bapak-bapak di sebuah kampung. Hari itu di rumah keluarga kaya raya bernama Pak Jamal Ridwan digelar sebuah pengajian, dalam rangka syukuran atas kelahiran anak nya yang ketiga. Adik perempuan Emir baru berusia tujuh hari.
Wajah tiga anak kecil yang sejak tadi bercanda terlihat berpeluh peluh, bermandikan keringat ketika mereka berlarian di antara para tamu undangan yang baru saja tiba di rumah mewah keluarga Pak Ridwan.
“Emir, Ana…, berhenti!” Pak Ridwan, sang pemilik rumah megah, menangkap tubuh putranya yang masih berusia delapan tahun, Ana dan Aliya yang sejak tadi ikut bermain bersamanya refleks ikut berhenti lari, berdiri dekat dengan Emir. “Jangan lari-larian di dalam rumah, nggak sopan, banyak tamu." ucap pak Ridwan pada Emir dan teman-temannya. "Gimana kalau kalian nanti tersandung kaki para tamu? Mau jatuh?" Tanya Pak Ridwan dengan sedikit ancaman, wajah ya g biasa terlihat sabar dan kalem dibuatnya sedikit garang agar anak-anak di depannya segan. Tiga anak itu pun menggeleng, tentu tidak ingin jatuh.
"Ya sudah, kalau nggak mau jatuh, sebaiknya sekarang kalian duduk." Pak Ridwan menggeser duduknya memberi ruang duduk untuk Emir kecil dan teman-temannya. "Duduk tenang dan jangan berisik!” Tangan pria itu menepuk pelan lantai beralas permadani merah di sampingnya. Pria itu sendiri duduk bersila di atas permadani, memakai kemeja batik dan bersarung.
Emir kecil justru menggeleng, tubuhnya mulai terlihat tinggi, lebih cepat tumbuh dibanding anak seusianya. “Aku mau main sama teman-temanku, sebentar lagi mereka pulang.” ujar Emir keras kepala. Tubuhnya kaku berdiri di depan ayahnya.
Pak Ridwan pun menghela nafasnya. “Ya sudah, main sana, tapi jangan di sini. Main di luar ya?” ujarnya seraya memijat pelan bahu putranya.
Emir, Ana, dan Aliya pun seketika bersorak gembira, tanpa permisi tiga anak itu lalu berlarian keluar rumah dari pintu samping. Di luar, mereka seakan ayam yang sudah lama terkurung di dalam kandang. Berlarian kesana kemari penuh semangat. Kejar-kejaran hingga akhirnya menuju halaman belakang rumah Emir yang luas, mempunyai desain modern dan indah.
Halaman itu tertata rapi dengan lantai terbuat dari paving block warna merah dan hijau, tersusun selang seling dengan rapi. Beberapa pohon rindang menyejukkan taman dan juga memanjakan mata, tanaman-tanaman hias berbagai jenis semakin memperindah tempat itu. Ada sebuah jembatan mungil di tengah-tengah taman, menjadi daya tarik utama halaman belakang. Dibawahnya, mengalir sungai buatan yang panjang, berbentuk melingkar menyusuri sudut-sudut halaman belakang, dengan kedalaman air selutut orang dewasa, cukup aman untuk anak-anak. Dan di tengah-tengah sungai yang melingkar tersebut ada beberapa permainan outdoor, ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan arena climbing yang terbuat dari tali. Permainan yang memanjakan anak-anak. Halaman belakang rumah tersebut memang menjadi daya tarik rumah mewah keturunan Turki - Indonesia tersebut, khususnya untuk anak-anak.
Malam itu, acara pengajian syukuran atas kelahiran adik Emir sekaligus aqiqahnya berjalan khidmat, suara-suara doa pun mengalun serempak dari dalam rumah, terdengar jelas melalui pengeras suara, khusuk dan penuh penghayatan mendoakan keselamatan dan kebahagiaan kehidupan si bayi kelak ketika ia sudah dewasa. Suara keras dari pengeras suara tersebut menelan suara berisik Emir dan teman-temannya yang berisik, bermain kejar-kejaran di halaman belakang rumah yang sepi namun tetap terang benderang dengan lampu-lampu yang menyala di setiap sudut taman yang indah tersebut.
Waktu terus berjalan, halaman belakang tetap sunyi dari orang dewasa, karena hanya ada Emir dan teman-temannya yang kini bermain petak umpet. Mereka seolah tak ada di sana, karena sedang bersembunyi.
Para pembantu yang sejatinya kamarnya berada di belakang, tidak jauh dari halaman belakang tidak ada di tempat. Mereka berada di rumah utama, di dapur, sibuk sedang membantu mempersiapkan segala kebutuhan pengajian.
Tidak hanya pembantu yang tidak menyadari keberadaan Emir di halaman belakang, keluarganya juga tidak ada satupun yang tahu. Justru senang tiga anak itu tidak lagi mengganggu dengan berlari-larian di antara makanan, menganggap mereka duduk tenang di depan bersama para tamu undangan.
“Emiy…, sekayang kamu yang giliyan jaga.” ucap Ana, atau Rindu kecil pada sahabatnya. Peluh mereka sama, sebesar biji jagung di dahi, menetes perlahan melalui pipi gembil nya, turun perlahan melalui janggut.
“Aku nggak mau! Aku udah dua kali jaga!” tolak Emir seenaknya sendiri. “Aliya curang, dia nggak pernah jaga.” protes Emir kecil, matanya menatap kesal pada salah seorang sahabatnya.
“Iya-iya aku yang jaga.” ucap Aliya pasrah. Tanpa berdebat lagi ia merapatkan tubuhnya ke dinding, lalu menempelkan wajahnya ke dinding. “Aku itung satu sampai sepuluh. Sembunyi nggak sembunyi kalau udah selesai ku hitung, kena! Satu…,”
Dua anak itu pun bergegas berlari mencari tempat persembunyian. Emir berlari menuju kamar pembantu yang terletak tidak jauh dari taman, dan saat mengajak Ana sembunyi dengannya, Rindu kecil justru menolaknya, menurutnya tempat itu kurang aman, dirinya tadi sudah bersembunyi di tempat itu dengan Aliya. Jadi Aliya pasti nanti juga akan mencari mereka di kamar itu. Tapi Emir tidak setuju dengan pendapat Ana. Ia tetap saja masuk ke kamar.
Brak….
Emir menutup pintu kamar yang ia tempati. Membuat Ana yang berdiri di luar geleng-geleng kepala, heran kenapa Emir keras kepala, tidak mau mempercayai ucapannya. “Aha, aku tahu gimana cayanya biay kamu nggak bisa ditemuin Aliya.” gumamnya pada diri sendiri. Ide muncul di kepalanya saat melihat kamar itu punya grendel di luar pintu.
Dengan susah payah, sambil menjijitkan kakinya, Ana berhasil meraih grendel itu, lalu menguncinya cepat. Setelah itu ia melesat cepat meninggalkan tempat persembunyian Emir, menuju tempatnya bersembunyi, di bawah sebuah perosotan di tengah-tengah sungai kecil yang melingkar.
Nafas Rindu kecil terengah di bawah perosotan tempat nya bersembunyi, jantungnya berdetak lebih kencang karena kelelahan setelah berlari kencang tadi, waktunya hampir habis jadi ia berlari sekencang mungkin.
Malam itu, angin berhembus sejuk, mengipasi wajah imut Ana kecil, menyejukkannya tubuhnya yang kegerahan. Dalam hati Ana yakin, tempat persembunyiannya jauh lebih aman dari tempat persembunyian Emir. Namun ia tidak perlu khawatir karena Emir kini tersembunyi aman di dalam kamar pembantu. Aliya tidak akan bisa menemukan Emir.
Hoahm….
Sejuknya angin malam membuat Ana menguap lebar. Tubuhnya yang terasa capek, membuat matanya tanpa terasa terpejam begitu saja, tidak lama kemudian angannya pun sudah terbang ke dunia mimpi.
‘Bangun, Ana. Jangan ketiduran saat seperti ini. Bahaya sebentar lagi datang. Kalau kamu tidak mampu bertanggung jawab, bangun sekarang. Emir dan Aliya dalam bahaya. ANAA….!’
Bersambung....